GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
KAU BUAT JIWAKU MATI


__ADS_3

"Jadi, bagaimana rasanya jatuh cinta pada jiwa yang sudah kau buat mati, Tuan? Menyakitkan bukan?" ~ Steva.


...****************...


Kehamilan Steva bisa dibilang cukup baik, meski mengalami gejala pada umumnya, sekali dua kali Steva mengalami Morning Sickness, badan terasa lemas, dan lebih suka tiduran, tapi soal makan tidak ada halangan, ia tak merasa mual ketika mencium bau makanan apapun, ia malah sangat lahap makan. Porsi makannya bertambah.


Razz sudah berada di luar negeri selama 10 hari, besok akan pulang, baru saja Steva berbicara lewat telepon menggunakan ponsel Gulnora, Razz tak mengijinkan Steva memakai ponsel, jadi setiap Razz ingin menghubungi, semua lewat Gulnora.


Hari ini Steva ada jadwal ulang bertemu dengan Renata, sebenarnya Steva hanya alasan saja pada Razz, ia bosan di rumah dan ingin bicara dengan Renata, untuk saat ini, hanya Renata orang luar rumah yang Razz percaya dan diperbolehkan untuk bertemu dengan Steva. Atau sebenarnya Steva begitu ingin melihat kondisi Malvin? Entahlah, ia tak yakin, Steva hanya ingin datang ke rumah sakit saja.


"Pihak keluarga tidak menerima tamu siapapun, Stev. Jadi percuma, Dokter dan Perawat yang boleh masuk juga mereka yang cuma menangani, jadi tidak mungkin kalo aku bisa bantu kamu," jelas Renata setelah Steva meminta bantuan pada Renata, ia sangat ingin melihat atau sekedar tahu bagaimana keadaan Malvin.


"Lagian, kenapa sih? kamu ngotot banget, ada hubungan apa?" selidik Renata sedikit menaruh curiga atas sikap Care Steva.


"Dia? Sahabat lama!" jawab Steva santai.


Mereka saling diam, tapi melihat Steva yang begitu ingin tahu, Renata pun menghembuskan napas kasar dan mengalah.


"Hufftt,,,, baiklah. Kau tunggulah di sini, aku akan cari tahu dari Dokter yang menanganinya," ucap Renata. Dan Steva menyambut dengan mengangguk antusias, Renata keluar meninggalkan Steva seorang diri.


'Aku tidak percaya aku harus melakukan ini.' gerutu Renata dalam hati.




Steva dan Renata berjalan beriringan, Gulnora berada di belakangnya sedikit mundur, tidak sopan jika mendengar perbincangan serius atasannya.



"Dr, Richard mengatakan kondisinya sudah sangat kritis, ia membutuhkan pendonor jantung, dan belum dapat, dia sudah tidak membuka matanya selama 2 hari,"



Tiba-tiba tubuh Steva kehilangan daya, ia terhuyung dan hampir jatuh, untunglah Renata sigap menangkap Steva hingga tubuhnya tak jatuh ke lantai marmer Rumah Sakit.



"Stev? Kau baik-baik saja?" tanya Renata panik. Dan Steva mengangguk pelan, ia memegangi kepalanya yang terasa berputar, tubuhnya gemetar, dan dadanya berdebar.



"Kau butuh perawatan," tukas Renata, Gulnora terlihat sangat panik.



"Haruskah saya hubungi Tuan besar, sekarang?"



"Tidak, aku tidak apa-apa Nyonya Gulnora, aku baik-baik saja," Steva melepaskan diri dari pelukan Renata.



"Kau yakin?" Renata memastikan. Dan Steva mengangguk yakin.



"Iya, aku pulang dulu, Dokter Renata. Terimakasih, ya!" Steva pun pamit dan dia masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di pelataran halaman utama Rumah Sakit. Gulnora pun mengucapkan terimakasih pada Renata sebelum ia ikut menyusul masuk ke dalam mobil.



Perjalanan menuju rumah sunyi, tak ada yang bicara, hanya deburan suara mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.



"Emh? Bisakah kita mampir ke sebuah Outlet ayam geprek? Aku ingin membeli makanan," Steva meminta ijin pada Gulnora.


__ADS_1


"Biar Koki saja nanti yang buatkan di rumah, Nyonya." Gulnora menolak halus.



"Tapi aku inginnya dari outlet itu, Nyonya Gulnora, lagi pula aku tidak akan kabur!" Steva meyakinkan.



'*Tentu saja aku tidak akan kabur, bahkan aku mengandung janin Razz sekarang, dan Razz juga akan pulang besok*,'



"Boleh ya, Nyonya Gulnora?" Steva terus membujuk, dan akhirnya Gulnora menyerah dan dia mengangguk.



"*Srreett*!" mobil berhenti di lampu merah, Steva mengalihkan pandangan ke kaca mobil di sebelahnya.



"**DEG**."



***POV STEVA***.



Apa yang kulihat ini? Apa aku sedang bermimpi? Sebuah mobil yang berhenti di samping mobil yang kutumpangi kaca pintu di jok penumpangnya terbuka, dan di sana aku melihat Razz bersama Liora duduk di jok belakang, berdua, tertawa dan bicara bersama.



'*Tidak, apa aku salah lihat*?'




Bukankah dia sedang berada di luar negeri? Bukankah dia sudah menceraikan Liora? Bukankah dia baru akan pulang esok hari?



Tanpa pikir panjang aku lekas membuka pintu mobil dan keluar, namun sial, saat aku baru melangkah untuk mendekat, lampu sudah berwarna hijau, dan mobil yang membawa Razz dan Liora sudah melaju.



"Nyonya Liora?" kudengar teriakan yang kuyakin itu dari Gulnora.



"*Tinnn,,, tin,,, tin,,, tin*,,,," bunyi klakson baik dari pengendara mobil maupun motor terdengar nyaring atas tindakan nekatku.



Aku tak kehabisan akal, tepat di depanku adalah Abang berjaket dan berhelm hijau yang kosong penumpang.



Tanpa aba-aba aku langsung naik ke atas motor duduk menyamping di belakang Abang ojol.



"Neng?" teriak Abang ojol itu hendak protes.



"Jalan bang, buruan kejar mobil merah tadi!" aku begitu gugup, kupukul pundak Abang ojol berkali-kali, dan dia pun melajukan motornya.


__ADS_1


Sedangkan Gulnora dan para pengawal, aku tak lagi menghiraukan mereka. Jika memang yang kulihat tadi benar adalah Razz dan Liora, dan Razz tak juga menceraikannya, maka aku bersumpah, akan pergi darinya. Aku tak bisa menerima hubungan yang berbagi. Aku tak sebaik itu.



"Itu bang, mobilnya. Yang merah depan itu!" seruku panik dengan rasa takut dalam suaraku, dan air mataku bahkan sudah berjatuhan, sungguh, kebohongan adalah hal yang lebih menyakitkan. Tidak, kenapa hatiku begitu sakit?



"Aduh,,,, Neng, padahal saya mau jemput pelanggan?" tak kuhiraukan keluh bang ojol, karena meski ia setengah hati, bang ojol tetap bersedia melajukan motornya mengantarku mengejar mobil merah yang kuyakin ada Razz dan liora tadi duduk di jok belakang.



"Cepetan, bang?" aku terus memukul pundak bang ojol, aku begitu gugup, cemas, panik, dan sakit hati.



Mobil merah yang kami ikuti masuk ke pelataran sebuah gedung yang mewah tinggi menjulang, aku tak tahu pasti ini gedung apa.



Saat motor yang kutumpangi baru memasuki area halaman depan, penumpang mobil merah itu telah keluar, benar, tidak salah lagi, itu Razz dan Liora. Dan mereka terlihat mesra, seperti layaknya pasangan romantis yang bahagia. Liora mengapit lengan Razz dan mereka terus saling melempar tawa sambil masuk ke dalam gedung.



'*Brengsek*!' aku mengumpat dan menangis.



Kukejar mereka yang sudah masuk ke dalam gedung tinggi itu dengan langkah berat dan napas terengah, kenapa tiba-tiba aku jadi wanita lemah? Tubuhku gemetar dan debar jantungku membuatku merasa tak sanggup untuk tetap berdiri.



"Razz?" teriakku begitu kencang sehingga menarik perhatian semua orang yang berada di loby utama gedung yang akhirnya kutahu jika ini adalah sebuah apartemen VVIP.



"Stev?" Ada keterkejutan yang kutangkap dalam manik biru suamiku yang sangat kukagumi itu.



"Apa yang kalian lakukan di sini?" bentakku tak terima. Liora hanya terlihat kesal dengan memalingkan muka, kedua tangannya ia sedekapkan di bawah dada.



"Stev, kita bicara dulu, dengarkan aku," Razz mencoba meraih tanganku namun secepat mungkin kutepis dengan kasar.



"Sayang, kita bicara di tempat lain, jangan di sini, semua orang melihat kita," Razz mencoba membujukku yang berada pada taraf emosi tertinggi.



"Kalian tidak pernah pergi ke luar negeri, kalian tidak pernah berniat berpisah, dan kalian tinggal berdua di sini? Iya kan?" aku berteriak sambil mencengkeram kerah kemeja Razz. Kuyakin keadaanku sangat buruk, aku meluapkan amarah yang membabi buta di tempat umum, mungkin terlihat seperti preman pasar.



"Steva, sayang?" Razz terus mencoba bicara namun aku tak ingin mendengar penjelasannya.



'*Plak*?' satu tamparanku melayang rapat pada pipinya, aku menampar suamiku.



"Aku benci padamu, Razz! Kau membuatku hidup dalam jiwa yang serasa mati."



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

__ADS_1


__ADS_2