
POV STEVA.
Aku dan Tuan besar tengah menikmati makan malam bersama yang romantis, meski ini hanyalah makan malam di meja makan rumah, tapi dekorasi dan menu hidangan yang sudah kusiapkan bersama semua orang rumah tak kalah dari sebuah hotel bintang lima.
Mataku begitu nakal dengan terus menatapnya yang begitu mempesona duduk berhadapan denganku di seberang sana. Dia adalah Tuan Fabio Cannavaro Razolla, majikanku yang akhirnya kini telah menjadi suamiku, dan aku jatuh cinta kepadanya. Sayang, matanya tak bisa melihat, menumbuhkan sedikit rasa takut terbersit di hatiku, andai ia bisa melihat, mungkin dia akan kecewa padaku, mungkin aku bukanlah wanita idamannya, mungkin aku tak seperti ekspektasi dan keinginannya.
Aku tiba-tiba merasa tak nafsu makan saat berhadapan dengannya, serasa cukup hanya dengan menatapnya seperti saat ini sudah membuat perutku merasa kenyang, bukan karena makan cinta, tapi aku kenyang karena menyicip makanan terus menerus seharian ini memastikan rasa menu yang kuhidangkan untuknya memang lezat. Dan aku tersentak saat ia menanyakan satu hal padaku tiba-tiba di meja makan itu.
"Kau tidak makan, Stev?" tanyanya membuatku tergelagap karena sedari tadi aku hanya terus memandangnya dengan senyum yang mengembang di bibirku.
"Ah, s-su sudah, Tuan. Sebenarnya saya sudah kenyang, menyicip semua makanan ini sebelum dihidangkan," jawabku berusaha setenang mungkin agar tak begitu gugup. Dan Tuan Razz terkekeh mendengar penuturanku.
"Kau memasak? Bukankah aku sudah melarangmu?"
"T-tidak, Tuan, saya tidak memasak, saya hanya menyicip," cicitku dengan rasa malu, dan Tuan besar kembali terkekeh.
Ia meletakkan sendoknya, menopang dagu dengan kedua tangannya yang ia tautkan.
"Tuan? Bagaimana anda bisa tahu jika saya tidak makan?" tanyaku tiba-tiba membuatnya tersentak. Tuan Razz menegakkan punggungnya dan meraih gelas berisi minuman beralkohol yang disajikan di tak jauh dari piring makannya.
Tuan Razz meletakkan kembali gelasnya yang menyisakan sedikit minumannya. Lalu kedua tangannya berada di sisi kiri dan kanan piring di atas meja.
"Aku tidak mendengar denting sendok dan piring darimu, Steva!" jawab Tuan Razz membuatku menunduk.
"M-ma maaf, Tuan!" lirihku merasa malu. Dia memang buta, tapi dia tidak bodoh.
"It's okay."
Di sinilah sekarang kami berada, ia memaksa untuk menggendongku ala bridal setelah menikmati makan malam, naik melewati anak tangga menuju lantai atas kamar utama yang sudah kuhias bagai kamar pengantin untuk menyambut malam pertama.
__ADS_1
Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya, dan terus menatap dalam manik birunya yang cantik.
Aku begitu kagum padanya, dia tidak bisa melihat tapi dapat melangkah dengan benar masuk ke dalam kamarnya sambil menggendong tubuhku yang katanya hanya seringan kapas, dan dia memintaku makan lebih banyak. Agar lebih seksi gumamnya dengan nada bercanda.
'Brak!' pintu kamar tertutup hanya dengan sekali tendang. Dan Tuan Razz menurunkan tubuhku di tepian ranjang, aku duduk menghadap dirinya. Kedua kakiku terjuntai ke lantai.
"Terimakasih, kau sudah melakukan semua ini untukku," gumam Tuan Razz yang duduk berjongkok di depanku sambil memegang kedua tanganku. Aku hanya diam namun senyumku terus mengembang. Tuan Razz sendiri hanya menatap datar ke depan dengan sorot mata yang lurus tanpa titik pasti.
"Apa anda menyukai menu makan malamnya?" tanyaku basa-basi, sebenarnya aku mengalihkan rasa gugupku, hatiku berdegup kencang berdekatan dengannya seperti ini.
"Suka," jawabnya singkat.
"Tapi aku lebih menyukai menuku yang sekarang ada di hadapanku, aku tak sabar ingin memakan dan menikmatinya," dengkurnya dengan nada suara berat yang tertahan.
inilah Tuan Razz, Tuan bayi besarku yang kemarin begitu manja dan lucu tiba-tiba ia kini berubah menjadi pria dewasa yang begitu romantis, dan sialnya aku menyukainya.
Deru napasnya, aroma tubuhnya, surai hitamnya, manik birunya yang cantik, alis tebalnya, bibir yang seksi, lengan kekar dengan dada bidang serta perut keras berbentuk kotak-kotak. Juga jari jemarinya yang saat menyeruak masuk ke dalam inti tubuhku, bermain dan menari di sana. Membuatku mendesah tak karuan dibuatnya, apalagi lidahnya yang basah, dan? Aaahh,,, entahlah, dia terlalu sempurna jika hanya kugambarkan dengan kata-kata.
Malam ini akan terasa sangat panjang, tirai-tirai sutra, ribuan kelopak bunga, dan cahaya lilin yang pasti akan padam esok hari, akan menjadi saksi bisu percintaan kami malam ini.
Tangan kekar itu membelai halus kaki, betis merangkak naik hingga ke paha atasku, dress yang kukenakan memudahkan aksi nakalnya karena memiliki belahan dari bawah hingga paha di sisi kirinya.
"Kakimu sangat indah, Stev, sepatu ini lebih beruntung dariku karena bisa selalu merasakan kelembutan kakimu, dan aku cemburu," desah tuan Razz sambil melepas sepatuku.
Aku hanya diam menyurai rambut tebalnya ke belakang. Dan aku senang ia memujaku.
"Kau begitu berani memakai dress ini, menampakkan pahamu yang harusnya hanya boleh aku yang melihat dan menikmatinya," lirih Tuan Razz membelai halus pahaku yang mulus.
"M-ma maaf, Tuan. Nyonya Gulnora yang menyiapakan gaun ini, dia bilang anda suka?" jawab Steva jujur.
__ADS_1
"Dia memang begitu mengerti diriku, tapi aku tiba-tiba tidak menyukainya membayangkan mata pria lain yang melihat dan menikmatinya, jangan memakai yang seperti ini lagi esok hari," tegurnya dengan nada suara yang rendah.
"Iya, Tuan. Tentu!" Aku langsung patuh.
"Tapi aku memang menyukainya, Steva! Kau boleh memakainya jika aku yang memintamu!" desahnya, suaranya semakin berat, dan matanya yang terus menunduk sedari tadi kulihat mulai berkabut, tapi aku sendiri sudah merasa begitu nafsu untuk menyerang atau menerima serangan darinya.
Tuan Razz menciumi kaki, naik ke betis, lutut dan terus menyusuri naik ke atas hingga sampai ke pahaku yang mulus.
Ia terus bergerak naik dan menyingkap dressku hingga bagian bawahku terbuka.
"Aku sangat merindukanmu," lirihnya kemudian mendaratkan ciuman pada inti tubuhku yang masih tertutup segitiga Bermuda yang tipis berbahan sutra berwarna merah.
Aku mendongak menahan nikmat, tanganku meremas rambutnya sensual. Aku mele.nguh saat kurasakan jari tengahnya mulai menari di sana.
"Aaahh,,," de.sahku lirih. Jari itu menyeruak memasuki inti tubuhku, basah. Kedua mataku terpejam merasakan rangsa.ngan yang luar biasa.
Tuan Razz menyingkap kain segitiga berbahan sutra itu hingga menampakkan bagian inti tubuhku yang selalu lahap untuk dinikmatinya.
Ia mendorong tubuhku agar rebahan dan dia bermain di sana. Kurasakan gerakan lembut pada tangannya, ia melepas penutup segitiga itu dan aku tak tahu ia membuangnya kemana.
Aku hanya mende.sah menikmati permainan lidah dan jarinya pada inti tubuhku. Lidahnya menyapu mengeksplor naik turun mengenai inti hingga aku kelojotan dibuatnya.
Tuan Razz begitu pandai membawaku terbang hingga mencapai puncak.
"Aaahh,,, Tuan Razzz!" de.sahku mengiringi pelepasan yang pertama.
"Kau menyukainya?" tanya Tuan Razz membuatku tersipu.
...****************...
__ADS_1