GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
DADDY


__ADS_3

"Steva! Kau di sini? Kami menunggumu di sana sejak tadi."


Ketegangan mereka buyar kala Dev berlari dari arah Steva datang.


"M-ma maaf, Dev. Aku sepertinya salah arah, lupa jika mobilnya ada di sana," Steva mengalihkan pandangan menatap Dev. Malvin hanya diam dengan tatapan matanya yang tetap lurus ke depan dengan muka datar.


"Siapa mereka?" tanya Dev yang tak mengenal Malvin maupun Paman Ramon.


"Iikk,,, dadadada!" Ken kembali meraih kerah kemeja Malvin, Bayi Kecil itu benar-benar ingin berada dalam gendongan Malvin yang hanya diam dan terlihat mulai tidak nyaman.


"Biarkan Malvin menggendongnya, Eva. Bayimu terlihat begitu ingin ikut bersama Malvin," Paman Ramon kembali menyuarakan isi hatinya. Mungkin ini adalah awal yang baik untuk Malvin. Keponakannya itu sudah cukup lama menghukum diri sendiri selama ini. Dan Ramon sangat berharap Steva bisa menyembuhkan luka batinnya.


"Jangan Stev, mereka orang asing, jangan biarkan Ken ikut bersama dengan orang yang baru kalian kenal." Dev menghalangi Steva untuk tidak memberikan Ken pada Malvin. Meski Steva pun tak menunjukkan gerakan jika dia ingin memberikan Ken pada Malvin.


Tanpa berkata Malvin kembali melangkah cepat meninggalkan mereka menuju mobil dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Paman Ramon hanya menghembuskan napas kasar, menatap Steva yang tak mau menoleh pada dirinya maupun Malvin, Steva hanya menatap nanar arah depan tanpa titik yang pasti. Dan Paman Ramon pun mengikuti langkah Malvin pergi.


"Hiks hiks hiks hiks!"


Ken menangis memasukkan wajah menggemaskannya ke dalam dada Steva. Steva bisa mengerti apa yang dirasakan oleh bayinya itu karena dirinya sendiri pun merasakan hal yang sama.


Detak jantung Razz seolah memanggil dan membuat mereka merasa nyaman untuk tetap berada dekat dengan Malvin.


"Stev? Stev?" suara Dev yang memanggil Steva berkali-kali membuyarkan wanita itu dari lamunan.


"Ayo, Baby Ken sudah menangis, sepertinya dia ingin meminum asi." ajak Dev pada Steva yang hanya terdiam. Dan Steva mengangguk setuju.


"Cup cup cup,,,, haus ya? Lapar? Hem? Mau cucu? Hem? Ummuuaach, ummuach, ummuach." Steva tak henti-hentinya menciumi pipi gembul Baby Ken yang sudah mulai tenang dan kembali mengeluarkan suara gelak tawa khas bayi.



**1 tahun kemudian**.



Steva dan Ken sedang bersiap. Nonna Amora mengajaknya ke acara amal di badan internasional yang diadakan di kota Roma.



Steva tengah memakaikan kaos kaki pada Ken yang duduk di atas ranjang dan Steva pun sama halnya.



"Kita mau Ja?"



"Yan!" jawab Ken yang sudah mulai bisa bicara, Ken juga sudah bisa berjalan, namun untuk berlari balita itu masih sering terjatuh.



"Benar, aduh,,,, pintarnya anak Mom. Nanti Ken di sana tidak boleh na?"



"tal," sahut Ken sambil tergelak di akhir kalimatnya. Steva sangat bahagia, kehadiran Ken benar-benar menjadi obat dari setiap lukanya.



"*Ummuuach, ummuach*, Sudah. Ken sudah selesai, sudah rapi, ganteng, dan wangi. Persis sama Daddy Razz,"



"Daddy Yaz, Daddy Yaz."



"He em, uuuhh, gantengnya. *Ummuah, ummuah* ."



'*Tok tok tok*!'

__ADS_1



"Sayang? Apa kalian sudah siap?" Amora berteriak di depan pintu kamar Steva.



"Ah, iya Nonna, sudah!" sahut Steva. "Ayo sayang, kita harus berangkat sekarang," Steva mengulurkan kedua tangan untuk menggendong Ken, dan Ken langsung menerima uluran tangan Steva.



'*Klek*.' Steva membuka pintu.



"Una," cicit Ken sambil mengulurkan kedua tangannya pada Amora, ia ingin berpindah dalam gendongan neneknya.



"Halo, Sayang! Sini sini," Amora pun mengajaknya.



"Aduh,,,, ganteng bener. Cakep, wangi, cucu Una paling best,"



"Best!" sahut Ken yang membuat Steva dan Amora tertawa. Ken paling suka kalau sudah dipuji ganteng mirip Daddy Razz dan dibilang paling best.



Di sebuah gedung mewah yang tinggi menjulang, nampak begitu ramai oleh petugas keamanan, pemeriksaan ketat. Dan para tamu yang sudah pasti bukan dari sembarangan orang, mereka semua adalah kalangan atas.


Malvin duduk di barisan paling depan, kursi VVIP. Ia ditemani oleh Mr.Dori.


"Aku tidak percaya waktu Tuan Ramon menghubungiku untuk menemanimu, jika kau akan datang langsung ke acara ini, biasanya kau hanya menyuruh orangmu sebagai perwakilan," Mr.Dori membuka obrolan. Dan Malvin hanya diam, menatap lurus ke depan.


"Apa ini karena diselenggarakan di Itali? Atau karena perusahaan Razolla juga tercatat menjadi salah satu pemberi amal?" tebak Mr.Dori yang membuat Malvin sedikit jengah.


"Ini tidak ada hubungannya dengan keluarga Razolla, aku hanya ingin menambah pengalaman saja, lagipula, acara akan segera dimulai. Jadi diamlah!" tukas Malvin.


Seorang pembawa acara maju ke depan, naik ke atas altar stage, dan membuka acara dengan khidmat yang disambut tepuk tangan meriah.


"Hah, kita terlambat. Ini gara-gara kau, Tan?" Amora sedikit mengomel, karena Tan yang terlambat terbang dari tanah air.


"Maaf, Nyonya." Tan membungkukkan badan sejenak meminta maaf sebelum akhirnya kembali berjalan memasuki gedung acara.


"Sudahlah, Sayang! Tidak apa-apa. Hanya sedikit terlambat!" Nard menenangkan Amora yang moodnya rusak.


Dua orang membukakan pintu aula di mana acara itu berlangsung ketika Amora dan rombongan datang.


"Tan Tan Tan." Ken sesekali ingin menjambak rambut Tan dan Tan meraih anak itu lalu seolah ingin menggigitnya gemas.


"Dug_dug. Dug_dug. Dug_dug."


Malvin menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang, ia tak lagi mendengarkan pembicaraan pembawa acara yang menjelaskan ke mana saja amal yang diselenggarakan ini akan disalurkan.


Steva yang memasuki gedung sambil menggendong Ken dalam pelukan pun merasakan hal yang sama. Sebuah getaran yang menimbulkan rasa tidak nyaman.


Ken tiba-tiba meronta untuk turun dari gendongan.


"Silahkan, Nyonya. Ini kursi anda!" seorang pria yang mengantar masuk Amora mempersilahkannya duduk.


"Terimakasih," Amora, Nard, Steva, dan Tan pun duduk di kursi masing-masing. Namun Ken tak mau duduk di kursi bersama mereka, meski Steva sudah membujuknya. Dan ini sangat tumben, Ken biasanya tak pernah mempermasalahkan tempat duduk saat dia berada di sebuah acara, yang penting di atas pangkuan Steva.


"Kenapa sayang?" tanya Amora pada Steva karena Ken mulai rewel ingin turun dari pangkuan Steva. Untunglah bayi itu tidak menangis meski sudah mulai merengek.


"Ken mau ke depan, Mom, dia menunjuk depan dan," belum sempat Steva selesai bicara. Ken sudah merosot dan lepas dari tangan Steva. Ia lantas berlari kecil menuju depan.


"Ken?" teriak Steva tertahan. Pembawa acara yang melihatnya kontan berhenti bicara dan malah membicarakan kelucuan Ken yang berlari dikejar Steva yang berjalan menunduk. Dan semua orang pun menoleh pada mereka. Termasuk Malvin dan Mr.Dori.


"Nona Eva?" Mr. Dori tentu sangat kaget ketika melihat Eva tiba-tiba ada di sana dan sedang mengejar anak balita.


"Kena kau!" Steva berhasil menangkap Ken yang justru tergelak dan Steva menciumi pipi gembulnya, Steva tak begitu menyadari situasi saat ini, ia menjadi pusat perhatian, dan kala tepuk tangan itu terdengar riyuh, barulah Steva tersadar, namun Ken yang lucu justru ikut tepuk tangan.

__ADS_1


"Maaf, maaf, maaf!" Steva menundukkan kepala berkali-kali pada semua orang, ia lantas membawa Ken keluar.


"Mom, aku ajak Ken main di luar, ya?" Steva menggendong Ken keluar, Tan mengikuti setelah Amora setuju.


"Nakal kamu, ya? Hum? Mau jadi superhero nakal kamu ya?" Steva menciumi perut Ken yang ia gendong terlentang dan Ken semakin tergelak senang.


"Malvin? Kau mau kemana?" Mr.Dori bertanya namun Malvin diam dan terus melangkah.


'Aku tidak tahu, apakah aku yang mencintaimu, ataukah karena jantung ini yang mencintaimu, tapi aku tidak bisa terus hidup seperti ini. Aku membutuhkanmu, Steva!'


Amora melihat Malvin yang berjalan menuju pintu keluar, dan dia mencegahnya.


Malvin berhenti melangkah ketika Amora menghadang jalan Malvin. Dan Nard pun berdiri.




"Ayo, kejar Mom." Steva bermain bersama Ken di taman kecil sebelah gedung, Tan pun ikut bermain bersama. Ia berlari di belakang Ken, menjaga jika mungkin saja Ken akan terjatuh saat mengejar Steva.



"Dia sudah pandai berlari, tidak terjatuh sama sekali sejak tadi," seloroh Tan saat ia masih berlari kecil mengikuti Ken yang mengejar Steva.



"Kena!" Steva justru berbalik dan memeluk Ken hingga mereka berguling di atas rumput hias bersama.



Ken kembali melepaskan diri, ia ingin berlarian lagi.



"Iya, Pak Tan. Aku sendiri baru menyadari jika sejak tadi Ken sudah tidak jatuh lagi, dan kau bisa lihat sendiri stamina anak ini, aku yang sudah lelah dan dia masih mengajak berlari, benar-benar Razz kecil," Steva berdiri dan bersiap lari kembali. Pak Tan mengulum senyum saat Steva menyebut nama Razz, hati Tan bergetar, ia merindukan Tuan besarnya itu.



"*Daddy, Daddy*." Ken tiba-tiba menyebut nama Daddy dan dia berbalik arah, tidak lagi mengejar Steva.



Ken memeluk kaki seorang pria yang sudah berdiri di sana, pria itu lantas berjongkok untuk menyambut pelukan Ken.



"Ken?" teriak Steva, ia langsung berlari menuju Ken dan Tan pun sama halnya.



"*Daddy, Daddy*!"



Malvin menggendong Ken, dan dia berdiri.



"Berikan Ken padaku!" pinta Steva pada Malvin.



"*Daddy, Daddy*."



"Bukan, sayang! Itu bukan Daddy,"



"Biarkan aku mengajaknya, Steva. Dia ingin ikut bersamaku." ujar Malvin.


__ADS_1


...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2