GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
KASIHAN


__ADS_3

Hari ini Steva ada jadwal periksa dengan Dokter Renata, meski Steva tidak bermasalah dan dia baik-baik saja, Razz tetap memberikan dia jadwal check up rutin, dan Nyonya Gulnora dipercayakan untuk menemani serta menjaga Steva.


Bahkan wanita itu pun tak luput sebagai pion ancaman untuk Steva, jika dia berani kabur dari Razz, maka tidak hanya Asha saja yang akan menerima hukuman dari Razz, tapi juga wanita yang sudah bekerja bersamanya selama puluhan tahun ini. Bukan tanpa alasan Razz melakukan itu, ia hanya benar-benar takut dan tak ingin Steva pergi darinya, apalagi hubungan Steva dan Nyonya Gulnora juga sangat baik dan dekat. Tentu Razz memanfaatkannya.


Beberapa pengawal yang mengantar menunggu di ruang tunggu, begitupun Gulnora, Steva hanya berdua bersama Dokter Renata yang melakukan pemeriksaan 4 tahap awal, pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, tes urin, dan tes darah.


Steva sudah telat 2 Minggu dari sebelum Razz berangkat ke luar negeri. Ia sebenarnya sudah bisa merasakan perubahan dari dalam dirinya sendiri, namun Steva ingin lebih memastikannya dengan langsung datang pada Renata.


"Bagaimana Dokter Renata?" Steva merasa tak sabar setelah hampir satu jam menungggu.


"Lihatlah," Dokter Renata menunjukkan testpack yang bergaris merah 2, dan dia tersenyum.


Steva melihat benda yang ditunjukkan untuk mengetes urinnya sendiri tadi itu dengan mata berkaca-kaca, ia sudah mengira jika memang ada kehidupan di dalam dirinya.


"Ini memang masih terlalu awal, kita akan lihat perkembangannya dan hasil laporan tes darah nanti untuk memastikan, tapi aku yakin kau memang sedang mengandung Razz junior, Stev!" Renata pun nampak ikut senang, meski ia baru mengenal Razz saat mereka duduk di bangku kuliah, namun Renata dan Razz adalah teman yang baik.


Steva menyeka air matanya yang menetes, ia menangis karena saking bahagianya, sebuah tangisan haru atas penantian. Kehadiran si kecil yang sangat dinantikan untuk mempererat tali pernikahan.


"Aku minta, kau menyembunyikan ini dari suamiku, biar aku sendiri yang mengatakan padanya nanti," pinta Steva pada Dokter Renata.


"Tentu, aku bisa mengerti momen seperti ini. Akan lebih baik jika kau mengatakannya sendiri, dan sudah bisa kubayangkan akan sehisteris apa nanti Razz saat mendengarnya. Kurasa dia akan menggendongmu lalu menghujanimu dengan ciuman, atau mungkin dia akan berteriak sambil lari ke sekeliling rumah, atau bisa juga lebih gila dari itu, hahaha," tawa Renata terdengar renyah dan tulus, dan senyum Steva semakin mengembang.


'Semua akan menjadi lebih baik, Razz dan Liora berpisah, aku mengandung, dan kami akan menjalani hidup bahagia bersama keluarga kecil kami sendiri, Mom juga pasti akan menerimaku, karena bagaimanapun aku telah mengandung cucunya. Tuhan,,, terimakasih!'


Renata mengantar Steva keluar menuju ruang tunggu yang berada di ujung koridor Rumah Sakit, mereka mengobrol ringan saat berjalan bersama menuju tempat Gulnora dan para pengawal menunggu.


"Jadi, Razz benar-benar akan menceraikan Liora?" tanya Renata memastikan, dan Steva mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Huftt,,,, aku mengerti perasaanmu, tidak akan ada wanita yang benar-benar bisa terima jika suami mereka berpoligami, mau seadil apapun pria itu, berbagi suami nyatanya tak semudah menggoreng tempe," Renata menanggapi diiringi candaan meski terdengar garing dan Steva hanya tersenyum kaku.


"DEG."


Langkah kaki Steva terhenti, seorang pria yang duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang Perawat berada tak jauh di depannya menuju sebuah kamar inap membuat jantung Steva rasanya berhenti berdetak.


"Malvin?" lirih Steva pelan yang masih bisa didengar oleh Renata.


"Malvin? Malvin?" Steva berteriak sambil berlari memanggil nama Malvin, namun langkahnya terhenti ketika Perawat itu telah membawa Malvin masuk ke dalam ruang rawat inap. Dan dua Penjaga yang berdiri di depan kamarnya menghadang gerak Steva.


"Malvin? Aku ingin bertemu dengannya, tolong! Ijinkan aku untuk menemuinya!" Steva memohon pada kedua Penjaga yang berbadan besar, tinggi, tegap, berbaju formal setelan jas hitam lengkap dengan senjata api yang tersembunyi.


"Steva? Apa yang kau lakukan?" seloroh Renata yang baru sampai setelah Steva tiba-tiba berlari dan Renata mengejarnya.


"D-di dia?" Steva terlihat sangat panik, ia menunjuk ke arah pintu ruang rawat inap.


"Malvin?" air mata Steva menetes, hatinya begitu sakit ketika melihat lelaki yang nampak lunglai duduk di kursi roda yang ia yakini jika orang itu adalah Malvin.


Wajah pucat, rambut mulai gondrong, jambang dan kumis yang tak dicukur, tatapan mata kosong, dan dia tampak sangat kurus.


Renata membawa Steva pergi dari sana lalu mendudukkan Steva di sebuah kursi deret, dan Renata memeluknya karena Steva terus menangis.


"Kau mengenalnya?" tanya Renata pada Steva, dan Steva mengangguk beberapa kali dengan antusias.


"Kau tahu, dia kenapa?" tanya Steva lirih, ia melepas pelukan Renata, menatap mata Renata begitu dalam.


Renata mengangguk dan berkata "Ya."

__ADS_1


"Tapi namanya bukan Malvin, dia Tuan Bachtiar, begitulah yang kudengar," jawab Renata jujur.


'Malvin Bachtiar, ya Tuhan?' Steva menutup mulutnya sendiri dan tangisnya tak mau berhenti.


"Stev, kau kenapa? Kau mengenal pria itu?" Renata masih bertanya penasaran.


"Dokter Renata, tahukan kau dia sakit apa? Sehingga keadaannya terlihat seperti itu? Dia? Dia terlihat sangat memprihatinkan," bukannya menjawab pertanyaan Renata, Steva justru balik bertanya. Dan Renata menjawab apa yang dia tahu.


Steva berdiri di balkon kamarnya, udara malam ini cukup dingin, dan suasana rumah besar lengang, entah semua orang yang sudah pada tidur, atau karena batin Steva yang memang merasa sepi. Pandangannya menerawang jauh ke depan, namun benaknya terisi penuh oleh bayangan Malvin yang duduk lunglai di kursi roda dengan wajah pucat dan tatapan mata yang kosong.


Steva terngiang oleh penuturan Renata saat di Rumah Sakit tadi, dan dia juga teringat terus dengan kejadian siang itu dimana tubuh Malvin bersimbah darah akibat dihajar para Pengawal Razz karena dirinya. Steva selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian peristiwa itu, apa lagi melihat keadaan Malvin dan mendengar cerita Renata mengenai kondisinya. Steva benar-benar merasa bersalah.


[Dia adalah pasien VVIP+ Rumah Sakit ini, yang menjaga di depan kamarnya bukanlah orang sembarangan. Tuan Bachtiar membutuhkan perlindungan setelah dirinya mendapat kekerasan oleh pihak yang diduga berasal dari klan mafia, atau pesaing bisnis, entahlah, tidak ada jejak maupun saksi. Dan kasusnya masih terus diselediki oleh pihak Intel.


Dia sudah berada di Rumah Sakit ini selama sebulan, mungkin lebih, aku tak tahu pasti, kasusnya cukup terkenal di kalangan Rumah Sakit, karena dia adalah seorang CEO muda yang kaya, sukses, dan sebenarnya tampan, tak ada pemberitaan tentangnya karena keluarganya berhasil menekan para media.


Dan? Dia hilang ingatan.]


Apa yang diceritakan Renata sungguh mengusik ketenangan batin Steva. 'Ya tuhan? Malvin kehilangan ingatannya, semua memorinya.'


[Saat dia dibawa ke Rumah Sakit ini, kebetulan aku melihatnya ketika para petugas mendorong bangkar menuju ruang IGD, keadaannya sangat mengenaskan, aku pikir dia bahkan tak mampu untuk bertahan. Tuhan masih menyayanginya karena memberi kesempatan hidup yang kedua.


Entah siapa yang begitu tega melakukan penganiayaan itu, jaringan tubuh, saraf, dan organ dalamnya 70% mengalami kerusakan, dan dia harus menjalani hidup sebagai pesakitan di Rumah Sakit ini. Kudengar, bahkan jantungnya sudah rusak parah, dia hidup atas penopang alat medis. Syukurlah dia dan keluarganya kaya raya.]


"Malvin,,, maafkan aku!" jika memang salah, biarkanlah Steva salah, seluruh pikiran dan ingatannya hanya tertuju pada Malvin, ia sama sekali tak memikirkan Razz, setelah melihat keadaan Malvin yang demikian, rasa bersalah dalam hatinya tumbuh kian besar, Steva tak berhenti menangis karena memikirkan mantannya itu, ia sakit, hilang ingatan, sekarat, dan semua karena dirinya.


'Ya Tuhan? Tolong sembuhkanlah Malvin!'

__ADS_1


...****************...


__ADS_2