GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
NEW LIFE


__ADS_3

POV STEVA.


Bis yang membawaku pergi dari pusat kota melaju cukup kencang, aku menyenderkan kepala yang terasa berat pada kaca jendela dengan tumpuan tangan yang kutekuk, sambil terus menatap luar sana yang tak benar-benar kuperhatikan.


Tempat tujuanku yang pertama adalah kembali menemui makam ibu, dan aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Kakek tanpa nama, namun sayang, ia tak berada di tempat biasanya, kata pemilik warung makan, ia jatuh sakit parah dan dibawa paksa dinas sosial untuk di rawat dan hidup di panti jompo.


Aku melanjutkan perjalananku naik kereta api dari sana, aku akan pergi ke sebuah tempat yang jauh dari peradaban dunia, tempat bibik, adik dari ibuku. Dulu dia juga hidup berdekatan dengan rumah kami saat masih di pinggiran kota tempat ibu dimakamkan, namun setelah menikah, ia pun ikut pindah bersama suaminya, dan datang kembali saat pemakaman ibu, itu adalah terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Aku berharap dia masih tinggal di sana dan masih mengingatku, meski dia tak mengenaliku.


Aku menempuh perjalanan setidaknya 10 jam perjalan dengan berganti kereta 2 kali, lalu aku naik angkutan umum sampai di pertigaan, tidak ada tukang ojek, penduduk sana yang masih sangat jarang keluar masuk desa dengan mobil pick up yang biasa dipakai untuk membawa binatang ternak untuk dibawa ke kota. Dan aku harus menunggu mobil yang akan memasuki desa untuk bisa menumpang.


Cukup lama aku menunggu, berdiri, jongkok, duduk di tanah, hingga sebuah mobil pick up yang baru datang dari kota dan akan memasuki desa lewat dan aku segera menghadangnya untuk meminta tumpangan.


Di depan sana joknya sudah diisi oleh dua orang, satu pria dan satu wanita tua, aku pun bersyukur dan berterimakasih karena diberi tumpangan meski harus naik di bak belakang yang bau kambing, yah, pasti mobil ini bekas mengangkut hewan berbunyi embek itu.


Hari sudah menjelang pagi, hingga sang Surya benar-benar datang menyapa, kurasa aku sudah menaiki mobil bak ini lebih dari dua jam.


Aku memandangi sekelilingku dengan murung, walaupun aku tahu yang kami lintasi ini adalah pohon-pohon yang hijau, rindang dan segar. Namun semangatku belum bangkit untuk menyerap segalanya. Aku masih terlalu sedih karena patah hati.


Pria yang memberiku tumpangan mengejutkanku dengan menepuk pundakku, karena aku melamun dan tak sadar, ternyata mobil sudah berhenti dan kami sudah sampai.


Pemandangan di sini pun tak jauh beda dengan yang kulihat sepanjang jalan. Hanya ada pohon-pohon, seperti berada di hutan, dan beberapa rumah kayu nampak berjejer rapi dengan jarak yang cukup jauh diantara satu dan lainnya.


"Pria berbicara dengan bahasa daerah?" tanya pria yang memberi tumpangan, warga di sini masih sangat sedikit, semua orang saling mengenal. Tapi aku yang tak bisa bahasa daerah sini kesulitan untuk memahami yang ia katakan.


Aku hanya diam , cengok. Tidak tahu harus bicara apa.


"Nama orang, yang kamu cari siapa?" pria itu mengulangi pertanyaannya dengan bahasa nasional yang diperjelas.

__ADS_1


"Elly, Elly Yohan!" kusebut nama suami bibi sekaligus, paman Yohan.


"Oh,,, ayo ayo. Tak antar!" ujar pria itu, ia tak lagi menggunakan bahasa daerah, meski bahasa nasionalnya terdengar kaku.


Aku berjalan sejajar dengan pria yang mengantarku, sedangkan wanita tua masuk ke dalam rumahnya. Kami sampai di depan sebuah rumah kayu yang pintunya sudah terbuka.


Pria itu berteriak dengan bahasa daerah lagi, sambil memanggil nama bibi dan paman, dan tak lama kemudian keluarlah bibi Elly, aku masih mengenalinya meski kini ia sudah nampak lebih dewasa, mungkin usianya 40 tahun atau lebih.


[Skip]


...****************...


Setelah aku menjelaskan keadaanku, bibi Elly dan paman Yohan pun menerimaku dengan tangan terbuka, dan mereka tak memiliki anak, tapi mereka tak memperkarakan itu, bagi mereka semua itu hanyalah titipan.


Di sini tak ada listrik, air berasal dari sumur, setiap rumah memiliki pencahayaan dari sebuah mesin berbunyi bising yang disimpan dalam lumbung samping rumah untuk menyalakan aliran listrik, dan tak ada internet. Itulah mengapa anak-anak muda lebih suka merantau ke kota dan meninggalkan orang tua mereka di tempat asri nan sunyi ini.


Paman Yohan adalah tukang kayu, paman biasa mengambil kayu ke dalam hutan dan bibi membantu mengasah atau menggergajinya, lalu kayu-kayu itu akan diambil para tukang atau pemesan, bibi Elly wanita kuat yang super. Dan paman Yohan lelaki perkasa yang meski tak tampan namun sangat baik dan penyayang, visualnya yang garang jauh berbeda dengan sifatnya yang lembut, sungguh aku iri namun juga bahagia melihat kehidupan sederhana mereka yang harmonis.


Aku yang masih baru hanya disuruh merawat hewan ternak. Mengambil rumput sebisaku, memberi makan, dan membersihkan kandang domba. Jangan tanya keadaanku, aku lusuh, Kumal dan bau setiap harinya, namun demi tuhan aku lebih tenang dan bahagia.


"Nanti ada orang kota yang mau lihat kualitas kayu kita, tolong kau siapkan camilan dan teh untuk mereka," ujar Paman Yohan pada bibi Elly dengan bahasa daerah yang mulai kumengerti meski aku belum bisa melafalkannya.


"Iya," jawab bibi sambil tersenyum, aku yang tengah memakai sepatu boot mendengar dan melihat kemesraan itu pun ikut tersenyum sendiri.


"Kamu sudah mau pergi, Eva?" bibi memanggilku Eva karena sejak dulu kesulitan jika harus menyebutku dengan nama Steva.


"Iya, bi. Takut nanti sore tiba-tiba hujan, kemarin saja Eva kehujanan, untung sudah selesai ngasih rumput di lumbungnya, tapi tetap saja Eva takut pas terdengar petir dan angin yang tiba-tiba kencang," jawabku jujur.

__ADS_1


"Di sini itu sudah biasa, cuaca tak bisa ditebak, tapi seringnya memang hujan, nanti kamu juga akan terbiasa dengan sendirinya."


"Iya, bi. Aku berangkat dulu ya! Dah, paman. Dah, bibi!"


Hari-hariku kujalani dengan mengurus ternak kambing, dan itu hanya butuh waktu 4 sampai 5 jam, sisanya kugunakan bersantai atau membantu membersihkan rumah. Juga bersosialisasi dengan para tetangga dan warga, di tempat terpencil ini aku jauh merasa lebih hidup.


Kandang kambing berada sedikit memasuki hutan, tak jauh dari sebuah danau alami yang cantik. Ini adalah sebuah tempat yang menyuguhkan ketenangan dan keindahan alam, burung berkicauan, suara ayam berkokok di pagi hari, atau sapi yang digiring pemiliknya ke Padang rumput dengan bunyi kalung kemelinting yang membuatku tertawa tanpa alasan, aku betah di sini. Ini adalah kehidupan sesungguhnya.


Setelah selesai dengan urusanku bersama kambing-kambing, aku pulang kembali saat hari sudah siang, perutku juga sudah lapar. Ini pasti si kecil yang sudah minta jatah makan.


Di depan rumah ada sebuah mobil Jeep hitam bermerk, aku tahu mobil seperti ini adalah mobil dengan harga selangit, ada tiga orang pria yang kurasa tamu paman yang katanya datang dari kota untuk melihat kualitas kayu.


"Aku pulang!" seruku menyita perhatian paman, bibi, dan tiga orang pria berpakaian serba hitam, mulai dari sepatu, celana, jaket kulit, kaca mata, dan juga masker yang menutup sebagian wajah mereka yang semuanya serba hitam.


'Sudah seperti datang ke sebuah pemakaman saja,' batinku mengomentari penampilan mereka.


Mereka semua berdiri di halaman depan lumbung yang terletak di sebelah rumah.


"Ah, itu Eva. keponakan saya." ucap paman Yohan dengan bahasa nasional.


"Kau mempunyai keponakan yang sangat cantik, Yohan. Aku baru tahu, seingatku saat aku kemari 3 bulan yang lalu aku tak pernah melihatnya," ujar salah satu pria.


"Iya, kau menyembunyikan berlian di dalam lumbung kayumu!" sahut pria yang lain menciptakan gelak tawa.


Sedangkan pria yang satunya hanya diam menatap diriku tajam, atau entahlah, mungkin cuma perasaanku.


"Aaahh,, sudah, kalian para pria sama saja. Aku masuk dulu mau siapkan makan siang, kita makan bersama." Bibi Elly permisi meninggalkan paman dan para tamunya, membawaku masuk ke dalam rumah, lalu menyuruhku lekas mandi, tidak enak jika aku bau sedangkan ada tamu istimewa dari kota. Dan tentu aku menurut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2