GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
SAH


__ADS_3

Inilah kamar baru Steva sekarang, sebuah kamar yang luas ber AC, berada di lantai bawah, terdapat sebuah kamar mandi, walk in closet, meja rias dan sebuah kursi tanpa sandaran di depan meja rias, serta sebuah televisi yang terletak di atas meja tepat menghadap ranjang. Di atas nakas terdapat lampu tidur, jam weker, kalender kecil, dan botol air minum yang bisa diisi ulang.


Steva duduk di atas ranjang tidur barunya, sangat empuk, mengingatkan dulu dirinya yang baru pertama kali memasuki rumah mewah Malvin, dengan rasa gugup dan cemas, hingga cinta menyatukan mereka, lalu pengkhianatan mengakhiri kisah mereka.


'Kau begitu baik padaku, Tuhan, hingga setelah begitu banyak salah dan dosaku, kau tetap memberikan kebahagiaan yang terbaik untukku, Terimakasih!'


Steva kini memiliki tempat tinggal untuk bernaung, sebuah kamar yang nyaman, baju-baju baru yang bagus, sepatu, sandal, tas, aksesoris, make up dan printilan lainnya seputar kebutuhan wanita. Pak Tan sepertinya adalah orang yang sangat mengerti kaum hawa.


'Tok tok tok,,,,' seseorang mengetuk pintu kamar Steva.


'Klek.'


"Ny. Gulnora?"


"Maaf, Nona. Makan malam Tuan besar sudah siap," ucap Ny. Gulnora jika Steva masih memiliki tugas yang harus ia selesaikan.


"Oh, iya." Steva melangkah keluar kamar menuju dapur diikuti oleh Ny. Gulnora.


Ny. Gulnora memberikan nampan pada Steva, sebuah nampan yang berisi piring yang tersaji makanan dan gelas berisi air putih, menu makan malam Tuan Razz.


Steva lantas membawanya naik ke lantai atas ke dalam kamar Razz.


'Tok tok tok,,,,'


"Tuan? Ini saya, membawa makan malam anda?" teriak Steva dari depan pintu.


Razz yang tengah melakukan panggilan video dengan Liora terlonjak kaget, untunglah Steva mengetuk pintu terlebih dulu.


"Aku hubungi lagi nanti, besok kau akan lihat semua buktinya, aku mencintaimu." ucap Razz pada Liora sebelum mengakhiri panggilan mereka.


Razz langsung berhambur lari masuk ke dalam kamar mandi, ia harus memakai topeng wajahnya yang belum ia pakai karena Razz begitu antusias menghubungi Liora jika esok hari dia akan menikah dan memenangkan misi yang Liora berikan padanya.


'Kenapa dia tidak menyahut, ya? Apa sudah tidur?' Steva masih berdiri di depan pintu membawa nampan di tangan kirinya karena tak ada jawaban dari Razz.


"Tu_?"

__ADS_1


'Klek' 'bugh!'


"Auw?"


"Hah?"


Steva yang hendak mengetuk pintu sekali lagi dan memanggil nama Razz justru bebarengan dengan Razz yang membuka pintu sehingga kepalan tangan yang sudah dilayangkan Steva itu tepat Mengani dada bidang Razz.


"M-ma maaf, Tuan! Saya tidak sengaja!" teriak Steva panik. Razz terlihat kesakitan memegangi dadanya, padahal Steva juga hanya memukulnya pelan.


"Hahahaha, tertipu," seloroh Razz yang disertai tawa kecil. Steva hanya terbengong sedikit kesal melihat tingkah Razz yang konyol dan kekanakan, Razz melangkah masuk terlebih dulu, disusul Steva yang menutup pintu kamar Razz.


"Makan malam anda," Steva memberikan piring berisi makanan di tangan Razz yang sudah duduk di tepian ranjang. Dan Razz menerimanya, lalu mulai menyendokkan makanan itu dengan mandiri ke dalam mulutnya.


"Em? Tuan?" Steva mengajak ngobrol Razz yang tengah lahap makan.


"Hem?"


"Kenapa anda suka makan di dalam kamar sih? Padahal kan ada meja makan di bawah," Steva kepikiran dengan kebiasaan Razz yang satu ini, Steva anggap ini tidaklah umum, makan di dalam kamar.


"Untuk apa makan di meja makan? Aku hanya butuh sepiring nasi, meja makan itu terlalu besar untukku yang hanya makan seorang diri," jawab Razz jujur.


Steva mengangguk mengerti.


"Memangnya kenapa, Stev? Kau merasa bosan mengantarkan makananku setiap hari?" tanya Razz yang langsung membuat Steva menggelengkan kepala cepat beberapa kali.


"Tidak, tidak, tidak, itu tidak benar, bukan seperti itu, lagi pula pekerjaanku hanya seringan ini, apa yang membuatku bosan? Jangan berpikir seperti itu, aku jadi merasa tidak enak," jawab Steva lirih.


Razz sangat suka melihat raut muka Steva yang seperti ini, terlihat sangat menggemaskan dan membuatnya ingin mencubit pipi wanita itu.


Razz memberikan piring yang telah kosong ke arah depan dan Steva meraih benda itu. Lalu Steva memberikan gelas berisi air untuk Razz minum.


"Stev, apa kau sudah siap?"


"Hem? Apa?" tanya Steva pelan, tak begitu memahami maksud dari ucapan yang Razz katakan.

__ADS_1


"Apa kau sudah siap menjadi istriku besok?" tanya Razz gamblang. Pipi Steva bersemu merah, pikirannya menuju pada partner ranjang.


"Ah, tuan, kau ini." Steva hendak meraih nampan yang berada di atas nakas untuk ia bawa pergi turun ke dapur. Namun dengan gerakan cepat dan tiba-tiba. Razz memegang tangan Steva.


"DEG."


Razz berdiri dan dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Steva, jantung Steva berdegup sangat kencang.


"Apa kau sudah selesai menstruasi?" bisik Razz tepat di telinga Steva yang seketika membuat seluruh tubuh Steva meremang.


'Glek.'


"M-ma masih." jawab Steva melepaskan diri dari Razz, ia segera meraih nampan lalu membawanya pergi keluar dari kamar itu.


'Brak.' suara pintu yang ditutup Steva agak kencang.


"Hahahahahaha,,,." Razz tergelak dengan tingkah Steva yang sangat menggemaskan. Apalagi raut mukanya tadi itu, seperti gadis lugu yang malu-malu mau.



*Tidak sadarkah Razz jika sesuatu telah mulai tumbuh dalam hatinya? Tidak sadarkah Razz jika apa yang direncanakannya ini akan sungguh sangat menyakitkan untuk Steva? Tidak sadarkah Razz jika apa yang dilakukannya semua ini salah? Tidak sadarkah Razz jika dia telah membuat sebuah permainan yang akan membuat runyam semuanya nanti pada akhirnya? Oouhh,,, Tuan Razz*!



Prosesi pernikahan Razz dan Steva berjalan lancar, Hamdan begitu senang saat Tan sudah mentransfer bayarannya seharga 1 T. Ini adalah kemenangan lotre terbesar bagi Hamdan.


Di rumah besar Razz tak ada yang spesial, semua berjalan seperti hari biasa. Bahkan seusai proses pernikahan itu, Razz langsung pergi ke pabrik melakukan tinjauan bersama Tan, dan Steva hanya pulang diantarkan oleh sopir pribadi.


Steva sedikit merasa tidak enak, tapi Razz memberikan alasan yang sangat rasional, pabrik membutuhkan dirinya.


"Seperti yang sudah kita bicarakan di hari lalu, jika memang belum ada cinta di hati kita untuk satu sama lain, jadi, kamar kita akan tetap terpisah sampai kita benar-benar siap untuk berbagi ranjang bersama. Kau masih harus mengerjakan tugasmu seperti biasa padaku, aku tidak mau ada orang lain yang mengerjakannya, dan ini. Kau bisa menggunakan ini semaumu. Ini adalah nafkah yang berhak kau terima dariku!"


Itulah sederet kalimat yang Razz katakan pada Steva seusai mereka menikah, dan sah menjadi sepasang suami istri. Razz menjelaskan semuanya, Razz juga memberikan sebuah Black Card pada Steva sebagai nafkah darinya.


Steva memberanikan diri mengecup punggung tangan Razz sebelum mereka berpisah, Razz yang akan pergi ke pabrik, dan Steva yang akan kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


Steva sedikit kecewa pada Razz yang tak membalas dirinya yang menyalim khidmat punggung tangan Razz dengan memberikannya kecupan di kening seperti yang Steva harapan awalnya, namun Steva memahami itu, mungkin karena Razz belum terbiasa. Toh mereka menikah memang tanpa dasar cinta, hanya sebagai ikatan saling membutuhkan, Razz yang membutuhkan teman hidup, dan Steva yang membutuhkan tempat bernaung untuk berlindung menyambung hidup. Tapi meski begitu, Steva berharap jika nantinya hubungan mereka benar-benar terjalin layaknya pasangan suami istri yang harmonis dan penuh cinta. Semoga.


...****************...


__ADS_2