
"Aku memaksa kau terbunuh dalam pikiranku, tapi kenapa kau serasa masih ada dan tak mau enyah? Harus berapa kali lagi aku menikam dan menghapusmu dari memoriku?" ~ Steva untuk Razz.
**POV STEVA**.
"Aku masih merasa kalau kau sebenarnya mengenalku, apa aku benar?"
"**DEG**."
Langkah kakiku terhenti seketika. Dan Malvin yang tadi berada di belakangku telah mensejajari tubuhku yang beridiri bergeming.
"T-tidak, aku tidak mengenalmu, itu tidak benar, kau, kau salah orang." Aku bergegas melangkah karena merasa begitu panik hingga tak kusadari aku menapaki jalanan berlumpur dan kakiku terpeleset, hampir saja aku jatuh.
"Aaahh?" reflek kedua mataku tertutup. Kupikir aku sudah terjerembab bergelut dengan tanah lumpur yang basah, namun saat aku membuka mata, Malvin memegangi tubuhku dengan erat, dan tubuhnya berada di atasku, maksudku, aku hampir jatuh dan dia menangkapku. Tatapan kami bertemu begitu dalam dan jantungku berdebar tak beraturan, sialan. Kenapa perasaan ini? *Razz*?
Apa yang aku pikirkan? Untuk sesaat aku merasa Razz telah memelukku, pelukannya yang dulu menghangatkan dan menenangkan diriku, kenapa aku merasakan kehadiran Razz di sekitarku?
Aku melepas diri dari Malvin, bahkan tanpa sadar aku mendorong dadanya. Menjauhkan Malvin dari diriku, dan aku menoleh ke sana ke mari dengan panik mencari sosok Razz yang mungkin sedang mengintaiku di sini.
"*Aaahh*?" lirih Malvin sambil memegangi dada kirinya.
__ADS_1
"Malvin?" gumamku panik, Malvin terlihat seperti menahan sakit. Urat leher, dan wajahnya bertonjolan, dan wajahnya berubah merah padam.
"Malv?" Aku hendak mendekat, namun,
"Stop!"
Langkahku terhenti, tangan Malvin terangkat, dia tak mengijinkanku mendekatinya. Dan dia masih memegangi dada kirinya menahan sakit.
"K-ka kau kenapa? Dadamu sakit?" Aku sangat panik. Malvin memejamkan mata, menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"It's okay, I'm fine."
POV MALVIN.
Aku menapaki jalan setapak bersama gadis bernama Eva itu memasuki hutan, ia bilang akan pergi ke kandang ternak, aku penasaran dengan sekeliling tempat ini, jadi aku ikut pergi bersamanya, atau sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan tempatnya, tapi aku penasaran dengan orangnya, aku penasaran siapa gadis ini sebenarnya? Kenapa aku terus ingin mendekat dan jantungku berdetak sangat kuat. Yah, baru pertama kali aku bertemu Eva, tapi daya tariknya luar biasa.
Jantung siapa ini yang membuatku merasa sungguh sangat tersiksa? Apa pemilik jantung ini ada hubungannya dengan Eva, atau aku sendiri yang ada hubungan dengan gadis ini? Tapi itu tidak mungkin, dia hanyalah gadis pedalaman yang jauh dari peradaban. Bagaimana mungkin kami bisa bertemu satu sama lain?
Saat Eva terpeleset jalanan berlumpur yang licin, aku sontak menahan tubuhnya, tangan kananku merengkuh tubuhnya dan tangan kiriku merangkul bahunya, tubuhnya sedikit kayang, dan wajah kami bertemu sangat dekat, aku di atas dan dia di bawahku.
"DUG.DUG_DUG.DUG."
Jantungku semakin tak terkontrol, manik coklat yang indah itu begitu menggoda imanku, dan bibir sensual itu sangat menggoda kelelakianku, seketika tubuhku di bawah sana mengeras dan mengembang, tapi yang menyiksa adalah debaran jantung ini yang membuat seluruh tubuhku gemetar, ada apa denganku. Aku tak bisa mengendalikan jantung ini.
"Aaahh?" Aku memekik. Eva tiba-tiba mendorong dadaku sangat kuat, aku meringis menahan sakit dan ngilu. Tekanan itu membuat aku ingin membanting diri, tapi aku bertahan. Bertahan, aku harus tahan.
__ADS_1
Steva mendudukkanku pada sebuah bangku kayu yang panjang menghadap danau alami, setelah ia membantuku berjalan karena aku masih merasa sakit di dada dan terus memegangi dadaku.
Tapi setelah melihat danau di depanku ini, aku berangsur membaik, sakit di dadaku berangsur mengurang, sungguh pemandangan yang sangat cantik, aku takjub dan tak menyangka ada danau seindah ini di dalam hutan.
"Apa itu masih sakit? Apa dadamu masih sakit?" Eva bertanya dengan nada dan raut muka yang cemas, Sial. Kenapa gadis ini terlihat sangat menggemaskan seperti ini?
"Kau pasti sangat menderita!" lirih Eva menyesal.
"Tidak, ini tidak seberapa, aku pernah merasakan sakit yang lebih dari ini, asal kau tidak menambahnya lagi saja, sungguh, doronganmu tadi membuatku hampir sekarat,"
Aku mengatakan apa yang memang kurasakan, lagi pula, dulu sebelum mendapat jantung baru, aku memang merasa sakit yang luar biasa, lebih parah, dan sekarang ini hanya butuh waktu untuk benar-benar pulih.
"M-ma maaf, aku tidak sengaja," lirih Eva masih dengan rasa bersalah.
Tangan Eva perlahan terulur ke depanku, hei, mau apa dia? Aku tertegun tak mampu menghindar. Dengan sangat pelan dan lembut Eva menyentuh dada kiriku yang sakit. Tenang, debarannya perlahan menjadi tenang, tangan Eva menenangkan jantungku yang sakit.
Aku? Jantungku? Seluruh tubuhku berdesir. Aku menunduk melihat dada kiriku sendiri, kenapa sentuhan tangan Eva sangat menenangkan? Dan Eva tiba-tiba menarik tangannya cepat, aku lekas mendongak, kulihat matanya berkaca-kaca dengan bibir mengatup. Sungguh aku bingung.
"Ada apa?" tanyaku memastikan, Eva hanya menggeleng membalik badan membelakangiku menghadap danau, dia mengusap air matanya, yah, Aku yakin dia menangis dan mengusap air mata dengan cara menjauh memunggungi tubuhku, kenapa dia?
Gadis ini sangat unik, sesaat dia begitu berani dan pembangkang, sesaat kemudian dia menjadi lemah dan penuh kasih sayang.
"Kau tadi kenapa? Seperti sedang mencari seseorang," aku pun menanyakan kejadian tadi, sesaat setelah Eva mendorong dadaku, dia celingukan melihat ke sana kemari seperti tengah mencari sosok lain.
"T-ti tidak, tidak ada," Eva menggeleng cepat, lalu berjalan kembali ke arahku dengan wajah sendu, kurasa dia mengingat seseorang, sebenarnya ada apa ini semua? Eva adalah gadis penuh misteri yang membuatku tertarik, penasaran, ingin selalu dekat dengannya padahal kami baru bertemu kali ini.
"B-ba baiklah, kau tunggu saja di sini, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu."
Eva berhambur pergi meninggalkanku di bangku kayu panjang menghadap danau yang indah seorang diri. Dan dia berlari sambil menenteng kantong kresek berisi sampah dapur. Gadis aneh.
Aku mengikutinya, dan mengamati setiap gerak gerik Eva, ia membakar sampah yang ia bawa di tempat sampah gundukan rumput kering bekas makan domba, aku terus mengamatinya, ia sesekali tersenyum saat mengurus domba-domba itu, sial, lagi-lagi senyum itu membuatku merasa gemas dan ingin menerkamnya.
Eva mencuci tangan dan kaki di dekat danau seusai menyelesaikan semuanya, aku mendekat dan berjongkok di dekatnya, berniat melakukan hal yang sama, cuci tangan. Tapi sial! Gadis aneh ini mudah sekali terkejut dan panik.
"Aaahh,,," teriak Eva yang kaget melihatku jongkok di dekatnya, tangannya mencengkeram jaketku dan dia terpeleset hingga kami berdua,
"BYYUURRR"
__ADS_1