GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
OTW M~P


__ADS_3

Deru mobil yang memasuki halaman depan rumah mewah Tuan besar itu terdengar begitu merdu malam ini, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat yang membawa Tuan besar mereka kembali pulang ke rumah, semua orang rumah menyambut hangat kedatangan sang Tuan besar dengan berdiri berjejer sangat rapi.


"Tuan? Apa sedang ada pesta di rumahmu?" tanya Tan yang mengamati sekeliling nampak terdekorasi dengan lampu-lampu baru bercahaya jingga yang temaram, apalagi ketika mobil berhenti di halaman depan teras utama. Bunga-bunga menghiasai hampir di setiap sudut rumah.


"Aku juga melihatnya, Tan!" sahut Razz yang juga merasa ada yang aneh dengan rumahnya.


"Tuan? istrimu tidak mungkin menikah lagi, bukan?" seloroh Tan tak terkontrol saat melihat Steva keluar dari pintu utama rumah yang terbuka lebar, sangat cantik dan berjalan begitu anggun.


Steva nampak lebih cantik dan elegan dengan sebuah dress malam yang melekat membentuk lekuk tubuhnya yang indah, dengan belahan dada yang sangat rendah dan tali spageti di pundaknya. Sebuah dress panjang yang mengekor duyung di bagian bawahnya. Dan terdapat belahan sangat tinggi sampai mengekspose paha mulusnya. Benar-benar seksi.


Rambutnya ia sanggul ke atas menampakkan leher jenjangnya yang memakai kalung berlian kualitas nomor 1 di dunia. Anak rambut di bagian depannya ia biarkan beberapa menjuntai hingga menambah kesan keseksiannya.


"Kupotong lidahmu, jika kau sembarangan bicara, Tan!" tukas Razz menjawab pertanyaan Tan.


"Apa yang kau lihat? Apa kau mau aku mencongkel matamu?" gertak Razz pada Tan yang terus memandangi Steva dengan takjub. Dan Tan segera menunduk. Tentu ia tak berani.


"Semoga sukses, Tuan!" lirih Tan hampir tak bersuara saking tercekatnya tenggorokannya, dan Razz memang tak mendengarnya.


"Khem!" Razz berdehem. Ia menyiapkan mental sebelum keluar dari mobil bertemu dengan Steva dan menetralkan rasa.


"Buka!" perintah Razz pada Tan untuk membukakan pintu mobilnya setelah Razz merasa siap untuk keluar.


'Brak!' pintu mobil Tan tutup kembali usai Razz keluar dari mobil dan berdiri dengan gagah membenarkan jasnya menerima sambutan Steva.


"Selamat datang, Tuan besar!" seru para pelayan sambil membungkukkan badan memberikan penghormatan pada Razz, dan Razz tersenyum sambil mengangguk.


"Tuan!" seru Steva berhambur ke dalam pelukan Razz, langkah kaki jenjang bersepatu hak tinggi yang berlari kecil itu nampak begitu indah di mata Razz, Steva langsung menjatuhkan wajahnya pada dada bidang sang suami yang sangat ia rindu selama berhari-hari yang menyiksa hati.


Razz langsung melingkarkan tangan kirinya pada pinggang Steva dan tangan kanannya mengelus pipi sang istri yang sangat dirindunya.


"Aku merindukanmu," lirih Steva sangat pelan pada ceruk leher Razz, takut jika orang lain mendengarnya.


"Aku juga sangat merindukanmu, Steva!" balas Razz hangat, Razz lantas memberi kecupan dalam pada pucuk kening Steva.


"Kau memakai gaun, dan kau juga berdandan?" tanya Razz yang sudah kembali berperan sebagai si buta yang buruk rupa.

__ADS_1


"Iya, Tuan! Untuk anda," jawab Steva jujur dengan pipi yang merona merah menahan malu.


"Manis sekali!" cicit Razz diiringi senyum tulus.


"Ayo!" Steva menggandeng lengan Razz membawanya masuk ke dalam rumah.


"Saya sangat senang saat menerima telepon dari anda tadi pagi,"


"Benarkah?"


"He em, iya ,Tuan, sungguh!"


Razz begitu terperangah melihat seisi rumah yang ditinggalnya beberapa hari dan kini berubah bak istana negeri dongeng yang akan merayakan sebuah pagelaran pesta yang meriah nan elegan. Meski ia tak mengatakan pada Steva namun Razz menikmati dan menyukai penyambutan ini.


Bagi Steva, tidak peduli meski suaminya itu tak bisa melihat, bukan berarti ia akan membiarkan semuanya tinggal dalam kesuraman dan kegelapan. Ia ingin memperlakukan Razz layaknya manusi normal lain yang tetap akan menikmati hidup dengan keindahan melalui matanya.


Steva membawa Razz masuk ke dalam kamar utama milik Razz. Dan Razz hampir terperanjat lebih kaget lagi mendapati kamarnya yang sudah berubah menjadi kamar pengantin. Ia sama sekali tak pernah membayangkannya, tapi Razz merasa sangat senang atas apa yang dilakukan Steva untuk melakukan penyambutan terhadap dirinya.


"Steva? Aku mencium aroma bunga, apa ada bunga di sekitar sini?" tanya Razz hati-hati. Steva menggandengnya masuk ke dalam kamar, menutup pintu, dan mereka kini berdiri saling berhadapan, meski tatapan Razz hanya lurus ke depan tanpa titik yang pasti dan tak pernah menatap manik coklat Steva yang terus menatap titik manik biru miliknya yang sangat Steva puja itu.


"Tidak, Steva. Aku suka!" ucap Razz cepat memotong kalimat Steva.


Steva tersenyum senang mendengar jawaban Razz, ia lantas mendudukkan Razz di tepian ranjang, dan Steva berjongkok membuka sepatu serta kaos kaki Razz.


"Stev? Sprei ku? Ini sangat lembut," beo Razz seolah ia tak tahu apa-apa.


"Iya, Tuan! Semua dari bahan sutra. Saya sudah menyiapkannya jauh hari untuk menyambut kedatangan anda!" ujar Steva.


"Kau menyiapkan ini dari jauh hari? Apa kau sedang merencanakan sesuatu?" Goda Razz yang tak mendapat jawaban dari Steva, Steva hanya menunduk malu.


Razz menangkup wajah Steva, mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir Steva. Dan Steva memalingkan muka malu saat kecupan singkat itu Razz lepaskan.


'Manis!' bibir sensual yang penuh dan sangat menggoda.


"Tuan, anda mandilah dulu, setelah itu kita makan malam bersama!" ujar Steva yang tengah melepas jas Razz, lalu menggerakkan jemarinya melepas satu persatu kancing kemejanya.

__ADS_1


"Aaah?" pekik Steva. Razz memegang erat pergelangan tangan Steva yang tengah membuat kancing kemeja Razz, Razz lantas menarik tubuh Steva membantingnya ke atas ranjang dan Razz menindihnya.


Wajah mereka begitu dekat dengan deru nafas yang sama-sama memburu.


"Lalu?" tanya Razz menggoda, suaranya terdengar sangat berat, ia diserang gairah.


"Lalu?" jawab Steva terjeda, ia pun bingung bagaimana cara menjawabnya. Apa yang akan mereka lakukan setelah makan malam.


"Bagaimana kalau kita mulai dari sekarang saja! Perut bisa urusan nanti," ujar Razz yang kemudian menjatuhkan wajahnya pada leher jenjang Steva. Ia menciumi titik area rangsangan itu dengan lembut dan mengecupnya dengan hangat.


"Aah,,, Tuan?" lirih Steva mende.sah.


"Hemm? Apa Stev?" sahut Razz yang menjelajah semakin ke bawah hingga ia mendaratkan kecupan pada dada Steva yang membusung dan sedikit keluar dari tempat penampungan.


"Aah, Tuan? Bisakah saya meminta anda untuk mandi saja dulu?"


Razz langsung menghentikan aksi nakalnya. Ia bisa melihat wajah Steva yang sudah merah padam, wanitanya juga sangat ingin. Namun Razz juga mengingat tentang semua perjuangan yang mereka semua lakukan sebagai penyambutan.


"Kalian semua bekerja sama!" celoteh Razz dan Steva mengulum senyum lalu mengangguk membenarkan.


"Iya, Tuan!"


"Baiklah," Razz kembali bangun, berdiri di tepian ranjang. Dan Steva segera duduk merapikan diri.


"Aku akan menuruti apapun yang kau inginkan. Aku adalah suamimu, aku adalah milikmu, hanya milikmu, kau bisa melakukan apa saja padaku," ungkapan yang membuat hati Steva begitu sangat berbunga-bunga. Razz memang tak pernah mengatakan jika dirinya mencintai Steva. Tapi kalimat manis yang baru saja Razz katakan, itu terdengar lebih meyakinkan dari pada sekedar ungkapan cinta.


"Aku mandi dulu, lalu kita makan malam, dan setelah itu?" kalimat Razz terjeda. Ia menautkan bibirnya lembut pada bibir basah Steva. Sangat nikmat, Razz terus saja ingin menautkan bibirnya, menikamtinya. Lagi, lagi dan lagi. Ia tak pernah merasa puas.


"Setelah itu, aku yang akan memakanmu!" celoteh Razz dengan nada sensual. Membuat kedua mata Steva membola.


"Cuuupp!" satu ciuman sangat lama Razz berikan tepat di bibir Steva sebelum ia akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sesuai perintah sang Nyonya.


...****************...


MPnya dilanjut besok, sekarang mau mandi dan makan malam dulu. 😁

__ADS_1


__ADS_2