
"Lantas laki-laki yang seperti apa yang harus aku percayai? Sedang Ayah, kekasih, dan suami, semua hanya menyakiti." ~ Steva.
...****************...
Steva mendengarkan suara piano yang dimainkan ketika ia menuruni anak tangga. Di sana duduk Liora yang tengah memainkan alat musik yang juga Steva sukai itu dengan nada yang terasa perih menyayat hati, ada kesedihan mendalam dalam setiap not yang dimainkan, alunan nada yang menyiratkan sebuah kehilangan, kekecewaan, dan kemarahan.
Steva begitu mengenal musik piano, seseorang yang memainkan dengan jiwanya akan menghantar pesan lewat irama.
'Apa dia juga tak menginginkan pernikahan ini? Apa dia juga menderita karena pernikahan ini?'
Steva terus mengamati Liora yang memainkan piano, sejak datang ke rumah besar Razz, Liora tak pernah menampakkan diri, ia tak mengikuti makan bersama, Liora lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar tanpa bicara pada siapa-siapa. Bahkan Razz yang berusaha menemuinya pun untuk sekedar bicara Liora tolak.
Gulnora datang membawa sepiring makanan untuk Liora. Dan Steva masih berdiri pada anak tangga mengamati semua yang terjadi.
"Nona Liora, makanlah. Jika anda terus diam seperti ini. Saya yang akan kena marah dari Tuan besar, saya mohon, makanlah. Ini demi kesehatan anda," Gulnora terus membujuk Liora yang hanya menatap datar ke depan tak bergeming.
Liora berdiri dan hendak pergi meninggalkan Gulnora tanpa menanggapinya.
"Sikap yang kamu tunjukkan itu tidaklah sopan, Nona Liora!" Steva meneruskan langkahnya menuruni anak tangga hingga ia kini berhadapan dengan Liora yang beranjak hendak kembali ke kamar.
BURUK. Satu kata yang menggambarkan Liora saat ini, bekas luka di pelipisnya, lebam di pipi yang mulai memudar, dan luka robek di bibir, serta mata bengkak yang dilingkari warna hitam. Jelas jika Liora sangat menderita dan tidak baik-baik saja.
"Aku tidak tahu apa yang kau rasakan setelah menikah dengan suami wanita lain, dan memasuki rumahnya, karena aku tak pernah merasakannya, tapi dengan menunjukkan sikapmu yang acuh pada Gulnora. Aku tak bisa mendiamkannya, itu juga demi kebaikan dirimu sendiri, dia hanya memintamu untuk makan," untaian kata yang Steva katakan terdapat sindiran meski intinya ia meminta Liora agar bersedia makan dan menghargai usaha Gulnora.
"Aku tidak lapar!" jawab Liora datar.
"Wanita memang mampu menahan rasa laparnya, Nona Liora. Tapi tidak dengan rasa cemburu, kecewa, dan sakit hati akibat pengkhianatan," Steva mengutarakan rasa sakitnya terhadap Liora yang telah menjadi istri kedua suaminya, meski ia tak tahu pasti bagaimana cerita dan alasannya.
__ADS_1
Liora yang sedari tadi menatap datar ke arah depan, ia pun menoleh pada Steva yang berdiri di hadapannya.
Jantung Gulnora berdegup begitu kencang, ia merasa takut sesuatu yang buruk terjadi.
"Biar aku tambahkan, wanita juga tidak bisa menahan rasa sakit atas kehilangan, dan juga rindu pada seseorang," lirih Liora.
Hening, kedua wanita itu hanya saling pandang dalam sorot mata yang nanar, dan keduanya sudah menangis. Menikmati rasa sakit masing-masing.
"Kita hanyalah pemeran kecil dan bahkan tak dianggap dalam hingar bingar dunia, jadi kau tidak perlu berbangga di hadapanku karena kau menjadi istri pertama," tukas Liora tajam. Ia merasa Steva berani dan mengintimidasi.
"DEG?"
"Kau benar, Nona Liora. Tapi asal kau tahu, tidak ada yang istimewa di antara kita, menjadi yang pertama atau pun yang kedua itu sama buruknya. Dan aku tidak pernah berbangga." jawab Steva tak mau kalah.
Liora memalingkan muka, ia tersenyum remeh, ia tahu bagaimana Steva bisa menjadi istri Razz dan bahkan kini dicintai sahabatnya, dan itu semua karena dirinya, tapi Liora tak bisa mencemooh Steva karena Razz sudah memperingatinya, jika itu semua harus dirahasiakan dari Steva, Razz tak ingin Steva semakin tersakiti.
"Bawa makananku ke kamarku, Gulnora." perintah Liora yang melenggang pergi meninggalkan Steva yang terpaku dalam diam, hanya air mata yang mengucur deras membasahi pipinya.
'Aku sudah pernah merasakan pengkhianatan, sehingga kupikir saat kini aku kembali mengalaminya, aku tak perlu lagi mengeluarkan air mata, namun nyatanya aku salah, tangisan ini tetaplah ikut berperan.'
"Kak Steva?" teriakan Asha membuyarkan lamunan Steva, dan Steva lekas mengusap pipinya yang basah.
"Asha?" Steva menyambut Asha yang berlari memeluknya, setelah kejadian siang itu, Asha dan Steva belum pernah sempat bertemu. Mereka berpelukan sangat erat.
"Bagaimana kabar Kak, Stev?"
"Baik, kamu?"
__ADS_1
"Aku terus memikirkan Kak Steva, bahkan Kak Afnan dan Kakak ipar yang mendengar ceritaku tentang Kak Steva, dia langsung marah dan memaksa ingin datang kemari, tapi aku tentu melarangnya, Tuan besar bukanlah orang sembarangan yang bisa Kak Afnan hajar!" curhat Asha yang masih saling berpelukan dengan Steva.
Steva tersenyum, sedikit rasa bahagia menyergap hatinya, setidaknya masih ada Asha dan keluarganya yang sayang dan peduli padanya.
Steva dan Asha berdiri di atas jembatan kecil dekat taman belakang, di bawah jembatan kecil itu terdapat kolam ikan yang terlihat cantik alami, mereka memberi makan ikan-ikan koi dan jenis ikan hias lainnya.
"Kak Steva mau mendengarkan penuturan orang bijak yang kubaca dalam sebuah buku?" Asha membuka keheningan dengan melontarkan pertanyaan yang ditanggapi sebuah senyuman oleh Steva.
"Apa Sha? Memangnya kamu suka baca buku?"
"He em."
"Buku apa?"
"Aku lupa judul bukunya, tapi ada satu bait paragraf yang kurasa bisa Kak Steva jadikan sebagai pertimbangan,"
"Apa Sha? Katakan!" Steva melempari ikan-ikan di bawah sana dengan makanan yang ada dalam wadah yang ia pegang.
"Begini, jika kamu merasakan patah hati, maka ingatlah, ada sebuah kisah tentang Salman Alfarisi yang pernah melamar seorang wanita dan ditemani oleh sahabatnya Abu Dardak, sayangnya lamarannya itu ditolak, si wanita justru menikah dengan Abu Dardak. Dan hebatnya lagi, Salman Alfarisi memberikan uang mahar miliknya itu untuk sahabatnya Abu Dardak, serta menjadi saksi pernikahan mereka. Itu kan ngenes Kak Stev!" tutur Asha sambil mengambil segenggam makanan dari wadah yang dipegang Steva.
"Itu namanya pengorbanan seorang sahabat, Sha. Beda halnya dengan pengkhianatan dan perselingkuhan. Yah, meskipun dalam kisah para nabi juga banyak yang menceritakan tentang poligami, tapi Kak Steva tak sekuat dan sehebat mereka. Kak Steva hanyalah manusia biasa penuh dosa, yang memiliki keegoisan ingin memiliki seutuhnya tanpa mau berbagi."
Asha terdiam, yang dikatakan Steva ada benarnya. Bahkan jika dirinya yang berada di posisi yang sama dengan Steva, mungkin Asha juga tidak akan terima. Tapi Asha hanya berusaha mengibur hati Steva saja, hanya itu.
"Lantas apa yang akan Kak Steva lakukan?" Asha bertanya, dan Steva hanya terdiam.
'Aku tidak tahu Sha, dia tak mau melepasku, bahkan meski dia tahu yang dilakukannya itu menyakitiku, dia bahkan ingin aku mengandung anaknya, tapi untunglah, aku masih menyimpan pil KB dan rutin meminumnya.'
__ADS_1
...****************...