
Setelah acara amal itu, atas permintaan Malvin dan juga ijin dari Nonna Amora, Steva bersedia untuk ikut Malvin sekedar mengajak jalan bersama Ken. Pak Tan mengikuti mereka berjalan di belakang.
Malvin, Steva, Ken dan pak Tan tengah berjalan bersama di sebuah wisata air mancur Trevi di kota Roma.
"Ada berbagai mitos yang diyakini saat melempar koin ke dalam air mancur itu, seperti mendapat jodoh dan menikah." Malvin membuka obrolan namun Steva sejak tadi hanya diam, ia sangat enggan menanggapi.
Ken telah terlelap dalam gendongan Malvin, balita itu berada di pundak kiri Malvin yang menggendongnya dengan posisi tubuhnya berdiri.
Mereka berhenti di dinding pembatas menghadap air mancur Trevi yang nampak sangat indah sekali di malam hari.
"Kau punya koin?" Malvin mencoba merogoh saku namun ia tak memiliki satu pun koin yang ingin dilemparnya.
"Tidak, aku bahkan tidak membawa uang," jawab Steva menggeleng, ia menatap kagum pada kolam, dan bangunan air mancur yang sangat mewah nan elegan.
Pak Tan mendekat, memberi satu koin untuk Malvin dan satu koin untuk Steva.
"Terimakasih," ucap Malvin pada Pak Tan yang meski bersikap baik, ia masih menunjukkan raut muka tidak suka. Pak Tan hanya mengalah demi Ken. Tuan mudanya itu tiba-tiba bergelayut terus dalam gendongan Malvin, dan Pak Tan tidak bisa melarangnya, apalagi setelah Nyonya Amora pun mengijinkan.
Malvin menggenggam koin itu sambil menutup mata seakan ada doa yang ia panjatkan. Lalu ia melempar koin itu masuk ke dalam kolam air mancur.
'Plung!'
Steva hanya terdiam melihat Malvin melakukan hal itu, terlihat konyol, tapi entah mengapa saat koin itu masuk bunyinya membuat hati dan pikiran Steva tenang.
"Kau tidak ingin melemparnya?" Malvin bertanya setelah melihat Steva masih menggenggam koin miliknya dan hanya tersenyum melihat air kolam yang bergerak menyebar akibat lemparan koin dari Malvin.
"Untuk apa?" tanya Steva ragu.
"Memohon sesuatu, berdoalah, dan buat permintaan," jawab Malvin sambil tersenyum manis. Ia sangat berharap Steva akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan, dan Steva juga akan membuat permohonan yang sama seperti yang Malvin panjatkan. Namun Steva justru menggeleng, dan memberikan koinnya kembali pada Pak Tan.
"Tidak," Steva menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar. Seperti ada sebuah beban berat menimbun dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa?" Malvin bertanya penasaran. Ia mulai merasa tidak enak atas apa yang Steva katakan.
"Aku tidak ingin melempar koin, aku juga tidak ingi membuat permohonan apapun, karena apa yang aku inginkan, tidak akan pernah bisa aku dapatkan." kedua mata Steva sudah berkaca-kaca. Malvin tentu tahu apa yang dimaksud oleh Steva. Wanita ini hanya menginginkan Razz. Hanya Razz, Dan itu tidak mungkin.
"Seharusnya kau masih bisa membuat satu permohonan, Stev."
Steva menoleh saat Malvin mengatakan itu dengan lantang. Dahi Steva mengernyit meminta penjelasan.
__ADS_1
"Kau memang tidak bisa hidup bersama dengan orang yang sangat kau cintai karena dia telah tiada, tapi setidaknya, kau masih bisa meminta sosok seorang ayah untuk Ken. Dia membutuhkan figur seorang ayah dalam hidupnya, Stev."
"Dan kau ingin mengatakan jika kau adalah orang yang tepat, begitu?"
Steva, Malvin dan Tan lekas menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria tiba-tiba datang dan berjalan mendekat ke arah Steva.
"Dev?"
"Selamat malam, Steva!"
"Malam, Dev. Kau di sini?"
"Aku datang ke rumah, tapi kata Tante Amora, kalian sedang jalan-jalan. Dan aku langsung menyusul. Aku tidak mau ada orang jahat yang bisa melukai kamu, atau pun Ken." tegas Dev sambil menatap tajam Malvin seolah menjelaskan jika orang jahat yang bisa melukai Steva dan Ken yang ia maksud adalah Malvin. Malvin hanya memalingkan muka tak peduli. Kembali menatap air mancur Trevi yang indah.
"Kau tidak perlu khawatir, Dev. Ada Pak Tan bersama kami, dia akan selalu menjaga kami. Tapi biar bagaimanapun, aku berterimakasih, kau baik sekali,"
Dev masih menatap tajam Malvin yang menggendong Ken.
"Kenapa kau biarkan Ken berada dalam gendongannya, Stev. Kita tidak pernah tahu apa maksud orang ini, kita pulang sekarang, udara malam tidak baik untuk Ken. Nanti dia bisa masuk angin,"
Dev hendak mengambil alih Ken yang berada dalam gendongan Malvin, namun Malvin justru berjalan sebelum Dev bisa menyentuhnya.
"Hei? Mau kemana kau? Berikan Ken padaku," teriak Dev yang tak mendapat jawaban dari Malvin.
"Aku bicara padamu, brengsek!" teriak Dev mencengkeram pundak Malvin kuat hingga Malvin berhenti melangkah setelah sedari tadi mengacuhkannya, Malvin menggeram menahan amarah, sorot matanya tajam, rahangnya tegas dan giginya beradu.
"Dev? Jangan seperti itu, nanti Ken terbangun dan dia menangis karena kaget!" Steva meraih tangan Dev, mendapat sentuhan lembut dari tangan Steva, Dev pun melepas cengkramannya pada Malvin, ia bahkan tersenyum menyeringai sesaat pada Malvin sebelum mengalihkan pandangannya pada Steva.
"Maaf, Stev. Aku hanya takut Ken kenapa-kenapa." celoteh Dev menatap dalam pada Steva yang bergantian menatap dirinya lalu melihat Malvin dan juga Ken. Dan Steva mengangguk.
"Berikan Ken padaku, Malvin. Kami akan pulang," Steva hendak mengambil alih Ken, namun lagi-lagi Malvin berlalu begitu saja, dan mereka semua sontak mengekor.
"Aku antar kalian pulang," tegas Malvin tak ingin dibantah.
"Mereka pulang bersama denganku, Brengsek!" Dev sangat muda tersulut emosi, rasa cemburunya membuat Dev tak bisa mengontrol diri.
Setelah mengenal Dev beberapa bulan, ini adalah pertama kalinya Steva melihat sisi lain Dev yang penuh amarah. Tak seperti biasanya, Dev yang terlihat penyayang, sabar, dan ramah, bersama Malvin Dev menunjukkan semua kebalikan dari jati dirinya selama ini.
"Kalian pergi bersamaku, pulang pun bersamaku, Stev. Aku tidak ingin dianggap Nyonya Amora sebagai pria yang tak bertanggung jawab." Jawab Malvin santai.
Mereka semua sudah berada di arena parkir, dan tidak jauh dari sana mobil Limousine milik Dev sudah terlihat.
__ADS_1
"Pak Tan?" lirih Steva seakan meminta pendapat.
"Kita memang pergi bersama dengan Tuan Malvin, Nyonya!" Hanya itu yang Pak Tak katakan. Dengan kata lain, Pak Tan setuju jika pulang pun diantar oleh Malvin.
Pak Tan membukakan pintu belakang sebuah mobil Limousine mewah nan canggih milik Malvin.
"Aku mampu bersaing melawan semua pria yang mencintaimu, Steva. Tapi aku tidak akan mampu bersaing melawan pria yang kau cintai. Dan aku akan berjuang kembali. Aku masih mencintaimu, Steva." Malvin masuk ke dalam mobil setelah mengatakannya, Ken masih terlelap dalam gendongan di pundak Malvin, dan Pak Tan menutup pintu mobil. Lalu berlari berputar membukakan pintu belakang yang satunya.
Steva masih terpaku, rasanya ia ingin menangis. Yang berada di hadapannya adalah Malvin, tapi ia selalu saja merasakan Razz yang mengatakan itu padanya.
"Nyonya?" panggil Pak Tan karena Steva masih saja berdiam diri. Sedangkan di dalam mobil sana, Malvin begitu muram menahan cemburu, matanya sudah sangat merah.
"Aku permisi dulu, Dev. Ini juga sudah malam, kau pulanglah," Steva hendak melangkah saat Dev meraih tangannya menghentikan langkah Steva. Malvin melirik tajam dari dalam kaca mobil, Ken sudah ia baringkan di ranjang khusus bayi yang sudah tersedia di dalam mobil.
"Besok aku akan datang, aku ingin bicara serius sama kamu," Dev memegang erat kedua tangan Steva. Ia mengangkat tangan Steva hendak menciumnya, namun tiba-tiba suara klakson mobil yang begitu kencang mengagetkan mereka dan membuyarkan adegan romantis yang Dev ciptakan. Ulah siapa lagi kalau bukan Malvin yang menerobos ke depan sampai membuat Pak Tan menahan senyum. Untung saja itu tak membangunkan Ken.
Steva lekas melepas tangannya yang berada dalam genggaman Dev.
"Aku pulang dulu, Dev, daahh!"
Steva berlari masuk ke dalam mobil.
'Brak.'
Jangan tanya bagaimana raut muka Malvin saat ini, ia begitu masam menahan cemburu, Malvin bahkan dengan sengaja memalingkan muka kala Steva duduk berhadapan dengannya. Yah, jok di dalam mobil Limousine itu adalah sofa panjang yang saling berhadapan.
Dan tentang cemburu, bukankah itu lucu? Malvin merasa cemburu pada orang yang tidak memiliki ikatan dengannya? Juga tidak mencintainya.
...****************...
*STEVA
*MALVIN
*DEV
__ADS_1