GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
BERSEDIA


__ADS_3

Jangan menawarkan air yang kau campur dengan racun pada orang yang kehausan. Karena kau hanya akan mempercepat kematiannya.


~Author~


...****************...


Steva hampir saja kesiangan, ia berlari menaiki anak tangga menuju kamar Razz.


'Klek.' Steva membuka pintu, nafasnya terengah, dadanya naik turun seiring deru paru yang menggebu.


"Tepat waktu!" seloroh Razz yang tengah duduk di tepian ranjang, ia baru saja bangun seperti biasanya saat jam 6 pagi tidak kurang tidak lebih.


"Haahh,,, huuhhh...." Steva masih bernegosiasi dengan paru-paru dan oksigen yang dihirupnya, ia berlari dari rumah kos Asha sampai rumah besar Razz tanpa jeda.


"Maaf, Tuan. Saya akan langsung siapkan air mandi anda."


Steva berlari masuk ke kamar mandi setelah nafasnya sudah mulai normal. Steva mengisi bathtub dengan air hangat, menyiapkan sabun, sampo dan yang lainnya.


"Kau keluarlah, aku tidak mandi di bathtub, aku ingin langsung mandi di shower saja," ujar Razz yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin segera menyemburkan air seninya yang setiap pagi meronta untuk dikeluarkan.


"Oh, iya, baiklah."


Steva berhambur keluar, dan Razz melakukan rutinitasnya di dalam kamar mandi.


Tak ada yang spesial, semua berlalu seperti biasa, Steva mengeringkan rambut Razz dengan hair dryer, menyisirkannya, lalu membantu Razz memakai pakaiannya, dan Steva menghadap dinding menutup muka saat Razz memaki pakaian bagian bawah.


Tan sudah mengetuk pintu, berdiri di depan pintu kamar Razz setelah Razz berteriak memintanya untuk menunggu.


"Apa kau sudah memikirkannya?" Razz bertanya langsung pada inti percakapan mereka yang kemarin tertunda.


"I-i iya, sudah, Tuan!" seru Steva.


"Bagaimana?" Razz sangat berharap agar Steva bersedia menerimanya, dan dia bisa segera mendapatkan Liora.

__ADS_1


"Ada hal yang harus saya katakan kepada anda sebelum saya menjawab permintaan anda, Tuan, setelah itu, semua terserah sama Tuan besar," jawab Steva yang membuat Tan menunggu semakin lama di luar sana.


"Apa?" Razz mulai kehilangan kesabaran, bicara dengan Steva membuatnya selalu penasaran. Apa semua wanita memang seperti itu?.


"Tuan, saya diajarkan untuk menyimpan aib diri sendiri maupun orang lain dengan baik, jika bukan Tuhan yang membukanya, tapi saya merasa akan menipu anda, jika saya tidak mengatakan sejujurnya kepada anda masa lalu saya yang menyimpan banyak aib sebelum akhirnya saya mengatakan "Ya" untuk bersedia menikah dengan anda," Steva sudah memikirkan hal ini sebaik mungkin semalaman, hingga ia tidak tidur dan baru mulai terpejam saat jam menunjukkan pukul 4 pagi, membuatnya pagi tadi hampir saja terlambat karena malas bangun, andai saja motor tetangga kamar sebelah tidak ngeng ngang ngong ngeng membuat kegaduhan setiap paginya.


"Katakan dengan jelas, Stev. Aku harus segera pergi. Ada pertemuan penting hari ini di kantor,"


"Tuan? S-sa saya?" ragu, tentu saja. Apa yang akan Steva katakan ini adalah hal yang teramat memalukan bagi setiap wanita yang belum pernah terikat oleh pernikahan.


"Stev?" Nada suara Razz semakin meninggi.


"Tuan, s-sa saya bukanlah seorang perawan,"


'Dug_dug. Dug_dug.' jantung Steva berdebar kencang setelah mengatakannya, sungguh sangat memalukan. Tapi seperti yang sudah ia pikirkan dengan sangat baik semalaman, jika memang lebih baik Steva mengatakannya sejak awal.


"Ceritakan dengan benar," ucap Razz tetap dengan raut muka yang datar, ia tak begitu kaget, lagi pula wanita jaman sekarang kebanyakan memang begitu. Toh Razz juga tidak sungguh-sungguh dalam mengajak Steva untuk menikah, ini semua hanya tentang cara untuk mendapatkan Liora.


"Ayah saya menjual saya pada mami mucikari demi sejumlah uang, dia terlilit hutang karena kebiasaan buruknya bermain judi dan kalah, saat berada di tempat hiburan malam itu, saya berusaha kabur, dan di sanalah pertama kalinya saya bertemu dengan Malvin, dia menebus saya seharga lima milyar pada mami mucikari," hati Steva kembali terasa perih, air matanya sudah menganak sungai, memang tidak mudah untuk bisa melupakan kisah yang terukir indah di masa yang lalu. Steva berhenti sejenak.


"Saya bekerja di rumah Malvin agar bisa membayar hutang, paling tidak, saya mempunyai itikad baik agar bisa membayar hutang meski saya jual kedua ginjal saya itu pun tak akan cukup, kami lantas saling jatuh cinta, dan?" menangis, Steva sudah menangis, ia menarik nafas dalam mengisi oksigen pada rongga dada yang sangat sesak dengan udara yang terasa semakin menipis dalam ruangan kamar yang luas ini.


"Dan?" kening Razz mengernyit.


"Dan kami melakukannya, suka sama suka, dengan kesadaran penuh," jawab Steva yang diakhiri senggukan namun sekuat tenaga ia tahan.


"Hufttt,,,," Razz menghembuskan nafas kasar.


"Kau tidak sedang hamil, bukan?" tanya Razz yang sudah tahu jawabannya, ia hanya ingin memastikan kalimat yang terucap langsung dari bibir Steva.


"T-ti tidak, Tuan. Saya kan sedang datang bulan!" jawab Steva sungkan.


"Baik, tidak masalah meski ruang mu sudah terbobol segelnya. Yang paling penting kamu tidak sedang hamil, karena akan haram hukumnya bagi seorang suami yang menyiram benih pada ladang yang telah tertanami," jawab Razz begitu gamblang membahas mengenai hukum agama.

__ADS_1


"I-i iya, Tuan!" jawab Steva menunduk, sungguh memalukan. Tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya saling menggenggam erat.


"Jadi? Jawaban kamu?" Razz kembali bertanya memastikan.


"I-i iya. Iya, saya bersedia menikah dengan Tuan,"


Senyum Razz mengembang lebar, ia begitu lega mendengar jawaban Steva, rasanya ia ingin langsung melompat kegirangan dan juga berteriak, atau yang paling penting ia ingin sekali langsung menghubungi Liora.


"Bagus, baiklah, kita bicarakan ini lagi nanti malam, aku harus segera pergi sekarang," senyum yang terus mengembang di bibir Razz setelah Steva memberikan jawaban itu telah disalah artikan oleh Steva. Steva berpikir jika senyum itu tulus untuk dirinya. Dan Steva tentu merasa sangat senang dan lega. Razz menerima apa adanya dirinya. Dan juga menerima aib masa lalunya.


"Aku pergi kerja. Kau? Terserah kau mau apa." celoteh Razz saat mereka sampai di depan pintu kamar, dan Tan menggandeng tangan Razz menuntunnya turun melewati anak-anak tangga.


'Brak.' Steva menutup pintu kamar diiringi senyum yang terus mengembang, bahagia. Sangat, ia akan segera menikah dengan pria yang menenangkan hatinya hanya dengan manik birunya yang cantik.


Yah, meski seperti yang sudah dibicarakan kemarin, jika cinta diantara keduanya belum bersemi, namun mengikuti pepatah Jawa yang mengatakan, jika cinta itu akan tumbuh seiring berjalanya waktu karena sering bertemu.




Di tempat lain, Malvin terus saja uring-uringan, ia membanting barang-barang yang ada di kamarnya, tangannya terluka dan berdarah karena goresan beling dari botol minuman yang ia pecahkan.



Matanya merah, deru nafas yang tak beraturan. Penampilannya sangat kacau, keringat yang membasahi tubuh, alkohol yang menemani 24 jam, dan rambut yang acak-acakan. Malvin sangat marah karena Steva telah berada pada dekapan pria lain, bahkan mereka sudah menikah, pagi tadi assisten pribadinya melaporkan tentang uang yang ditransfer oleh pihak Razz untuk membayar hutang Steva. Membuat Malvin semakin meradang. Dan dia melampiaskan semua pada barang-barangnya yang ada di kamar, barang-barang yang mengingatkan dirinya akan kehadiran Steva dengan cekikikan tawanya yang ceria.



"Aku tidak mau kehilangan kamu, Steva. Aku tidak bisa."



*Seseorang baru akan terasa berharga ketika kita yang dengan begitu sengaja menyia-nyiakannya di hari kemarin namun akhirnya dia memilih untuk pergi dari genggaman kita, dan memilih tangan lain untuk digenggamnya. Dan hanya ada satu kata yang menyelimuti hati setelah itu*, ***penyesalan***.

__ADS_1



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2