
"Aaahh,,, sudahlah. Mau marah juga tidak ada gunanya, toh semuanya sudah terjadi, lagian, ngapain sih aku merasa malu dengan tubuh polosku di hadapannya, orang dia juga nggak bisa ngelihat!" Steva memutuskan untuk segera membersihkan diri, memakai pakaiannya kembali, lalu menyiapkan air mandi Razz dan keperluan Tuan bayi besarnya yang adalah suaminya.
Razz masih tertawa kecil menggeleng, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan pada Steva. Rasanya luar biasa, seperti hidupnya telah terisi oleh nyawa baru yang membuat hidupnya semakin bergelora, tidur di ranjang bersama dengan seorang wanita yang bertubuh polos, dan wanita itu malu-malu, membuat Razz sangat ingin berbuat lebih, hanya saja, ia masih menjaga diri. Ada nama wanita lain yang telah bersemayam terlebih dulu dalam hati, yang sebentar lagi akan Razz nikahi.
"Haaaahhh,,,," Razz menghembuskan napas kasar, bangkit dari ranjang, ia memainkan ponselnya sebentar sebelum Steva kembali, setahu Steva, Razz hanya menggunakan benda itu untuk menerima panggilan dari orang lain saja.
Pukul 11:15. Tak ada pesan yang berarti, hanya Mommynya yang memberi kabar persiapan yang dilakukan untuk pernikahannya dengan Liora nanti. Padahal Razz tentunya ada pesan dari Liora meski sekedar mengucapkan selamat pagi.
"Aku belum memberi tahu Tan, apa dia datang untuk menjemputku?" Akhirnya Tuan besar yang tenggelam dalam hasrat nsfsu itu mengingat asistennya juga. Razz menghubungi nomor Tan, dalam sedetik asistennya itu mengangkat panggilan dari Razz. Bagaimana tidak, itu adalah hal yang paling Tan tunggu-tunggu dari tadi. Kakinya sampai kaku karena terus berdiri di depan pintu kamar sang Tuan. Yang ia pikir sedang menikmati percintaan.
"Tan?" panggil Razz setelah terdengar suara Tan memberi salam selamat siang pada Razz.
"Kau bisa istirahat untuk hari ini, aku cuti." ujar Razz sebelum ia menutup sambungan teleponnya. Dan bertepatan dengan Steva yang sudah keluar dari kamar mandi, Steva sempat mendengar kalimat terakhir yang Razz katakan pada Tan.
[Ah, sialan, kenapa baru bilang? Anda seharusnya bisa memberitahu saya sejak pagi tadi.] kesal Tan yang akhirnya pergi dari titik ia berdiri.
'Glek.'
"T-tu tuan?" Steva datang mendekat, ia sudah nampak rapi dengan pakaiannya, memakai handuk Razz yang ia pakai untuk menggulung rambut panjangnya yang basah. Dan Steva terlihat sangat segar.
"Airnya sudah siap!" ucap Steva lembut.
"Huffftt,,, oke." jawab Razz santai, ia meletakkan ponsel di atas nakas, lalu berdiri dan menuju kamar mandi. Saat tubuhnya sejajar dengan tubuh Steva. Razz sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Steva, dan Steva hanya bisa membolakan kedua matanya. Gugup.
"Jangan masak lagi, aku tidak suka kau berdekatan dengan Tuan Koki. Atau pria lain." bisik Razz begitu lirih.
"Cuupp!" satu kecupan Razz daratkan pada pipi halus Steva. Dan Razz melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Steva yang masih berdiri diam terpaku.
"Dug_dug. Dug_dug."
Steva menyentuh dadanya yang berdegup lebih kencang karena debaran cinta, tapi Steva suka itu. Hati yang kemarin tersakiti telah terobati. Dan Razz lah obat itu.
"Oohh,,, kau benar-benar sedang dalam situasi tidak aman, wahai Hati!" beo Steva mengelus dadanya sendiri.
Sepanjang melakukan ritual mandi, senyum Razz terus mengembang, ia merasa begitu senang, dan Razz tak tahu pasti kenapa, ia tak begitu dapat mengartikan rasa yang mulai tumbuh dalam hati, atau sebenarnya, ia terus menampik dengan alasan ia ingin menjadi pria setia yang hanya mencintai dan menginginkan Liora. Tapi membuat pipi Steva terus merona merah karena dirinya, tentu membuat Razz merasa bangga. Dan Razz ingin melakukannya lagi, lagi dan lagi.
Razz berendam pada air hangat yang Steva siapkan di dalam bathtub, Razz memejamkan kedua matanya, saat-saat ketika Steva mende.sah begitu bergairah atas kenakalan lidah dan jemarinya kembali terbayang memenuhi otak dan pikiran Razz, apalagi lirihan Steva yang menyebut namanya manja, Razz benar-benat tergila-gila.
"Aku bisa gila kalau terus begini, kenapa bayangan Steva tak mau enyah?" antara bahagia dan bingung, Biasanya, saat ia terpejam, wajah dan senyum Lioralah yang mengganggunya, tapi kini?.
"Haaahhh,,,,!"
Steva ingin turun ke lantai bawah, ia ingin pergi ke kamarnya sendiri, mengganti baju. Tapi Steva tidak berani, Razz tidak menyukai jika dirinya pergi tanpa meminta ijin terlebih dulu darinya, dan Steva juga ingin mengatakan pada Razz perihal Card yang ia berikan telah Steva pinjamkan pada Asha untuk pengobatan keponakannya.
__ADS_1
'*Drrtt,,, drrtt,,,, drrttt*,,,'
Ponsel Razz yang berada di atas nakas bergetar, satu panggilan masuk. Steva mendekat, ia merasa penasaran siapa yang menghubungi suaminya.
**MOM**. *Calling*,,,,
'*Telepon dari mamahnya*!' Steva tidak berani menyentuh benda pipih itu, ia hanya melihat lalu kembali mundur menjauh, membiarkannya tetap bergetar hingga akhirnya berhenti.
'*Klek*!' Razz keluar dari kamar mandi, ia menggunakan baju handuk, dan mengacak rambutnya yang basah dengan kedua tangannya, dada bidang yang teraliri buliran bening air sisa mandi membuat otak Steva kembali pada mode positif. Apa lagi rambut hitam tebal yang basah dan diacak-acak itu, '*Oh, Tuhan*!' jerit batin Steva.
"Stev?" panggil Razz berpura-pura sebagai si buta yang tak melihat sang istri berada tak jauh di depannya.
"I-i iya, Tuan? Saya di sini," jawab Steva meraih tangan Razz untuk ia gandeng menuju kursi meja rias. Dan Razz tersenyum manis.
Razz sangat menyukai perilaku Steva yang sangat memanjakan dirinya, memuliakan dirinya sebagai suami, dan poin paling penting, adalah Steva yang sangat patuh.
'*Betapa bodohnya Malvin yang telah mencampakkan wanita sebaik Steva*!' gumam Razz dalam hati tanpa menyadari kebodohan dirinya sendiri, tapi mau bagaimana lagi, di mata Razz, Liora tetaplah yang paling sempurna.
"Tuan?" lirih Steva pelan.
"Hemm?"
"Tadi, ponsel anda berdering, sepertinya panggilan dari mamah anda!" ucap Steva hati-hati. Ia tak ingin salah bicara dengan hanya menggunakan kata mamah, tanpa menambah keterangan kata *anda* di belakang kalimatnya, karena Razz belum memperkenalkan secara resmi mereka berdua.
__ADS_1
"Oh, iya, akan kuhubungi balik nanti," jawab Razz.
"T-tu tuan?" Steva mulai gugup, ia berhenti memijat, Steva ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal.
"Ada apa?" tanya Razz dengan dahi mengernyit. Ia dapat melihat kecemasan yang tersirat di raut cantik wanita di dekatnya ini.
"Anda? M-ma maksud saya? Saya? Emh?"
"Ada apa, Stev? Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan saja!" ucap Razz meraih tangan Steva, lalu Razz mengelusnya, dan\_
"*Cuupp*." Razz mengecup punggung tangan Steva yang lentik.
'**DEG**.' '*Dia sangat pandai memanjakan perempuan*.'
"Steva?"
"Hah?"
"Ada apa?"
"Oh, itu, emh? K-ka kapan anda akan memperkenalkan saya pada mamah papah anda?"
'**DEG**.' kini giliran Razz yang merasa gugup setelah Steva mengatakan dengan gamblang pertanyaannya yang tak bisa langsung mampu Razz jawab sebelum skenario tersusun rapi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1