
"Kakek, apa kabar?" lirih Steva.
Kakek itu terdiam enggan menjawab, ia mengamati Steva yang berjongkok di hadapannya, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki Steva.
"Siapa kau?" tanya kakek itu kemudian saat ia merasa tak mengenali wanita yang jongkok di hadapannya.
"Aku?" tenggorokan Steva serasa tercekat, air matanya mengalir, dan Razz ikut berjongkok merangkul bahu Steva, mengelus lengannya.
"Aku adalah gadis yang kau temani sesaat dulu, gadis yang dititipkan oleh ibunya yang?" lagi, dada Steva terasa sangat sesak saat ingin mengatakannya. Air mata Steva semakin deras mengalir, dan Razz masih diam mendengarkan.
"Gadis dengan manik iris coklat!" celoteh Kakek.
"Kakek mengingatku?" seru Steva antusias.
"Kejadian itu hanya terjadi satu kali seumur hidupku, tentu aku akan selalu mengingatnya!" jawab Kakek yang membuat tangis Steva diiringi sebuah senyuman yang mengembang.
"Kau sudah dewasa, dan kau tumbuh sangat cantik, apa dia suamimu?" tanya kakek itu sambil menatap Razz.
Steva mengangguk beberapa kali, ia membenarkan pertanyaan si kakek, Steva lantas mengusap pipinya yang basah.
"Aku tidak menyangka masih bisa menemui kakek di sini,"
Dulu saat Steva datang ke tempat ini ia masih sangat kecil, rambut, jambang dan jenggot kakek itu masih berwarna hitam meski usianya menginjak setengah abad. Dan mungkin sekarang dia sudah berumur 70 tahun atau bahkan lebih.
Dia adalah kakek-kakek tanpa nama, ia mengalami kecelakaan saat hendak menaiki kereta, tak ada yang tahu pasti bagaimana ceritanya, dia lumpuh, dan wanita yang kemungkinan istrinya bersama dirinya saat kejadian kecelakaan itu telah pergi meninggalkannya, lalu Kakek itu memutuskan menjalani hidupnya dengan hanya duduk di tempat ini tanpa kata, tanpa tujuan, dia hanya ingin wanitanya kembali, dia lumpuh, dan patah hati.
Ia mendapat makanan dari ibu warung yang menjadi tempat berteduhnya, ia duduk, dan tidur di sini. Saat dia akan pergi ke toilet umum, dia akan mengangkat tubuhnya dengan kekuatan tangannya, atau juga mengesot, hidupnya selesai, tak ada yang tahu siapa namanya, dia adalah pria yang selalu mengharapkan kedatangan wanitanya.
Setelah mendengarkan pembicaraan mereka yang cukup lama, Razz tahu, sebuah rahasia yang Steva simpan seorang diri selama ini.
Saat kecil dulu, ibunya membawa Steva pergi lari dari rumah karena amukan dari ayahnya, ibu Steva menitipkan Steva kecil pada si kakek yang memang selalu duduk di tempat itu.
"Aku titip anakku, aku tak bisa menjaganya lagi!" celoteh ibu Steva.
Si kakek yang waktu itu masih berpenampilan bapak muda, tanpa menjawab hanya menggenggam tangan Steva kecil agar gadis itu tak berlari mengejar sang ibu.
"Aku hanya mampu memegangi tangan gadis kecil sepertimu waktu itu, tapi aku tidak mampu jika harus memegangi tangan ibumu, dia memiliki keputusannya sendiri." ujar si Kakek mengingat kembali kejadian 20 tahun silam.
"Ibu,,,,!" teriak Steva kecil melengking namun hampir tak terdengar karena teredam oleh suara klakson lokomotif sebuah kereta api yang melaju sangat kencang.
Ibu Steva menabrakkan diri pada badan kereta yang melaju kencang hingga tubuhnya terpental ke trotoar depan emperan toko dengan kepala pecah dan seketika tubuhnya bersimbah darah. Ibu Steva menyerah menjalani hidup yang terus menyiksa.
__ADS_1
"Hampir setiap hari, ada saja wanita yang datang ke tempat itu, wanita yang hancur, wanita yang hatinya patah, wanita yang langitnya runtuh dan dunianya serasa berakhir, mereka biasa berteriak saat kereta tengah lewat, hingga lengkingan kuat jeritan hati itu teredam oleh deburan kereta yang bergemuruh, mereka datang membawa bunga, kue, atau sekedar menyiramkan air di tempat jasad ibumu terpental dari kereta, lalu mereka pergi setelah itu. Tidak harus mengakhiri hidup untuk mengakhiri masalah" ujar si Kakek yang bercerita pada Steva, dan Razz pun ikut mendengarkan dengan seksama.
"Berita ibumu cukup ramai waktu itu, siaran tivi nasional, berita di radio, dan surat kabar, hampir semua awak media memuat beritanya, dan tempat itu menjadi cukup terkenal sebagai pelepasan emosi wanita-wanita lain yang terluka, mereka menjadikan ibumu sebagai pembelajaran," lanjut si kakek.
"Itu yang Kakek dulu katakan padaku, saat aku menangis menjerit, Kakek mengatakan, jika tidak harus mengakhiri hidup untuk mengakhiri masalah, dan aku selalu mengingatnya."
Mereka berbicara cukup lama, Razz mengeluarkan beberapa lembar uang, namun si kakek menolak, ia tak membutuhkan apa-apa di hidupnya, ia hanya menunggu malaikat membawa ruhnya saja. Ia tak butuh uang ataupun hingar bingar dunia.
"Sudah ada si janda bahenol yang memberi kakek makan setiap hari!" canda si kakek yang mendekat ke wajah Steva saat ia mengatakannya, dan tangannya menunjuk ke belakang punggungnya, sebuah warung makan yang terbuat dari kayu dan berukuran kecil.
Steva tertawa mendengar penuturan si Kakek menyebut wanita pemilik warung itu dengan julukan si janda bahenol.
Mereka berpisah, Steva menawarkan agar kakek itu tinggal bersamanya, namun kakek itu menolak, ia tak butuh rumah, tempat yang ia duduki adalah tempat terbaik baginya. Dia adalah pujangga sejati yang sudah benar-benar melepas nafsu dunia.
Hujan turun cukup deras mengiringi perjalanan Steva dan Razz kembali ke rumah, mobil yang Tan kendarai sudah memasuki wilayah kota, paling tinggal setengah jam lagi mereka sampai di rumah, dan jam menunjukkan pukul 10 malam.
"Aku hanya menemanimu melakukan perjalanan selama satu hari, tapi aku merasa seperti telah menemanimu sejak kau masih kecil, terimakasih karena membawaku menyelami masa lalumu," ujar Razz yang tak melepas pelukannya dari tubuh Steva saat mereka masih berada di dalam mobil.
Tan yang tengah mengemudi menerima sebuah panggilan telepon, dan dia mengunakan mobile handsfree di telinganya.
'*Sreeett*,,,'
Tan menginjak rem tiba-tiba, mengagetkan Steva dan Razz yang duduk di jok belakang.
"Ada apa, Tan?" tanya Razz dengan suara keras.
__ADS_1
Tan belum menjawab, ia menoleh ke belakang, menatap dalam pada Razz dan Steva bergantian.
Flash back on.
POV LIORA.
Aku masih menikmati hidangan sarapanku seorang diri di meja makan rumah Razz, meski aku tak berselera, tapi aku menurut karena Gulnora terus memaksa dan menggangguku.
Aku benci keadaanku, tak ada yang bisa kulakukan di rumah ini, tempat ini, negara ini, aku merindukan rumahku dan teman-temanku di luar negeri, terlebih aku merindukan Leon, cintaku, ayah dari janinku.
Razz dan Steva terlihat menuruni anak tangga dengan senyum yang mengembang, tangan Steva bergelayut manja, dan sungguh aku tidak cemburu meski Razz juga berstatus sebagai suamiku, aku hanya benci dengan semua keadaan ini, kenapa harus aku yang menderita? Kenapa aku yang harus mengalami kehilangan? Mengapa aku?
Sedangkan aku telah merencanakan semuanya dengan matang agar bisa hidup bahagia bersama Leon, tapi takdir berkata lain, Tuhan tidak adil padaku, aku justru terjebak menjadi orang ke tiga dalam hubungan yang kuciptakan atas dasar permainan. Dan aku benci jadi figuran.
Razz dan Steva pergi entah kemana, aku tidak peduli. Sungguh aku tak peduli, tapi saat kulihat Razz yang terus mengecup manja kening Steva, hatiku tiba-tiba terasa nyeri? Apa aku cemburu?
Tidak, itu tidak mungkin, kenapa aku harus cemburu? Untuk apa aku cemburu? Aku tidak mencintai Razz, tapi hatiku semakin perih saat kulihat Razz menautkan bibirnya pada bibir Steva meski hanya singkat saat mereka berjalan keluar dari ruang tengah.
Aku keluar dari rumah, di temani oleh dua pengawal yang Razz siapkan untuk kuperintah dan menjagaku.
Aku berbelanja segala hal yang ku mau. Lalu saat aku teringat akan Leon. Emosiku memuncak dan aku pergi dari sana.
Aku merasa telah mencurangi kekasihku, aku merasa telah berkhianat padanya dengan memilki rasa cemburu di hatiku pada Razz, aku tidak mau mengkhianati Leonku.
Aku berlari keluar dari mobil dan tak mempedulikan para pengawal yang mengejar meneriaki namaku, aku ingin mati, yah, aku ingin mati saja. Aku ingin menyusul kepergian Leon, hanya bersama dengan Leon lah aku bisa bahagia. Aku semakin menderita dengan hidup di tengah kebahagiaan Razz dan Steva, dan aku tidak sanggup.
Leon? Bawa aku pergi, aku tidak mau hidup di dunia ini.
Flash back off.
"Apa?" teriak Razz saat mendengar kabar yang Tan sampaikan, Steva pun membulatkan mata tak percaya.
"Cepat!" perintah Razz pada Tan.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...