GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
WELCOME


__ADS_3

Sebuah ponsel berada di genggaman, dan Steva mulai menggeser layar, menampakkan sebuah video yang siap diputar, terpampang wajah tampan Razz yang pucat dan lemah.


"Hai, Stevaku sayang? Apa kabar? Jika kau menerima video ini, itu artinya aku telah pulang, aku sudah menunggumu begitu lama dalam kesakitan. Aku takut tidak memiliki kesempatan untuk bertemu, dan kusiapkan video ini untukmu.


Inilah hari-hariku berakhir, inilah saatnya senjaku tenggelam dan fajarku tak lagi menyingsing. Setiap yang hidup akan bertemu dengan maut, karena inilah tujuan hidup yang sesungguhnya.


Jalanku dan jalanmu, nyatanya tak bertemu menjadi jalan kita, bersama denganmu membuat jalan hidupku terasa nyaman. Tapi tidak denganmu, berada di jalanku kau merana.


Jangan bersedih, meski jauh, aku selalu bersamamu, aku lelap dalam tidurmu, aku menangis dalam air matamu, dan aku bahagia dalam tawamu.


Tuhan masih menghidupkan ku walau dalam raga orang lain, dia mengabulkan doaku untuk selalu mencintaimu seumur hidupku, dan seumur hidupmu.


Kau adalah karunia terindah, kau adalah keindahan dari surga, berbahagialah, itu adalah doaku. Aku mencintaimu."~ Razz.



"Pergilah, Nak. Kami baik-baik di sini, ini memang tempat kami, kapanpun kamu ingin, kamu bisa datang mengunjungi kami di sini,"



Bibi Elly, Paman Yohan, Nyonya Amora, Pak Tan, dan Steva tengah duduk bersama di kursi kayu ruang tamu rumah Paman Yohan.



Setelah berdiam diri selama satu bulan di desa pasca kepergian Razz, Nyonya Amora menemui Steva agar bersedia pergi bersama dengannya ke Roma Itali, Nyonya Amora akan memboyong Steva, Pak Tan, dan Nyonya Gulnora ke negara yang terkenal dengan sebutan negara spaghetti itu.



"Tapi bi?" Steva terus menolak, dan bibi Elly terus membujuknya.



Nyonya Amora pun memohon dan begitu juga dengan Tan. Steva mengangguk sebagai jawaban.



"Baik-baik di sana, jaga kesehatan, ingat ada si kecil yang harus kamu rawat dengan baik. Kami akan selalu mendoakanmu," tutur bibi Elly saat mereka semua berpamitan di depan rumah kayu paman Yohan.



"Iya, Bi. Terimakasih untuk semuanya selama ini," Steva dan bibi Elly berpelukan sangat erat dan cukup lama, lalu Steva berpindah memeluk Paman Yohan. Dan Steva pergi bersama Nyonya Amora dan Tan meninggalkan rumah yang memberi naungan untuk Steva tinggal selama beberapa bulan itu.



\[*Suara pesawat lepas landas\] Di sebuah bandara internasional, membawa Steva pergi meninggalkan tanah air, meninggalkan orang-orang serta kenangan-kenangannya menuju tempat baru, tuk mengukir gairah Steva yang baru*.



"BUGH. BUGH. BUGH."


Malvin melampiaskan emosi pada samsak tinju, hanya dengan rasa lelah ia bisa sedikit mengalihkan sakit di hatinya.



"Berhentilah, Malv, Dokter sudah memperingatkanmu untuk tidak berolahraga berat terlebih dahulu, apa kau ingin kembali masuk Rumah Sakit? Atau kau benar-benar ingin mati?" Paman Ramon berbicara namun keponakannya itu enggan menanggapi.


Malvin masih terus fokus pada samsak yang di hadapannya yang terus ia pukuli, keringat membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh kekarnya.


"Kau harus ingat kalimat yang pernah Steva katakan, tidak harus mengakhiri hidup untuk mengakhiri masalah, Tuhan sudah memilihmu untuk tetap hidup, jadi kau harus menjaganya."


"BUGH." pukulan terakhir, Malvin merangkul samsak yang bergoyang karena hantaman bertubi dari kepalan tangannya, napasnya terengah, dia lelah, dan teringat Steva.


"Kau harus bersukur, Malvin. Tuhan lebih menyayangimu dari pada Razz, kau yang dipilihnya untuk tetap hidup." Steva dan Malvin bersitegang sesaat setelah pemakaman Razz.

__ADS_1


Tanpa sengaja Steva melihat Malvin yang hadir di pemakaman namun ia hanya berdiam diri di dalam mobil, dan dari kejauhan Steva melihat Malvin yang hampir menembak kepalanya sendiri menggunakan senjata api, Steva lekas berlari dan menghalangi niat Malvin untuk bunuh diri.


"Aku dipilihnya untuk hidup bukan karena dia lebih menyayangiku, Steva. Tapi karena dia ingin aku lebih menderita." tukas Malvin emosi.


"Keterlaluan, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan? Tuhan membiarkanmu tetap hidup agar kau masih memiliki kesempatan bertaubat. Jadi berhenti bicara dan bertindak yang bukan-bukan. Jantung orang yang sangat aku cintai telah bersemayam dalam dadamu, dan kuharap kamu bisa menjaganya, kamu tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya. Tidak harus mengakhiri hidup untuk mengakhiri masalah."


Malvin masih terdiam dalam lamunan. Ia terus teringat pertemuan terakhirnya itu dengan Steva di bukit tempat Razz dimakamkan di samping makam ibu dan nenek Steva.


"Apa kau sudah dengar kabar tentang Steva, Malv?" Paman Ramon kembali berbicara, membuyarkan lamunan Malvin.


"Aku tidak peduli, Paman. Dan aku tidak ingin tahu," jawab Malvin dingin sambil melepas sarung tangannya. Ia lantas melangkah meraih botol air dan meneguknya.


"Steva telah pergi, Malvin. Nyonya Amora membawanya ke luar negeri."


"DEG."


Malvin berhenti minum. Ia hanya diam tak menanggapi, namun sorot matanya begitu tajam penuh amarah, juga rasa sedih. Dan dengan gerakan cepat ia membanting botol minuman itu hingga minumannya tumpah ke segala arah.


"Sudah kukatakan jika aku tidak peduli." Malvin melangkah meninggalkan Paman Ramon yang menatapnya dengan rasa kasihan.


"Hufffftt,,,"




**3 bulan kemudian**.



Di sebuah Rumah Sakit Gemery Hospital, Roma Itali.




"Sabar, Sayang! Rasanya memang seperti itu, tapi nanti kamu akan sangat bahagia setelah melihatnya lahir ke dunia! Semua rasa sakit akan tergantikan dengan kebahagiaan." Amora menguatkan Steva, menggenggam tangan menantu yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri, Steva tengah berjuang antara hidup dan mati, ia akan melahirkan buah hatinya bersama Razz secara normal.



"Mom,,, aaaaa!" ringisan Steva berubah menjadi sebuah jeritan.



"*Andiamo signora, solo un po' di più. Puoi farlo*." seorang Dokter perempuan yang menangani Steva bicara dalam bahasa Itali.



"Ap-pa yang dikatakan Dok-ter, Mom?" disela-sela rasa sakitnya, Steva bertanya penasaran dengan apa yang dikatakan Dokter wanita itu, sangat menyusahkan hidup di tempat baru di mana Steva tidak mengerti bahasa mereka dan harus meminta terjemahan dari orang lain.



"Dokter bilang sedikit lagi, Sayang! Ayo, kamu bisa."



"Aaaaa?"



"*Oweekk,,, owekkkk,,,, owekk*,,,,"


__ADS_1


"H~haaahh,,,, hah,,, hah,,,," dada Steva naik turun, napasnya tersengal seolah telah kehabisan pasokan oksigen.



"*Congratulazioni, il tuo bambino è un maschio*." Ucap Dokter, ia lantas membawa bayi Steva yang baru lahir, untuk segera dibersihkan sebelum diserahkan pada Steva untuk mendapat sentuhan pertama dada sang ibu.



"Selamat, sayang. Bayimu telah lahir, kau telah menjadi seorang ibu, dan Mom menjadi seorang *Nonna*!"



"Nonna?"



"Nenek, dalam bahasa Itali, sayang!" jawab Amora, Steva terkekeh pelan.



"Apa lagi yang Dokter katakan tadi, Mom?"



Amora menangis sambil tertawa, ia bahagia dan terharu, juga merasa lucu dengan kepolosan Steva yang masih sempat bertanya tanpa memikirkan kondisinya yang sangat lemah.



"Dokter mengatakan selamat atas kelahiran bayimu, Sayang, Bayi laki-laki."



"Anakku laki-laki?" tanya Steva antusias.



"Iya, sayang, sebentar lagi akan dibawa kemari, Dokter sedang membersihkannya terlebih dulu."



Dokter datang menghampiri sambil menggendong bayi Steva lalu memberikannya pada sang ibu.



"Hai,,,, baby,,,, Manik matanya biru, Mom." seru Steva saat ia menerima bayinya untuk ia peluk dalam dada, *skin to skin*.



"Iya, Sayang. Dia sangat mirip dengan Razz,"



"Dia adalah Razz junior, Mom. Halo, Sayang, selamat datang, *Cuuppp*!" Steva mengecup lembut kening Beby Razz junior.



![](contribute/fiction/4185031/markdown/23363190/1645858369671.jpg)



*Bersambung*.


__ADS_1


...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2