
Malvin berdiri mengawasi setiap gerak-gerik yang Steva lakukan, ia terlihat sangat tampan dengan balutan jaket kulit warna hitam, menambah kesan gagah dan seksi yang melekat pada dirinya.
Steva telah menutup kembali pintu pagar kayu yang melingkari halaman kandang, ia baru saja selesai membersihkan kandang, dan akan meneruskan pekerjaan mencari rumput, tapi sesaat kemudian ia malah terlihat melamun sambil bersandar pada pagar, tangannya menopang dagu, dan sikunya bertumpu pada pagar kayu.
"Kau sangat hebat, ibu domba. Kau bisa merawat dan membesarkan anak-anakmu seorang diri tanpa sosok suami yang menemani, aku kagum padamu," celoteh Steva pada seekor domba betina yang mendekat pada Steva, kepala domba itu mendongak beberapa kali.
"Aku juga akan bernasib sama sepertimu, ibu domba, aku akan melahirkan anakku, lalu merawat dan membesarkannya tanpa seorang suami, nasib kita tak jauh beda!" Steva masih pada posisinya.
Malvin tersenyum tipis melihat Steva yang mengajak bicara domba, meski Malvin tak mendengar apa yang Steva katakan, karena jarak mereka yang masih cukup jauh.
Malvin lantas melangkah, ia melepas jaketnya sambil berjalan, menyisakan kaos biru membalut tubuhnya, dan menaruhan jaket pada pundak, matahari mulai tinggi, itu cukup menghangatkan, jaket akan membuat Malvin merasa gerah.
**POV STEVA**.
Aku termenung memikirkan nasib anakku yang nantinya akan lahir tanpa sosok seorang ayah, konyolnya aku malah berkeluh kesah pada induk domba tentang isi perasaanku yang tak pernah kuutarakan pada siapapun selama ini. Hanya kupendam seorang diri.
Setelah diam cukup lama, tiba-tiba aku merasakan kehadirannya, yah, jantungku berdegup sangat kencang seperti biasa aku bersama dengan Razz.
Aku perlahan berdiri menegakkan tubuhku, pandangan mengedar ke depan mencari sesosok pria yang aku pikir mungkin ia hadir di sekitar sini.
Ku dengar langkah kaki seseorang dari arah belakang, dan aku lekas menoleh dengan cepat sambil menyebut namanya lantang tanpa sadar.
"Razz?"
"**DEG**."
Kakiku mundur satu langkah, gerakan refleks karena aku terkejut.
__ADS_1
"Malvin, Malvin, Malvin," sergah Malvin mengucap namanya tiga kali menimpali tajam karena aku menyebut lantang nama pria lain.
Aku gugup, dan jantungku masih berdetak tidak normal.
"K-ka kau, di sini?" tanyaku terbata, sambil mundur perlahan, Malvin dengan santai terus maju mendekat, dan dengan gerakan cepat ia menarik tanganku hingga tubuhku menempel sempurna pada tubuhnya, tanganku membuat pertahanan menyentuh dada bidangnya, berniat mendorong tapi aku teringat kejadian dulu saat aku pernah mendorong dadanya dan membuat Malvin kesakitan.
Aku terpaku, tangan Malvin merengkuh pinggangku dan tangan kirinya membelai wajahku, tatapan matanya tajam namun sendu, ia merapikan anak rambut ke belakang telingaku. Lalu membelai wajahku sampai dagu.
"Aku sudah katakan kalau aku akan datang, setelah semua bukti kudapatkan," Malvin masih mengelus pipiku lembut dan pelan menggunakan punggung tangannya dan jari telunjuknya.
Tubuhku gemetar, selain karena takut dan gugup, naluri alamiahku sebagai wanita dewasa yang merindukan kehangatan pun merespon dengan cepat, tubuhku meremang, perasaan gelenyar aneh membuatku merasa tak dapat mengontrol diri, dan jantung, jantungku berdegup sangat kencang. Kenapa? Apa aku masih menaruh rasa pada Malvin?
"Apa kabar? Steva!" Malvin menyebut namaku yang lama, cara dia memanggilku dulu, bukan dengan nama Eva yang ia kenal saat bertemu denganku di tempat tersembunyi ini.
"Aku tahu semuanya, meski aku tak mengingatnya, kita adalah pasangan di waktu dulu, kau pernah menjadi milikku, aku yang hilang ingatan, tapi kau yang justru melupakan, apa aku harus menceritakan semua dari awal? Agar kau bisa ingat, Steva?"
"**DEG**!"
Aku semakin gemetar, seakan tak percaya Malvin benar-benar melakukan penyelidikannya dan ia berhasil mengungkap semua secepat ini, mata Malvin menatapku begitu dalam, mengunci netra kami agar saling memandang, seperti dua insan yang saling merindukan setelah perpisahan.
Aku berusaha mundur tapi Malvin mencengkeramkan tangannya pada pinggangku semakin erat, lalu aku menekan dadanya mendorong tubuh Malvin agar ia menjauh dariku. Tapi sia-sia, ia sepertinya berniat meremukkan tubuhku dalam dekapannya.
"I-i itu hanya masa lalu, hanya kisah lama yang sudah kukubur, jadi, aku tidak peduli, lepaskan aku."
Aku terus berusaha melepaskan diri. Tapi Malvin tak bergeming, matanya justru berkaca-kaca menatapku, aku sampai merinding oleh tatapannya, baru kali ini Malvin menatapku dengan sorot mata seperti itu, sorot mata tajam namun sendu, mendamba dan ingin bermanja. Seperti cara Razz menatapku dulu.
__ADS_1
"Tapi bagiku ini adalah kisah baru, aku tak memiliki kisah lamaku, itu hanya sebuah cerita yang tak bergambar dalam memoriku yang terformat, dan inilah awal yang baru, kau, dan aku,"
"A-a apa maksudmu? Aku tidak mengerti,"
"Aku tahu aku begitu buruk dulu, dan aku tidak tahu apakah aku menyesali perbuatanku padamu dulu yang brengsek, atau tidak, tapi sejak dua bulan yang lalu, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku tertarik padamu, kau membuatku ingin selalu berada di dekatmu, aku tidak tahu itu perasaan apa, tapi jantungku selalu berdebar, dan aku baru merasa hidup saat jantung ini berdebar untuk pertama kalinya saat melihatmu, dan itu hanya terhadapmu, jika itu adalah cinta, maka kuakui aku mencintaimu. Aku mencintaimu,"
"Malvin? Itu?" Tiba-tiba aku ingin menangis, jelas pria di hadapanku ini adalah Malvin, tapi saat dia bicara, kenapa justru lirihnya Razz yang kudengar? Kenapa aku merasa jika aku tengah berbicara dengan Razz? Dadaku tiba-tiba sesak, aku sudah ingin menangis rasanya saat isi kepalaku kembali dipenuhi oleh bayangan Razz.

"Aku sudah katakan padamu sebelum aku pergi meninggalkanmu dua bulan yang lalu, aku akan kembali, dengan membawa bukti-bukti, dan jika kau memang ada hubungannya denganku, maka kau harus bertanggung jawab atas kegelisahan hatiku, kau harus menjadi milikku, hanya dengan begitu jantungku bisa tenang,"
Untuk sesaat aku merasa kalimat yang Malvin ucapkan adalah ketulusan Razz, lalu di detik berikutnya, itu berubah seperti keangkuhan Malvin, Oh Tuhan? Aku bisa tidak waras jika terus seperti ini.
"Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak mau. Bagiku itu hanyalah masa lalu dan aku tidak akan mengulanginya. Kau pergilah, kembali ke kota. Dan mulai hidupmu yang baru tanpa melibatkanku," aku mendorong kuat tubuh Malvin saat ia lengah, dan aku mundur menjauh, lari dari sana dengan langkah sangat cepat.
"Eva?" teriak Malvin yang mengejarku.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis, dan aku tidak suka menangis di hadapan orang. Aku sudah berusaha sangat tegar selama ini, kenapa hanya dengan mendengar sederet kalimat rayuan dari Malvin pertahananku hancur dan porak poranda? Kenapa aku terpengaruh? Tidak, aku tidak mau, Malvin hanyalah buku yang telah usai ku baca, dan aku sudah tahu akhirnya, Malvin hanyalah masa lalu.
"Steva?" Malvin berhasil meraih tanganku dan karena emosi yang tak terkontrol ia mendorongku hingga punggungku menabrak pohon besar, namun tangan Malvin menahan agar tak terjadi benturan.
"Aaahh?" Aku terhenyak, Dada kami naik turun disertai napas yang memburu, dan aku menangis kala netra kami kembali bertemu dalam sendu.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1