
POV RAZZ
Terpaksa aku membentak Steva memintanya untuk pergi ke kamar, permasalahan pelik yang sudah kubayangkan di hari-hari kemarin pasti akan terjadi ini harus segera aku selesaikan.
Kulihat Steva berlari menaiki tangga meninggalkan kami yang berada di ruang tengah berselimut nuansa tegang.
"Ambilkan aku minum, Gulnora. Aku lelah baru pulang kerja," ucapku berusaha mencairkan suasana.
"Baik, Tuan!" jawab Gulnora yang langsung masuk ke dalam dapur dan aku melangkah ke arah sofa menghampiri Dev sahabatku meninggalkan Mommy yang masih berdiri di belakang sana dengan tatapan membunuh.
"Apa kabar, Dev!" Aku merentangkan kedua tangan untuk memeluk Dev dan Dev menerima sambutanku.
"Jauh lebih baik darimu!" bisik Dev di telingaku saat kami sudah berpelukan.
"Razz?" teriak Mom yang berjalan cepat ke arahku, dan aku tak mempedulikannya, aku sangat tahu tabiat Mom. Saat dia marah, dia tidak suka dibantah, tapi aku tahu kebaikan hatinya, hanya saja butuh waktu. Sampai pikirannya mendingin dan aku akan bicara dengan tenang padanya.
Aku juga tidak bisa membantah Mom, dia adalah ibu yang super dalam membesarkanku seorang diri. Tapi saat dia memintaku untuk meninggalkan Steva. Aku tak bisa melakukannya. Aku sangat mencintainya, jadi rencanaku, aku harus bisa mendamaikan dan mendekatkan mereka. Mereka berdua adalah wanita yang sama-sama sangat berarti dalam hidupku, sama-sama baik. Meski dengan karakter yang berbeda.
"Mom, duduklah, aku tidak mau tekanan darahmu naik. Atau Nard akan menghajarku," dengkurku mencoba mencairkan suasana dengan menggodanya mengingatkan tentang Nard, suaminya, ayah sambungku yang tak pernah kupanggil ayah karena Nard yang menginginkannya saat meminang ibuku, agar kami bisa lebih dekat seperti teman, katanya.
"Come on, Aunty! Tidak akan ada hasil baik yang bisa didapatkan dengan emosi dan adu otot, Aunty pasti lebih bijak dariku soal ini," Dev merangkul bahu Mom lalu mengajaknya duduk di sofa, aku sendiri sudah menyandarkan punggungku berusaha santai.
Kulepas jas dan dasiku, dan kubuka dua kancing atas kemejaku yang berwarna hitam, memberi jalan masuk udara untuk mendinginkan dadaku yang meradang.
Gulnora datang, aku menerima gelas berisi air putih yang ia bawakan. Asha pun datang di belakangnya sambil membawa minuman jus dingin untuk Mom, dan Liora.
"Asha!"
"I-i iya, Tuan besar!"
"Siapkan kamar untuk Nona Liora di kamar bawah," perintahku pada Asha yang langsung mendapat kata "Ya" sebagai jawaban.
"Kamar bawah? Kenapa tidak satu kamar denganmu?" lagi, Mom berteriak tidak terima dengan keputusanku.
"Kau tidak keberatan kan, Liora?" aku tak menghiraukan Mom, dan justru berpindah pada Liora yang hanya diam berdiri tanpa kata dan pergerakan sedari tadi di sana.
"Tidak!" jawab Liora lirih, tatapan matanya kosong, ia bagai raga yang masih bernyawa namun sudah mati.
"Antar Liora ke kamarnya, Gulnora!" seruku, dan Gulnora membawa Liora pergi masuk ke dalam kamarnya di lantai bawah meninggalkan kami bertiga yang masih terasa sisa-sisa ketegangan tadi.
"Razz?"
"Mom, aku tak ingin menjadi anak yang durhaka dan memperburuk hubungan kita, aku tetaplah Razzmu yang dulu, tapi sekarang aku sudah dewasa. Aku tidak melakukan kesalahan jika beristri dua, tidak, ralat, maksudku, jikalaupun aku melakukan kesalahan, biarkan aku menyelesaikannya dengan caraku, Liora sudah tahu semuanya dan dia setuju,"
"Bodoh! Itu karena Liora wanita yang sangat baik dan sangat mencintaimu!"
'Cih.' aku hanya berdecih dalam hati.
"Mom, keputusanku sudah final, aku mencintai Steva, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya, akan sangat baik jika Mom bisa belajar menerima dia dan bersedia menganggapnya sebagai menantu Mom, dia?" kalimatku terjeda karena Mom menyela.
"Tidak sudi. Aku tidak menerima wanita lain selain Liora untuk menjadi menantuku, lagi pula, kenapa kau bisa sebrengsek ini? Kau begitu sangat mencintai Liora dulu, dia adalah cinta pertamamu sejak kecil, tapi kau berpaling dengan wanita lain, Razz?" teriakan Mom membuat telingaku terasa sakit.
"Yeah, yeah, yeah. Terserah Mom. Jika Mom mau menginap, minta Gulnora untuk menyiapkan kamar Mom, aku mau menemui istriku, Steva. Dan kau Dev, kita bicara lain kali saja. Kau sudah lihat sendiri bagaimana kacaunya rumahku hari ini," selorohku yang membuat Dev terkekeh.
Aku pun berdiri melangkah meninggalkan Mom dan Dev yang masih duduk di sana.
"Razz?" teriak Mom tak terima dengan keputusan dan sikap acuhku.
"I love you, Mom... But I also love Steva, my wife!" teriakku sambil berlari kecil menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Razz,,,, kumohon hentikan! *Hiks hiks hiks*." teriak Steva diiringi tangisan saat aku memaksanya.
Aku tahu ini salah, tapi aku tak memiliki cara lain agar bisa membuat Steva tetap berada di sisiku, aku tak ingin bernasib sama seperti Malvin yang terbelenggu penyesalan dan kehilangan jika Steva sampai meninggalkanku.
Aku tahu aku menyakitinya, tapi ini semua hanya butuh waktu, dan aku akan mengendalikan Steva dalam kuasa dan paksaanku, yah, hanya itu ide terbaik yang terbersit dalam pikiranku. Apapun akan kulakukan agar Steva tak pergi dariku.
"Percayalah padaku, Steva. Aku hanya mencintaimu, hanya dirimu, tak ada wanita lain dalam hatiku, tidak peduli meski ia berstatus sebagai istriku, hanya kaulah wanita yang kucinta, dan hanya dengan kaulah aku bermain cinta, tidak dengan yang lainnya," jelasku sambil membuka seluruh kancing kemeja lalu kulepas dan kubuang sembarangan.
Aku bergerak cepat melepas celanaku beserta segitiga bermuda warna biru, kulempar begitu saja ke belakang tanpa kutahu mendarat di mana, lalu terpaksa kurobek dress Steva karena aku tak tahu di bagian mana kancingnya.
'*Serraakk*!'
"Aaahh? Razz,,, *hiks hiks hiks*!" tubuh Steva terguncang, aku tahu dia takut.
Kukecup dalam keningnya agar ia lebih tenang. Dan kutautkan bibirku pada bibirnya, Steva tak membalas namun juga tak berontak, ia pasrah karena menolak pun percuma, kedua tangannya kuikat pada dipan ranjang menggunakan sabuk.
"*Empphh*!" Steva hanya mele.nguh, dia mulai terang.sang dengan permainan yang memaksa dirinya ini.
Setelah puas bermain dengan bibir, lidah dan wajahnya, aku turun perlahan menyusuri leher dan bermain di atas dadanya yang masih terbungkus B.H berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna putih.
"Aaahh?" de.sah Steva.
"Sayang, maafkan aku karena harus merusak b.ra indahmu ini, akan kubelikan nanti yang baru yang lebih seksi untuk kau pakai, *srak*!"
Kulahap dada Steva yang menbusung bulat padat itu setelah B.Hnya kurobek begitu saja.
Aku memainkan lidahku pada choco chipsnya cukup lama, kiri dan kanan bergantian. Steva terus mele.nguh dan mende.sah.
Aku turun ke bawah menyusuri setiap jengkal indah tubuhnya dengan bibir dan lidahku, hingga aku berhenti pada titik pemandangan indah inti area tubuh Steva.
__ADS_1
Kugigit ban tipis pada kain segitiga bermuda Steva lalu kutarik melorot ke bawah melewati kedua paha, betis dan kakinya.
"I miss you, *cuuppp*!" lirihku sesaat sebelum akhirnya kukecup mesra inti tubuh miliknya.
Kubuka inti tubuh Steva yang masih tertutup rapat dengan jemariku, ia menekan dengan mengapit kedua pahanya, Steva masih berusaha menolak meski reaksi alamiah tubuhnya mengkhianatinya, karena miliknya telah basah.
"Tidak apa-apa, Sayang? Nikmatilah. Semua ini hanya kulakukan padamu, hanya denganmu!" de.sahku bersuara parau dan berat, tubuhku sudah sangat mengeras dan begitu ingin memasuki Steva, namun aku melatihnya untuk bersabar, Steva harus enak terlebih dulu, baru aku akan menghujamnya.
Aku menjilati area inti tubuh Steva, lidahku menari di sana, menyapu kelembutan dan kelembabannya, Steva mende.sah dan semakin meracau kala kupercepat gerak lidahku dan jari tengahku pun ikut bekerja sama.
"*Aah,,, aahh,,, aahh,,, ssshh,,, aaahh,,, Razz*,,,,!" Ledakan pertama kusambut penuh naf.su, aku menjilatinya seperti tengah menikmati wine maupun sampanye favoritku, atau milik Steva ini jauh lebih kusuka dari minuman apapun.
Aku berhenti dan kulihat Steva membuka mata, aku naik menutup tubuhnya, mata kami saling bertemu pandang, dan aku tersenyum puas karena mampu mengalahkannya.
Dada Steva naik-turun seirama deru napasnya. Air bening itu kembali mengalir lewat sudut-sudut sendu matanya, dan aku mencium kelopak mata indah itu sehingga Steva memejamkan mata.
"I'm sorry, but I really love you, just only you!"
"Aaahh,,,," Steva kembali mendesah, dan tubuhnya melengking terangkat, matanya terpejam kuat serta dahinya mengernyit saat aku menggerakkan pinggulku menghujam area intinya hanya dengan sekali dorongan yang sengaja kusentakkan dengan keras sehingga kepala panglima perang mendesak menerobos masuk menghantam sesuatu di dalam sana yang membuatku semakin nikmat dan de.sah Steva semakin dahsyat.
"*Aahh,,, aahh,,,, aahh*,,," irama de.sahan kami berkolaborasi dengan suara hentakan demi hentakan yang kuhujamkan ke dalam inti tubuhnya.
Persetan jika aku harus kembali memanggil Renata, aku tak bisa mengendalikan diri, Steva terlalu nikmat, dia sangat lezat, tapi aku tak mau berpuasa lagi, aku akan terus menikmati Steva setiap aku menginginkannya, dan kurasa aku akan selalu menginginkannya, lagi dan lagi.
"Aahh,,, aahh,,, aahh,,,,!"
"Stevaaaaa,,, aaahhh!" tubuhku menegang kala kuhujam kuat dan kasar panglima perang ke dalam inti tubuh Steva hingga panglimaku mabuk dan muntah di dalam sana, mungkin karena kepalanya yang meski mengenakan helm terus membentur dinding kenyal di dalam sana.
"*Aaahhh,,,, haah,,, haahh,,, haah*,,,!" entahlah. Napas kami terengah dan aku tak berdaya, aku rubuh menimpa tubuh Steva.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...