
POV RAZZ.
Siang itu, Steva bertanya padaku, kapan aku akan memperkenalkan dirinya dengan Mom and Dad. Tentu aku merasa gugup, hal itu sama sekali tak terpikirkan, sesuatu yang mustahil untuk bisa kulakukan, Mommy tidak akan menyukai Steva, dan dia juga tidak menerima pernikahan kami yang memang terjadi bukan karena niat yang benar, aku telah salah dalam melakukan suatu permainan.
"Nanti, ya?" jawabku singkat pada Steva yang berhenti sesaat kala ia memijit bahuku.
Hari selanjutnya, aku mencoba menjaga jarak dengan Steva yang kurasa telah mulai mengetuk pintu hati dan bahkan telah singgah dalam tempat yang sudah lebih dulu ditempati oleh Liora.
Pesona Steva yang membuatku selalu bergairah tak mudah tuk kutepis begitu saja, hanya dengan mencium aromanya, hembusan nafasnya, dan lirih suaranya, jantungku dibuatnya berdegub kencang tak menentu, dan kejantanan panglima perangku sontak berdiri gagah begitu saja, aku bisa gila dibuatnya meski hanya dengan melihat dirinya dari kejauhan, sungguh sesuatu yang sulit tuk kutolak. Jika terus begini, aku takut aku benar-benar akan mengkhianati Liora dan larut dalam kenikmatan yang membuatku candu, jalan ninjaku adalah dengan menjauhi Steva sebelum aku jatuh terlalu jauh.
Aku merasa bersalah pada kedua sisi. Baik pada Liora yang sangat aku cintai dan sebentar lagi akan kunikahi, ataupun pada Steva yang sudah kunikahi dan mulai kucintai. 'Bangsat!' Kenapa aku terjebak dalam permainan bodoh ini?
Setiap hari Steva melakukan pekerjaannya dengan telaten, ia sangat penurut, jika aku memintanya maju, dia akan maju, jika aku memintanya diam, dia akan diam, bahkan meski dia begitu ingin bertanya lebih tentang bertemu Mom and Dad, dan saat aku mengatakan aku tak ingin membahasnya, Steva langsung menunduk tanpa kata. Sungguh dia wanita yang berbeda. Dan aku suka.
'Tok tok,,,' Pintu kamarku diketuk dari luar, sudah bisa kutebak jika itu adalah Steva, siapa lagi yang berani mengetuk pintu kamarku jika bukan wanitaku yang masih memanggilku dengan sebutan Tuan itu.
Mendengar seseorang datang, aku langsung menutup laptop dan menyimpannya kembali ke atas nakas. Dan aku berseru "Masuk!" hingga orang itu membuka pintu kamarku dan datang mendekat ke arahku yang tengah duduk bersandar pada dipan ranjang, dan yah, dia Steva, wanitaku.
"T-tu tuan? Apa saya mengganggu?" tanya Steva yang terlihat gugup, Ah, wanita ini, kenapa selalu bersikap seperti itu, gugup kala berhadapan denganku, membuatku begitu ingin menerkamnya.
"Tidak, ada apa, Stev?" aku membalas dengan sangat santai.
"A-a apa anda marah pada saya, Tuan?" tanyanya yang menatapku begitu dalam, tapi tentu aku tak membalas tatapan itu, aku terus menatap lurus ke depan karena aku berperan sebagai lelaki buta yang buruk rupa. Sialnya dia menerimaku dengan begitu tulusnya.
__ADS_1
"Marah? Kenapa aku harus marah?" kataku sambil tersenyum padanya. Melihat dia yang masih berdiri di dekat ranjang, aku pun memintanya untuk duduk.
"Duduklah," seruku mengulurkan tangan, dan Steva menyambut uluran tanganku, lalu duduk di tepian ranjang menghadapku gugup.
'Ouh, fu.ck. Bahkan hanya dengan sentuhan biasa macam ini, seluruh tubuhku rasanya menegang.'
"Ada apa, Stev? Kenapa kamu berpikir jika aku marah padamu? Hem?" tanyaku.
Untuk sesaat Steva hanya terdiam, aku tahu netranya itu tak lepas menatap mataku, entah kenapa tapi aku merasa ada cinta di sana.
"M-ma maaf, Tuan? Entah ini karena pikiran saya saja, atau memang anda sebenarnya menjauhi saya. M-ma maksud saya, anda tidak pernah memberi waktu pada saya, p-pa pada kita untuk bicara berdua, saya hanya menjalankan pekerjaan saya layaknya saya adalah pelayan pribadi anda," suara Steva terdengar berat, aku tahu dia menahan rasa sakit saat Steva mengatakan kegundahan hatinya itu padaku, tampak dari dadanya yang kembang kempis dan naik turun menahan rasa sesak.
Aku tersenyum sambil mengelus tangannya sebelum aku menjawab pertanyaannya yang membuatku turut bersedih atas sikapku sendiri padanya kemarin.
"Kemarilah," kataku lagi mengulurkan kedua tangan agar Steva menjatuhkan diri dalam pelukanku. Dan Steva bersedia, dia naik ke atas ranjang memposisikan diri dengan benar, masuk ke dalam pelukanku, aku melebarkan kedua kaki yang berselonjor hingga Steva bisa duduk dengan nyaman di antaranya, lalu menjatuhkan kepalnya yang harum pada dada bidangku yang tertutup kaos putih.
Aku mengelus rambutnya, bisa kurasakan jika Steva juga sangat tenang dan nyaman dalam posisi kami saat ini. Sedangkan panglima perang di bawah sana lagi-lagi telah gagah berdiri.
"Aku sangat lelah, Stev. Ada begitu banyak pekerjaan. Maafkan aku, ya? Kau pasti merasa sedih karena merasa kuacuhkan, cuupp!" Kuhadiahi pucuk kepala Steva dengan kecupan hangat yang tulus dari hati, sebagai tanda permintaan maaf ku yang memang berusaha menjaga jarak darinya.
Kuelus wajahnya yang masih bersandar di dalam dadaku, dan pipinya basah saat aku menyentuhnya, dia menangis. Perasaanku semakin kacau, 'Sial, tangisnya pun menyakiti hatiku.'
"Hei, jangan nangis?" kataku lembut menangkup wajahnya dengan kedua tanganku menghadapkan wajahnya dengan wajahku.
__ADS_1
Mata sendu itu, sungguh aku bisa melihat pancaran cinta di dalam manik coklatnya, bahkan tak pernah kulihat kilat seindah ini dari manik Liora yang kupandang begitu dalam setiap saat kami beradu.
"Apa kau mencintaiku, Stev?" entah mengapa aku tiba-tiba merasa begitu menginginkan pengakuan. Kejelasan. Dan aku pun menanyakan itu pada Steva. Hancur sudah pertahanan benteng hatiku yang kujaga untuk Liora semata, kini hati itu telah bercabang dan mendua, 'Oh, Liora,,, ini bukan salahku, kau yang menciptakan permainan ini!'
Steva yang masih terisak samar-samar menganggukkan kepalanya.
"Iya, Aku mencintaimu," lirihnya memejamkan mata, menutup manik coklatnya dengan kelopak mata yang indah. Membiarkan buliran bening hangat miliknya mengalir deras melewati pipi dan jatuh pada tanganku.
"Maafkan aku jika aku menyakitimu," dengkurku yang langsung mempertemukan bibir kami dalam peraduan gairah cinta, nafsu, dan bi.rahi.
Steva masih memejamkan matanya saat aku mulai menautkan bibir kami dan mengeksplor dengan sentuhan indah mendebarkan dada menggetarkan jiwa dan raga.
Bibir Steva sudah menjadi candu untukku, bibir itu lembut, kenyal, hangat dan manis. Aromanya laksana embun yang menyegarkan dan menyejukkan, namun mampu menghangatkan dan membakar seluruh saraf percintaan yang ingin disalurkan untuk dituntaskan dalam penyatuan.
Nafas kami terengah, aku melepaskan tautan bibir kami sesaat memberi jeda untuk mengambil napas, lalu kembali menautkannya lagi menjelajah lebih dalam dan lebih inci.
Tanganku tak mau tinggal diam, bergerilya pada dada busung Steva, mengelus, menangkup, meremas dan mencengkeramnya, Steva mende.sah menerima perlakuanku padanya. Aku tahu dia suka.
"Aaahh,,,!" lirih Steva yang selalu terngiang di telinga, bahkan ketika ia tak berada di dekatku sekalipun.
"Kau mau aku memuaskanmu, Stev?" tanyaku menggodanya. Dan Steva mengangguk manja. Manik coklat itu berkabut, dan aku menelusuri seluruh wajah, leher, turun ke dada, bermain di atas perut ratanya yang ramping, hingga posisi kami berubah dan aku sudah pindah berada di bawahnya, membuka lebar kedua kaki Steva ke kedua arah sisi yang berbeda, lalu ku manjakan bagian inti tubuh Steva dengan lidahku yang basah.
"Aaahh,,,!"
__ADS_1
...****************...