GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
PART 2


__ADS_3

POV RAZZ.


"Kau menyukainya?" tanyaku pada Steva setelah ia mende.sah menikmati puncak pertamanya.


Aku menarik tangannya hingga ia terduduk kembali. Dan aku berdiri di dekat ranjang menghadap dirinya yang masih nampak terengah.


"Buka!" perintahku padanya yang langsung ia patuhi.


Steva melepas ikat pinggangku, lalu memelorotkan celana panjang serta lembaran kain segitiga di dalamnya yang kupakai, dan aku menggerakkan kakiku melepas mandiri benda-benda itu.


Panglima tempurku sontak menyapa Steva berdiri dengan gagah dan perkasa di depan mukanya, aku tahu Steva suka, matanya berbinar dan sayu. Wajahnya nampak lebih seksi saat ini. Saat nafsu tengah merajai gairah kami.


Tangan kanan Steva mengelus kepala panglima perang, ia lantas menggunakan kelima jarinya untuk memanjakannya. Dan tangan kirinya memegang pinggulku.


Aku pun tak tinggal diam, mulai kubuka tali spageti dress yang membalut tubuh seksi Steva dengan anggun hingga pakaian itu melorot sampai batas pinggang, dan aku tak menyangka jika Steva tak memakai B.H. Karena dua gunungnya tak bergerak-gerak dan tetap bulat membusung di tempatnya. Sungguh keindahan dan kecantikan yang luar biasa menggoda, aku merasa bersyukur dan bangga.


Aku mulai mengelus dan meremas dada kiri Steva, sedang tanganku yang kiri membuka sanggulan rambutnya yang cukup dengan sekali tarik rambutnya yang panjang itu jatuh tergerai dan jadi bergelombang, cantik sekali, dia adalah sebuah maha karya yang nyata dari Tuhan. Steva adalah seni, keindahan, kecantikan. Dia lebih memabukkan dari alkohol manapun.


Steva masih mengelus menaik turunkan kelima jarinya.


"Ayo, Stev! jangan mempermainkanku," lirihku tak tahan. Di bawah sana panglima perang sudah dalam mode on sepenuhnya, tapi Steva hanya mengelus sedang aku ingin ia segera melahap lollypop coklat itu.


"Aku tidak sedang mempermainkanmu, Tuan. Tapi aku sedang memainkan permainan," jawabnya yang membuatku mengumpat manja. Dia menjiplak kalimatku waktu itu yang dengan sengaja menggodanya.


"Damn it!" selorohku yang tak lagi bisa menahan.


Kupegang panglima perang dan kucengkeram kedua tulang pipinya hingga mulutnya membuka, sedikit kasar memang, tapi aku tak menyakitinya, perlahan kusentuh bibir sensual Steva dengan kepala panglima perang, lembut, halus, lalu kudorong dia hingga melesak masuk melewati bibir sensual yang penuh dan menggairahkan itu. Hangat, dan basah.


"Empph!" Steva tak dapat menolak, aku menarik sedikit kasar rambutnya yang kukuncir kuda dengan tangan kiriku. Tangan kananku tak tinggal diam, kugunakan meremas rahang dan tulang pipinya yang membuatku semakin bergairah.


Pinggulku bergerak maju mundur beriringan dengan kepala Steva yang seirama.


"Aaah,,, aahh,,, aahh,,,," de sahku merasakan nikmat menjalar ke seluruh tubuhku, otot-ototku rasanya menegang, sungguh permulaan yang sangat nikmat.

__ADS_1


Kudorong kasar tubuh Steva hingga ia terjerembab di atas kasur dan aku dengan gerakan membabi buta merobek kemejaku sendiri hingga kancing itu bertebaran ke lantai, menampakkan dada bidangku yang disukai Steva, begitu pun perut kotak-kotakku yang langsung Steva elus dengan jari jemarinya ketika aku menjatuhkan diri menutup dirinya namun kedua tanganku bertumpu pada ranjang di sebelah kanan kiri mengurung Steva, hingga kami saling berhadapan, aku di atas dan dia di bawahku.


Dada wanitaku naik turun semakin menantang keperkasaanku, dan aku tak mampu menahan untuk tidak kumakan dulu, dan aku pun langsung melahapnya dengan rakus, kugigit kecil choco chips miliknya yang menegak.


"Aaahh,,, empphh,,," Steva hanya bisa mende.sah dan mele.nguh. Dia menggigit sendiri bibir bawahnya.


Kunikmati dada Steva kiri dan kanan bergantian, saat aku melahap yang kiri, maka tanganku meremas yang kanan, terus begitu bergantian.


Hanya lirihan-lirihan gairah Steva dan de.sahan de.sahannha yang kini menggema di seluruh penjuru kamar pengantin kami.


Aku berpindah menautkan bibir kami dengan gerakan lembut dan Steva langsung menerima dan membalasnya, lidah kami saling membelit, kami mereguk Saliva satu sama lain.


Tangan kananku kembali menyeruak memasuki area inti tubuhnya, dan tangan kiriku membingkai sebelah wajahnya dengan mesra.


"Stev? Aku akan masuk!" kalimat pernyataan dariku yang sungguh tak membutuhkan jawaban.


Dengan gaya konvensional ini tubuhku yang keras menegang memasuki area inti tubuh Steva untuk pertama kalinya. Namun aku menggodanya dengan hanya mengelus kepala panglima perang pada bagian dalam bibir inti tubuhnya.


"Tuan, ayolah, berhenti bermain-main, aku? Aaahhhh,,,," de.sahnya saat kudorong pinggulku hingga panglima perang melesak masuk hanya dengan sekali sentakan.


"Aaaahhh,,," le.nguhku merasakan kenikmatan luar biasa pada tubuhku yang mengeras dan menegang. Rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuhku, dan tubuh Steva sendiri pun bergetar, kedua tangan Steva meremas sprei kuat.


Aku tahu Steva sudah tidak perawan, tapi sungguh aku tak peduli itu, meski rasa cemburu itu kini muncul ketika membayangkan bagaimana dulu Steva mende.sah di bawah kendali tubuh Malvin. Dan punya Malvin menerobos masuk ke dalam tubuh Steva. Seperti yang saat ini kurasakan. Iya, aku cemburu hanya dengan membayangkannya saja.


Tubuhku yang menegang telah menyeruak masuk ke dalam area inti sana diiringi lirih Steva yang begitu merdu di telinga, dan aku sangat menyukainya.


Begitu hangat, lembab, dan menjepit. Aku hampir meledak begitu saja karena memang sungguh nikmat, dan ini adalah untuk yang pertama kalinya kulakukan dengan wanitaku, istriku, Stevaku yang sangat aku cintai.


"Aaahh?" de.sah kami berdua bersamaan setelah kutarik pinggulku lalu kudorong kembali keras menerobos inti tubuh Steva.


Aku menatap wajah sayu Steva yang tengah memejamkan mata, air matanya mengalir dari sudut matanya yang cantik, aku tak mengerti mengapa, tapi kubiarkan saja, ingin ku katakan 'Buka matamu, dan tatap aku,' tapi aku tak bisa melakukannya, itu akan membuatnya curiga. Tapi aku merasa cemburu, takut jika Steva membayangkan Malvin di tengah kegiatan kami.


"Steva, sebut namaku saat kita bercinta, kau ingat?" lirihku, kurasa itu kalimat yang paling tepat, untuk kukatakan padanya sebagai perintah, Steva menyebut namaku dan tak akan ada kesempatan untuk Melvin masuk ke dalam benak Steva saat sesi percintaan kami.

__ADS_1


"Iya, Razz,,,," de.sahnya membuatku tersenyum.


Aku terus menggerakkan pinggulku maju mundur merasakan gelanyar aneh yang sangat luar biasa menyerang hebat ke seluruh tubuhku. Inikah rasanya ber.cinta? Luar biasa. Aku sangat menyukainya, dan aku mencintai Steva.


"Aaahh,,,, aaahh,,," e.rangan kami saling bersahutan. Tak ada pergerakan lebih yang bisa kulakukan meski aku sudah mempelajarinya dari internet beberapa kali, tapi saat praktek untuk pertama kalinya, gaya ini cukup membuatku menggelepar dan aku tak peduli dengan gaya yang lain lagi.


Aku mengangkat satu kaki kanan Steva lalu kutaruh ke pundak, Kuhujam area inti tubuhnya dengan gaya ini dengan kecepatan yang mulai tak terkontrol.


"Aaahh? Razz,,,"


"Yeah, Steva, You like it?"


"Ehmmpphh,,," Steva hanya mengangguk saat aku bertanya padanya.


Aku bergerak maju mundur lebih cepat, lalu ku tarik kaki Steva yang sebelahnya, dan kini kedua kakinya menekuk di lenganku yang kekar, dan aku terus menghujam Steva.


Tak kupedulikan lengkingan Steva yang menghantarkannya pada gelombang puncak untuk yang ke dua kalinya, lalu kutarik tangannya hingga ia terduduk, dan aku memposisikan tubuhnya merangkak di atas ranjang, dia menghadap dipan ranjang, lalu aku memasuki area inti tubuhnya dari arah belakang.


"Aaahh?" desis Steva semakin kencang. Dan ini memang sangat nikmat.


Aku terus menggoyangkan pinggul maju mundur disertai desa.han desa.han erotis dari kami.


Aku memepercepat gerak tempo perang tempurku masuk maju mundur dalam area intinya yang membuat Steva mende.sah dan meracau. Aku tahu, dia akan kembali pada pelepasan yang ketiga. Dan aku pun siap meledakkan diri.


"Aaahh,,,"


"Emph,,,"


Kami meledak bersama, napasnya dan napasku terengah, tubuh Steva jatuh terlebih dulu telungkup, aku menutup punggungnya dengan tubuhku lalu kuciumi punggung itu.


"You're so hot, I like it!" lirihku lalu ku kecup tengkuk leher dan punggung serta bahunya sebelum kujatuhkan tubuhku di sebelah tubuhnya. Dan kudekap tubuhnya yang basah karena peluh bercampur dengan keringatku, Kami terlelap.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2