
POV STEVA.
Aku keluar dari kamar sambil menggulung rambutku yang basah ke atas menggunakan jepitan rambut, dari ujung rambutku yang panjang masih menetes sisa-sisa air yang membasahi ppunggungku.
Aku mengenakan celana pendek sepaha warna coksu dan kaos polos yang sedikit kedodoran lengan pendek warna putih lusuh, bagian bawahnya kumasukkan ke dalam celana. Ini semua baju bibi Elly yang sudah lama tak ia pakai.
Aku berjalan menuju dapur melewati meja makan yang sudah terdapat 4 pria beda generasi duduk sambil tertawa dan berbincang di sana, dan aku lewat tanpa mendongak pada mereka, langsung melesat menuju dapur.
Di dapur bibi masih bergelut dengan sendok yang berdenting hasil kolaborasi dengan gelas, bibi membuat kopi hitam untuk disuguhkan pada para tamu. Dan dari dapur ke meja makan tak ada penyekat, jadi aktifitas kami terpampang nyata seutuhnya.
"Tolong bawakan yang ini, ya?" Bibi Elly memberikan nampan berisi 4 gelas kopi padaku, sedangkan dia membawa dua piring di tangan kanan dan kirinya yang berisi ikan goreng.
"Mari, silahkan!" seru bibi Elly yang meletakkan kedua piring di atas meja makan, ia lantas mendudukkan bokongnya pada kursi di dekat paman Yohan, oh ya, ingin kukatakan jika hampir semua perabotan di dalam rumah kayu ini terbuat dari kayu jati maupun mahoni. Termasuk kursi dan meja makan ini. Dan ini semua hasil karya paman yohan dan bibi Elly sendiri.
Aku baru datang, menaruh nampan di atas meja, lalu kusuguhkan kopi satu persatu pada Paman Yohan dan ketiga tamunya. Mereka sudah melepas kaca mata, masker dan jaket kulit yang serba hitam yang semula mereka pakai.
"Aku tidak minum kopi!"
"DEG!"
Aku yang sedari tadi menunduk dan tak mengamati wajah tamu-tamu paman Yohan, akhirnya mendongak kala salah seorang dari mereka menolak kopi yang kuhidangkan.
'Malvin?'
Tubuhku gemetar teehuyung, dan aku reflek mundur, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat di depan mataku saat ini.
Pria yang pernah sangat aku cintai, pria yang menyelamatkanku dari malam terkutuk, pria yang mengambil mahkotaku, mantan kekasihku.
Malviness Bachtiar, bukankah dia sudah mati? Tidak, bukan maksudku untuk menyumpahi, tapi dia sekarat, apa dia mendapat pendonor jantung dan akhirnya selamat?
"Eva? Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya bibi Elly yang langsung berdiri menyentuh bahuku, aku sangat terkejut, gugup, panik, dan? Aku tak menyangka akan bertemu dengan Malvin setelah selama ini, dan ini tanpa disengaja, di suatu tempat yang terpencil di dunia, tempat yang jauh dari peradaban. Sungguh aku tak menyangka.
"Keponakanku ini memang sangat tampan, banyak sekali gadis-gadis yang langsung jatuh hati padanya hanya dengan pertama kali bertemu, tapi tak kusangka reaksi keponakanmu sampai berlebihan seperti itu, hahahaha," celoteh salah seorang tamu paman yang seusia dengannya. Paman Yohan hanya menanggapi dengan sebuah senyum kecut.
Malvin menatap depan dengan datar, seakan ia tak menghiraukan, dia Malvin, tapi dengan aura yang berbeda. Iya, dia hilang ingatan, apakah itu juga merubah karakternya? Dia terlihat dingin dan pendiam.
"Eva? Ada apa?" tanya paman Yohan.
Aku menggelengkan kepala cepat berkali-kali. Tapi netraku tak berpindah darinya. Entah aku harus bahagia karena melihatnya ternyata sehat dan masih hidup, atau? Aku tidak yakin.
"T-ti tidak, Paman. Aku, hanya kaget!" jawabku gugup dengan tubuh yang masih gemetar.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, duduklah."
Bibi menuntunku untuk duduk, dan aku menurut, duduk di kursi dekat Malvin.
"Apa anda menginginkan sesuatu yang lain, Tuan?" tanya bibi Elly sopan pada Malvin.
"Tidak, terimakasih." jawab Malvin dengan sangat tenang dan datar.
**POV MALVIN**.
Aku manusia yang tak tahu siapa diriku sendiri, mereka yang berkumpul mengatakan jika mereka keluargaku, gambar-gambar yang mereka tunjukkan sebagai bukti. Dan aku tak tahu harus menanggapi apa.
Mereka bilang namaku Malviness Bachtiar, hidup di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama, mereka bilang aku harus berjuang, tapi untuk apa? Untuk siapa? Aku bahkan tidak tahu hidupku untuk apa.
Tapi hari itu? Siang itu, saat aku ikut Paman Ramon dan asistennya Mr.Dory datang ke sebuah desa pedalaman, untuk pertama kalinya aku merasakan ada kehidupan di dalam jantungku, jantungku berdetak dengan detak yang berbeda, detak yang tidak normal saat aku mendatangi rumah kayu salah seorang pengrajin kayu yang menjadi partner bisnis paman Ramon.
Gadis itu, Gadis yang bermanik coklat dengan gaya sederhana, tinggal di sebuah tempat yang jauh dari peradaban kota, mampu menggetarkan jantungku untuk yang pertama kalinya. Debaran ini, tapi aku yakin ini terjadi karena aku melihatnya yang baru datang dan menyapa paman dan bibinya saat kami berbicara di halaman depan lumbung samping rumah kayu.
Aku menatapnya lekat-lekat, tapi aku tak mengenalnya, tentu saja. Bagaimana aku bisa mengenalnya, sedangkan aku pun tak mengenal diriku sendiri. Oh, sial.
Gadis yang bernama Eva itu terlihat gugup saat ia melihatku untuk pertama kalinya di meja makan, tubuhnya terhuyung mundur dan hampir saja ambruk, kenapa? Kenapa dia panik melihatku? Terkejut? Atau takut? Tapi kenapa? Apa dia mengenalku? Di masa lalu? Ah, terlalu banyak gadis yang mengaku mengenalku dan bahkan mengaku kekasihku di masa lalu, aku tak percaya.
__ADS_1
Kami melanjutkan makan siang bersama. Aku tahu gadis bernama Eva itu sesekali masih melirikku, seakan ia ingin bicara, tapi aku bersikap biasa saja. Hingga saat aku menoleh tiba-tiba padanya, ia menumpahkan segelas air putih yang berada di dekat tangannya, ia kembali bereaksi kaget dan gugup. Membuatku merasa semakin curiga.
"Apa kau mengenalku?" suasana seketika hening saat aku mengatakan kalimat pertanyaan itu padanya, dan aku menatap manik coklatnya yang indah dengan tatapan tajam mencari kebenaran.
"T-ti tidak, tidak. Aku tidak mengenalmu," Eva membuang muka dengan gugup, ia lantas lekas berdiri dari meja makan mengambil kain lap dari dapur untuk membersihkan meja yang basah karena ulahnya.
"Oh, mohon mengerti, keponakanku ini baru saja mengalami kecelakaan, dan dia kehilangan ingatannya, jadi, Jagan dijadikan pikiran karena dia bertanya pada Eva apa dia mengenalnya," jelas paman Ramon karena terdapat kebingungan di balik kening Tuan Yohan yang mengernyit.
"M-ma maafkan aku, aku terlalu gugup, ini pertama kalinya aku menyambut tamu paman," aku Eva mengucapkan maaf dengan tulus sambil membungkukkan badan setelah dia mengelap meja.
"Tidak apa-apa, santai saja!" balas paman Ramon.
"Hei, bocah! Kau harus mengubah raut wajahmu yang terlihat menyeramkan itu agar nampak lebih manis, kau menakuti gadis kecil Tuan Yohan!" celoteh Mr.Dory padaku dengan nada bercanda. Namun aku lekas bangkit dan menangapi dengan acuh.
"Begini saja sudah tampan!" ucapku sambil melangkah menuju jendela kayu yang terbuka, menghadap ke halaman belakang, kalimatku tadi sempurna membuat Eva terbatuk, dasar gadis aneh, dia tidak sedang makan maupun minum, tapi dia tersedak hanya dengan mendengar ungkapan kejujuranku jika aku ini tampan. Bukankah begitu? Aku memang tampan.
Aku tak menghiraukan drama kecil yang terjadi di meja makan, dan aku memantik korek menyalakan sebatang rokok menikmati gas nikotin yang membuat candu, menjadi penutup sempurna setelah makan.
'*Siapa gadis itu? Kenapa jantungku selalu berdebar hanya dengan melihatnya? Apa lagi berada dekat dengannya? Membuatku tidak tenang*.'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1