GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
TOLAK ATAU TERIMA?


__ADS_3

"Ahahahaha,,,, Tuan, lawakan anda keterlaluan," ujar Steva setelah Razz memintanya untuk menikah dengan dirinya.


"Aku tidak sedang bercanda, Stev. Aku sungguh-sungguh. Aku membutuhkan pendamping hidup, Steva," ujar Razz meyakinkan.


'Glek.'


Entah ini hal yang harus disyukuri atau diwaspadai, seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari secara tiba-tiba mengajaknya menikah, bukankah itu sesuatu yang sangat mengejutkan?


"Tuan?" lirih Steva pelan.


"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu, Stev. Kau berhak menolak. Aku memang hanyalah pria buruk rupa yang cacat. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku, memang ini sudah menjadi kutukan bagiku, menjadi pria cacat dan buruk rupa. Tentu tidak akan ada gadis yang mau hidup bersama denganku," tukas Razz yang langsung mendapat gelengan kepala dari Steva. Steva tak ingin membenarkan semua yang dikatakan Razz barusan.


"Bukan, bukan seperti itu, Tuan. Ini tidak ada hubungannya dengan keadaan anda. Tapi ini tentang hati, bagaimana saya bisa tiba-tiba menikah dengan orang yang tidak saya cintai dan juga tidak mencintai saya? Saya takut anda tidak akan bahagia, saya takut saya bukanlah orang yang terbaik untuk anda. Anda adalah seorang yang kaya raya, dan saya? Bahkan untuk makan saja saya menumpang pada Asha, kasta kita berbeda, anda duduk di singgah sana istana, dan saya hanyalah rongsokan sampah," jawab Steva menjelaskan panjang lebar pada Razz maksud dari penolakannya.


Tersungging senyum di bibir Razz.


"Stev?" Razz mengulurkan tangan ke depan, dan Steva menerima uluran tangan Razz yang membawanya duduk di tepian ranjang berdampingan. Razz masih menggenggam tangan Steva, jantung wanita itu memompa tidak jelas. Bahkan mungkin bisa didengar telinga Razz saking kencangnya.


"Kau percaya dengan pepatah Jawa yang mengatakan, witing tresno jalaran Songko kulino?" Razz memang memiliki darah jawa, Mommynya adalah orang Lamongan Jawa timur yang menikah dengan pengusaha Singapura. Tapi mereka tinggal di ibukota tepat di wilayah pusat.


Steva menggeleng.


"Tidak, Tuan, saya tidak tahu apa maksud kalimat yang tuan katakan," jawab Steva jujur.


"Itu pepatah Jawa artinya, cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu karena sering bertemu," jelas Razz menepuk punggung tangan Steva.


"Menikahlah denganku, Stev. Aku dan kamu mungkin memang belum ada cinta diantara kita untuk saat ini, tapi jika kau memang mau menerima kekuranganku, aku yakin, cinta pasti akan tumbuh dan bersemi di hati kita seiring berjalannya waktu," Razz terlihat sangat bersungguh-sungguh, tidak seperti Steva yang gugup, malu, dan berdebar, Razz terlihat lebih tenang dengan muka datar dan tatapan kosongnya yang lurus ke depan.


Memang tak ada yang tak mungkin di dunia ini, apalagi soal hati, Tuhan sang maha pembolak-balik hati tentu dengan mudah mengisi cinta maupun mencabutnya dari hati manusia.


"Aku," Steva ragu untuk menjawab.


'Dug_dug dug_dug.'


'Ayolah cepat jawab. Tunggu apa lagi? Lima milyar itu memang bukan uang yang sedikit, tapi demi Liora, itu tak seberapa!' Razz masih berpegang teguh dengan rencana awalnya. Ini semua demi memenangkan tantangan Liora agar gadis cantik, pintar, berprestasi itu bersedia untuk segera menikah dengannya.


Cukup menaklukkan seorang wanita, memberikan bukti pada Liora, lalu Razz akan mengikat Liora dengan janji suci. Dan tidak ada hal yang akan membuat Liora kembali menolak.


"S-sa saya butuh waktu, Tuan!" ujar Steva sambil berdiri. Razz memejamkan mata menggenggam erat tangannya menahan amarah.


'Tidak, jangan terburu-buru, wanita memang selalu seperti itu, bukan? Kata tidaknya kadang berarti iya, dan kata iya juga kadang berarti iya, ah, sudahlah biarkan saja dulu, seperti katanya, butuh waktu.'


"Ok, aku akan memberikanmu waktu, tapi aku tidak suka menunggu, kau harus memberikan jawaban padaku besok,"

__ADS_1


"Besok? Secepat itu?" Steva tentu terkejut, Razz memberikannya waktu tak sampai 24 jam.


"Kalau kau memang berniat untuk menolak. Katakan saja sekarang, paling tidak, kau tidak memberikanku harapan palsu," tukas Razz membuat Steva terdiam.


"Kau boleh pergi, aku ingin istirahat. Oh ya, makanlah, kau belum sarapan." Razz merebahkan diri dengan benar di atas ranjang tidurnya. Ia langsung memejamkan kedua matanya seolah mencari ketenangan.


Steva meraih nampan menaruh piring dan gelas yang tadi digunakan Tuan Razz sarapan, dan Steva membawanya keluar dari kamar menuju dapur.




Malam ini terasa berbeda, satu hal yang mengganggu pikiran Steva, '*Menikahlah denganku*.' Kalimat itu terus terngiang membuat Steva terus melamun.



"Kak Stev?" teriak Asha yang mencoba pakaian dalam yang Steva belikan untuknya. Tubuh gadis itu terlihat seksi hanya berbalutkan setelan pakaian dalam berwarna coksu.



"Hah?" Steva tersadar dari lamunannya sedikit merasa kaget.




Steva terkekeh, melempar selimut ke arah Asha.



"Auw?" Asha menangkap selimut yang sebagain terjuntai menutupi tubuhnya. Lalu Asha memakainya menyelimuti seluruh tubuhnya dan duduk di dekat Steva yang duduk di springbad yang tergeletak di lantai itu tanpa ranjang.



"Kak Stev, kok bisa sih Tuan besar membelanjakanmu barang-barang, padahal dia kan tukang marah, dan anti sama orang sebelumnya," tanya Asha pemasaran.



Memang benar, Razz adalah orang yang selalu emosi dan marah-marah saat pertama kali Steva berjumpa dengannya, tapi seiring berjalannya waktu, Razz jadi lebih santai. Dan sisi baiknya mulai terbuka.



Steva hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Asha.

__ADS_1



"Sha, Kak Steva mau cerita, tapi kamu janji ya, jangan bilang siapa-siapa dulu," Steva menatap Asha dalam, ia terlihat sangat serius.



"Ada apa kak?" Asha pun menanggapi antusias.



"Tuan besar?" kalimat yang Steva ungkapkan terjeda. '*Haruskah aku bercerita pada Asha, dan meminta pendapatnya*?'



"Kak Steva?" Asha menggoyang bahu Steva yang malah melamun.



"Hah? Oh, iya. Em? Sha, kamu tahu nggak sih kehidupan Tuan besar sebelumnya, maksud Kak Stev, apa dia pernah punya pacar, atau, em? Bagaimana dengan tabiatnya selama ini pada perempuan?" Steva ingin mencari tahu hal yang menurut Steva paling penting untuk ia ketahui tentang Razz, jangan sampai ia terjatuh pada lubang yang sama, dimana pria yang ia cintai nyatanya suka jajan selangka.ngan.



"Hah?" Asha terbengong mendengar pertanyaan Steva. Ia sendiri tak begitu mengenal Tuan besarnya, karena dia juga bekerja baru satu bulan belakangan.



"Kurang tahu sih kak, aku. Tapi ku dengar, dia itu dulu punya tunangan, mereka akan menikah, tapi setelah kejadian kecelakaan di luar negri, Tuan besar balik ke tanah air dan pernikahannya batal. Mungkin karena kini ia telah cacat, buta dan wajah tampannya telah rusak menjadi buruk rupa," jawab Asha sambil mengangguk-angguk.



"Dan setelah itu?"



"Yaaah, seperti yang kakak lihat, dia menjadi monster yang galak." jawab Asha menyeringai.



'*Tapi dia sebenarnya tidak jahat, Sha. Mungkin dia seperti ini karena ingin menutupi hatinya yang luka, mungkin dia begitu menderita selama ini karena matanya tiba-tiba buta dan wajah buruknya mendapat cemoohan dari orang-orang, itu artinya, dia adalah lelaki yang setia. Dia tidak pernah bermain dengan wanita*.'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

__ADS_1


__ADS_2