
Hari terang di luar sana telah berganti gelap saat Razz pulang, ia mendapati Steva sang istri yang nampak sangat cantik dan anggun sedang memainkan sebuah alat musik legenda di rumahnya, sebuah piano tua yang biasa Razz mainkan saat kecil dulu sebelum ayahnya pergi ke dunia yang berbeda untuk selamanya.
"Tuan? Anda sudah kembali, kenapa tidak mengabari?" lirih Steva, ia bahagia dan haru dalam satu waktu.
"Apa kau tidak menyukai kedatanganku? Kalau begitu aku akan kembali saja!" goda Razz sengaja.
"Tidak, jangan pergi, aku tidak mau kau meninggalkanku lagi, aku kesepian?" Steva sontak meraih tangan Razz yang tadi sempat ingin beranjak.
"Kau ingin selalu berada di dekatku?" seloroh Razz terdengar manja diiringi senyum yang bisa Steva artikan. Dan Steva hanya tersenyum merona mendengar ucapan Razz.
"Saya permisi, Tuan!" Tan pamit, ia membungkukkan badan dan undur diri.
"Bawa aku ke kamar, Steva. Aku ingin segera mandi," ujar Razz yang terus menatap lurus ke depan itu.
"Iya, Tuan!" Steva menggandeng lengan Razz, menuntunnya melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas ke kamar utama.
"Aku baru tahu kalau kau ternyata pandai memainkan piano dan bernyanyi," celoteh Razz mengisi keheningan langkah mereka menuju kamar.
"Aku pernah belajar saat kecil, dulu sekali, saat ibuku masih hidup, beliau pernah memasukkanku ke sekolah teater, dan aku menjadi pemain musik latar," jawab Steva jujur.
"Apalagi yang tidak kutahu tentang dirimu? Ceritakanlah padaku,"
'Klek.' Steva membuka pintu kamar, mereka masuk, lalu Steva menutupnya.
"Apa yang ingin anda ketahui, Tuan? Saya hanyalah gadis biasa, dari keluarga biasa, tidak ada yang istimewa dari diri saya untuk diceritakan pada anda," jawab Steva rendah.
"Saya permisi dulu, menyiapakan air untuk anda." Steva berlalu masuk ke dalam kamar mandi, ia akan menyiapkan segala keperluan mandi Razz seperti kebiasaan pekerjaannya.
"Huufftt,,,," Razz menghela napas panjang, entah kenapa hatinya merasa ada yang bergetar saat Steva menggandeng lengannya, begitu dekat dengannya, dan berbicara sangat lembut padanya, itu semua mampu membangkitkan kelelakian Razz yang memang sudah dewasa, dan dia adalah pejantan sejati.
'Tidak, aku harus bisa mengendalikan diri, ada Liora di hati yang harus aku jaga.'
Razz duduk di tepian ranjang, melepas jas lalu melepas jam tangannya.
__ADS_1
"Tuan?" Steva keluar dari kamar mandi dan mendekat ke arah Razz yang duduk di tepian ranjang. Razz mendengarkan Steva yang memanggil namanya. Namun belum sempat ia menjawab beo Steva. Razz sudah dikejutkan dengan Steva yang berjongkok di depannya.
"Biar saya saja, Tuan!" seru Steva melepas sepatu Razz.
"Stev, tolong jangan seperti ini, aku bisa melakukannya sendiri," Razz berusaha mencegah Steva, ia menyentuh bahu sang istri, tapi tentu Steva tak mengindahkannya.
"Tidak apa-apa, Tuan? Ini bukan pekerjaan yang berat," jawab Steva diiringi senyuman.
Steva lantas berdiri setelah kedua sepatu dan kaos kaki Razz telah ia lepas. Steva bergerak membuka kancing kemeja Razz dimulai dari yang paling atas, dan Razz membiarkannya. Sesungguhnya hati Razz merasakan gelanyar kehangatan dan kebahagian yang aneh, Razz merasa begitu senang mendapat perlakuan sedemikian dari Steva. Meski raut muka Steva nampak menyiratkan perasaan malu, tapi Steva dengan telaten melakukannya, mungkin karena mereka juga kini telah terikat dalam ikatan yang sah.
Steva sedikit membungkuk saat menarik kemeja Razz kebelakang melewati tangan Razz agar kemeja dark brown itu terlepas dari tubuh kekar dan seksi sang suami.
"Ah?" pekik Steva, Razz meraih tangan Steva saat Steva berbalik, dan Razz tiba-tiba menarik kuat tangan Steva hingga tubuh ramping nan seksi itu seketika jatuh ke dalam pelukannya. Dan Razz mendudukkan Steva pada pahanya.
"Kau memakai parfum baru, Stev? Aromanya menggoda kelelakianku!" celoteh Razz dengan nada suara yang berat, manik biru yang cantik itu terlihat menggelap karena nafsu. Jantung keduanya berdegup dengan kencang, mengalirkan gelora gairah sampai ke titik pusat masing-masing.
"T-tu tuan?"
"Jangan banyak bicara Stev, suaramu membangunkannya,"
'Glek.'
Sesuatu yang keras mengganjal terasa menempel di paha Steva. Sesuatu yang membuat nafas Razz tersengal dan matanya sayu.
"Aaahh?" Razz menutup mata, Steva tidak mengerti kenapa, tapi Razz terlihat seperti menenangkan dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya, dada Razz berdegub begitu kencang. Begitupun yang terjadi pada Steva.
"Tuan?" lirih Steva menatap wajah Razz yang terlihat menahan nafsu.
Razz melepas tangan Steva yang ia cengkram.
"Haaahh,,,, maaf, aku terbawa emosi!" ucap Razz terdengar lebih tenang.
Steva berdiri menjauh dari Razz, dan Razz mengusap rambut dan wajahnya gusar.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, kau bisa siapkan baju gantiku." Razz melangkah masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Steva yang terpaku, debar jantung Steva membuatnya tak mampu berpikir dengan tenang, untuk sesaat ia pun tak dapat menguasai tubuhnya, mungkin jika tadi Razz menyerangnya, dia akan menyerahkan diri seutuhnya pada Razz.
"Brak!" Razz menutup pintu kamar mandi kencang, menguncinya dari dalam.
"Apa yang sudah kulakukan?" Razz menyesali perbuatannya, tapi sungguh ia terhanyut begitu cepat saat berada di dekat Steva. Bahkan sampai saat ini, panglima perangnya masih berdiri tegap dengan gagah mendesak di dalam celananya.
"Aku butuh air dingin untuk menyejukkan hawa tubuhku yang panas." Razz pun segera melepas topeng wajahnya. Membuangnya ke dalam tong sampah, membuka celana dan melangkah ke arah shower, air dalam bathtub yang Steva siapkan tidak ada guna. Ia ingin merasakan tubuhnya yang dialiri rintikan air dingin memberikannya terapi agar tubuh yang terus bergairah itu bisa cepat teredam.
Steva sudah selesai menyiapkan semua saat Razz keluar dari kamar mandi, Razz menggunakan handuk jubah, padahal Steva tadi menyiapkan handuk biasa.
'Mungkin dia kedinginan dan mengambil sendiri jubah handuknya!'
Razz duduk di kursi depan meja rias, dan dengan cekatan Steva mengeringkan rambut hitam tebal yang harum milik sang suami.
"Apa tamunya sudah pergi?" tanya Razz pada topik yang bisa jadi menjerat mereka kembali pada gairah.
"S-su sudah, tuan!" jawab Steva terbata, ia gugup. Razz kembali menanyakan tentang masa datang bulannya, apa itu artinya?
"Aku belum siap menyerahkan diriku sepenuhnya padamu, Steva, meski aku menginginkannya, aku belum yakin dengan hatiku," kalimat yang Razz katakan mungkin saja akan menyakiti batin Steva. Tapi Steva membalasnya dengan senyuman, tak ingin menunjukkan isi hati yang terasa nyeri pada Razz.
"Tidak apa-apa, Tuan? Saya bisa mengerti, anda tidak perlu terburu-buru," jawab Steva malu.
Steva memakaikan kaos Razz, setelah membuka jubah handuk Razz, menurunkannya sepinggang, dan Razz mengambil alih celananya, dia akan memakai sendiri benda itu, atau saat Steva berjongkok dengan tumpuan lutut di atas lantai menghadap dirinya, panglima perangnya akan kembali berdiri dan tentu itu akan sangat menyusahkan Razz untuk menahan diri.
"Biar aku saja, kau menghadap ke sana!" perintah Razz pada Steva yang langsung mendapat anggukan, Steva adalah tipe wanita yang sangat patuh pada lelakinya, itu juga yang dulu ia lakukan saat hidup dengan Malvin, meski pria itu tak menghalalkannya.
"Sudah," ucap Razz setelah celananya terpasang sempurna, dan Steva berbalik menghadap dirinya, melepas kedua tangan yang sedari tadi menutup wajahnya.
"Saya permisi, mau mengambilkan makan malam anda, tuan!" Steva meminta ijin.
"Tidak perlu, kita makan bersama di meja makan, ada kau di rumah ini sekarang, jadi aku tidak perlu makan seorang diri lagi di dalam kamar ini." Razz menggandeng tangan Steva, dan Steva membalas dengan senang, lalu menuntun Razz menuruni anak tangga menuju meja makan. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, meja makan itu berfungsi dengan benar.
...****************...
__ADS_1