GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
KECELAKAAN


__ADS_3

"Baiklah, kalau begitu alihkan panggilan ke Video. Aku ingin menunjukkanmu bagian tubuhku yang pasti sangat kau rindu." Ambigu.


"Tuan? Apa yang kau katakan? Kau me.sum!" celoteh Steva sedikit kesal, Steva memang sangat anti melakukan panggilan video maupun PAP tentang hal seperti itu, bahkan meski itu bersama pasangannya, tidak sopan menurut Steva. Dan itu yang dulu membuat Malvin merasa tidak puas saat dia berada di luar kota maupun di luar negeri, Steva tak bersedia menunjukkan miliknya dan Steva marah saat Malvin menunjukkan miliknya.


"Otakmu yang me.sum, Gadis bodoh! Memangnya apa yang kau pikirkan? Jangan membantah, atau aku akan tambah hukumanmu nanti,"


"Hukuman? Hukuman apa? memangnya apa salahku? Kenapa kau mau menghukumku?" cicit Steva tidak terima mendengar kata hukuman dari Razz.


"Iiiisshh,,, kau ini, cerewet sekali. Tentu saja kau akan aku hukum karena tak memberiku kabar sama sekali dan juga tidak menanyakan kabarku sama sekali, kau kira itu bukan kesalahan? Huh?" sentak Razz membuat Steva terperanjat.


"I-i iya, Tuan! Maaf,"


"Kalau begitu cepat angkat!" bentak Razz, dan dalam waktu kurang dari satu detik, Steva menarik panel hijau pada layar ponsel ke atas, mengalihkan panggilan mereka pada panggilan video.


"Heh? Apa itu?" seloroh Razz mendapati layar ponsel yang hanya menampakkan dipan ranjang. Steva duduk bersandar pada dipan ranjang Razz dan mengarahkan kameranya menjauh dari wajahnya, ia malu karena baru saja menangis.


'Benar, dia sedang bersama dengan Tan.' batin Steva karena Razz dengan gamblang bisa mengetahui posisi kamera menyorot pada arah salain dirinya.


"Stev?" lirih Razz.


'Bodoh, aku kan sedang buta? Bagaimana kalau dia curiga karena aku bisa melihat posisi kameranya.'


"I-iya, Tuan?" jawab Steva mengarahkan kamera pada wajahnya, hingga wajah cantik yang sembab dengan mata bengkak nan sendu karena kebanyakan menangis itu nampak memenuhi layar ponsel Razz.


'Steva? Kau menangis? Apa itu karena diriku?' batin Razz seketika bergetar melihat wajah Steva seperti itu. Meski Razz tak menampik jika dirinya juga merasa bahagia karena Steva menangisi kepergiannya dan mungkin sangat merindukannya.


"T-tu tuan? Kenapa anda hanya menunjukkan d-da dada anda?" lirih Steva terbata.


"Kenapa, Stev? Kau ingin melihat yang lain?" celoteh Razz nakal.


"T-tidak, k-kau, kau sangat me.sum, Tuan!" dengkur Steva tidak terima, dan Razz malah terkekeh.


"Hahahahahaha,,,,"


"Berhentilah tertawa, Tuan? Kau membuatku malu!" cicit Steva jujur.


"Hhuuuffftt,,,, baiklah." Razz mengatur napas. Ia masih ingin tergelak rasanya.


"Stev?" Razz.


"Hemm?" Steva.


"Apa kau merindukanku?" Razz.


"I-i iya, Tuan. Saya merindukan anda, sangat!" lirih Steva dari hati yang paling dalam. Ia bahkan tertunduk lesu.

__ADS_1


Razz tersenyum senang.


"Apa kau baik-baik saja, Stev?" tanya Razz lagi, ia ingin mendengar pernyataan dari Steva jika ia menangis karena dirinya. Karena merindukannya.


"B-ba baik, Tuan. Saya baik-baik saja," jawab Steva lirih.


"Kau tidak menangisiku?" tanya Razz to the point.


"Hah?" Kepala Steva mendongak.


"T-tu tuan, saya malu jika harus mengatakannya, apalagi ada Tan bersama anda!" jawab Steva.


'Tan? Oh, jadi dia berpikir jika kini aku bersama dengan Tan.'


"Tidak apa-apa Steva. Katakan saja. Aku hanya ingin mendengar kejujuran dalam lirih manjamu!" beo Razz memaksa.


"I-i iya, Tuan? Saya menangis karena anda, karena saya merindukan anda," jawab Steva.


'Haaahh,,, kau sangat manis, Steva. Aku tidak sabar lagi untuk segera pulang, dan akan aku Kurung dirimu seharian di bawah kungkunganku.'


"T-tu tuan? Kenapa anda tidak menunjukkan wajah anda pada saya? Saya sangat merindukan manik biru anda!" dengkur Steva, karena sedari tadi layar ponselnya hanya menunjukkan dada bidang Razz yang ditumbuhi oleh bulu halus.


Tapi saat Steva menatap layar hapenya semakin jelas, dan dia menggerakkan jari telunjukkanya mengusap layar ponsel miliknya beberapa kali memastikan jika noda itu bukan karena layar ponselnya yang kotor. Namun itu dari kemeja Razz.


"T-t tuan?"


"Tuan? Ada bekas lipstik pada kerah kemeja putih anda,"


"Deg."


'S.h.i.t.t. Ini pasti bekas Liora yang memelukku tadi.'


"O-o ough, ini? Mungkin bekas lipstik Mommy, Steva, tadi dia memelukku," Razz berbohong demi keamanan dunia dari bencana.


"Kenapa, Steva? Kau cemburu?" goda Razz yang semakin senang melihat pipi mulus itu merona merah muda.


"M-ma maaf, Tuan. Tentu saya cemburu, itu karena saya mencintai anda. Dan saya tidak mau jika anda sampai menyentuh wanita lain selain saya, tapi tentu terkecuali jika dia adalah Mommy anda!"


'Ya tuhan? Selamatlah aku dari bahaya. Jika sampai aku meneruskan pernikahan dengan Liora, maka pasti bencana akan melanda. Syukurlah Liora sangat baik dan pengertian.'


"Tuan? kenapa anda masih tidak juga menunjukkan wajah anda?" Steva kembali mengulang permintaanya agar Razz menunjukkan wajahnya.


'Sial, aku tidak sedang memakai topeng.'


"A-a aaahh? Yes, Mom? I'm Coming?" teriak Razz tiba-tiba.

__ADS_1


"Steva? Kita sambung lagi besok. Mom memanggilku." bohong Razz.


"Tunggu, Tuan? T-tidakkah anda akan memperkenalkanku kepada Mommy anda?" tanya Steva penuh harap.


"Nanti ya, Stev? Akan ada waktu yang tepat!" bujuk Razz.


'Benar, selain mengatakan pembatalan pernikahanku dengan Liora, aku juga harus mengatakan tentang Steva sejujurnya pada mom, biar bagaimanapun, dia istriku, dan aku mencintainya, Steva juga sangat berharap jika dia dianggap dan diterima oleh Mom'


"Iya, baiklah, Tuan. Selamat malam." Steva.


"Selamat malam." Razz.


Sambungan telepon pun terputus. Razz buru-buru mematikannya sebelum Steva memaksa melihat wajahnya lagi.


"Haahh? Apa ini? Mengakhiri panggilan pada suami dan istri hanya dengan ucapan selamat malam. Apa tidak ada kalimat lain yang lebih romantis? Aaah, kenapa lidahku begitu keluh meski sekedar memanggilnya sayang? Hufftt"


Razz meletakkan ponselnya di atas nakas, ia bangun dan hendak ke kamar mandi. Namun tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.


MOM.


Calling,,,


"Mamah?" lirih Razz saat meraih ponselnya, dan Razz menerima panggilan itu.


"Yeah, Mom?"


"Razz? kau dimana? Bagaimana bisa Liora mengalami kecelakaan, Razz? Apa kau tidak mengantarnya sampai rumah?"


'DEG.'


'Apa ini?'


"Razz? Kenapa kau diam saja? Kau dimana?" suara Amora terdengar sangat khawatir.


"Razz ada di rumah, mah? Tadi Liora meminta turun di jalan untuk bertemu dengan temannya." jawab Razz jujur.


"Bodoh kau, Razz! Kau membiarkan tunanganmu pergi seorang diri, dan sekarang dia terbaring di Rumah Sakit karena kecelakaan."


"Apa?" sontak Razz terkejut. Semuanya masih baik-baik saja tadi.


"Mamah tidak mau tahu, kau harus cepat ke Rumah Sakit saat ini, Tante Devne hanya seorang diri di sana, Paman Morgan masih di luar kota, Mom and Nard juga akan segera menuju ke sana. Tapi mungkin akan sampai lebih lama. Kami juga berada jauh dari pusat kota." celoteh Amora panik dan tegas.


"Iya, Mom, iya. Razz akan segera ke Rumah Sakit sekarang. Berikan alamatnya!"


...****************...

__ADS_1


Takdir memang tak dapat dirubah oleh manusia. Meski telah sebaik rencana yang kita buat demi mendapat bahagia.


...****************...


__ADS_2