GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
KE TURKI


__ADS_3

'Ddrrttt,,,, drrtt,,,,' ponsel Razz yang tergeletak di atas ranjang bergetar, menandakan sebuah panggil masuk ke dalam ponselnya.


Steva sempat menoleh pada benda pipih yang layarnya menyala itu, namun Razz yang sudah sangat ingin menyentuh lembut dagu Steva agar melanjutkan permintaanya barusan, agar Steva melayani panglima perangnya yang telah berdiri gagah.


'Drrtt,,, drrttt,,, drrrtt,,,,!' tapi getaran ponsel itu kembali mengganggu, hingga kepala Steva yang sudah di dorong Razz dari belakang oleh tangannya siap melahap panglima perang itu kembali tertahan.


"S.hi.t.t, s.hi..t.t." Razz mengumpat sangat kesal, ia pun meraba ranjang dan meraih benda pipih yang terus bergetar itu.


MOM, Calling,,,,


"Kau keluarlah!" perintah Razz pada Steva yang masih berjongkok dengan tumpuan lutut pada lantai marmer kamar mewah Razz.


"B-ba baik!" jawab Steva buru-buru bangun dan berlari keluar dari kamar Razz, ada kelegaan sendiri dalam hati Steva, ia merasa gugup, belum siap, terlalu mendadak, yah, meski tubuhnya sendiri mengkhianatinya, Kewanitaan Steva ingin lebih, tapi Steva masih bisa berpikir jernih, lagi pula saat ini, dia juga sedang dalam keadaan datang bulan. Paling tidak, tunggu sampai dia bersih, dan biarkan Razz mereguk seluruh keindahan tubuhnya, rasa manis dari cai.ran cintanya, dan dia pun dapat menyesap seluruh cinta Razz dari panglima perangnya.


Razz menerima panggilan telepon itu setelah ia kembali melilitkan handuknya. Duduk di pinggiran ranjang, mendengarkan wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu sedang mengomel dan bercuit kasar.


Razz hanya diam mendengarkan, namun, saat Mommynya mengatakan jika Liora membatalkan rencana pernikahan mereka karena Razz telah berkhianat dengan menikahi wanita lain, sontak Razz menegang, kaget dan berdiri.


'F.u.ck. Apa maksud Liora melakukan semua ini? Apa dia hanya akan menjebakku agar bisa terlepas dariku? Brengsek!'


Razz masih terdiam mendengarkan teriakan demi teriakan dari Amora. Ia tak memiliki jawaban untuk menyangkal, Liora telah menunjukkan video pernikahannya dengan Steva pada orang tua mereka.


"Kita bicarakan ini dengan baik-baik, Mom. Razz akan melakukan penerbangan sekarang juga ke Turki," jawab Razz mengakhiri sambungan teleponnya dengan Ny. Amora sang mama.


"Liora? Kau bermain api denganku!" seloroh Razz penuh emosi, kilat netranya bercahaya amarah, hilang sudah hasrat yang tadi sempat membara antara dirinya dengan Steva.


Razz menghubungi Tan agar segera ke kamarnya, mengatur penerbangannya, Razz tidak akan membiarkan ini berlarut. Dia harus segera bertemu Liora dan kedua orang tua mereka. Razz tentu tidak akan membiarkan semuanya begitu saja, dia ingin mendapatkan Liora, menikahinya, menaklukkannya.


"Ada apa?" tanya Steva yang masih berdiri di depan pintu, Steva melihat Tan datang tergesa masuk ke dalam kamar Razz, lalu keluar membawa koper yang berisi barang-barang pribadi Razz yang mungkin akan dibutuhkan selama dia di Turki.


Razz keluar dari kamar dengan pakaian formal, terdapat sebuah mantel di lengan kanannya yang ia siapkan.

__ADS_1


"T-tu tuan?" lirih Steva gamang melihat Razz yang nampak akan bepergian.


'Dia tidak akan meninggalkanku tiba-tiba bukan?'


"Stev,"


"I-i iya, Tuan?"


Steva mendekat berdiri di hadapan Razz yang masih diambang pintu kamar, Tan sedikit menjauh memberi ruang pada pasangan suami istri yang baru menikah itu untuk berbicara.


"Aku harus pergi sekarang, ada masalah yang sangat penting yang harus aku selesaikan sekarang juga, kau tidak perlu khawatir. Aku usahakan agar tidak lama dan segera pulang,"


Razz menjelaskan pada Steva dan berpamitan. Manik coklat Steva itu sudah tergenang oleh air mata, sungguh hatinya terasa sakit tiba-tiba. Suaminya akan pergi meninggalkannya karena urusan yang tak dapat diungkapkan dengan jelas. Steva lekas mengusap bulir bening yang mengalir pada pipi halusnya. Ia menahan agar tangisnya tak mengeluarkan suara, Steva tak ingin Razz tahu jika dirinya menangis karena dia akan ditinggalkan.


"I-i iya, Tuan, saya akan menunggu kedatangan Tuan!" jawab Steva lirih, ia begitu patuh, bahkan Steva tak menanyakan lebih lanjut lagi masalah apa yang begitu penting sehingga Razz pergi meninggalkannya di malam pertama mereka. Meski Steva begitu ingin tahu. Ia menahan diri agar tidak lancang.


Razz merasa tidak nyaman dalam hati, melihat Steva yang terlihat terluka akan kepergiannya. Bagaimana wanita ini bisa begitu lembut dan patuh padanya?


"Cuupp,,,," Razz mengecup dalam pucuk kepala Steva cukup lama, menghantar gelombang hangat menjalar ke seluruh tubuh Steva. Kecupan itu telah diartikan penuh makna oleh Steva, hingga hatinya yang kemarin patah terisi dengan debar-debar cinta. Menyatukan kembali retakan yang dibuat Malvin dan disembuhkan oleh Razz.


Kedua mata Steva terpejam menerima perlakuan romantis dari sang Tuan bayi besar yang telah sah menjadi suaminya.


"Kau bisa tidur di kamarku, jika kau mau. Aku pergi dulu," pamit Razz yang mendapat anggukan kecil dari Steva dan sebuah jawaban lirih.


"Hemm,,, iya!"


Steva menggandeng lengan Razz menggantikan tugas Tan yang kini berjalan di belakang mereka, Steva mengantar Razz sampai di dekat mobil yang terparkir di depan halaman luas rumah mewah Razz.


"Pak Tan, aku titipkan suamiku padamu! Kumohon jaga dia, dan pastikan keselamatannya." ujar Steva tulus yang mendapat anggukan dan Tan.


"DEG."

__ADS_1


'Steva, jangan berharap lebih, kau terlalu baik untukku yang hanya bermain-main.'


Razz terdiam, Steva membukakan pintu mobil pada jok penumpang, mempersilahkan Razz untuk masuk ke dalam.


"Ah, Tuan?" cicit Steva menghentikan Razz.


"Anda belum makan malam, apa perlu saya buatkan dulu, atau?"


"Aku akan makan nanti, Stev!" seloroh Razz memotong kalimat Steva.


Razz masuk ke dalam mobil dan duduk di jok penumpang, Tan pun sudah siap pada kemudi. Razz hendak bergerak menutup pintu, namun Steva lagi-lagi menghentikannya, seperti tidak rela jika Razz akan pergi meninggalkan dirinya. Steva kembali menangis tanpa suara.


"T-t tuan?"


Razz menoleh meski tatapan manik biru yang cantik itu terus saja melihat lurus ke depan dan tak pernah fokus pada netra Steva.


"Hati-hati," Steva mengangkat tangan kanan Razz lalu mencium khidmat punggung tangan kekar yang berurat itu.


Razz tersenyum kecil, kaku, ia merasa tak pantas mendapat semua perlakuan hangat Steva yang sangat memuliakan dirinya, sedangkan semua ikatan yang terjalin diantara mereka ini tidaklah lebih dari sebuah sandiwara baginya, meski sah secara hukum agama maupun negara.


'*Brak!'


'Berreemm*."


Mobil berwarna hitam mengkilat itu melaju menjauh dari pelataran rumah hingga benar-benar menghilang dari pandangan di balik gerbang tinggi besar menjulang penyekat antara trotoar dan jalan raya.


Steva masih berdiri di tempat yang sama saat mobil yang membawa Razz pergi yang Tan kendarai tadi melesat, Steva terisak seorang diri, meluapkan rasa sedih, kenapa ia jadi begitu rapuh, hanya ditinggal untuk urusan yang tak ia tahu seperti ini saja sudah membuatnya begitu pilu.


...****************...


Hai, author mau beritahu, Karya ini judulnya telah author ganti, menjadi GAIRAH STEVA. Tujuannya untuk menarik pembaca. Ceritanya masih sama persis. Tak ada yang dirubah. Terimakasih selalu hadir mendukung karya remahan author. 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2