
Razz mengendarai mobilnya membelah jalanan yang cukup sepi sehingga ia bisa menancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di Rumah Sakit yang Mommynya sebutkan.
Sepanjang perjalanan, Razz terus memikirkan bagaimana kondisi Liora saat ini, Razz merasa takut, jangan sampai suatu hal yang buruk terjadi pada sahabatnya itu.
Saat Razz memasuki Rumah Sakit dan langsung menuju ruang IGD, di depan pintu ruang itu Razz melihat Liora yang tengah menangis menjerit, ia meronta dalam dekapan seorang Dokter pria yang berusaha menenangkannya, menimbulkan sebuah keributan karena Liora terus berteriak menyebut satu nama dalam jerit tangisnya.
Sedangkan Devne, mamah Liora, wanita paruh baya itu terduduk di sebuah kursi yang berjejer di sana sambil menangis.
"Ada apa ini? Liora?" lirih Razz saat ia telah sampai di sana.
"Razz?" Liora berbalik dan Dokter itu melepas genggaman tangannya ketika Liora membalikkan badan. Liora langsung berhambur menjatuhkan diri dalam pelukan Razz, dada bidang itu selalu mampu menjadi sandaran yang menenangkan untuk Liora.
"Liora, ada apa? Kau kenapa?" tanya Razz saat Liora hanya menangis terisak dalam pelukannya. Devne melirik namun membuang muka lagi, ia merasa sedih dan kecewa.
"Liora? Hei, hei, tenanglah!" Razz menangkup wajah Liora, menatap dalam wajah cantik perempuan itu yang terdapat perban membalut kepalanya yang terluka akibat benturan keras pada kaca pintu mobil.
"Katakan, ada apa?" Lirih Al lebih lembut agar Liora bisa lebih tenang dari Isak tangisnya.
"Plaaakk!"
"Aaahh?"
Devne tiba-tiba bangun dari duduknya dan menampar keras pipi Liora yang sudah basah karena air mata dan beberapa bercak darah.
"Tante?" teriak Razz saat melihat Devne menjambak rambut Liora kasar dan memaki gadis itu.
"Aaahh? Mamah?" jerit Liora serak. Dokter yang melihatnya hendak melerai tapi semua yang terjadi begitu cepat.
"Dasar gadis bodoh, kau taruh di mana otakmu yang sudah kusekolahkan tinggi selama ini? Dasar anak tidak berguna! Plak!" Devne kembali melayangkan tamparan di pipi Liora.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Razz menarik tangan Liora hingga wanita itu kini berada di belakang punggung Razz, Razz berdiri sebagai tameng untuk melindungi Liora, sahabatnya, wanita yang pernah sangat ia cintai meski Razz akhirnya tak yakin sepenuhnya setelah bertemu dengan Steva.
"Tante, kumohon hentikan kegilaanmu, bagaimana kau bisa memukul Liora seperti itu, dia adalah putri kesayanganmu," teriak Razz tidak tega. Liora terus menangis di balik tubuh Razz memegang erat pergelangan tangan lelaki gagah itu.
"Aku tidak memiliki putri yang hamil di luar nikah seperti dia!" teriak Devne yang jatuh pada kursi dan terisak kemudian.
"DEG!"
"Apa?" Razz membulatkan mata begitu kaget. Apa yang didengarnya adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tak dapat Razz percaya. Ia tak pernah menyentuh Liora, Razz selalu melindungi dan menjaga kesuciannya. Jadi, bagaimana mungkin Liora bisa hamil?
"Maaf, Nyonya. Tolong jangan membuat keributan lagi, ini adalah hak kalian untuk menyelesaikan masalah kalian, tapi tolong jangan mengganggu ketenangan pasien yang lain!" tegur Dokter itu pada Devne sebelum ia akhirnya melenggang pergi meninggalkan mereka masuk ke dalam ruangannya.
"Liora?" lirih Razz menatap nanar pada Liora yang hanya menangis terisak sambil menunduk.
Tiba-tiba pintu ruang IGD itu terbuka. Beberapa perawat mendorong ranjang beroda dengan seorang pasien yang terbujur tertutup kain putih di sekujur tubuhnya.
"Leon?" teriak Liora, Razz mengernyit melihat Liora yang berteriak dan langsung berhambur menjatuhkan diri mendekap tubuh yang jelas sudah tak bernyawa, apalagi melihat tetesan darah segar yang mengucur entah dari bagian tubuh mana, karena tubuh itu tertutup kain putih seluruhnya.
Razz meraih tubuh Liora agar melepas pelukannya pada jasad tak bernyawa itu sehingga para perawat bisa kembali mendorong ranjang roda pasien membawanya pergi ke kamar mayat.
"Leon? Leon, Leon. Tidak! Jangan tinggalkan aku, Leon? Leon, aku tidak bisa hidup tanpamu, Leon? Leon, Jangan tinggalkan aku...." jerit Liora yang meronta dalam genggaman kuat tangan Razz.
Hati Razz berdenyut nyeri mendapati kecurangan Liora yang dilakukan pada dirinya, ia merasa dikhianati dan dibodohi, semua kenangan-kenangan tentang yang dulu-dulu berputar di kepala Razz.
Masa kecil mereka, perjuangannya, dan Liora yang terus mengulur waktu untuk pernikahan mereka, hingga merelakan dirinya agar tetap bersama dengan Steva, nyatanya itu semua hanyalah tipu daya Liora untuk menutupi hubungannya dengan pria lain yang ia cintai.
'Jadi, ini semua kau lakukan agar kau bisa bersama dengan kekasihmu, Liora? Bukan karena kau memikirkan kebahagiaanku, tapi ini semua demi dirimu sendiri?'
"Dasar gadis bodoh! Plak,,,," Devne kembali beraksi brutal, entah berapa kali wanita paruh baya itu memukul dan menghajar putrinya melampiaskan rasa kecewa dan sesalnya. Wajah Liora lebam bukan hanya karena kecelakaan, namun juga pukulan demi pukulan keras tangan Devne.
__ADS_1
Hingga Razz menghentikan kebrutalan Devne dengan mencengkeram lengan wanita paruh baya itu yang terangkat siap memukul kembali Liora.
"Hiks hiks hiks,,,, Razz...." Liora menjatuhkan diri dalam dada bidang Razz, tubuh wanita itu sangat bergetar, Razz hanya diam lalu melepaskan genggaman tangannya pada lengan Devne.
"Dia putrimu sendiri, Tante!" ujar Razz penuh penekanan, biar bagaimanapun, Razz tidak tega melihat keadaan Liora seperti saat ini. Ia pernah menganggap Liora adalah segalanya.
Liora terguncang, ia baru saja kehilangan orang yang sangat ia cintai di dunia ini, meninggalkan benih di dalam rahimnya yang tersirami dengan gairah cinta. Dan Razz bisa mengerti itu, ia menepis rasa sakit hatinya pada Liora karena ia bisa mengerti bagaimana itu rasanya, bergairah bersama orang yang dicinta memang membuat orang pasti menggila. Itu juga yang ia alami pada saat bersama Steva meski penyatuan mereka masih tertunda.
Razz juga mencoba memahami perasaan Liora saat ini. Liora dilanda kehilangan, kesedihan, dan keterpurukan.
"Aku tidak mau menganggapnya putriku lagi, dia hanya akan mencoreng nama baik keluarga, dia hanya akan menjadi aib keluarga. Hiks hiks hiks!" Devne terduduk, tubuhnya sangat lemah untuk bisa tetap tegar menerima kenyataan yang menampar harga dirinya, kenyataan yang melambangkan kegagalan dirinya menjadi seorang ibu dalam mendidik putrinya, kenyataan yang ditakuti oleh semua orang tua di seluruh dunia ketika memiliki anak perempuan, yaitu hamil di luar nikah.
"Mah?" lirih Liora hendak menyentuh Devne namun segera di tepis kasar.
Liora tidak peduli, ia duduk di lantai memeluk kaki Devne yang terus menangis memalingkan muka dari wajah putri yang selalu dibanggakannya selama ini. Hati mereka sangat sesak.
"Kau pasti akan membatalkan pernikahan ini kan, Razz? Aku tidak akan memaksamu untuk menerima wanita ini menjadi istrimu, aku sudah tidak memiliki muka dan harga diri lagi. Jadi kau boleh pergi." tukas Devne berselimut emosi.
Razz hanya terdiam, dia memang berniat membatalkan pernikahannya dengan Liora, tapi bukan karena alasan ini.
"Kau boleh pergi, Razz. Pergilah! Biar Liora menjadi urusan Tante sepenuhnya," Ujar Devne penuh penekanan sambil menatap tajam pada Liora.
"Apa yang akan Tante lakukan?" Razz mengenal kenekatan orang tua Liora? Dulu, saat Razz masih kecil. Ia pernah melihat keributan yang terjadi di rumah Liora saat dirinya dititipkan untuk diasuh dan dijaga Devne.
Anak pertama mereka, kakaknya Liora, mereka usir dari rumah setelah ketahuan hamil tanpa tahu siapa lelaki yang harus bertanggung jawab untuk menikahinya. Entah dia masih hidup atau sudah mati saat ini, tak pernah lagi ada yang tahu bagaimana kabarnya.
Seperti sebuah de ja vu, kini hal yang sama pun terulang kembali. Liora putri mereka telah hamil sebelum menikah dengan pria yang telah meninggal dunia.
"Itu bukan urusanmu lagi, Razz!" jawab Devne atas pertanyaan Razz tanpa mengalihkan matanya yang menatap tajam pada Liora.
__ADS_1
...****************...