
"Tuan? Anda sudah pulang? M-ma maaf, saya ketiduran!" Steva lekas bangun dan duduk, merapikan rambut yang sedikit acak-acakan, serta baju yang berantakan. Lalu ia melihat ponselnya yang tergeletak di atas karpet, dan Steva memungutnya.
Razz berdiri tegap menatap lurus ke depan, membiarkan Steva yang masih gugup dan mungkin merasa tidak nyaman sekarang.
"T-tu tuan? Biar saya siapkan dulu air mandi anda, tolong maafkan saya," Steva bangun dan lari berhambur ke dalam kamar mandi, Razz melangkah menuju ranjang, duduk di sana, melepas mandiri sepatu dan jasnya, ia lantas berbaring begitu saja.
'Liora?' Razz merindukan tunangannya itu, Razz harus bisa menemukan gadis yang bisa menerima dirinya yang cacat dan buruk rupa, dengan begitu, Liora bersedia menikah dengannya.
Flash back on.
"Baik, aku akan menikah denganmu, jika memang ada gadis tulus yang bisa mencintaimu," bukan tanpa alasan Liora membuat tantangan seperti itu, selama ini Razz menganggap remeh segala hal yang dengan mudah bisa ia dapatkan.
Fabio Cannavaro Razolla memang pria yang terlahir dengan anugerah kesempurnaan, namun itu membuat Liora tak menyukai sifat sombong dan sikap angkuhnya. Dengan memberi sedikit pelajaran seperti ini, Liora berharap Razz bisa berubah nantinya dalam memandang satu hal jika tak semua bisa dipaksakan sesuai dengan kehendaknya, dan bahkan jika Razz bisa bertemu dengan cinta tulusnya, Liora berharap Razz akan membatalkan perjodohan mereka, dengan begitu Liora terbebas dari ikatan yang dipaksakan orang tuanya, dan hidup bersama orang yang dicintainya.
Flash back off.
"T-tu tuan? Air anda sudah siap," Steva datang, berdiri tak jauh dari ranjang Razz.
Razz menghembuskan nafas kasar, ia lantas bangun dan berdiri.
"Apa saya harus?" Steva ingin bertanya perihal tugasnya yang melepaskan pakaian Tuannya sebelum mandi, namun Razz segala membalas sebelum Steva menyelesaikan pertanyaannya.
"Tidak perlu, aku akan melepasnya sendiri di kamar mandi, kau hanya perlu merapikannya saja nanti, siapkan baju gantiku sekarang!" seru Razz melangkah pergi masuk ke dalam kamar mandi melewati Steva yang menunduk.
"Apa aku tidak salah? Dia datang mendapati diriku yang tidur di sofanya, tidak marah, baju mau dilepas sendiri, tidak ada teriakan maupun omelan, apa dia sudah bertaubat?" Steva tertawa kecil di akhir kalimatnya. Ia lantas memunguti jas dan sepatu Razz untuk diletakkan pada tempatnya.
Steva telah usai menyiapkan baju ganti dan sendal rumahan Razz.
"Stev? Mana handukku?" teriak Razz dari dalam kamar mandi yang sontak mengagetkan Steva.
"Bodoh, kenapa aku bisa lupa handuknya?" Steva lekas berlari ke dalam walk in closet mengambil handuk putih dan baju handuk sekalian, dia tidak tahu handuk mana yang ingin dikenakan oleh Tuan besarnya itu.
"Ini Tuan?"
__ADS_1
'**DEG**.'
"Aaaahh?" Steva berteriak kencang dan membalikkan badan menutup rapat mukanya dengan kedua tangan.
"S.hi.t.t? Kau mau apa?" teriak Razz yang berdiri tanpa sehelai benang pun menyelimuti tubuh polosnya yang basah dan berkilau karena pantulan lampu kamar mandi, dan memang kulit Razz yang putih bersih dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, sungguh pemandangan indah dengan jagoannya dibawah sana yang meski dalam mode santai saja sudah terlihat ukuran besar panjangnya.
"Tuan? Kau yang memanggilku meminta handuk, kenapa kau bertanya aku mau apa? Ya aku mau nganterin handuk!" teriak Steva yang tak berani membalikkan badan ia berdiri membelakangi Razz yang berdiri di belakangnya menutup sang panglima tempur dengan kedua tangannya.
"Berikan handuknya, dan diam di situ, jangan bergerak!" seloroh Razz dengan nada kesal.
"He em, saya di sini Tuan?" jawab Steva mengulurkan tangannya ke belakang memberikan handuk tanpa menoleh, ia berharap Tuan besarnya tidak salah melangkah, karena dia buta.
Razz meraih handuk yang Steva berikan.
"Keluar!" bentak Razz kemudian dan Steva berlari cepat meninggalkan tempat.
Inilah wajah tampan rupawan Razz yang sesungguhnya. Dua bola manik biru yang cantik bulat dan lebar, dengan bulu mata yang lentik, alis hitam tebal dan terbentuk indah, hidung mancung dengan seluruh kulit yang halus mulus, rahang yang tegas dan bentuk bibir yang seksi, ketampanan yang sempurna dari seorang pria yang diidam-idamkan kaum hawa. Namun semua itu terpaksa harus ia tutupi demi bisa mendapatkan wanita yang diinginkannya.
"Tidak, dia sedang panik tadi, jadi dia tidak melihatku, bukan? Memang dasar gadis bodoh."
Razz buru-buru mengeringkan wajahnya dengan handuk, ia memakai handuk baju menutupi tubuh kekarnya.
Setelah itu Razz membuka satu kotak berkode yang hanya bisa dibuka olehnya karena kunci dari kotak itu adalah sidik jarinya, dalam kotak itu terdapat begitu banyak topeng wajah miliknya yang akan ia pakai seusai mandi, dan setelah dia akan melakukan ritual membersihkan diri, Razz akan melepas topeng wajah yang ia kenakan dan membuangnya ke tong sampah yang disediakan di kamar mandi, seperti itu terus menerus.
Lelah? Tentu saja, sudah hampir dua bulan dia menjalani rutinitas seperti ini, namun belum juga ada wanita yang bisa ia jerat. Tapi untuk ciuman pagi tadi yang ia lakukan terhadap Steva, ia sendiri pun tak mengerti, kenapa dia sampai melakukan itu, belum pernah ia ingin mencium pelayan pribadinya selama ini yang sudah berpuluh kali bergonta ganti. Tapi Steva? Dia berbeda sejak awal mula tiba, ada rasa tertarik di hati Razz yang tak ia sadari.
Razz keluar dari kamar mandi, mengacak rambutnya yang basah menggunakan handuk.
__ADS_1
"Tuan? Kemarilah, biar saya keringkan rambut anda," seperti yang ia lakukan kemarin, Steva membawa Razz duduk di kursi depan meja rias, Steva menyalakan hair dryer mengacak pelan rambut hitam tebal milik sang Tuan mengeringkannya, Steva juga memijit pelan kepala Razz yang terasa sangat enak, kedua mata Razz sampai terpejam atas perlakuan Steva yang seperti memanjakannya.
"Apa kau melihatnya?" tanya Razz tiba-tiba.
"Hah?" Steva kaget dengan pertanyaan yang Razz berikan.
"Melihat? Melihat apa? Anda jangan berpikiran ke sana? Saya juga tidak peduli kalaupun melihatnya," seloroh Steva menjawab pertanyaan Razz, dalam benak Steva, Razz mempertanyakan soal jagoannya yang memang tadi sempat ia lihat, namun Razz menanyakan soal wajahnya.
"Apa maksudmu? Jadi kau melihatnya?" teriak Razz mencengkeram lengan Steva yang tengah memijit kepalanya hingga aktifitas Steva terhenti.
'*Apa lagi ini? Dia marah*?'
"M-ma maaf, tuan? Saya hanya meliriknya sedikit, saya kan tidak sengaja, lagian tadi tuan juga langsung menutupnya dengan kedua tangan tuan, jadi saya tidak bisa melihatnya lebih lama, kan?" jawaban tepat yang Steva berikan, yang terpenting adalah kata maaf.
"Apa?" Lega, Razz melepas kasar lengan Steva, jadi gadis ini membicarakan tentang panglima perangnya, bukan tentang wajahnya, tersungging senyum di bibir Razz, seperti ada kebanggaan tersendiri, miliknya memang besar, panjang dan gagah perkasa.
"Heh, malah senyum-senyum, kepala anda tidak terbentur kan, Tuan?" seloroh Steva.
"*Cetak*!"
"Auw?" Steva mengusap jidatnya yang baru saja mendapat jentikan jari dari Razz begitu keras. Sakit, panas.
"Cepat sisir rambutku, dan pakaikan baju gantiku."
Steva melotot, '*Lagi? Aiisshh*,,,,!'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1