
"Lima milyar!"
"Apa?"
Mami menyebutkan harga yang harus dibayarkan oleh pria yang hendak menebus Steva itu dengan harga yang menurut Steva sangat fantastis. Padahal Steva yakin, uang yang diterima ayahnya dari wanita yang dipanggil mami itu tidak lebih dari dua milyar.
"Apa kau mau menipu?" teriak Steva pada mami yang duduk bersilang kaki di sebuah sofa menyesap gas nikotin dari sebatang rokok yang tersemat diantara jari tengah dan jari telunjuknya.
"Deal!" seru pria itu santai membuat Steva menoleh cepat padanya dengan raut muka melongo, terperangah, kaget, semua bercampur menjadi satu.
"Malvin." ucap pria yang membawa pergi Steva dari tempat hiburan malam yang hampir saja menjerat Steva seumur hidup sebagai wanita penghibur, pria itu memperkenalkan diri menyebutkan namanya.
"S-s Steva, aku Steva," balas Steva mengatakan namanya pada Malvin.
"Tuan, anda sudah menyelamatkan saya dari neraka itu, jadi sekarang anda telah memiliki hidup saya, saya akan bekerja keras pada anda, saya akan berusaha agar bisa membayar hutang saya," cerocos Steva.
Malvin yang tengah mengendarai mobil itu terkekeh mendengar penuturan Steva.
"Bekerja? Apa kau tahu berapa jumlah uang lima milyar itu?" tanya Malvin yang dijawab anggukan lalu secepat kilat kepala Steva menggeleng.
"Seumur hidup pun kau bekerja, belum tentu kau bisa membayar hutangmu," jelas Malvin yang memang benar adanya.
'*Glek*.'
Steva terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa, yang paling penting saat ini adalah, dirinya telah selamat, dan dia wajib berterimakasih pada Malvin. Dia sudah hadir sebagai malaikat penyelamatnya malam ini.
"Sudahlah, lupakan saja."
Malvin melajukan mobil semakin kencang membelah jalanan pusat kota yang ramai lancar, mulai hari ini, Steva akan ikut hidup bersama dengannya, tinggal di rumah mewahnya. Hingga waktu demi waktu berlalu menumbuhkan benih cinta dalam hati keduanya, membuat mereka semakin dekat dan akhirnya menjalin hubungan tanpa komitmen yang pasti.
Malvin menautkan bibirnya pada bibir Steva semakin dalam, Steva hampir tak bisa mengimbangi permainan Malvin yang terasa begitu bersemangat diselimuti nafsu yang menggebu.
__ADS_1
"Aaahh?"
"Sakkiiitt,,,," lirih Steva kala pusaka Malvin yang sudah tegak mengeras itu menerobos melewati lapisan keperawanannya, memasuki dinding \*\*\*\* \* Steva yang telah basah bercampur darah.
"Aaahh!" Malvin hanya bisa men.des.ah merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia memang sudah sering melakukannya dengan wanita berbayar, namun ketika ia melakukannya dengan Steva saat ini yang disertai dengan perasaan cinta, sensasi itu tentu sangat berbeda.
Malvin mulai menggerakkan pinggulnya pelan-pelan, menautkan kembali bibirnya dengan bibir Steva, mencoba memberi ketenangan, hingga Steva mulai merasa nyaman dan pekikan kesakitan berganti lirih kenikmatan.
Malvin menggoyang, memaju mundurkan badannya dengan tempo teratur, suara-suara de.sa.han mereka menggema di seluruh ruang kamar Malvin.
Malvin terus bergerak, ia semakin mempercepat tempo permainannya hingga keduanya tak lagi bisa menahan yang begitu mendesak di bawah sana, dan mereka meledak bersama, namun sebelum benih itu tersiram pada lahan lembab Steva, Malvin buru-buru mencabutnya hingga lelehan cinta itu menyembur di atas perut Steva.
"Aah, aahh,, aaahhh,,,,," nafas keduanya tersengal dan putus-putus, dada Steva yang besar membusung itu pun nampak naik turun seirama dengan gelora nafasnya melepas permainan penuh cinta.
**Flash back off**.
Steva melepas sepatu yang ia pinjam dari Asha tentu saja. Menaruhnya di atas rak sepatu yang terletak di depan jendela kamar, lalu ia memakai sandal Asha yang tergeletak di depan teras kos, dan mencuci kaki pada kran air yang berada di depan teras rumah kos di samping kiri.
"Sha? Kamu sudah tidur? Tok tok tok!" Steva mengetuk pintu, tidak sopan rasanya jika dia langsung membuka pintu itu meski tak terkunci sekalipun, karena dia hanyalah menumpang, seperti seorang tamu.
'Klek.'
"Syukurlah Kak Stev sudah pulang, tadi Kak Afnan terus saja nelponin aku menanyakan Kak Steva karena aku yang sudah pulang duluan," Asha membuka pintu lalu menutup dan menguncinya kembali, Steva tersenyum haru, masih ada orang-orang baik di dunia ini yang justru tak memiliki hubungan kerabat maupun kekeluargaan sama sekali, Steva masuk ke dalam kamar kos Asha diikuti Asha yang berjalan di belakangnya, mereka lantas duduk berdua di atas tikar lantai.
Afnan memang tak memiliki nomor Steva, ia tak berani menyimpan nomor perempuan manapun, istrinya itu melebihi Intel kala sedang menyelidiki, melebihi dokter kala sedang memeriksa.
"Kak Stev sudah makan?" tanya Asha.
"Sudah, tadi sebelum pulang, Ny. Gulnora meminta Kak Stev untuk makan terlebih dulu," jawab Steva.
"Iya, memang selalu seperti itu, dalam sehari aku cuma beli makan saat sarapan saja, selebihnya makan di rumah besar," celoteh Asha.
Mereka terus mengobrol membicarakan aktifitas yang mereka lalui hari ini, terutama cerita Steva yang telah menjadi pelayan pribadi Tuan besar yang galak dan menyeramkan. Sesekali Asha terpingkal kala Steva menceritakan padanya apa saja tingkah-tingkah konyol sang Tuan besar, seperti saat meminta Steva untuk memakaikannya celana.
"Ha ha ha ha." Asha tak dapat menahan diri, ia sampai memegangi perutnya yang terasa kram kebanyakan tertawa.
"Kurasa dia itu sedikit gila!" seloroh Steva yang membuat Asha semakin kencang tertawanya.
Tak lama kemudian tawa Asha terhenti kala Steva menceritakan bagaimana menyeramkannya Tuan besar saat meraih nampan dan membanting benda itu hingga seluruh isi di atasnya pecah tumpah berceceran.
__ADS_1
"Aku rasanya tidak percaya lho, Sha. Dia bisa meraih nampan yang kubawa tanpa salah, padahal kan dia buta?" Steva mengingat-ingat kembali kejadian yang terjadi sore tadi.
"Kan sudah kubilang, kak. Dia itu buta, tapi seakan bisa mengetahui semua yang ada di sekitarnya!"
Steva dan Asha beradu argumen membahas tentang Tuan besar mereka yang cukup misterius, kata mudahnya mereka sedang berghibah, sampai kantuk menyerang keduanya dan mereka akhirnya berbaring bersama terlelap dalam tidur mengistirahatkan tubuh yang lelah.
Asha menggoyang tubuh Steva pelan agar wanita yang tidur di sampingnya itu segera terbangun.
"Kak, bangun?" Asha yang masih berbaring dan bahkan matanya sendiri masih terpejam itu menggoyang terus bahu Steva.
"Kak, bangun, kau bisa kesiangan nanti, kau harus berangkat lebih pagi dariku!"
"Emmpphh,,,," Steva merasa malas, ia kelelahan, bukan tentang fisiknya, tapi lebih kepada mentalnya.
"Kak, kau bisa dipecat nanti kalau kau terlambat!"
"Memangnya ini jam berapa sih, Sha?" tanya Steva dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.
"Mungkin jam 6, karena si sontoloyo Fredy udah nyalain motornya ngong ngang ngong ngeng!" jawab Asha malas, tapi juga kesal.
Memang terdengar suara motor yang cukup memekakkan telinga, berasal dari pemilik kamar sebelah yang dihuni oleh dua pria bersaudara, dan salah satunya bernama Fredy yang terbiasa memanaskan motor modif miliknya sebelum ia kendarai menuju sekolah.
"Apa? Jam 6?" teriak Steva kaget dan sontak terbangun, ia meraih benda pipih miliknya yang ia letakkan di dekat bantal, 05:30.
"Masih ada waktu!" seru Steva berhambur ke dalam kamar mandi, dia harus membersihkan diri secepat kilat berkejaran dengan waktu.
"Sha, aku berangkat dulu!" teriak Steva keluar dari kamar kos Asha. Ia sudah hampir terlambat, 05:15.
Steva berlari menuju rumah besar milik Tuan Fabio Cannavaro Razolla sang majikan.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...