
POV MALVIN.
"Aah, aah, aah,,,"
Perempuan ja.la.ng yang bergerak naik turun Diatas tubuhku ini sangat berisik mengganggu konsentrasiku yang fokus membayangkan Steva.
Yah, aku sangat merindukannya, dan aku ingin bercinta dengannya. Hanya ini yang bisa kulakukan, bermain dengan wanita murahan dengan membayangkan tengah melakukannya bersama Steva.
"Ah, ah, ah,,,"
"Berisik sekali, bisakah kau diam? Suaramu cempreng tak seperti suara Steva!" bentakku padanya.
"Ta-pi ini sa-ngat nikmaatt,,,," seru si ja.lang men.desah.
"Brengsek." umpatku tak tahan.
"Aaahh,,, bugh!"
Kudorong dan ku tendang tubuhnya hingga jatuh dari ranjang dan dia mengaduh sakit serta berlirih mengumpat, aku lekas bangun dan bangkit turun dari ranjang, tak kupedulikan ocehannya yang merasa kesal oleh sikapku.
Aku cepat memakai celana serta kemejaku kembali, permainan ini tak lagi menyenangkan, aku tak merasakan kenikmatan dan aku tak mendapatkan pelepasan, hanya rasa lelah yang membuatku bosan.
"T-tu tuan? Anda mau pergi?" tanya perempuan murahan itu yang tak kutanggapi.
"Tapi anda belum mencapai?"
'Brak!'
Kubanting keras pintu kamar hotel yang sudah kusewa. Persetan, aku sudah membayarnya penuh di awal dengan harga mahal, tapi dia tak bisa memuaskanku.
"Aku butuh Steva," kulirik sekilas kebanggaanku di bawah sana yang masih berdiri di dalam sangkar.
__ADS_1
"Kasihan sekali, kau merindukan pawangmu, tapi? Apa sekarang Steva justru sedang bermain dengan suaminya? Aaahh,,, sial?" Aku melangkah pergi dari hotel itu.
Aku sangat merindukan Steva, aku sudah mencoba melupakannya setelah aku bertemu dengannya di cafe pagi itu, dia sudah bersama laki-laki lain, yang diakui sebagai suaminya, dadaku masih saja sesak jika teringat kembali masa itu. Dan kuputuskan untuk melupakannya karena dia tak lagi sendiri.
Steva berulang kali mengajakku menikah saat kami tinggal dan hidup bersama dulu, tapi aku tidak siap, apa yang bisa didapatkan dari sebuah pernikahan? Setelah bosan pasti akan terjadi perpisahan. Selain menikah, aku pun tak ingin memiliki anak, apa hebatnya mempunyai keturunan? Saat berpisah dengan pasanganmu, maka anak itu yang justru akan menjadi korban.
Dan Steva yang penurut tak pernah menuntut lebih, ia bersedia hidup bersama denganku layaknya pasangan suami istri tanpa ikatan pernikahan, dan dia juga rajin meminum pil KBnya agar dia tidak hamil karena aku tak menginginkan anak.
Steva sangat penurut, sedangkan aku masih dengan kenakalanku yang suka bermain bebas di luar, setiap aku melakukan kesalahan dan Steva mengetahuinya, aku akan meminta maaf, memanjakannya, lalu Steva akan memaafkanku, hingga entah mengapa aku merasa Steva terlalu gampangan, tak peduli seberapa besar aku menyakitinya, dia akan kembali luluh, karena aku bisa memberikannya segalanya.
Namun aku salah. Malam itu dia memutuskan pergi, dan benar-benar pergi. Sungguh aku menyesal dan kehilangan.
Aku menjalani hidupku seperti dulu, sebelum bertemu dengan Steva di malam itu, malam saat pertama kali aku menciumnya, bibirnya yang sangat lembut, penuh dan sensual.
Aku kembali pada kebiasaanku menikmati dunia malam, alkohol, dan wanita ja.la.ng.
Namun setelah bertemu kembali dengan Steva malam itu di jembatan, aku tahu jika aku tak bisa tanpanya. Dan yang kulakukan semua ini tak berarti, alkohol tak mampu memabukkanku seperti aku mabuk bersama Steva, wanita-wanita itu tak mampu memuaskanku seperti saat aku menikmati Steva. Steva sangat berpengaruh dalam hidup dan kebahagiaanku.
Orang suruhanku melaporkan jika suami Steva telah menikah lagi, dengan seorang perempuan cantik, mantan tunangannya, cinta pertamanya. Apa dia mengkhianati Steva karena kini wajahnya telah tampan? Aku tidak peduli. Tapi aku memikirkan Steva, apakah dia menderita? Tentu saja, dia bahkan menangis malam itu, tapi kenapa Steva hanya diam dan bertahan? Kenapa dia tidak berontak? Aku sungguh tidak mengerti.
Melihat Steva malam itu, ia kehujanan, menangis dalam diam seperti kebiasaanya. Membuatku begitu ingin memeluknya, tapi aku tidak bisa. Ego dan harga diriku tinggi, itulah kenapa malam itu saat kami bertengkar di restoran, aku tak mencegahnya pergi, bahkan seolah Steva telah kute.lan.jangi, dengan membiarkannya melepas semua yang ia kenakan hasil pemberianku, karena aku ingin dia yang mengemis untuk kembali, bodoh.
Aku merutuki kebodohanku sendiri, gengsiku, keangkuhanku, kenapa aku tak bisa bicara manis dan bersikap lembut padanya? Setidaknya berusaha agar Steva luluh dan kembali padaku, aku justru menertawakan nasibnya saat melihatnya di jembatan malam itu, bodoh, sial, benar-benar tak punyak otak. Kenapa aku tak menurunkan gengsi dan mengurangi sedikit egoku untuk memeluknya? Aah,,, bodoh sekali, jika ada kesempatan lagi, akan aku lakukan yang terbaik.
Di sinilah aku sekarang, berbaring seorang diri di dalam kamarku yang gelap, kamar yang dulu biasa kugunakan untuk bercinta dengan Steva. Satu-satunya wanita yang kumainkan di atas ranjangku. Satu-satunya wanita yang kumainkan dengan penuh perasaan cinta.
Selebihnya, aku bermain di kantor, di sudut ruangan, di kamar lain di rumahku, atau di mobil dan di manapun aku menginginkannya, bukan dengan Steva, namun dengan para ja.la.ng yang kumainkan sebagai pelampiasan, dan tanpa melibatkan perasaan, selain mengejar kepuasan nafsu. Pelampiasan? Iya, melampiaskan amarahku pada wanita murahan, membuat mereka berteriak, menangis dan meminta ampun, karena aku bermain kasar.
Tapi akhir-akhir ini, saat aku bermain layaknya sedang bercinta untuk meluapkan rinduku pada Steva, aku tak dapat merasakan nikmat, aku tak mendapatkan kepuasan. Mereka tidak seperti Steva, mereka berbeda, tak seperti Stevaku yang lembut, namun sangat lezat, bodoh, bagaimana aku bisa menyamakan wanita seperti Steva dengan para ja.la.ng? Aku menginginkan Steva. Hanya Steva.
...****************...
__ADS_1
"Aaahh,,, ssshh,,,, aaahh,,,,"
"Sebut namaku, Stev? Aku suka mendengarnya saat kita bercinta, aaahh,,,,"
Badan Steva yang ramping namun kencang terus naik turun seirama dengan pinggul Razz yang bergerak, kedua tangan Razz yang mencengkeram pinggang ramping Steva membantu mempercepat gerak naik turun tubuh sang istri.
"Aaah,,, aahh,,, sshh,,, aah, Razz,,,,!" Steva terus mende.sah, ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, hingga melupakan cemburu, marah, dan bencinya pada Razz. Apakah dia murahan? Bukankah naluri alamiah begitu sangat memanipulasi perasaan?
Steva merasa ingin meledak, dan Razz dapat merasakan denyut yang semakin memburu.
Razz lekas bangun lalu membalik tubuh Steva merangkak membelakangi Razz. Kedua tangan Steva Razz tarik ke belakang hingga badan Steva bagian depan terhempas ke atas ranjang, dan Razz menaikkan pinggul Steva, lalu ia mengarahkan panglima perang menerobos masuk dari belakang.
"Ughhh,,,," mulut Razz menganga disertai mata yang terpejam dan lengu.han kenikmatan.
Razz memaju-mundurkan tubuhnya keluar-masuk kelembutan Steva dengan irama pelan, ia terus bergerak menambah sedikit kecepatan.
Steva hanya bisa mende.sah dan menge.rang, batinnya sakit atas perbuatan Razz, pikirannya ingin agar dia berpisah, tapi tubuhnya? Tubuh Steva mengkhianati sang pemilik ruh.
Razz bergerak maju-mundur semakin cepat, lebih cepat, dan semakin cepat lagi, rintihan Steva terdengar sangat merdu dalam pendengaran Razz, hingga ia meledakkan muntahan itu dengan memberikan hentakan terakhir yang keras dan kuat melesak masuk menabrak dinding paling kenyal di dalam tubuh Steva, bersamaan dengan Razz yang merasakan panglima perang telah dimandikan air hangat di dalam sana.
"Aaaahhhh!"
"Haahh,,, haahh,,, haahh,,,!"
Razz melepaskan diri, ia terduduk dengan dada naik turun karena napas yang tersengal. Sedangkan Steva meringkuk, menarik selimut menutup tubuhnya yang gemetar, Steva menumpahkan tangisnya sambil menggigit bibir bawahnya agar isaknya tak terdengar Razz.
Razz merebahkan diri memeluk Steva dari belakang. Tangan kanan Razz melingkar di pinggang, dan tangan kirinya ia berikan sebagai bantal, Razz mengecup tengkuk sang istri beberapa kali.
"Tolong bertahanlah, kumohon bertahanlah!" lirih Razz sebelum akhirnya ia terpejam dan menyambut lelap.
...****************...
__ADS_1