
Liora meminta salah satu pengawalnya untuk membelikan sesuatu di sebuah mini market saat mereka dalam perjalanan pulang, mobil yang ia tumpangi berhenti di badan jalan.
Liora menggunakan kesempatan itu untuk berlari kabur dari dalam mobil, ia tidak tahan, hatinya hancur, kepalanya berputar, ia merasa bersalah pada Leon dan Liora ingin mengakhiri hidupnya.
"Nona Liora?" teriak supir yang melihat Liora keluar dari mobil, dan pengawal yang duduk di jok sebelah supir keluar dari mobil lekas mengejar Liora, sedangkan pengawal yang masih berada di dalam mini market belum keluar.
Sopir itu hendak mengejar Liora dengan melajukan mobil, namun naas, karena terburu-buru, ia malah menabrak pengendara motor yang baru keluar dari mini market, gerakannya terhenti sebab kecelakaan itu.
Liora terus berlari menembus gelapnya malam disertai guyuran hujan. Ia menangis, berteriak, Ia tak mempedulikan hawa dingin, kaki yang sakit, maupun teriakan seorang pengawal yang mengejarnya, Liora terus berlari menuju jembatan, dia ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke dalam sungai di bawah jembatan itu yang kini arusnya semakin deras karena banjir akibat hujan lebat.
Saat Liora hendak menaiki pembatas besi jembatan, pengawal yang mengejarnya berhasil menarik tangan Liora sebelum Liora melompat ke bawah sana. Namun karena keadaan yang licin, pengawal itu pun terpeleset hingga kakinya terkilir dan Liora membentur pembatas besi hingga ia jatuh tak sadarkan diri.
"Nona? Nona Liora?" teriak pengawal sambil menepuk pelan pipi Liora beberapa kali. Pengawal itu bahkan tak mempedulikan kakinya sendiri yang sakit.
"Oouughh,,, Sial. Tuhan! Lindungi Nona Liora dan bayinya!" gumam pengawal itu yang menaruh kepala Liora di pangkuannya.
Liora sudah tak sadarkan diri, dan darah mengalir di bawah tubuhnya entah berasal dari mana.
Karena kakinya yang terkilir, pengawal itu tak mampu mengangkat tubuh Liora untuk membawanya pergi, dan teman-temannya belum ada yang menemuinya.
Pengawal itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, tanpa pikir panjang ia menghubungi Tan, kontak pertama yang ia lihat. Dan untunglah posisi Tan tak jauh dari sana karena mereka memang sudah kembali sampai memasuki wilayah kota.
"Lagipula untuk apa Liora keluar jalan-jalan sampai semalam ini?" gerutu Razz setelah Tan menancap gas menuju jembatan yang pengawal tadi sebutkan.
**POV STEVA**.
Tan mengatakan jika Liora hampir bunuh diri, dan keadaanya saat ini sedang pingsan, mobil yang Tan kendarai melaju kencang menuju jembatan dimana Liora berada, kaki pengawal yang menjaganya terkilir. Entahlah, kami belum tahu pasti bagaimana ceritanya.
Aku ikut merasa cemas, meski aku tak menyukainya bahkan juga membencinya, tapi ada anak di dalam kandungan Liora yang membuatku merasa iba. Jangan sampai Liora kenapa-kenapa.
Tapi saat aku melihat Razz yang bersikap gelisah, hatiku jadi sakit karena cemburu, ia berkali-kali menghubungi Renata, sahabatnya yang juga seorang Dokter obgyn. Setelah beberapa kali tak mendapat jawaban, akhirnya panggilan Razz diterima oleh Dokter cantik yang pernah mengobatiku waktu itu.
__ADS_1
Razz meminta Renata yang sudah berada di rumah untuk kembali ke Rumah Sakit, ia mengatakan jika dia akan datang membawa istrinya yang mengalami kecelakaan untuk Renata periksa dan obati, Razz tak mempercayai Dokter lain, katanya.
Satu kata yang membuat hatiku semakin perih, Razz mengakui Liora sebagai istrinya dari mulutnya tanpa memikirkan perasaanku, yah,,, meski aku tahu, jika Liora memang juga istrinya.
"Cepat, Tan?" bentak Razz pada Tan, ia begitu gelisah, gusar, panik, dan aku tahu Razz merasa takut.
Aku menatapnya tajam dan nanar, tapi Razz sama sekali tak melihatku, ia terus fokus melihat depan dan sesekali memainkan ponselnya. *Aku cemburu*.
Kupalingkan pandanganku ke arah kaca mobil, di luar sana sangat gelap, dengan derasnya guyuran hujan. Dan air mataku menetes begitu saja.
'*Apakah benar Razz hanya mencintaiku? Apakah benar aku menjadi satu-satunya wanita yang ada di dalam hatinya? Ataukah hanya salah satunya*?'
Aku mulai ragu, aku sendiri sesekali masih teringat akan Malvin meski secepat mungkin kutepis dengan mengingat kesalahannya. Tapi Razz? Melihat sikapnya, kekhawatirannya saat ini, aku takut jika Razz tak sepenuhnya padaku, aku takut jika Razz hanya menerimaku karena Liora tak mencintainya, karena Liora tak menerimanya, seperti yang pernah Liora katakan.
Mobil yang kami tumpangi berhenti, tanpa basa-basi Razz keluar dari mobil berlari menuju jembatan menembus derasnya hujan.
Aku menatapnya nanar, Tan pun seperti mengerti perasaanku, dia melihatku dengan iba, dan aku secepat mungkin menyeka air mataku yang berlinang, aku tidak suka terlihat lemah.
Aku dan Tan keluar berlari menuju jembatan. Di sana Liora memang sudah tak sadarkan diri, ada darah di tanah beraspal jembatan yang sudah tercampur air hujan.
"Tuan? Cepatlah!" teriak Pengawal itu sambil memegangi pergelangan kakinya, raut mukanya mengernyit menahan sakit.
__ADS_1
Razz terlihat begitu khawatir, kudengar suaranya bergetar saat dia memanggil nama Liora beberapa kali sambil membawanya ke dalam gendongan. Dan Tan membantu pengawal yang kakinya terluka itu.
Aku hanya berdiri mematung, tatapanku nanar melihat pemandangan menyakitkan itu, menyakitkan bagiku, suamiku, Razzku, pria yang sangat aku cintai begitu peduli terhadap wanita lain, istri keduanya. Cinta pertamanya, mantan tunangannya. Sekali lagi kuakui aku cemburu.
Razz berlari ke arahku dengan membawa Liora dalam gendongannya. Tapi dia tak berhenti tuk bicara padaku, yah, mungkin karena dia begitu buru-buru akan kondisi Liora. Razz hanya berlari melewatiku. Aku yakin, dia pun tak melihat air mataku yang bercampur dengan air hujan.
"Tan? Bawa Steva pulang!" teriak Razz saat ia melewatiku tadi pada Tan yang masih jauh di sana, karena pengawal yang jalannya tertatih, dan kutahu Tan tak mungkin kuat menggendongnya sebab tubuh pengawal itu yang jauh lebih besar darinya.
Razz membawa Liora masuk ke dalam mobil yang tadi kami tumpangi, dan dia lekas pergi tanpa mempedulikanku yang masih berdiri, *kenapa dia tidak membawaku pergi bersamanya? Oh Tuhan? Sungguh rasa cemburu itu menyakitkan*.
"Tunggu sebentar, Nyonya. Mobil yang akan menjemput kita akan segera tiba," ucap Tan yang berjalan di depanku sambil menghubungi seseorang lewat telepon.
Aku masih berdiri tak bergeming. Tan dan pengawal itu duduk di pembatas jembatan dan jalan raya, Tan melihat kondisi kaki si pengawal. Mungkin sedikit serius.
Aku menunduk melihat rintikan air hujan yang jatuh ke tanah beraspal, membiarkan dinginnya hujan mengguyur seluruh tubuhku dan bercampur dengan air mataku, *percayalah, rasa sakit dalam hati dan cemburu membuat wanita serasa ingin mengakhiri hidupnya, tapi ini adalah aku, Steva. Yang memiliki wejangan dari Kakek tanpa nama*, "***Tidak harus mengakhiri hidup untuk mengakhiri masalah***."
Tiba-tiba air hujan yang mengguyur tubuhku dengan deras seketika menghilang, bukan karena hujannya yang telah reda. Tapi seseorang telah datang, berdiri di depanku dengan memayungi tubuhku.
Dari ujung sepatunya aku bisa tahu siapa orang itu, dan aku mendongak untuk memastikannya.
"*Malvin*?"
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...