GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
RUWET


__ADS_3

'Ciiiittt,,,,'


Malvin menginjak rem mendadak, hampir saja mobilnya dan mobil pengawal Steva yang memotong jalannya secara tiba-tiba mengalami tabrakan.


"Buka pintunya!" teriak seorang pengawal berbadan besar berkaos putih dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya.


"Mat-tilah kau, Malvin!" umpat Steva lirih namun gugup.


Steva keluar dari mobil Malvin, para pengawal yang berjumlah banyak itu mengepung mereka berdua.


Pengawal yang menggedor pintu mobil Malvin menyeret kerah kemeja Malvin dengan kasar saat pria itu keluar dari mobilnya.


"Kurang ajar!"


"Bugh!"


Pengawal itu melayangkan pukulan mentah ke rahang Malvin dan Malvin tersungkur ke tanah beraspal seketika. Steva tercengang, ia begitu terkejut, haruskah dia menyelamatkan Malvin? Tapi untuk apa? Pria itu memang pantas menerimanya.


"Beraninya kau menyentuh Nyonya kami!"


"Bugh!"


Malvin tak dapat menghindar, dan dia tak mampu melawan, tak hanya satu, setidaknya tiga pengawal telah turun tangan, menghajar, memukul, menendang tubuh Malvin berkali-kali.


Tubuh Malvin yang sudah rebah di jalan itu terus mendapat tendangan demi tendangan di dada, perut, kaki dan bahkan wajah dan kepalanya.


Seorang pengawal menarik kerah baju Malvin agar pria yang sudah tak bertenaga itu dapat berdiri.


"Jauhi Nyonya Steva, jika kau masih ingin hidup, Brengsek!"


"BUGH!"


Wajah Malvin sudah lebam dan memar, darah segar keluar dari hidung dan sudut bibirnya, ia nampak sangat lemas dan lunglai, bahkan matanya yang biru sudah menutup sempurna.


Pukulan keras itu membuat kepala Malvin menghantam pembatas jalan keras, darah mengucur dari kepalanya, namun para pengawal tak juga berhenti, mereka kembali menendang dada dan perut Malvin berkali-kali, Malvin tak bergeming, ia tak bergerak.


Steva tercekat, ia tidak tega. Namun tubuhnya mematung tak bisa ia gerakkan.


"He-hentikan!" teriak Steva dengan suara bergetar dan tubuh yang gemetar, ia melerai keributan itu setelah Steva mengumpulkan seluruh keberanian dan kekuatannya.


Seorang pengawal kembali mengangkat kerah baju Malvin dan melayangkan pukulan keras ke rahangnya.

__ADS_1


"Brugh!" tubuh Malvin yang tak berdaya ambruk.


Untunglah keadaan jalanan sepi lengang, satu dua pengendara motor maupun mobil yang lewat memilih berlalu dan tak mau ikut campur.


"Malvin?" teriak Steva hendak menghampiri, namun tentu saja pengawal menghalanginya.


"Dia? T-tolong dia? Bawa dia ke Rumah Sakit?" teriak Steva yang sudah menangis. Sungguh dia merasa tidak tega, Malvin mendapat pukulan demi pukulan begitu banyak karena dirinya. Tiba-tiba rasa bersalah menghantui kala Steva melihat Malvin batuk dan menyemburkan darah, ya Tuhan?


"D-di dia bisa mati?" teriak Steva yang masih belum mendapat tanggapan, Pengawal itu justru menarik tangan Steva untuk segera masuk ke dalam mobil.


'Brak!' pintu ditutup.


"T-tolong dia? Bawa dia ke Rumah Sakit?" Steva terus berteriak histeris, tubuh Malvin bersimbah darah.


"Tenanglah, Nyonya. Seorang pria tidak akan mati hanya karena pukulan ringan seperti itu," celoteh pengawal yang sudah berada di jok kemudi. Dan mobil lekas melaju membawa Steva pergi dari sana meninggalkan Malvin yang tengkurap di jalanan seorang diri.


"Malvin?" lirih Steva tak tega, ia terus menoleh ke belakang hingga pandangannya tak lagi mendapati sosok yang pernah sangat ia cintai itu.


Hei, kenapa menangis? kenapa? Apa masih ada rasa kasihan? Dia yang pernah menyakitimu, tapi kenapa mata ini justru masih menangisinya saat melihat kondisinya seperti itu?


'Jika aku masih merasa sedih melihat Malvin yang terluka, itu juga yang mungkin dirasakan oleh Razz, dia juga merasa kasihan pada Liora? Oh, Tuhan?'


...****************...


"Jantungnya? Berikan alat bantu untuk memompa!"


'Niiittttt,,,,,!'


"Kepalanya pendarahan, Dokter!"


"Siapkan darah cepat, kita akan memberikan transfusi sekarang!"


Razz yang masih berada di Rumah Sakit mengurus kepulangan Liora mendapat kabar dari Pengawal Steva, dan dia lekas mencari ruangan IGD yang menangani Malvin.


"Razz? Kenapa kau ada di sini? Bukankah kita akan pulang?" tanya Liora yang mengikuti langkah Razz tanpa sepengetahuan pria itu tadi.


"Emh, ada temanku yang mengalami kecelakaan, kau tidak keberatan untuk menunggu di kamarmu dulu kan, Liora? Nanti aku temui kamu setelah aku tahu kondisi temanku."


[Skip!]


...****************...

__ADS_1


Razz menepati janjinya, ia mempekerjakan seorang perawat untuk menjaga Liora, dan Razz kembali disibukkan dengan pekerjaan yang lama ia tunda.


Satu bulan berlalu.


Steva tak dapat melupakan sama sekali kejadian siang itu, kejadian Malvin yang mendapat pelajaran dari para pengawal Razz, dan semakin Steva teringat Malvin, dia semakin merasa bersalah, bukankah itu keterlaluan? Menghajar orang tanpa ampun?


'Bagaimana kabar Malvin sekarang?'


Razz sangat marah pada Steva karena bertemu Malvin, entah sudah berapa kali Steva membela diri jika itu bukan salahnya, dirinya pun tidak tahu jika Malvin tiba-tiba ada di sana dan menarik tangannya, tapi Razz tidak mau mengerti, dia sangat cemburu dan tidak mempercayai Steva, hingga Razz kembali memperketat protokol penjagaan Steva. Tak ada lagi jalan-jalan tanpa dirinya, tak ada ponsel, Steva dilayani bak ratu namun kebebasannya tersekap.


Seharusnya itu bukan masalah besar bagi Steva, ia bisa menjalani hari dan hidup hanya dengan berdiam diri di rumah sebagai seorang istri yang patuh dan penurut, tapi tidak dengan suami yang terus mengulur waktu untuk memberikannya kepastian.


Hubungan Steva dan Razz terjalin dingin, Steva sangat marah, Razz tak kunjung memberikan kepastian, karena sampai satu bulan kemudian pun Razz belum juga menceraikan Liora, meski Razz tak pernah menunjukkan kebersamaan dengan Liora, namun Steva tetap saja cemburu dan dia tidak mau menjalani hubungan dengan berbagi.


"Aku akan membawa pulang Liora, dan akan menyelesaikan semuanya di sana," ucap Razz pada Steva, ia meminta ijin untuk pergi ke luar negeri membawa Liora pergi. Dan mungkin akan sedikit lama karena Razz yang harus mengurus semuanya, menjelaskan pada Mommynya, orang tua Liora, serta menjamin kesehatan mental Liora.


Steva kasihan pada Razz dan juga Liora, tapi dia memilih egois untuk menyelamatkan perasaannya.


"Aku ikut," cicit Steva menanggapi.


"Tidak usah, kau sedang menjalani program hamil, aku tidak mau tubuhmu lelah dan menghambat kehamilanmu,"


Setelah Steva kembali mendapat menstruasinya, Razz membawa Steva untuk diperiksa Renata, tentu Renata tahu apa penyebab Steva tak kunjung positif dan mengandung benih Razz, meski setiap hari pagi dan malam Razz terus menggempurnya, karena Steva yang rutin mengonsumsi pil KB.


Renata wanita baik yang pengertian, ia pun meminta Razz untuk menebus obat ke apotik Rumah Sakit agar ia memiliki kesempatan untuk bicara berdua dengan Steva. Karena selama pemeriksaan Razz terus saja menjaganya, membuat jantung Steva berpacu tak tenang.


"Jadi? Kau tak ingin mengandung anaknya Razz?" tanya Renata pada Steva waktu itu.


"Bukan begitu, Dokter Renata. Aku hanya tidak siap, aku tidak yakin jika hubunganku dan Razz bisa bertahan lama. Aku masih menyimpan keraguan!" jawab Steva jujur.


Dan dari pembicaraan hati ke hati sesama wanita itu, Steva akhirnya luluh dan berhenti meminum pil KB.


"Pasti sangat sulit untuk Razz menjalani semua ini, Liora adalah sahabatnya sejak kecil, mereka tumbuh bersama, tapi dia jatuh cinta padamu setelah dewasa. Bukankah dia menerima keadaanmu yang sudah tidak virgin? Ough, sungguh, maafkan aku, bukan maksudku untuk lancang, tapi aku cuma ingin menegaskan, Razz benar-benar mencintaimu, hanya kau yang dicintainya saat ini, kebaikannya yang ia lakukan pada Liora, itu pasti murni dan bukan karena masih menyimpan cinta. Kau tahu? Razz sangat menjaga diri, dia asli pria perjaka, dan dia memberikan seluruh tubuh dan hatinya padamu, percayalah, aku bisa jamin itu." celoteh Renata yang membuat Steva mengangguk setuju untuk membuang semua pil KBnya.


"Aku pergi, baik-baik di rumah, aku sangat mencintaimu, sangat! Cupppp!"


Razz mengecup kening Steva cukup lama saat mereka berpamitan, dan Liora hanya menatap sekilas pada pasangan romantis itu yang berdiri di depan teras rumah.


'Sungguh aku tidak mencintai Razz, Kenapa Steva tidak pernah percaya? Aku hanya butuh seorang suami paling tidak sampai aku melahirkan. Benar-benar Steva wanita menyebalkan.'


...****************...

__ADS_1


*Hi Sahabat Readers,,,, 😁 Semoga sehat selalu 🤲. Cerita ini sudah ada rangka ceritanya sampai end, dan nggak akan dirubah, tetap akan ditulis sesuai ide awal, sebenarnya saya sering kasih Clue di setiap episodenya untuk bab selanjutnya bagaimana, tapi mungkin belum ngena, nggak papa, baca mah bukan buat nebak, tapi buat dinikmati, eh malah bikin emosi para Readers 🤧🙏 Mon Maap yah,,,! Kalo mau hujat, hujat tokohnya aja, Jangan hujat saya, saya mah cuma nulis, mereka yang berperan 😭.


Makasih ya, buat semuanya, aku suka bacain komen kalian, bikin mood nulis naik. 🥰🙏*


__ADS_2