GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
OTW


__ADS_3

"Ahh,, ahh,, ahh,,, sstt,,, aahh,,, Razz,,,"


"Yeah, Steva! Yeah,,,, aahh,,, aahh,,,,"


"Eemmpphh,,,,"


Razz kembali menautkan bibirnya pada bibir Steva, saat pinggulnya terus memompa Steva yang berbaring di bawahnya tanpa henti menghujam kelembutan inti tubuh Steva di bawah sana.


Steva hanya mampu mende.sah dan me.ngerang, Razz memang luar biasa jantan saat bermain di ranjang.


Entah sudah berapa kali mereka bermain, lagi dan lagi. Keringat bercucuran karena pembakaran kalori dengan olahraga kenikmatan.


Tangan kiri Razz berpegangan kuat pada dipan ranjang, urat-uratnya menonjol menjalar pada tangan yang kekar, tangan kanannya mencengkeram leher Steva dari belakang, agar kepala Steva lebih mendongak ke atas dan Razz mudah me.lu.mat mulutnya, hingga bibir Steva sedikit bengkak.


Razz terus menghujam kelembutan inti Steva dengan panglima perangnya yang perkasa. Dadanya yang bidang ditumbuhi bulu halus dengan buliran bening peluh menjadi pemandangan indah netra Steva.


"Aaahh,,,,!" Razz menghentakkan keras tubuhnya hingga kepala panglima perang menabrak sesuatu yang kenyal, lembut, namun kencang di dalam sana, dan Steva menge.rang hebat mengiringi ledakannya yang bersamaan dengan ledakan Razz suaminya.


"Haaahh,,, haahh,,,, haaahh!"


Nafas keduanya tersengal, putus-putus. Dada mereka naik turun seirama dengan deru paru-paru yang memburu.


Tersungging senyum kepuasan dari kedua sudut bibir Razz yang melengkung ke atas.


"Cuuppp!" satu kecupan dalam dan cukup lama Razz daratkan pada kening Steva, mata mereka terpejam saat melakukanya.


"Apa aku masih menyakitimu?" tanya Razz, ia khawatir jika sampai Steva lecet lagi, dia yang semula bermain lembut namun di tengah permainan Razz tak dapat mengontrol diri dan emosi, apalagi gairah Steva yang juga sangat menggoda membuat nafsu Razz tak terkendali.


Steva menggeleng pelan, dia tersenyum dengan rona tersipu.


"Aaahh,,," Razz berguling merebahkan dirinya di samping Steva, ia lantas meraih tubuh istrinya memberikan lengannya yang kiri sebagai bantal sang istri, dan Steva meringkuk ke dalam pelukan Razz. Ia mulai memejamkan mata.


"Tidurlah, masih ada waktu sebelum pagi menyapa, cuuupp!" Razz sekali lagi mencium kening Steva menghantarkan sang istri tercinta beristirahat dalam lelap.


Razz memainkan ponselnya dengan tangan kanan, ia membuka beberapa pesan, salah satunya dari Tan yang sudah menyiapkan semuanya untuk perjalanan mereka esok hari. Dan pesan selebihnya Razz abaikan. Apalagi pesan-pesan dari Amora yang mendesak Razz untuk menceraikan Steva. Tentu Razz anggap hanya sebagai angin lalu.


Tan telah menyiapkan semua dengan sempurna, para pengawal yang akan berpakaian biasa layaknya orang biasa. Bahkan di tempat tujuan mereka esok hari, para pengawal sudah menyiapkan diri, akan ada yang menyamar sebagai tukang balon, penjual jajanan pentol, atau sekedar orang biasa, itu semua Razz lakukan demi menjaga Steva agar istrinya tak berkesempatan kabur darinya.


Yah, meski Steva sudah menerimanya, Steva tak mengatakan jika dia memaafkan Razz, membuat hati Razz selalu was-was. Takut jika Steva akan pergi, dan Razz tidak akan sanggup kehilangan Steva.


"Berikan GPS dalam tubuhnya, itu akan lebih memudahkan anda, Tuan. Dan Nyonya Steva bisa menjalani hidupnya secara normal untuk keluar dari rumah, tidak hanya berdiam diri dan merasa terkurung!"


Sebuah gagasan yang Tan katakan pada Razz tempo hari, tapi tentu Razz menolaknya, ia takut menyakiti tubuh Steva, benda seperti chip GPS adalah benda asing yang bisa saja berbahaya untuk tubuh seseorang yang ditanaminya.


Dan inilah rencana terbaik yang bisa Razz lakukan untuk mencegah Steva pergi, selain para pengawal yang menyamar sebagai orang biasa. Razz telah menyiapkan sebuah cincin. Sebuah cincin yang telah di Designe dengan chip GPS. Dan Razz memakaikannya malam ini saat Steva tidur.


'Maafkan aku, bukan aku tak mempercayaimu, tapi aku sangat takut kehilangan kamu.'


Saat mandi pagi, Steva baru menyadari sebuah cincin bertahtakan berlian melingkar di jarinya.


"Itu cincin pernikahan kita, maaf karena aku baru memberikannya," bisik Razz yang duduk di belakang Steva.

__ADS_1


Razz dan Steva mandi bersama di dalam bathtub yang terisi air hangat dengan sabun aroma terapi yang menenangkan. Dan tangan serta bibir Razz tak hentinya bersikap nakal selama mereka melakukan ritual mandi.


Steva hanya tersenyum mendengar penjelasan Razz, senang? Tentu saja. Ia bahkan ingin memintanya dulu dari Razz saat pernikahan mereka, tapi menyadari pernikahan yang dadakan dan bukan karena cinta, Steva tak berani.


"Kau suka?" bisik Razz di tengkuk leher Steva.


"He em, ini sangat cantik!" jawab Steva sambil memperhatikan cincin itu di jari manisnya.


"Kapan kau memakaikannya?" tanya Steva penasaran, ia menoleh ke belakang menghadap wajah sang suami yang menatapnya dengan tatapan memuja.


"Semalam! *Cuppp,,,"


"Emmpphh*"


Razz menjawab singkat pertanyaan Steva dan dia langsung menubruk bibir istrinya dengan gemas, sebuah ciuman yang lembut pada awalnya dan berubah memanas. Dan untuk sekali lagi, Razz membawa Steva keluar dari bathtub.


Razz menggendong Steva berada di depannya, kedua kaki Steva melingkar pada pinggang Razz. Satu tangan Razz mencengkeram bo.kong Steva sebagai tumpuan dan tangan kanan memeluk erat punggung ramping sang istri.


Razz mendudukkan Steva di atas meja wastafel, di belakang punggung Steva terdapat kaca besar, dan tanpa pemanasan yang berarti, Razz menghujam kelembutan inti tubuh Steva dengan penuh gelora. Dan Steva menyambutnya tak kalah bergairah.




Razz dan Steva menuruni anak tangga, keduanya terlihat sangat baik, mereka memakai setelan baju warna hitam.




Sedangkan Steva, ia memakai celana hitam dan kemeja yang berwarna senada, sepatu hak tinggi, sebuah syal melingkari lehernya untuk menyembunyikan puluhan tanda kepemilikan yang Razz tinggalkan, rambutnya ia kuncir kuda dan Steva juga memakai kaca mata warna senada, sederhana namun sangat cantik dan elegan.



Tangan Steva menggandeng lengan kekar Razz, dan mereka saling tersenyum menyebarkan aura positif.



"Kami akan pergi, kuserahkan urusan rumah sepenuhnya padamu, jika ada sesuatu yang penting, kau bisa menghubungi Tan," Razz berbicara pada Gulnora sebelum mereka pergi.



Dan di meja makan ada Liora yang tengah sarapan.



"Baik, Tuan besar, apa anda tidak sarapan terlebih dulu?" tanya Gulnora karena Razz dan Steva kembali hendak melangkah. Liora melirik tajam Razz dan Steva yang berdiri di sana dengan begitu mesra, terlihat sebagai pasangan yang sempurna. Dan Liora berdecih dalam hati, bukan cemburu, mungkin iri.



"Tidak, Nyonya Gulnora, kami sudah kesiangan, kami akan makan di mobil saja nanti," jawab Steva.

__ADS_1



"Memangnya kalian mau kemana?" seloroh Asha berteriak, ia yang tengah membawa setumpuk barang yang akan di bawa ke gudang tak sengaja mendengar pembicaraan Razz dan Steva dengan Gulnora.



Steva tersenyum dan dia melepas tangannya dari lengan Razz, lalu Steva berlari kecil menghampiri Asha.



"Aku ingin pergi ke kampung, tempat kelahiranku dulu, aku ingin mengunjungi makam ibu," jelas Steva yang mengambil beberapa barang yang menumpuk di depan Asha sampai menutup wajahnya.



"Eehh,,,, tidak usah, aku bisa sendiri!" tolak Asha dari bantuan Steva.



"Kalau begitu pergilah. Hati-hati, doaku menyertai Kak Stev."



Liora terlihat tidak peduli, dia bersikap acuh dan hanya melahap hidangan sarapannya.



"Kami akan pergi dulu, Liora. Kau harus menjaga dirimu dengan baik, jika kau ingin pergi jalan-jalan, sudah ada orang yang siap menemani dan melayanimu," Razz berbicara pada Liora, ia menghampiri sahabat sekaligus istri keduanya itu, mantan cinta pertamanya. Dan Liora hanya diam tak menanggapi.



"Baiklah kami pergi dulu," seru Steva ceria.



"Kapan kau akan kembali? Apa Kak Stev akan menginap?" tanya Asha penasaran.



"Tidak, kami tidak akan menginap, mungkin kami akan sampai rumah tengah malam, atau paling cepat pukul 10." Razz yang menjawab Asha.



Dan Steva tersenyum lalu mengangguk membenarkan.



Tan sudah menunggu, dia yang akan mengemudikan mobil Razz, mengantarkan perjalanan Razz dan Steva yang ingin pergi ke kampung halaman mengunjungi makam sang ibu.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

__ADS_1


__ADS_2