GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
HANYA PURA-PURA


__ADS_3

"Tuan mau apa sih ke meja rias? Mau dandan? Lagian tuan juga tidak bisa melihat, lantas? Ooooppsss,,,,," Steva membungkam mulutnya sendiri yang tanpa sengaja telah salah bicara dan mungkin saja menyinggung Razz.


"Kau benar, aku memang tidak bisa melihat, aku buta. Tapi orang lain bisa melihatku, bisa menilai penampilanku, ya, aku tahu. Aku juga buruk rupa. Wajahku hancur. Tapi itu bukan berarti jika aku tak boleh menyisir rambutku, bukan?" tukas Razz yang membuat Steva menggeleng cepat beberapa kali, meski Razz tak bisa melihat tingkahnya.


"B-bu bukan begitu, Tuan! Maafkan saya. Saya tidak bermaksud berkata seperti itu. Sungguh!" lirih Steva merasa bersalah.


"Sudahlah, lupakan!"


"B-bi biar saya saja yang menyisir rambut, Tuan. Itupun kalau tuan mengijinkan." ucap Steva yang mendapat anggukan dari Razz.


Steva segera bergerak berjinjit melewati lantai yang terdapat pecahan beling yang masih berserakan itu menuju meja rias, ia lantas mengambil sisir berwarna hitam milik sang Tuan bayi besar.


"Tuan, apakah ada hal lain yang ada butuhkan selain sisir? Di sini ada parfum, krim wajah, hand body, deodorant,,,," Steva mengabsen setiap benda yang terdapat di atas meja rias Razz.


"Bawa semuanya," jawab Razz santai. Dan Steva langsung mengangguk melaksanakan perintah sang Tuan.


"Tuan, pakai dulu sandalnya," Steva menyentuh lembut kaki Razz, memakaikannya sandal satu persatu, setelah itu barulah ia bergerak mengeringkan rambut Razz yang basah menggunakan, hair dryer, mengacak lembut rambut Razz, memberikannya sedikit pijatan, lalu menyisirnya. Tanpa Steva ketahui, tersungging senyum tipis yang manis pada sudut bibir Razz.


"Tuan? Apa saya juga harus memakaikan krim wajah ini untuk anda?" Steva menatap Razz dalam, dan Razz menggeleng sebagai jawaban.


"Tidak perlu, biar aku sendiri yang lakukan. Kau pergi saja, ambilkan makan malam ku,"


"Oh, iya, baik Tuan, permisi. Oh ya, ini krim anda!" seru Steva sambil memberikan krim wajah Razz. Steva melangkah keluar dari kamar Razz, mengambil makanan lain karena menu yang tadi sudah ia siapkan berhamburan ke lantai bercampur dengan pecahan beling.


"Mau memakaikan krim, memangnya kamu tidak merasa jijik apa melihat wajahku?" gumam Razz melihat krim wajahnya yang ia pegang.



Fabio Cannavaro Razolla, seorang pria tampan bermanik biru yang sangat cantik, bertubuh atletis dengan tinggi 180 cm, rambut hitam tebal dan seorang pengusaha sukses yang kaya raya.



Razz hanyalah berpura-pura menjadi pria buta dan juga menempel topeng kulit hancur hingga menampakkan wajahnya yang seram rusak, menerima tantangan tunangannya Liora yang mengatakan jika dia terlahir sempurna, jadi tentu saja akan sangat mudah bagi wanita jatuh cinta padanya, namun jika dia berparas buruk dan juga cacat, mana ada wanita yang mau mencintainya dengan tulus.



Liora adalah gadis pilihan orang tua Razz yang tinggal di luar negri, mereka dijodohkan, Razz juga mencintainya, Liora gadis cantik, baik, berpendidikan dan sangat menarik. Sosok wanita sempurna Dimata Razz.



Namun Liora menolak perjodohan itu, meski tak ia sampaikan secara terang-terangan Karena takut pada orang tuanya, Liora sudah memiliki kekasih, dan dia hanya mengatakan semua kejujurannya pada Razz, berharap Razz bersedia membatalkan rencana perjodohan yang diatur kedua orang tua mereka. Tapi Razz justru tak peduli jika Liora tidak mencintainya dan memiliki kekasih, Razz tetap akan menikahinya, hingga perdebatan malam itu berjalan sengit.



Liora dan Razz beradu argumen di dalam mobil saat mereka berada di luar negri dulu, Razz yang emosi dengan semua perkataan Liora membanting setir menabrakkan mobil ke beton pembatas jalan.



**Flash back on**.



"Apa kau gila, Razz?" teriak Liora saat mobil itu telah hancur berhenti paksa menabrak beton. Untunglah tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Razz.


__ADS_1


"Kau begitu menantangku, Liora?" bisik Razz menahan sakit di hati karena Liora terus berbicara yang membuat hati Razz terasa nyeri.



"Benar, kau begitu meremehkan semua orang, Razz. Kau mengandalkan kekuasaanmu, kekayaanmu, ketampananmu, dan juga kesemlurnaanmu itu, kau menganggapku begitu gampang, Razz. Tapi aku tidak butuh semua itu, aku sudah memiliki cintaku sendiri, aku mencintai orang lain, Razz, meski dia tak sesempurna dirimu, tapi dia menganggapku,"



"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Liora? Kenapa kau menolakku, apa alasanmu?" Razz berteriak pada Liora yang masih tak mau mengerti.



"Dengar, kau tidak memiliki cinta di hatimu itu, bahkan kurasa, aku hanyalah sebagai obsesi untukmu, semua wanita yang dengan mudahnya kau dapatkan itu, mereka semua tidak pernah ada yang benar-benar mencintaimu, jika kau ingin mengerti cinta, dan melihat cinta yang tulus, maka saat kau berada pada titik terendah, di saat itulah kau bisa melihat cinta yang tulus."



**Flash back on**.



"Tuan?" Steva masuk ke dalam kamar Razz membawa nampan berisi menu makan malam Razz. Razz terlihat duduk bersandar pada dipan ranjang, kedua kakinya berselonjor.


"Tuan, makanan anda!"


Hening, Razz tak menjawab.


"Apa, saya juga harus menyuapi anda, Tuan?" tanya Steva selanjutnya, karena Razz hanya diam saja.


"Apa kau pikir aku ini bayi, hah? Berikan." Razz mengulurkan tangannya meminta nampan yang Steva bawa.


Steva pun menaruh nampan itu pelan-pelan di atas pangkuan Razz.


"Tuan, ini ada sup ayam, yang ini nasi dengan ikan goreng, sambal, dan,,,,"


"Cukup, aku bisa merabanya, meski aku tak bisa melihatnya, atau kau mau aku merabanya?"


"Heh?"


"Tidak, tidak. Tidak Tuan. Terserah kau saja, eh, maksud saya. Terserah anda kalau mau makan sendiri." Steva mundur karena gerogi.


'Ada ada saja, dasar bayi besar yang mesum.'


Razz mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, pandangan matanya terlihat lurus ke depan tanpa titik yang pasti, bahkan setelah Steva perhatikan, Tuan besarnya ini terhitung jarang sekali berkedip.


'Dia buta, tapi bisa makan sendiri dengan baik, baguslah, mandiri.'


"Tuan, saya permisi sebentar, mau ambil sapu, mau membersihkan serpihan beling yang berserakan." ucap Steva hendak melangkah.


"Suruh seseorang untuk mengerjakannya, itu bukan bagian dari tugasmu." seloroh Razz yang seketika membuat Steva membulatkan mata, Tuan besarnya ini cukup sulit untuk bisa dimengerti, sebentar marah, sebentar lagi tidak, sebentar jahat, sebentar lagi sebaliknya.


"Apa kau mau terus diam sampai pagi menjelang?" bentak Razz membuat Steva gugup seketika.


"Ah, iya!"


Steva buru-buru pergi meninggalkan tempat, Tuan besarnya memang sangat menyeramkan saat mode marah, lebih baik selalu menurut dan tidak memantik emosinya.

__ADS_1




Steva pulang lebih malam dari jam yang seharusnya, untunglah jarak kos Asha dengan rumah besar ini tidak jauh, jadi cukup dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar 15 sampai 20 menit saja sudah sampai.



Steva berjalan melewati trotoar menuju kos Asha, saat sendiri dengan suasana malam seperti ini, mengingatkan kembali dirinya tentang kenangan bersama Malvin, yah, mungkin cinta itu masih ada meski rasa kecewa dan sakit hatinya lebih menggunung.



**Flash back on**.



"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja dariku?" celoteh pria itu menatap dalam Steva yang membulatkan netranya beradu pandang pada manik sang pria.



"Tuan? Tolong lepaskan saya!"



Pria itu lekas melepas pegangan tangannya pada pergelangan Steva. Dan Steva kembali melangkah menuju pintu untuk pergi.



"Kau pikir kau bisa keluar dari sini begitu saja?"



Suara berat pria itu sontak menghentikan langkah Steva yang ingin segera kabur.



"Mereka pasti akan mudah menangkapnya kembali." ujar pria itu sambil berdiri memakai jas nya yang tadi sempat ia gunakan sebagai penutup tubuh Steva.



Steva menangis, ia sungguh merasa takut, benar yang dikatakan pria ini jika dia tidak mungkin dapat degan mudah lolos begitu saja dari tempat ini.



"Ikut aku! Aku akan menebusmu!"



Steva terperangah, pria yang baru ia temui beberapa waktu lalu mengatakan akan menebus Steva, itu artinya dia akan membayar nominal pada mami agar Steva bisa dilepaskan.



Pria itu menarik tangan Steva membawanya keluar menuju ke suatu ruangan. Ruang pribadi mami sang mucikari.


__ADS_1


...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2