GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
AMBIGU


__ADS_3

"Aku tidak bisa, Liora. Aku tidak bisa menceraikan Steva. Aku telah jatuh cinta padanya." jawab Razz lirih penuh keyakinan.


Senyum Liora mengembang mendengar jawaban Razz, memang itulah rencananya sejak semula, ia ingin membatalkan pernikahan ini dengan cara seolah Razz yang bersalah, dengan mengkhianati dirinya, dan berhasil, satu kata yang paling tepat menjelaskan rencana yang sudah Liora susun selama ini.


"Baik, kalau begitu batalkan pernikahan kita, Razz?" celoteh Liora. Matanya bertemu pandang dengan manik biru Razz kesayangan Steva itu dengan sorot yang sama-sama dalam.


"Kau tidak marah?" tanya Razz mendapati Liora yang justru terdengar bahagia dari suaranya.


"B-bukan begitu, Razz. Ini? I-i ini demi dirimu, demi kebahagiaanmu, aku rela berkorban apa saja untuk kamu, Razz. Termasuk batalnya pernikahan kita. Aku bisa mengerti dirimu, dan aku tidak mau kau sedih, Razz! Kau berhak untuk bahagia, meski itu tidak bersama denganku," jawab Liora panjang lebar memberikan penjelasan pada Razz.


Tapi tentu kalimat demi kalimat yang Liora ucapkan membuat Razz merasa bersalah pada Liora.


"Liora, maafkan aku, aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa terjebak dalam permainan itu, tapi aku telah jatuh cinta pada Steva. Aku tak ingin menyakiti hatimu, sungguh. Tolong maafkan aku!" Razz menggenggam kedua tangan Liora. Ia merasa sangat bersalah.


"Tidak apa-apa, Razz. Aku mengerti, tapi kau tahu kan? Aku tidak bisa membantah Papah dan Mamah ku? Mereka akan murka padaku jika aku yang mengatakannya, hiks hiks."


Razz merengkuh tubuh Liora membawanya kembali jatuh ke dalam pelukan. Mengelus punggung dan rambutnya yang ikal alami.


"Kau tenang saja, itu akan menjadi urusanku." jawab Razz mantap. Yang paling mengganjal sedari kemarin adalah soal Liora, Razz kebingungan bagaimana cara untuk bisa mengatakan dan menjelaskannya pada Liora tanpa menyakiti hati gadis itu, namun jika tentang urusan kepada orang tuanya. Razz tak begitu peduli, dia tidak suka diperintah dan dia akan mengambil keputusannya sendiri.


'Mungkin akan terjadi perang dunia ketiga nanti saat aku mengatakannya pada mamah, tapi ini keputusan yang terbaik, aku mencintai Steva. Dan aku tidak mungkin bisa menceraikan dia dan kehilangan dirinya.'


Seusai pembicaraan itu, Razz dan Liora memutuskan untuk memutar arah, tidak peduli lagi dengan cincin pernikahan mereka yang tadinya akan mereka ambil.


Liora meminta untuk turun di jalan, dia bilang akan bertemu dengan seorang teman malam ini, dan Razz kembali pulang untuk segera beristirahat, seperti suatu beban yang sangat berat ia pikul beberapa hari terakhir telah hilang, lenyap. Menyisakan beban kecil untuk bicara pada Mamahnya dan menyelesaikan dengan baik-baik semuanya pada kedua belah pihak keluarga.


Razz memasuki rumah tergesa. Ia mencari mamahnya, namun tak ada, pelayan rumah mengatakan jika Nyonya Amora dan Tuan Nard sedang menghadiri pesta pernikahan anak partner bisnis mereka, dan mungkin akan pulang saat tengah malam atau bahkan lewat.

__ADS_1


Razz memutuskan akan membicarakan ini esok hari. Dan dia memasuki kamar, mengunci pintu dari dalam.


Razz melepas sepatu, bibirnya tersenyum simpul, apalagi jika bukan tentang ia yang mengingat Steva, dimana istri penurutnya itu selalu membukakan sepatu lalu memberinya sandal rumah. Saat-saat seperti ini membuat Razz begitu sangat merindukan Steva, istri cantiknya. Yang selalu menyambutnya hangat penuh cinta, dan menyiapkan semua kebutuhannya.


Razz melepas jas, lalu melemparnya ke ranjang, membuka dua kancing kemeja atasnya, lalu kancing di pergelangan kemejanya, dan menarik lengan kemejanya yang panjang sampai siku.


Razz merogoh saku celana, meraih benda pipih kesayangan sejuta umat. Dan memainkan jemarinya.


Pukul 20:00.


"Masih sore, belum larut malam, Steva pasti belum tidur!" gumam Razz disertai senyum bibir yang melengkung, setelah beberapa hari mendera rindu yang lara. Akhirnya Razz memiliki kesempatan untuk menghubungi istrinya.


"Kau sangat nakal, Steva. Kau tidak mengirimiku pesan satupun, padahal kau sedang onlin." ujar Razz mencibir melihat layar ponselnya yang menyala.


"Kau harus kuhukum nanti saat aku pulang, tidak akan kubiarkan kau turun dari ranjang hingga kau tak akan mampu berjalan meski sekedar ke kamar mandi dan aku yang akan menggendongmu nanti." celoteh Razz diakhiri dengan gelak tawanya sendiri membayangkan keganasan dan kebrutalan yang akan ia lakukan pada Steva sebagai hukuman.


Steva berbaring di atas ranjang Razz, menggunakan selimut sang suami untuk menutupi seluruh tubuhnya, aroma khas tubuh Razz yang tertinggal menjadi pengobat rindu bagi Steva, maka saat Asha akan membersihkan dan mengganti sprei ranjang itu, Steva melarangnya.


"Apa kau tidak merindukanku, Tuan? Kenapa kau tak sekalipun menghubungiku? Apa kau begitu sibuk sampai melupakanku?" lirih Steva merasa ingin menangis. Rindu itu sungguh menyiksa.


Tuan.


Calling,,,


"Hah? Dia memanggil? Hah?" terkejut, Steva sampai terlonjak kaget dan duduk memegang gemetar pada benda pipih miliknya. Steva mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan, dan benar, ponsel itu masih bergetar, satu panggilan dari kontak orang yang sangat ia rindu, yang sangat ia nanti telah masuk ke ponselnya.


Dengan sangat antusias Steva menerima panggilan itu, ia tidak peduli jikalaupun itu Tan yang masih memegang ponselnya. Yah, Tuan bayi besarnya itu buta, jelas saja jika Tan yang membantunya untuk melakukan panggilan. Pikir Steva.

__ADS_1


"Halo, Tuan?" lirih Steva dengan suara bergetar saking senangnya.


"Kau sedang apa?" suara Razz di seberang sana terdengar ketus.


"T-ti tidak ada, Tuan! S-sa saya hanya sedang duduk," jawab Steva gugup.


Razz tersenyum canggung, ia sebenarnya begitu senang bisa mendengar suara Steva yang sangat ia rindukan. Hanya saja, Razz ingin menunjukkan rasa kecewanya pada Steva karena istrinya itu sama sekali tak memberikan kabar padanya.


"Kau berani sekali, tidak pernah menghubungiku, dan tidak pernah menanyakan kabarku, apa kau tidak ingin tahu, hah? Apa kau tidak peduli padaku?" bentak Razz membuat Steva tergelagap.


"M-ma maaf, Tuan, bukan begitu, s-sa saya hanya takut mengganggu anda. Saya t-ti tidak berani jika sampai mengganggu kesibukan anda. Tapi saya sangat merindukan anda, Tuan? Emmpph?" Steva cepat-cepat menutup mulutnya karena kelepasan, dan Razz tahu itu, dia bisa mendengar suara Steva yang tertahan. Membuat Razz sangat gemas dan dia begitu ingin melihat wajah Steva sekarang.


Razz mengalihkan panggilan pada video. Meski ia hanya menampakkan dada bidangnya yang setengah terbuka, karena Razz saat ini tidak memakai topeng wajahnya.


"T-tuan? Panggilan video?" lirih Steva cemas. Ia baru saja habis menangis, meski Razz tidak bisa melihat, pasti Tan yang mungkin saja ada di dekatnya bisa melihat wajahnya yang sembab, bukan? Dan Steva tidak mau Tan sampai mengadu pada Razz.


"Kenapa Steva? Kau lama sekali menerima pengalihan panggilan ke Video? Atau kau sedang tidak berada di rumah? Kau kelayapan?" bentak Razz memberi tuduhan.


"Iisshh,,, tidak masuk akal. Mau kelayapan kemana? Sedangkan tidak ada satupun tempat di dunia ini yang membuat saya bahagia kecuali ranjang anda, ooppss!" Steva menutup matanya kuat menahan malu, rasa bahagia yang begitu menggebu membuatnya tak dapat mengontrol diri. Namun kalimat itu jelas membuat Razz merasa sangat senang. Dan Razz senyum-senyum sendiri dengan gelaknya yang tertahan agar tak terdengar oleh Steva di sana.


Razz menenangkan diri yang ingin tertawa lepas sebelum akhirnya ia kembali bicara.


"Lantas kenapa kau tidak mau menerima pengalihan penggilan ke video? Apa karena aku yang buta? Dan?"


"Tuan? Tolong berhenti mengatakan sesuatu yang bisa membuat hati saya terluka. Berapa kali saya harus tegaskan pada anda, jika saya tidak peduli dengan mata anda yang buta, bagi saya, manik anda adalah manik tercantik di seluruh dunia. Dan saya percaya, meski anda tidak dapat melihat saya, tapi anda bisa merasakan saya dalam hati anda!" celoteh Steva geram namun diiringi tangisan.


Setiap kata yang Steva katakan selalu membuat Razz semakin jatuh cinta padanya, wanitanya adalah seseorang yang sangat tulus. 'Terimakasih, Liora. Kau telah mempertemukanku pada orang yang luar biasa baiknya.'

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu alihkan panggilan ke Video. Aku ingin menunjukkanmu bagian tubuhku yang pasti sangat kau rindu." Ambigu.


...****************...


__ADS_2