
POV RAZZ.
Aku sangat terkejut mendapati ruang inap Liora kosong saat aku menggendong kembali Liora keluar dari kamar mandi, kemana Steva? Apa dia pergi? Apa dia marah? Apa dia cemburu?
Aku tak menunjukkan kekhawatiranku pada Liora, pesan Renata adalah aku harus selalu membuat Liora merasa bahagia, dan aku cukup berhasil 2 hari ini. Bahkan Liora berangsur terbuka kembali padaku seperti dulu.
Tapi Steva? Kemana wanitaku pergi, aku harus membuat Liora tertidur terlebih dahulu sebelum aku pergi meninggalkannya, aku sangat takut jika Steva akan pergi dariku, untung saja aku sudah memakaikannya cincin yang tersembunyi chip GPS. Aku bisa melacak keberadaannya nanti dengan ponselku.
"Razz, aku lapar," lirih Liora, aku merawatnya sebaik mungkin, biar bagaimanapun, dia adalah sahabatku, kami tumbuh bersama, dan Liora sedang terpuruk, ia kehilangan semuanya, aku harus ada disampingnya sebagai sandaran dan kekuatan untuknya.
Pukul 9 malam, Liora baru tidur, padahal seharian aku sudah sangat cemas memikirkan Steva, aku pun tak bisa memainkan ponsel untuk melacak keberadaan Steva ataupun menghubungi Gulnora untuk menanyakan Steva, Liora memintaku untuk terus berada di sampingnya, aku bisa mengerti, dia merasa takut.
Aku meminta pada perawat khusus untuk menjaga Liora saat ini, dan aku akan lekas pulang, titik hijau di layar ponselku itu menunjukkan jika Steva ada di rumah, aku sangat lega, dia tidak pergi meninggalkanku, tapi aku harus segera menemuinya, aku harus meminta maaf padanya, Steva tiba-tiba pergi begitu saja, dan aku yakin dia marah, dia pasti cemburu.
'Klek.'
Kubuka pintu kamarku, lampu utama sudah padam, menyisakan lampu di atas nakas yang berwarna jingga dan memberikan pencahayaan remang.
Di atas ranjang kudapati sosok yang kucari dan sangat kurindukan. Steva berbaring miring membelakangi pintu, selimut tebal menutup tubuhnya sampai sebatas dada, aku melepas sepatu, menjatuhkan diri pelan di sampingnya, kupeluk tubuh ramping istriku yang hangat dari belakang, lalu kuciumi tengkuknya.
Aku tak yakin jika Steva sudah tidur, apalagi saat kusesap tengkuk leher itu, dapat kurasakan tubuhnya yang bergetar.
"Sayang? Aku pulang!" lirihku manja di belakang telinganya, kujilati telinga Steva hingga tiba-tiba kudengar suara isak tangisnya.
Aku berhenti dari kelakuan nakalku, lalu kubalik tubuh Steva hingga ia menghadapku, benar, dia menangis dalam diam, kelopak matanya bahkan membengkak, pasti dia sudah menangis sejak lama.
Ya Tuhan? Aku membuatnya bersedih.
"Sayang? Maafkan aku, Cup!" aku mengecup keningnya, namun sedetik kemudian dia bangun dan duduk dengan kedua lututnya sejajar dada.
Steva mengusap kasar wajahnya, aku tahu, dia tak suka terlihat lemah dan bersedih di depan orang lain.
"Aku ingin berpisah,"
"DEG."
__ADS_1
"Aku ingin kau menceraikanku!"
"DEG."
Jantungku berhenti berdetak, aku terpaku, kalimat yang Steva katakan sempurna menghujam dadaku dengan seribu anak panah, sangat sakit.
"Apa yang kau katakan? Tidak akan ada perceraian, aku tidak mau berpisah denganmu, aku mencintaimu, dan kau istriku!" Aku berbicara dengan nada membentak, hatiku sangat sakit saat Steva mengatakannya, begitu mudah baginya mengatakan sebuah kata sakral perceraian? Apa dia sudah tidak mencintaiku? Sehingga ia ingin pergi dariku?
"Apa maumu sebenarnya? Aku sudah katakan padamu, jika aku tidak sanggup untuk berbagi, itu sangat menyakitkan, melihatmu membawa wanita lain dalam dekapanmu, aku ingin mati rasanya, kau tahu?" Steva berteriak lantang, hatiku berdenyut, aku bisa merasakan rasa sakit hati Steva ke dalam batinku, yah, aku tahu bagaimana rasanya cemburu.
Bahkan aku sangat cemburu saat Tan menceritakan kedatangan Malvin yang meminta Steva ikut pulang bersamanya malam itu di jembatan, tapi karena Steva memilih pulang ke rumahku, aku tak ingin membahasnya.
'Glek.' kerongkonganku terasa kering dan aku kesusahan menelan saliva. Steva kembali mengusap air matanya. Oh, Tuhan? Aku tak bisa menghadapi ini, melihat Steva menangis dan terluka oleh diriku sungguh membuatku merasa sangat bersalah, dan menjadi orang paling jahat di dunia.
"Aku tidak ingin berdebat, aku tidak akan pernah menceriakanmu," tukasku berdiri dan hendak pergi.
"Kalau begitu ceraikan Liora!" teriak Steva yang melompat turun dari ranjang menghentikan langkahku.
Jantungku berpacu begitu kencang, dadaku memanas, dan aku ingin melampiaskan amarahku.
Maafkan aku karena aku harus kembali melakukanya lagi dengan cara kasar, aku tak tahu harus menaklukkan Steva dengan cara apa selain membuatnya mende.sah di bawah kungkunganku, dan aku harap Steva akan segera hamil, benih dariku, agar ia tak pernah lagi berpikir untuk pergi meninggalkanku.
"Aah? Razz?" teriak Steva saat kudorong kasar tubuhnya hingga ia terjerembab di atas ranjang dan tubuhnya memantul.
Dengan cepat kulepas kaos yang kupakai dan kulempar begitu saja, lalu aku membuka sabuk yang melingkar di pinggang.
"Razz? Aku tidak mau!" teriak Steva yang hendak merangkak menjauh, namun dengan sekali sentak ku tarik kakinya hingga ia kembali terjatuh dan celanaku sudah lepas begitupun kain segitiga itu.
Steva berontak, ia tidak bersedia melayani hasratku, padahal dia sempat melirik panglima perangku yang sudah berdiri jantan dan perkasa siap menerjangnya.
"Aaahh? Razz? Lep-paskan, kau menyakitiku!"
Aku terpaksa mengikat kedua tangannya dengan sabuk yang kupegang, lalu kuikatkan pada dipan ranjang. Steva meronta namun tak berarti.
"Maafkan aku, Stev! Aku terpaksa. Tapi aku mencintaimu, hanya mencintaimu,"
__ADS_1
"Serraakk!" kurobek gaun tidurnya yang tipis tanpa lengan, lali kutarik kasar B.H. yang menutup dada busung Steva yang sangat kurindukan.
"Aaahh,,," de.sah Steva kala ku lahap choco chips berwarna pink pucat milik Steva. Tangan kananku tak tinggal diam, kuremas dada Steva yang menganggur, dan tangan kiriku bekerja di bawah sana.
Kuraba dan kuelus mulai paha mulus Steva, lalu kucengkeram pinggang rampingnya. Mulutku berpindah me.lu.mat bibir penuh nan sensual Steva yang sangat menggairahkan.
"Empphh,,," Steva melenguh, tubuhnya masih terus bergerak mencoba untuk meronta. Namun aku yang sudah kalap tak peduli meski ia meringis mengaduh sakit.
Kumainkan lidahku di dalam mulutnya, menari dan membelit lidahnya, kusesap dan kugigit kecil bibir yang merekah itu.
Aku berpindah menjelajah lehernya, membuat jejak-jejak kepemillikan di sana, dan aku tahu Steva suka, dia mende.sah membuatku semakin bersemangat.
Tangan kananku bergerilya meremas dada, lalu meraba perut dan pahanya, kutarik kain tipis segitiga milik Steva dengan kasar hingga robek agar terlepas dari sana, itu cukup menghalangi pemandangan indah area inti yang paling kusuka.
"Aku mem-ben-ci-mu, Razz? Kau memaksakan ke-hen-dakmu!" teriak Steva terbata, karena aku sudah berpindah ke bawah.
Kepalaku sudah menunduk di antara kedua kakinya yang kubuka dan kutekuk agar terangkat.
Kunikmati kelembutan area inti tubuh Steva dengan sangat bergelora. Aku menyeringai, Steva berteriak tidak, tapi naluri alamiahnya mengkhianatinya, dia sudah sangat basah.
Kumainkan lidahku di dalam sana, mendengar de.sahan-de-sahan Steva membuatku semakin ingin lebih. Oh, Steva. Kau adalah keindahan yang sempurna.
"Aaahh,,," de.sah Steva lirih saat ia mencapai pelepasan yang pertama.
Aku berhenti sejenak, memberikannya waktu untuk Steva menikmati dan mengambil napas, sebelum kuhajar Steva ke dalam permainan yang sesungguhnya.
Dada Steva naik turun seirama dengan deru napasnya yang tersengal, kuseka bulir keringat di dahinya, lalu ku kecup dalam dan cukup lama kening itu.
"Kau menyukainya, Stev?" tanyaku lirih yang berada di atas tubuhnya, menutup tubuh polos Steva.
"Kau gila!" umpat Steva pelan yang membuatku tertawa gemas. Sungguh, sedang marahpun wanitaku ini tetap sangat cantik dan menggemaskan.
"Aku ingin kau melayaniku sekarang, menurutlah, dan jadilah istri yang baik," kulepas ikatan tangan Steva, lalu kuangkat tubuh Steva hingga kini posisi berbalik, aku terlentang di atas ranjang dan dia duduk di antara kedua kakiku, dengan sekali hentak kuhujamkan panglima perang yang masih berdiri gagah nan jantan menyeruak masuk ke dalam kelembutan inti tubuh Steva hingga tubuh Steva melengking mendongak saat kepala panglima perang menabrak sesuatu yang kenyal di dalam sana.
"Aaahh,,,, ssshhh!" de.sah Steva. Sedangkan aku hanya menganga menahan nikmat yang menjalar luar biasa.
__ADS_1
...****************...