
POV STEVA.
"Tuan?" para Pengawal yang mengejarku telah sampai. Aku tak memperdulikan mereka, tanganku masih mencengkeram kerah baju Razz dengan tak sopan, seperti seorang berandalan, lalu kulepas tanganku yang mencengkeram kerja bajunya, dan aku mengusap air mataku, aku tak suka terlihat lemah, tapi aku ingin meluapkan amarah, sedih dan emosiku.
Razz meraih tanganku, ia hendak membawaku pergi, namun Di tangan kirinya, Liora telah memegangi tangan Razz.
"Jangan pergi," lirih Liora sambil menangis. Dan Razz benar-benar melepas tangannya yang menggenggam tanganku.
"Cih." aku berdecih jijik. Dadaku membara dan hatiku terbakar, darahku mendidih dan kepalaku mau pecah. Si brengsek dan si Bajingan telah bersatu.
"Bawa Nyonya Steva pulang!" perintah Razz pada para Pengawal dengan tegas.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau lagi tinggal di rumahmu, Bajingan! Aku ingin pergi, aku ingin kau menceraikanku, kau dengar aku, Bajingan? Lep-paskan aku!" Aku terus meronta kala tangan besar nan kasar para Pengawal itu menyeretku keluar dari loby utama gedung apartemen, kulihat Gulnora yang masih berdiri di depan pintu mematung, matanya nanar dengan buliran bening yang merembes, aku tahu ia menatap tajam pada Razz, dan mungkin dia juga kecewa atas sikap Tuan besarnya itu.
"Lep-paskan aku, aku tidak mau kembali ke rumah itu, itu hanyalah neraka berwujudkan istana, lep-paskan aku!"
'Brak!' pintu mobil tertutup dan terkunci. Gulnora masuk dan duduk di sampingku, ia tak mengatakan apapun, namun air matanya menjelaskan jika ia kasihan padaku, Gulnora merengkuh tubuhku yang gemetar, ia memelukku dengan sangat erat.
"Aku benci dia, Nyonya Gulnora! Aku benci Tuan besarmu. Aku benci mereka berdua, Nyonya Gulnora,,, hiks hiks hiks." Gulnora hanya diam dan memelukku semakin erat, sesekali kurasakan punggungku dielusnya dengan tangannya yang penuh kasih sayang.
Gulnora tak memintaku untuk diam atau pun tenang, ia hanya mendengarkan aku mengoceh yang lebih tepatnya adalah segala macam umpatan, makian, dan sumpah serapah.
"Kenapa tidak mat-ti saja orang seperti dia Gulnora? Hiks hiks hiks." kalimat umpatanku yang terakhir setelah aku kehabisan kata-kata dan hanya menangis di dalam pelukan Gulnora dengan begitu pilu.
Mobil memasuki pelataran rumah, aku akan berusaha kabur saat turun. Tak perduli jika aku harus terluka ataupun melukai orang lain, aku berhak memiliki hidupku, aku tak mau hidup hanya dengan dijadikan boneka mainan Tuan Razolla.
__ADS_1
"Aaahh?" dengan mudah seorang Pengawal yang bertubuh besar meraih tubuhku merengkuh pinggangku dan menggendongku seperti karung beras di pundaknya masuk ke dalam rumah, padahal aku sudah sempat berlari, mendorong dan menendang beberapa orang, tapi orang besar ini tiba-tiba menggendongku dari belakang.
"Brengsek! Lep-paskan aku, Bajingan!" teriakku memekik.
'Bugh!' Pengawal itu menjatuhkanku di atas ranjang dengan kasar, dan dia lekas keluar menutup pintu lalu menguncinya.
"Buka pintunya? Brak brak brak, kubilang buka pintunya? Kalian semua setan! Tidak punya perasaan, kalian bukan manusia, Aaahh,,,, brak brak brak."
Sekuat tenaga aku terus berteriak dan menggedor pintu. Aku begitu emosi, mungkin bukan hanya setan yang merasuki diriku saat ini, mungkin juga iblis atau bahkan nenek moyangnya, yang jelas aku sangat membenci keadaanku, aku marah dan aku benci mereka semua.
"Aaahh,,, cyackk?" barang pertama yang kurusak, aku melempar botol parfum ke arah cermin meja rias hingga cermin itu pecah dan berserakan di lantai.
Aku masih tidak puas, kukeluarkan semua baju dari walk in closet, kurobek baju-baju itu sebisaku, bahkan barang-barang Razz pun tak luput dari amukanku, jam-jam tangan branded itu kubanting-banting hingga pecah dan rusak.
Aku mengangkat kursi depan meja rias, berniat melemparkannya ke jendela kamar yang berukuran panjang 3/4 meter itu, namun sial, aku yang tak hati-hati justru menginjak serpihan beling cermin meja rias yang pecah membuat kakiku luka dan berdarah.
"Aaahh?" hampir saja tubuhku terjatuh, jika itu terjadi, maka aku akan jatuh pada serpihan cermin, tidak, aku harus kuat.
Aku berjalan dengan berjinjit ke arah jendela, lalu kulempar berkali-kali kursi itu pada jendela kamar, berusaha memecahkan kaca jendela yang terkunci, mungkin bisa menjadi jalan untukku kabur, tapi nihil, kaca itu tak retak sama sekali.
"Aah,,, hiks hiks hiks!" Aku melempar kursi itu untuk yang terakhir kali, aku frustasi, tubuhku terasa sakit dan pegal semua, dan aku terjatuh bersimpuh di lantai, aku lelah, lelah hati, lelah jiwa dan raga.
"Tuhan? Kenapa kau biarkan aku hidup jika harus seperti ini? Aku tidak kuat, Tuhan? Tolong dengar jeritanku, Tuhan,,,, hiks hiks hiks!"
Aku melihat pecahan cermin meja rias yang lumayan besar, mungkin segenggaman tanganku, terbersit pikiran itu, pikiran yang membuatku ingin mengakhiri hidup, pikiran untuk bunuh diri.
__ADS_1
Aku bangun dan berjalan tertatih menahan luka di kakiku, aku yakin masih ada beling yang tertancap di sana.
Aku meraih potongan cermin itu, duduk di lantai bersandarkan tepian ranjang, menatap nanar pergelangan nadiku, haruskah aku melakukan ini? Haruskah aku menyerah sepertimu ibu? Kau memang benar, wanita terlahir dengan kodratnya yang lemah, sekuat apapun aku berusaha, aku memang lemah, Ibu, kau benar, semua pria memang sama, mereka hanya bisa menyakiti dan akan terus menyakiti wanita, ibu?
Aku mengarahkan pecahan kaca itu tepat di pergelangan denyut nadiku, kupejamkan mataku erat-erat sampai keningku mengernyit kuat, dan aku menahan napas mengumpulkan keberanian saat mulai kutekan pecahan cermin itu di kulit pergelangan tanganku.
'Tidak harus mengakhiri hidup untuk mengakhiri masalah.'
"DEG."
Sekelebat bayangan kakek nampak begitu nyata duduk di depanku sambil memegangi tanganku, sontak aku membuka mata, namun kudapati ruang kamar yang sudah hancur berantakan ini kosong, tak ada siapapun, hanya ada aku, diriku, seorang diri dalam penderitaan dan kehancuran.
"Aaahh,,, cyack,,,, hiks hiks hiks hiks." kubuang pecahan kaca yang kugenggam, aku tidak bisa, aku tidak mau menyerah aku tidak mau mengakhiri hidup.
Aku menutup mukaku dengan kedua tangan, mengusapnya kasar, kedua lutut kutekuk sejajar dada, dan kubenamkan wajahku di antara kedua lututku.
"Aku benci perasaan ini, aku benci rasa sakit ini. Aku benci kamu, Razz, aku benci."
Hari berganti malam, aku masih dalam keadaan yang sama, duduk di lantai bersandarkan tepian ranjang, menekuk kedua lututku sejajar dada, dan kedua tanganku merangkul kaki, kepalaku ku jatuhkan di atas lutut.
Aku hanya bisa diam, air mata tak mau berhenti mengalir, dada masih sesak, dan hati berdenyut nyeri. Tatapan mataku kosong tertuju pada nakas, kamarku gelap karena aku bahkan membanting lampu di atas nakas dan tak menyalakan lampu kamar.
'Ceklek.' seseorang membuka pintu kamar.
...****************...
__ADS_1