GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
BAIKAN


__ADS_3

"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti,"


Steva tak dapat mencerna dengan baik setiap kata yang Liora ucapkan, hanya poin bahwa Razz sebenarnya mencintai Liora dan hanya menginginkan Liora saja, dan terpaksa menerima dirinya, selebihnya Steva tak dapat memahami.


"Aaahh?" pekik Steva.


Razz mengangkat tubuh Steva seperti tengah menggendong karung beras. Razz menatap tajam pada Liora saat ia berjalan melewatinya, tak ada kata yang Razz ucapkan pada Liora, tapi tatapan matanya itu seolah mengatakan jika Razz begitu kecewa pada Liora.


"Razz? Turunkan aku!" teriak Steva yang tak digubris Razz sama sekali.


Razz menggendong Steva pada pundaknya menuju lantai atas, rambut Steva yang panjang lurus ia gerai itu ikut bergoyang menjuntai ke lantai karna kepalanya yang terjungkir.


"Razz?"


'Brak!'


'Bugh?'


"Aaahh?"


Razz membanting tubuh Steva di atas ranjang dengan kasar, tanpa pikir panjang, Razz langsung naik menutup tubuh Steva mencengkeram kuat kedua tangannya yang ia bentangkan ke sisi kiri dan kanan.


"Apa yang kau dengar dari Liora ada benarnya, tapi tidak semuanya. Yang paling penting saat ini adalah aku mencintaimu, sangat mencintaimu, hanya dirimu Steva!" bentak Razz hingga urat pada wajah, leher dan tangannya semua menonjol begitu kuat.


"Aaahh? Emmpphh,,,"


Razz menautkan bibirnya pada bibir Steva dengan kasar, ia tak dapat menahan diri, gairahnya bergejolak, hampir 2 hari ia tak mendapat kehangatan dari Steva yang terus menolaknya dan Razz tak ingin menyakiti dengan memaksanya, apalagi luka lecetnya belum sembuh.


Tapi sekarang, Razz tak mau peduli, Steva harus cepat hamil agar dia mempunyai pengikat yang membuat Steva tak kan mampu pergi jauh darinya. Dan Razz pun ingin menuntaskan nafsu yang menggelitik gairahnya.


Nafas Steva terengah, dadanya naik turun saat Razz melepas tautan bibir mereka.


"Kau tidak mau melakukannya?" tanya Razz gemetar, Steva menangis semakin terisak. Lalu Steva menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Razz.


"Hhaaahhh,,,," Razz menghembuskan napas kasar. Ia melepas cengkraman tangannya pada Steva, Razz bangun dan duduk di tepian ranjang, ia mengusap kasar wajah sampai rambutnya dengan sapuan ke belakang.


Steva meringkuk membelakangi Razz, ia menikmati rasa sakitnya yang begitu menyiksa hati dan harga diri.


Razz menoleh pada Steva yang memunggunginya, ia sesenggukan karena isak tangis, ini lebih menyakitkan dari yang pernah Steva rasakan, demi apa pun.


"Maafkan aku, maaf!" bisik Razz di telinga Steva, ia tiba-tiba sudah berbaring di belakang Steva, memeluk hangat tubuh ramping istrinya, melingkarkan tangannya di pinggang sampai ke depan perut Steva. Dan Razz mengeratkan pelukannya, mengecup lembut tengkuk leher Steva mencoba memberi rang.sangan atau sekedar ketenangan.


"Jika aku bisa memilih, aku lebih memilih melihatmu yang menangis di samping jasadku yang telah mati, dari pada aku melihatmu menangis karena kesalahanku sendiri, aku mencintaimu, maafkan aku. Cuppp!"


__ADS_1


**POV STEVA**.



Hari-hariku terasa begitu berat sejak malam itu, Razz menjelaskan semuanya padaku, semuanya, tentang cintanya pada Liora, kebaikan keluarganya, perjuangan cintanya yang secara tak sengaja melibatkanku, hingga pengkhianatan Liora padanya, namun Razz mengatakan jika ia sudah jatuh cinta terhadapku lebih dulu sebelum ia mengetahui pengkhianatan Liora.



Aku tak bergeming, sempat kukatakan jika aku ingin berpisah, hatiku terlalu sakit untuk bisa menerima semuanya, namun Razz bersikeras tak akan pernah melepaskanku, ia tak akan pernah membiarkanku pergi darinya.



"*Jangan pergi dariku, Steva. Aku tak bisa hidup tanpamu*."



Kalimat klasik yang biasa para biawak ucapkan pada korban mereka Razz ucapkan padaku, entahlah, aku tak bisa mempercayai Razz begitu saja.



Aku masih bertahan di dalam rumahnya karena aku pun tak mampu untuk melarikan diri. Aku tak kuasa, penjagaan ketat di mana-mana, aku tak diizinkan keluar melewati gerbang utama.




Kini, menatap manik biru yang cantik itu serasa menusuk kalbu, manik biru itu tak lagi membuatku merasa teduh, hanya ada sendu dan pilu.



Aku jatuh sakit selama tiga hari, demam dan flu, Razz tak pergi kemanapun, semua urusan pekerjaan ia percayakan pada Tan, dan dia sepenuhnya mengurusku, merawat dan menemaniku.


Hari ini keadaanku membaik, Razz dengan telaten menyuapiku makan bubur meski aku terus menolak karena semua makanan terasa pahit di mulutku, tapi Razz mengancamku akan me.lu.mat mulutku jika aku tak menurut padanya, dan cara itu cukup berhasil. Bubur dalam mangkuk yang koki siapkan itu hampir habis kusantap.


Aku sendiri pun tersiksa setiap kali Razz menyentuhku, gairahku seolah mengkhianati hati dan pikiranku, aku ingin menolak namun tubuhku meminta lebih. Murahan, batinku menilai diriku sendiri yang dengan sangat mudah mende.sah di bawah kungkungannya.


Razz tak pernah menemui Liora, dan Liora pun tak pernah menemui Razz, kurasa, wanita itu juga sangat menderita akan ini semua, Liora juga pasti sangat menderita menjalani takdir hidupnya.


"Kau ingin sesuatu? Anggur? Manggis? Atau?"


"Aku tak ingin apapun," selaku pada Razz yang terus menawariku makanan.


"Cepatlah sembuh, aku tidak suka melihatmu sakit," ujar Razz sambil meletakkan kembali anggur yang ia pegang ke atas piring buah yang ada di atas meja beroda.


Razz lantas naik ke atas ranjang, berbaring di sebelahku yang duduk bersandar dipan ranjang, sebuah selimut tebal menutupi tubuhku sampai sepinggang.

__ADS_1


Razz menjatuhkan kepalanya di atas pangkuanku, tangannya merangkul pinggangku dan wajahnya menghadap perut, dapat kurasakan ia tak henti-hentinya menciumi perutku, mungkin ia berharap jika ada kehidupan hasil karyanya di sana, namun sayang, itu tidak akan terjadi, aku masih rutin meminum pil KB secara sembunyi darinya.


"Aku sangat merindukanmu, cepatlah sembuh," gumamnya dengan nada manja.


Tanpa kusadari aku tersenyum tipis, lalu kembali datar setelah mengingat peristiwa beberapa hari yang lalu.


'Oh Tuhan? Jika dia memanglah jodohku, maka kumohon, sembuhkanlah lukaku, bagaimana aku bisa menjalani hidup dengan bahagia jika aku terus mengingat kesalahannya? Dan bagaimana aku bisa melupakannya, jika dia selalu bersamaku, di sisiku, menemaniku?'


"Aku ingin ke suatu tempat," lirihku untuk pertama kalinya setelah diam membisu.


Razz sontak mendongak dan dia duduk menghadapku, ia mengelus kedua tanganku dengan lembut, manik birunya yang cantik terlihat berbinar, dan aku suka itu.


"Katakan, kau ingin kemana? Akan kubawa kau keseluruh dunia yang kau mau asal aku selalu bersamamu,"


"Ck, jangan berlebihan. Terdengar menyebalkan," rajukku.


Yeah, mungkin aku mulai luluh, aku tak bisa membohongi hatiku jika aku memang masih sangat mencintainya, hanya saja, rasa sakit ini lebih parah.


Razz tersenyum sumringah, ia bahkan tertawa meski terdengar kecil.


"Katakan, kau mau kemana? Aku akan mengantarmu, tapi berjanjilah kau tidak akan pergi dariku, atau aku akan menggila,"


Aku menunduk, menatap kedua tanganku yang Razz genggam.


"Aku ingin mengunjungi makam ibu, aku merindukannya!" tukasku jujur.


"Cuuppp!"


Razz memberikan kecupan cukup lama pada bibirku yang terkatup.


'Glek.' susah payah kutelan kasar salivaku, kenapa Razz begitu sweet?


"Tentu, kita akan berangkat besok, apapun yang kau mau!" jawab Razz sambil tersenyum sangat manis dan tulus. Dan aku pun membalas senyumannya.


Ya Tuhan? Dia sungguh sangat tampan, Tuan bayi besarku yang telah menjadi suamiku, aku baru menyadari ketampanannya sepenuhnya setelah hatiku mulai luluh, dia yang seringkali memujaku sebagai keindahan, maha karya dan seni tuhan, kini kalimat itu pun begitu ingin kukatakan padanya. Dia adalah sebuah seni, maha karya terindah yang Tuhan ciptakan.


"Aku mencintaimu, Tuan Razz!" lirihku. Dan Razz langsung memberikanku ciuman lembut pada bibirku, lalu aku menyambutnya.


Kedua mataku terpejam merasakan kelembutannya, lidahnya menari di dalam mulutku, dan aku mende.sah.


Kedua tangan Razz menangkup pipiku, sedangkan kedua tanganku berada di pinggangnya.


"Apa boleh?" tanya Razz meminta ijin, dan aku pun mengangguk setuju.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2