GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
HARUS BAGAIMANA?


__ADS_3

Razz terus mengeksplor bagian inti tubuh Steva dengan keahliannya yang membuat Steva kelojotan dibuatnya.


Hingga setelah beberapa menit kemudian, kedua tangan Steva mencengkeram seprei, kepalanya menggelepar ke kiri dan ke kanan. Seluruh tubuhnya bergelenyar dan dia sampai pada peledakan.


"Aaaahhh,,,,!" de.sah Steva lirih saat ia mencapai puncak ke sekian kali. Dan Razz berhenti, memberikan waktu pada Steva menikmati sisa-sisa kenikmatannya.


Rona wajah itu begitu mempesona. Terkapar karena pencapaian yang luar biasa, membuat Razz begitu bangga pada diri sendiri.


"Giliranku, Stev?" Razz bangkit menarik tangan Steva sedikit kasar karena yang di bawah sana sudah sangat berontak untuk segera dikeluarkan dan dipuaskan.


Steva terduduk lalu setengah berdiri dengan tumpuan kedua lututnya pada bad cover, menghadap Razz yang juga dalam posisi yang sama, kedua lutut Razz bertumpu di atas bad cover.


Razz bergerak cepat membuka kancing celana menurunkan resleting dan memelorotkannya kebawah, beserta segitiga bermudanya, seketika panglima perang itu keluar menengadah begitu gagah.


"Manjakan dia, Stev? Dia berhak mendapatkannya." ucap Razz dengan nada suara yang berat menahan hasrat yang ingin segera ditumpahkan.


Steva memposisikan dirinya dengan benar, menunduk lalu memegang tubuh Razz yang telah mengeras dengan sentuhan lembut yang sangat halus. Dan Razz merapikan rambut panjang Steva yang tergerai, ia cengkeram seluruh rambut Steva ke dalam satu genggaman tangan seperti kuncir kuda.


"Aaahh!" desis Razz kala Steva mulai memasukkannya ke dalam mulutnya yang basah dan hangat, kepala Razz sontak mendongak, ia begitu merasakan nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya.


Steva bergerak pelan dan lembut, ia sangat berhati-hati, memanjakan panglima perang dengan kelembutan. Lidah Steva menari-nari, menjilati es krim rasa coklat. mengu.lumnya keluar-masuk. Tapi Razz tidak sabar, ia menekan kuat pinggulnya mendorong sang panglima masuk lebih dalam hingga menyentuh kerongkongan. Dan Steva tergelagap. Namun sedetik kemudian, Steva sudah mampu memegang kendali atas tubuh Razz yang semakin menegang.


Steva memaju-mundurkan kepalanya, dan Razz sesekali menarik rambut lalu melesakkan panglima lebih dalam.


"Aaahh!" dengkur Razz penuh gairah.


Razz memaju-mundurkan pinggulnya lebih cepat, Steva sampai merasa kualahan, tapi ia tipe wanita yang penurut, sehingga ia tetap melayani dengan baik setiap sang panglima memintanya untuk memberikannya rangsangan yang lebih, manja sekali rupanya panglima perang ini.


Setelah beberapa menit Razz menarik tubuhnya lalu mendorong pelan tubuh Steva hingga Steva terbaring ke belakang terlentang.


Razz merasa akan sampai pada puncaknya, dan dia menarik dress Steva ke atas sampai batas dadanya yang membusung, lalu Razz mentreat sendiri panglima perang dengan kelima jarinya, menggerakkan lebih cepat disertai era.ngan penyiksaan kenikmatan yang akan meledak dari dalam tubuh yang mengejan kuat, tonjolan urat-urat pada leher, tangan dan bahkan wajahnya menjelaskan betapa Razz tersiksa dalam kenikmatan yang sesungguhnya.


"Aaahhhhh aahhh aahhhh!" Meledak sudah. Razz mengeluarkan semuanya di atas perut ramping Steva.

__ADS_1


"Aaahh!" desisnya yang terakhir, dengan tubuh yang bergetar hebat, dan seluruh sendinya serasa diremukkan dalam satu waktu. Namun sungguh nikmat sekali, dan Razz pasti akan merasa candu, lalu ingin lagi, lagi dan lagi. Tapi cukup untuk hari ini. Ini semua hanyalah pembukaan sampai mereka benar-benar akan merasakan satu sama lain dengan sebenarnya nanti.


Steva menatap dalam wajah Razz yang tergelepar dengan napas yang tersengal, wajah yang merah padam karena gelora gairah.


"Cukup untuk hari ini," lirih Razz mendekatkan diri pada Steva yang terbaring di bawahnya, dan Razz menarik dress Steva yang tadi tersingkap sebatas dada hingga menutupi cair.annya yang tumpah di atas perut rata Steva.


"Cuupp!" Razz mengecup dalam kening Steva lembut, dan Steva menerima dengan rasa cinta yang penuh. Kedua tangan Razz mengunci tubuh Steva menopang tubuh kekarnya di atas tubuh ramping sang istri.


"Jangan kecewa, aku masih perjaka, ini pengalaman pertama, tapi aku pastikan permainan kita nanti lebih lama!" bisik Razz di ceruk leher Steva. Ia mengatakan yang sejujurnya, jika dirinya masih perjaka. Lalu tubuhnya ambruk menutup tubuh ramping itu.


Steva menahan senyum, entah mengapa ia merasa begitu senang, Razz memiliki skillnya sendiri dalam bermain, mereka sama-sama terpuaskan bahkan sebelum bertemunya area inti tubuh mereka.


"Aku mencintaimu, Razz." lirih Steva yang tak mendapat tanggapan karena Razz telah terlelap.


...****************...


Steva menyiapkan barang-barang pribadi Razz yang sekiranya nanti dibutuhkan, memasukkan beberapa setel pakaian, vitamin, dan lain-lain ke dalam koper. Razz meminta Steva membantunya berkemas karena Razz akan terbang ke luar negeri nanti sore, urusan pekerjaan, katanya. Dan tentu Steva percaya.


"Diiih,,, yang pengantin baru, rambutnya basah terosss!" celoteh Asha yang sudah kembali bekerja, ia membantu menyetrika pakaian Razz yang akan dikemas Steva.


"Hahahaha...." Asha hanya tergelak.


"Sudah, sini," Steva mengambil kemeja terakhir Razz yang Asha setrika.


"Kamu boleh pergi!" cuit Steva mengusir Asha, rona pipi yang merah itu tak dapat menyembunyikan hatinya yang dirundu malu. Sungguh Asha tak berhenti sama sekali menggodanya dari tadi.




Razz pulang dari perusahaan lebih cepat, selama bekerja pikirannya tidak tenang dan hanya tertuju pada Steva. Dan Razz memutuskan untuk pulang saja, apalagi nanti sore dia harus pergi lagi meninggalkan sang isteri, untuk menikah dengan wanita yang ia cintai sejak lama esok hari.


__ADS_1


"Tan? Bagaimana menurutmu?" tanya Razz pada Tan yang mengemudi saat mereka dalam perjalanan menuju rumah. Ada kebimbangan mencuat dalam hati Razz.



"Maaf, Tuan? Saya tidak tahu, saya tidak berada di tempat yang sama dan saya tidak merasakan rasa yang Tuan rasa, jadi saya merasa tidak pantas jika saya mengatakan sesuatu," jawab Tan yang tak mau ikut campur.



Tan tahu, betapa Razz mencintai Liora sejak dulu, cinta yang tumbuh megah sejak masih bocah dan bahkan sampai dewasa, jadi bagaimana mungkin jika Tuannya itu begitu mudah berpaling pada gadis biasa seperti Steva yang hanya dikenalnya beberapa hari saja? Mungkin Tuannya hanya sedang terjebak emosi gairah sesaat, tapi tentu Tan tak berani mengatakannya, atau dia cari mati, Razz pasti tak terima jika dirinya mengatakan Steva hanya sebagai pelampiasan, karena Razz terus saja menyebut nama Steva semenjak mereka menikah.



"Aaahh,,, kau ini." gerutu Razz kesal.



Mobil yang Tan kendarai berhenti karena rambu lalulintas berwarna merah, di sebelah Razz ada sepasang kekasih atau mungkin suami istri yang berboncengan pada motor matic. Razz tertarik mengamati pasangan itu.



Sang wanita yang duduk di belakang melingkarkan tangan pada pinggang sang pria dengan senyum malu-malu, lalu si pria beberapa kali terus menerus mengecup tangan wanitanya yang ia angkat dan bahkan ia gigit hingga satu tepukan wanita itu layangkan pada pundak lelakinya. Terlihat menggemaskan. Dan lagi-lagi bayangan Steva yang muncul, Razz membayangkan kejadian serupa ia lakoni bersama Steva.



Jika dipikir-pikir, Steva selalu bersikap baik padanya, Liora juga, tapi ada yang beda, sesuatu yang hanya bisa Razz tangkap dari sorot mata keduanya, manik coklat Steva yang penuh cinta serta gairah, dan manik abu Liora yang terasa dingin tanpa rasa.



Yah, meski secara penilaian, jika Liora pasti lebih unggul dari segalanya, kecantikannya, tubuhnya, kasta dan keluarganya, dan juga pemikiran luas serta kecerdasannya. Steva tak memilki apa-apa yang bisa dibanggakan untuk dibandingkan dengan Liora, tapi sungguh Razz tak peduli itu, cinta ya cinta, tak ada alasan pasti karena bukan kompromi, meski itulah yang nantinya Mommy Amora nilai. Siapa Steva, siapa orang tuanya, keluarganya, bisnisnya, prestasinya, dan bla bla bla bla.



"Aku rasa, aku mencintai Steva, Tan. Apa aku harus membatalkan pernikahanku dengan Liora? Tapi kurasa aku juga masih mencintai Liora, aku tidak mungkin setega itu untuk menyakitinya, tapi aku juga tidak mau kehilangan Steva, Tan. Dia membuatku selalu bergairah karena getaran jiwa, dan aku yakin itu adalah cinta. Aaaahhh,,,, aku harus bagaimana?"

__ADS_1



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2