GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
AKAN MENIKAH


__ADS_3

Terdengar keributan di ruang belakang, Asha yang sedang lewat tak sengaja mendengar pembicaraan Pak Tan dengan Ny. Gulnora hingga Asha pun memilih menguping sekalian.


"Bagaimana kalau Tuan Cannavaro dan Nyonya Amora tahu, Pak Tan?" nada bicara Ny. Gulnora terdengar sangat cemas.


"Itu bukan urusan kita, Ny. Gulnora. Kita bekerja pada Tuan besar, dan hanya kepadanya kita patuh menjalani perintah. Sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Tugasmu hanya mengatur semua yang ada di rumah ini agar tidak banyak bicara. Karena Tuan besar tidak akan suka itu," tukas Pak Tan pada Ny. Gulnora.


"Lantas, kapan mereka akan menikah?" tanya Ny. Gulnora.


'Menikah? Siapa yang akan menikah?'


"Besok!" jawab Pak Tan singkat, lalu ia pergi dari ruang belakang itu meninggalkan Ny. Gulnora.


Asha yang melihat Pak Tan hendak keluar dia pun cepat-cepat berlari kembali ke belakang dan berjalan seolah dia baru datang.


"Pak Tan, selamat pagi!" sapa Asha setelah mereka berpapasan.


"Hemm," jawab Pak Tan berlalu.


Asha tak mempedulikan sikap dinginnya, toh sejak pertama kali bekerja di rumah ini, orang itu memang seperti es batu. Asha hanya kepikiran tentang pembahasan mereka tadi tentang sebuah pernikahan.



Steva tengah memakaikan dasi Razz, sepanjang melakukan pekerjaannya ini, senyum Steva terus mengembang meski tak ada suara tawa sedikitpun yang ia suarakan, Steva tahunya Razz itu buta, jadi tidak masalah baginya mengekspresikan rasa senang di hati meski berhadapan langsung dengan Razz seperti saat ini.



Razz bisa melihat jika raut muka Steva memang nampak sangat bahagia, senyum wanita itu sejak tadi terus saja melengkung menghiasi bibir sensualnya.



"Apa sudah?" tanya Razz yang mulai merasa tidak nyaman karena berhadapan dengan Steva begitu dekat dan melihat wajah Steva yang berbinar, membuat dadanya berdebar tidak normal.



"Sudah, Tuan!" jawab Steva lembut, dan dia mundur.



Razz hendak melangkah, namun Steva menghalanginya, ada hal yang masih ingin Steva bicarakan.



"Tuan?"



"Iya?"



"Em? Itu, orang tua anda, apa mereka sudah setuju dengan rencana pernikahan kita?" Steva sedikit cemas, sejak kemarin, Razz sama sekali tidak membicarakan tentang orang tuanya, dia hanya mengatur agar pernikahan mereka segera dilangsungkan esok hari di KUA, tanpa mengundang seorang tamu pun. Steva tidak masalah jika tanpa tamu, toh dia memang tidak punya siapa-siapa, tapi untuk restu orang tua Razz, jelas itu penting menurutnya.



"Kau tenang saja, Steva. Itu semua adalah urusanku, maksudku, tentu mereka sudah setuju, tapi mereka tidak bisa datang, mereka orang-orang yang sibuk, nanti akan aku kenalkan dirimu pada mereka saat waktu yang tepat," jawab Razz meyakinkan.



"Baiklah, aku sekarang pergi dulu." ucap Razz, ia ingin mengelus wajah Steva, tapi jarak mereka lumayan, tidak mungkin jika Razz tiba-tiba mendekat dan mengelusnya, sedangkan ia tengah berlakon menjadi pria cacat buruk rupa yang buta.



"Iya." jawab Steva mempercayakan semuanya.



Razz telah pergi ke kantor bersama Tan seperti biasa, setelah Razz pergi, maka Steva sudah bebas, ia tak lagi memiliki pekerjaan, dan dia menemui Asha yang tengah membersihkan kolam renang.


Terlihat Asha tengah menyaring rontokan daun atau apa saja yang ada di kolam renang di belakang rumah dekat taman belakang.


"Sha?" sapa Steva yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"Hei, Kak Stev,"


"Aku bantuin, ya?" Steva mengambil penyaring kolam dengan galah panjang sebagai pegangan.


"Sha,"


"Hem?" Steva akan menceritakan pada Asha secara jujur dan terbuka, ia tak memiliki siapapun saat ini kecuali Asha. Dan Steva sudah menganggap Asha sebagai keluarganya.


"Kamu ingat tentang obrolan kita malam kemarin?" tanya Steva basa-basi terlebih dulu.


"Em? Yang mana?"


"Tentang Tuan besar dan wanitanya," jawab Steva. Rontokan daun di dalam kolam renang sudah hampir bersih, tinggal sedikit lagi.


"Oh, ingat! Emang ada apa Kak?"


"Sha,"


"Hem?"


"Tuan besar? Em,,, tuan besar?"


"Tuan besar?"


"Tuan besar mengajakku menikah!" jawab Steva cepat.


"Apa?"


'Byuuurr!'


"Asha?"


Asha tercebur ke dalam kolam renang saking kagetnya mendengar ucapan Steva, dan dia tergelincir saat tubuhnya gemetar. Untunglah Asha pandai berenang, dan Steva mengulurkan tangan pada Asha membantunya untuk naik.


Ny. Gulnora yang melihat kejadian itu dari dalam rumah lewat dinding kaca hanya bisa menggelengkan kepala, ia tidak tahu apa yang sedang Steva dan Asha bicarakan, ia hanya melihat Asha yang tergelincir saat membersihkan kolam.


"Ayo, Sha?" Steva menarik tangan Asha, membantu Asha kembali naik.


"Kak Steva serius?" tanya Asha dengan raut muka yang tak begitu dapat Steva mengerti, Asha duduk di tepian kolam berselonjor kaki berhadapan dengan Steva yang berjongkok.


"He em!" jawab Steva mengangguk-anggukkan kepala.


"Bagaimana bisa?" teriak Asha. Steva terdiam, terlalu saru jika diceritakan detailnya. Steva menunduk, ia ragu untuk buka suara.


"Terus, Kak Steva terima?" tanya Asha lagi masih dengan nadanya yang kencang seperti sebuah teriakan.


"Iya, Sha!" jawab Steva lemah.


Asha hanya melongo terperangah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan mulut yang menganga. Speechless.


"Kak Steva nggak bercanda, kan?" Asha masih tak percaya, bagaimana bisa? Steva menggeleng. Menyiratkan jawaban jika dia memang sungguh-sungguh.


"Oouuhh,,,, Tuhan!" jerit Asha lirih.


"Sha, badan kamu basah semua. Masuk dulu yuk, ganti baju. Nanti Kak Steva ceritakan sama kamu, tapi kamu janji ya? Jangan cerita siapa-siapa. Ini hanya rahasia diantara kita berdua." ucap Steva pada Asha yanga masih terlihat sangat bingung. Dan Asha mengangguk.


Steva mengangkat tubuh Asha membantunya berdiri, mereka lantas masuk ke dalam rumah.


"Ada yang sakit, Sha?" tanya Steva saat mereka sudah berjalan beriringan.


"Tidak, Kak." jawab Asha menggeleng.



Malvin tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan, ia memilih walk out dari ruang meeting dan digantikan oleh asistennya.



Malvin masih terus teringat Steva yang sudah dengan sangat jelas mengatakan jika dia tidak akan pernah lagi kembali pada dirinya.


__ADS_1


"Akan aku cari cara agar kau meninggalkan pria cacat itu dan kembali padaku, Stev, kau tidak bisa pergi begitu saja dariku hanya karena permasalahan sepele seperti itu. Aku hanya bermain, dan kau tahu itu hanyalah untuk kepuasan sesaatku, sedangkan hati dan cintaku hanyalah untukmu. Kenapa kau bisa begitu marah? Pada apa yang sudah kau pahami sebelumnya? *Bugh*?" malvin memukul kemudi mobil, lalu ia menyalakan mesin pergi dari perusahaanya.



Steva berada di dapur, melihat para koki yang memasak menu utama untuk Tuan besarnya. Steva juga banyak bertanya, tentang menu apa saja yang disukai oleh Tuan besar, Steva juga ingin belajar.


Kabar Tuan besar yang akan menikah dengan Steva telah tersebar di rumah mewah Razz, Ny. Gulnora sudah mengumumkannya secara resmi pada semua pelayan, namun Ny. Gulnora memperingatkan mereka agar tidak ada yang mengeluarkan suara tentang perihal ini. Dengan artian itu adalah urusan pribadi Tuan besar mereka yang harus mereka hormati. Dan tidak ada yang boleh ikut campur.


Asha rasanya semakin kliyengan setelah Ny. Gulnora yang mengumumkannya. Berarti Steva memang sungguh-sungguh dengan ceritanya.




Razz telah sampai di rumah, Steva sudah menyambutnya seperti biasa, menyiapakan air mandi dan segala keperluannya.



"Haaahh,,,," Razz yang baru datang merebahkan diri di atas kasur saat Steva keluar dari kamar mandi.



"Tuan, semuanya sudah siap," ucap Steva.



"Hemm,,, Ok,"



Steva berjalan ke arah depan ranjang, lalu ia berjongkok menghadap kaki panjang Razz yang terjuntai ke lantai, Steva melepas sepatu Razz yang belum Razz lepaskan.



"Stev?" Razz terlonjak kaget, ia bangun dan duduk di tepian ranjang hendak menghentikan Steva namun Steva sudah terlebih dulu melakukannya, melepas sepatu Razz beserta kaos kakinya, lalu ia siapkan sandal rumah sekalian.



"Sudah," cicit Steva sambil berdiri.



"Ayo, nanti keburu airnya dingin lagi, dan aroma terapinya hilang," Steva melepas jas yang Razz kenakan. Ia juga ingin membantu melepas dasi dan kemeja Razz, namun saat Steva menyentuh kancing pertama kemeja biru itu, Razz menghentikannya, memegang kedua tangan Steva.



"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" seloroh Razz yang terus menatap lurus ke depan tanpa titik yang pasti dan raut muka yang datar.



"Oh, iya, tentu," jawab Steva mundur.



"kau? Istirahatlah, besok kita akan menikah, mulai sekarang, kau tinggal di rumahku, aku sudah siapkan kamar untukmu, temui Pak Tan, dia sudah menyiapkan kamar, baju dan semua peralatan kebutuhanmu, jika ada yang kurang, katakan saja padanya, dia akan langsung membelikannya," Ujar Razz menjelaskan.



Steva mendongak, menatap dalam Razz.



'*Apa itu artinya kamarku dan kamarnya berbeda? Oh,,, bodoh. Tentu saja, kami kan belum menikah*,' Steva tersenyum kecil.



"Iya, baiklah, saya permisi dulu." Steva melangkah keluar kamar undur diri. menutup pintu kamar Razz dari luar, dan pergi menemui Pak Tan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

__ADS_1


__ADS_2