GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
NGADI-NGADI EMANG


__ADS_3

Steva duduk bersandarkan dipan ranjang, ia menutup tubuhnya yang berantakan dengan selimut tebal. Matanya menatap tajam Razz yang berdiri di depan kaca meja rias.


Razz sudah siap, ia tampak rapi dengan setelan santai kaos hitam dan celana Jordan warna senada, ketampanan yang pari purna tak lagi menggetarkan hati Steva. Rasa luka yang Razz torehkan lebih mendominasi.


"Aku tak pergi kerja, Tan yang akan mengurus semuanya, hari ini Liora pulang," Razz mendekat, ia duduk di tepi ranjang menghadap Steva dan tangannya mengelus wajah Steva namun secepat kilat Steva memalingkan muka.


"Aku tidak peduli," ketus Steva atas apa yang Razz katakan.


Razz berdecak dan menghembuskan napas kasar. Lalu ia bangun hendak mencium kening Steva, dan tentu lagi-lagi Steva menghindar kembali.


"Aku pergi!" ucap Razz setelah mendapat penolakan demi penolakan dari Steva.


"Ceraikan aku, Brengsek! aku bilang ceraikan aku, ceraikan aku, ceraikan aku!" Steva berteriak menjerit mengulangi kalimat yang sama berkali-kali, ia melompat dari ranjang, berdiri menghalangi Razz yang hendak keluar kamar, Steva memegangi selimut tebal itu kuat pada dadanya. Sorot matanya tajam menyiratkan kebencian, amarah, dan kecewa.


"Aku sudah katakan padamu, aku tidak akan pernah menceraikanmu, sampai maut menjemputku," tukas Razz.


"Kalau begitu, mat-ti saja kau!"


"DEG."


Karena sangat emosi, Steva tak dapat menyaring kalimat yang harus ia katakan.


"Kau menyumpahiku? Hanya karena masalah sepele?" Razz mencengkeram lengan Steva kasar, ia terpantik amarah.


Steva terdiam, dadanya turun-naik karena gugup, ia pun tak sadar bisa berujar seperti itu di depan Razz, tidak, jangan menyalahkan Steva, ia sedang marah, dan itu, apa tadi? Razz mengatakan hanya masalah sepele?


"Sepele gundulmu, Razz? Kau menikahi wanita lain dan kau bilang itu sepele?"


"Tapi aku hanya mencintaimu, Steva? Kenapa kau jadi keras kepala? kemana Steva yang penurut, hah?"


"Gila kau, Razz. Kau menyakitiku dan kau masih berharap aku akan menjadi istri yang penurut? Lebih baik kau tembak saja aku!" Steva berteriak menantang, ia sudah tidak tahan, andai mengakhiri hidup itu bisa dimaafkan, Steva pasti sudah melakukannya, tapi ia tak ingin melakukan kesalahan yang pernah ibunya lakukan, Steva benci pada orang yang menyerah menjalani keras hidup dengan bunuh diri. Tapi untuk bisa pergi dari genggaman Razz juga tidaklah mudah. Dia pria berkuasa.


Razz terdiam, manik birunya yang selalu Steva puja itu saling menghunus dengan manik coklat Steva yang Razz suka. Kilat cinta itu masih bersemayam di sana. Tapi permasalahan yang mereka hadapi bukanlah perkara biasa yang bisa diselesaikan dengan mudah.


"Beri aku waktu, aku akan menceraikan Liora setelah dia membaik," ujar Razz mengalah. Ia lebih baik kehilangan Liora dari pada harus kehilangan Steva. Atau dia akan hidup dalam penyesalan seperti Malvin.

__ADS_1


Steva memalingkan muka, air matanya menetes, dan Razz merengkuh tubuhnya, membawa Steva ke dalam pelukannya.


Pagi hari mereka sambut dengan keributan yang luar biasa.


"Aku harus mengatakan semuanya secara jujur terhadap Mom, dia harus tahu terlebih dulu tentang Liora, jika tidak, Mom tidak akan setuju dan dia akan mengutukku, aku juga harus meyakinkan orang tua Liora, mereka harus menerima keadaan putrinya, jika Liora dibiarkan sendiri saat ini, dia akan menyerah, sungguh aku memikirkan begitu banyak hal, Stev," Razz mengelus rambut Steva yang kusut.


"Aku juga selalu memikirkanmu, perasaanmu, tapi ini semua tidaklah mudah, Liora sahabatku sejak kecil, ibunya berjasa merawatku saat Mom tak bersamaku, dan Liora juga sedang dalam masa paling berat dalam hidupnya. Aku mohon mengertilah, dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku berjanji akan menceraikannya. Cuupp!"


Hati Steva melemah, ia membiarkan Razz mengecup pucuk keningnya dalam waktu yang lama.


"Bisakah kau berhenti mengurusnya? Kau bisa membayar perawat untuk melalukan itu," seloroh Steva dengan nada yang terdengar pelan, Razz tersenyum senang, Steva mulai luluh.


"Tentu, aku akan menyewa perawat untuk Liora, aku hanya pergi ke Rumah Sakit untuk mengurus semuanya dan membawanya pulang, itu saja."


Steva diam tak menanggapi, tapi melihat raut mukanya yang tak lagi merah karena emosi, Razz bisa bernapas lega.


"Aku pergi dulu, aku mencintaimu, hanya kamu, sangat mencintaimu, cuupp!" Razz menautkan bibirnya pada bibir Steva.


"Oh ya, Kau boleh keluar dari rumah, terserah mau kemana, kau boleh jalan-jalan dan pergi kemana saja. Aku tidak mau mengurungmu," ucap Razz mengelus pipi Steva.


"Tentu saja, kau menyebar pengawalmu di seluruh kota, memangnya aku bisa kabur kemana?" ketus Steva membuat Razz semakin gemas.


"Cuupp!" Razz membungkam mulut Steva dengan bibirnya. Dan Steva hanya bisa membelalakkan mata.


"Iissh,,," Steva mendorong dada Razz dan Razz terkekeh.


"Dasar me.sum. Suami me.sum." Steva mengusap bibirnya kasar berkali-kali, ia lantas pergi meninggalkan Razz berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dan Razz tertawa semakin keras.


'Aku mencintaimu, steva.'


...****************...


Steva jalan-jalan seorang diri menapaki trotoar jalan raya yang cukup lengang dan sepi, tapi pengawasan ada di mana-mana, para pengawal menggunakan pakaian santai layaknya orang biasa, dan Steva tahu itu, setidaknya ia bisa menikmati hari seperti orang bebas.


Ia tak tahu mau kemana, setelah keluar dari mall Steva memutuskan untuk jalan kaki saja, ia tak ingin ke restoran, ia juga tak ingin nonton, bahkan saat di mall tadi Steva tidak sedang berbelanja, ia hanya jalan-jalan dan melihat-lihat.

__ADS_1


Bukan karena jenuh dengan kehidupan, tapi Steva berusaha mengalihkan rasa sakit dan sedih yang terus hinggap di dalam dada dengan melakukan aktifitas seperti jalan-jalan.


'Serreeettt!'


Sebuah mobil yang tak asing tiba-tiba berhenti, langkah Steva terhenti, dan kedua matanya membola.


'Brak!'


Malvin keluar dari mobil membanting pintu, ia lantas mencengkeram tangan Steva, menariknya paksa dan memasukkan Steva ke dalam mobilnya. Tanpa perlawanan yang berarti karena Steva yang terkejut.


"Malvin?" teriak Steva.


"Sial? Cepat ikuti mobilnya!" para pengawal yang santai sedari tadi kalang kabut, untunglah mereka profesional dan sigap, bergerak cepat, sehingga dapat mengikuti arah mobil Malvin melaju.


"Malvin? Apa yang kau lakukan?" teriak Steva memukul lengan Malvin.


"Berhenti membuat gaduh, kau bisa mengakibatkan kecelakaan," seloroh Malvin yang tengah mengendarai mobilnya.


"Sial, kau ternyata dalam penjagaan!" seru Malvin yang melihat setidaknya ada dua mobil hitam yang mengejarnya, Steva sontak menoleh ke belakang, hatinya sedikit merasa tenang melihat orang-orang Razz ada di belakang sana.


"Kau tidak akan selamat, lagi pula apa yang kau lakukan? Kau mau menculikku?"


"Jangan ngelawak, mana ada penculik setampan diriku, lagi pula tidak ada di dalam kamusku aku menculik seorang gadis, para gadis yang menyerahkan diri padaku," tukas Malvin santai.


"Baj-jingan." ketus Steva.


"Kenapa kau masih marah? Aku hanya ingin menyelamatkanmu," teriak Malvin tak terima karena Steva mengatainya bajingan.


"Menyelamatkanku? Menyelamatkanku dari apa?" Steva berteriak bingung.


"Kau berjalan seorang diri di siang hari panas-panas begini, pasti suamimu sudah membuangmu, mencampakkanmu, karena dia lebih memilih istri keduanya, iya kan? Makanya aku menolongmu dari penderitaan hidup di jalanan,"


"Apa kau gila, Tuan Malvines Bachtiar?"


"Iya, dan itu karena kau Nona Steva tanpa punya nama belakang!"

__ADS_1


"WTF!"


...****************...


__ADS_2