
Razz termenung memikirkan raut muka Steva yang terlihat begitu sungguh-sungguh seusai prosesi pernikahan mereka tadi, Steva bahkan menyalim khidmat tangannya seperti seorang istri yang taat pada suami. Dan sejujurnya hati Razz menghangat mendapati perlakuan Steva yang lembut padanya. Untuk sesaat Razz merasa jika dirinya benar-benar sudah menikah dan menjadi seorang suami.
'Bagaimana nanti jika dia tahu semua ini hanyalah sandiwara yang kubuat? Bukankah ini akan menyakiti hatinya? Ah, tentu tidak, dia juga tidak mencintaiku, aku justru sudah banyak berkorban untuk dirinya, untuk kebebasannya, dan nanti aku akan melepaskannya setelah semua misiku selesai, Steva pasti bisa mengerti, yang paling terpenting sekarang adalah, aku sudah bisa memberikan semua bukti yang Liora inginkan, iya, harusnya sekarang aku hanya terfokuskan pada Liora.'
"Sedang apa tunanganku itu, dia bahkan belum menghubungiku meski Tan sudah melakukan panggilan video padanya tadi saat prosesi pernikahan."
[Laki-laki mana lagi yang lebih bodoh dari Razz, menikahi seorang perempuan demi menaklukkan perempuan lain, ah, teganya pria yang mempermainkan hati seorang wanita demi kepuasan hatinya sendiri.]
Razz memainkan jarinya pada layar ponsel, ia melakukan panggilan video dengan Liora setelah ia melepas topeng wajahnya.
Setelah beberapa saat tersambung, akhirnya panggilan video Razz terjawab.
"Kau dari mana? Kenapa belum juga menghubungiku? Kau sudah lihat semuanya, kan?" Razz langsung menyergap Liora dengan pertanyaan rentetan. Di layar benda pipih Razz itu, Liora nampak tengah berada di jalan raya, gadis cantik itu menggunakan mantel pink muda, berjalan kaki, rambut pirangnya yang lurus panjang terjuntai bergerak oleh terpaan angin, menambah kecantikan alaminya.
"Aku sedang sangat sibuk, Razz. Nanti aku hubungi lagi. Sekarang aku harus pergi." jawab Liora yang nampak terus berjalan.
"Kau sudah lihat semuanya, kan? Lalu apa jawabanmu, kapan kita akan melangsungkan pernikahan kita, Liora?" Razz merasa tak sabar lagi harus terus menunggu, ia telah menyelesaikan misi yang Liora berikan dengan baik, namun Liora masih juga belum memberikan jawaban kepastian.
'Kenapa kau tidak mau mengerti, Razz. Kau justru memainkan hati seorang wanita sekarang, ah, sial, ini juga salahku, tidak pernah terpikir jika Razz akan sekeras kepala itu.'
"Kita bicarakan ini lagi nanti, Razz. Aku sedang buru-buru." Liora terus bersilat lidah. Ia belum memikirkan jawaban yang tepat untuk bisa menolak rencana pernikahan mereka yang sudah digadang serius oleh kedua orang tua dan kedua belah pihak keluarga besar mereka.
"Baiklah, tapi kenapa kau berjalan? Kenapa tidak naik mobil?" Liora tidak bisa menyetir, dia pernah kecelakaan saat baru belajar, dan sejak saat itu, dia tidak pernah lagi berani menyetir mobil sendiri.
"Tadi aku diantar sopir, tadi tiba-tiba mogok di jalan, karena tempat tujuanku sudah dekat, aku memutuskan untuk jalan kaki," jawab Liora jujur.
"Baiklah, Razz. Aku tutup dulu teleponnya, nanti aku hubungi lagi." ucap Liora yang mendapat anggukan dari Razz dan sambungan telepon benar-benar mereka akhiri.
Razz mendengkus. Kesal. Tapi dia masih bisa sedikit bersabar, semua demi Liora.
__ADS_1
Liora terus menapaki jalanan menuju sebuah gedung apartemen. Ia akan bertemu dengan kekasihnya yang baru pulang dari perjalanan luar kota. Dan Liora berniat memberinya kejutan. Liora naik lift menuju lantai di mana apartemen kekasihnya itu berada.
Senyum manis gadis cantik itu terus mengembang, cintanya memang sangat tulus, ia sampai berusaha untuk bisa menggagalkan perjodohan dirinya dengan Razz yang sudah disetujui oleh kedua belah pihak keluarga.
'*Ting tong,,, Ting tong*,,,,'
Liora memencet tombol bel yang terdapat di pintu depan apartemen kekasihnya. Liora menunggu beberapa saat sampai akhirnya seseorang membuka pintu itu.
'*Klek*!'
'*Brak*!'
Ny. Gulnora dan Asha menyambut kedatang Steva yang kini telah menjadi Nyonya baru rumah tempat mereka bekerja.
Asha terlihat begitu senang melebarkan senyum dan kedua tangannya terbentang kala Steva turun dari mobil dan berderap melangkah ke arahnya, mereka saling memeluk hangat.
"Selamat!" cicit Asha haru.
__ADS_1
Steva melepas tautan tubuhnya pada Asha, maniknya berpindah pada Ny. Gulnora yang sedikit membungkuk menyambut kedatangannya.
"Tuan besar berpesan, jika anda menginginkan sesuatu, anda bisa mengatakannya pada saya, dan jika anda ingin makan apapun, anda bisa langsung meminta pada Koki untuk membuatkannya, atau anda juga bisa memberi perintah pada saya," ucap Ny. Gulnora hormat, ia memperlakukan Steva seperti yang Pak Tan perintahkan padanya.
"Iya, terimakasih, tapi saya tidak membutuhkan apapun, anda bisa kembali Ny. Gulnora," jawab Steva sopan dengan ulasan senyum yang tulus.
Ny. Gulnora melangkah pergi setelah ia membungkukkan badan pada Steva. Membiarkan Asha yang mungkin masih akan mengobrol dengannya, mereka memang teman dekat setahu Gulnora, Asha juga yang membawa Steva ke dalam rumah ini menjadi pelayan pribadi Tuan besarnya hingga mereka kini menikah.
"Waaahh,,, sekarang Kak Steva udah jadi Nyonya besar!" goda Asha diiringi tawa cekikikan yang mendapat cubitan kecil dari Steva.
"Apaan sih?" beo Steva melangkah masuk.
"Tahu gitu, aku godain aja Tuan besar sejak dulu, tapi siapa yang berani, udah tampang nyeremin, kelakuannya juga lebih nyeremin lagi," celoteh Asha yang mendapat cuitan omelan dari Steva.
"Asha? Hati-hati kalau ngomong, dia itu suamiku, jangan bicara buruk tentangnya, aku tidak suka!" bela Steva.
Istri memang wajib menjaga aib suami, dan harus bisa membela suaminya dari omongan buruk orang lain. Dan itu juga yang dilakukan oleh Steva.
"Aaaiiihh,,, so sweetnya...!" seloroh Asha.
"Kak Steva?"
"Hem?"
"Kak Steva beneran cinta ya, sama Tuan besar?" tanya Asha penasaran, melihat gelagat Steva yang sejak awal sama sekali tak menunjukkan kepura-puraan atas kebaikannya terhadap Tuan besar.
Langkah Steva terhenti, tepat saat mereka kini sudah berada di depan pintu kamar Steva yang tak jauh dari ruang tengah di lantai bawah.
"Em? Belum tahu juga sih, Sha. Sepertinya itu masih terlalu dini untuk dibicarakan, kau lihat sendiri, kan? Bahkan kamar kami juga masih terpisah. Kami masih butuh waktu untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain, yang terpenting sekarang kami bisa saling menghormati dan menghargai saja dulu. Hingga hati kami sama-sama yakin akan adanya cinta itu," jawab Steva menjelaskan panjang lebar yang menurut Asha justru hanya berputar-putar, tidak jelas.
"Yah terus intinya apa, Kak? Kak Steva cinta apa tidak sama Tuan besar?" nada suara Asha terdengar memaksa.
__ADS_1
"Em? Bisa jadi! Hahahaa." seru Steva diiringi tawa kecil sambil berlalu memasuki kamarnya meninggalkan Asha yang terbengong di depan pintu yang langsung tertutup kembali.
...****************...