
'Klek,' Tan membukakan pintu sebuah ruang rawat inap VVIP + yang dijaga ketat oleh para pengawal profesional.
Steva dan Tan saling pandang saat pintu itu telah terbuka, mata nanar Steva tak mampu menyembunyikan betapa saat ini ia merasa begitu sedih dan terluka, Steva mengulum bibir yang terasa kering dan menelan saliva susah payah membasahi tenggorokan yang tercekat, menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, menenangkan diri yang begitu gugup, dan? Takut.
Steva melangkahkan kaki memasuki ruang berbau obat itu, diikuti oleh Malvin, Amora, dan Tan, suasana sangat hening, hanya ada Nyonya Gulnora yang tengah duduk di dekat brangkar pasien sedang mengalunkan ayat suci dari kitab suci keyakinannya, berdoa, memohon dan berharap kepada Tuhan atas kesembuhan sang Tuan besar.
Steva berjalan mendekat, Gulnora yang melihat kedatangan Steva berdiri gemetar, tanpa kata ia menutup kitab sucinya, mencium khidmat lalu menaruhnya di atas nakas, Gulnora mundur dan membiarkan Steva yang duduk di tempatnya semula.
Semua orang terdiam dan menahan tangis. Tak ada suara kecuali alat pendeteksi jantung yang terdengar menusuk hati.
'Nit,,, nit,,, nit,,,'
Steva duduk di dekat brangkar, menatap sendu pada pria yang sangat dicintainya, pada pria yang sangat dirindukannya, ayah dari anak yang masih berada dalam kandungannya.
Mata Razz terpejam, entah dia sedang tidur atau hanya diam menahan sakit.
Steva menyentuh tangan Razz lembut, perlahan ia menggenggam tangan yang sangat kurus itu dan mengelusnya.
"Hai,,,," sapa Steva begitu lirih dengan suara bergetar. Tak ada respon, Razz masih diam dan matanya tetap terpejam.
"Aku pulang, Sayang? Aku datang!" Steva menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, dadanya sangat sesak, hatinya sungguh sakit, kesedihan begitu besar yang tak dapat ia utarakan hanya dengan kata.
"Aku sangat merindukanmu, maafkan aku, apa kau marah padaku? Karena aku pergi? Dan kau tak ingin membuka matamu? Hiks hiks hiks," Isak tangis yang Steva tahan akhirnya terdengar juga.
"Bangunlah, bicaralah padaku, katakan kalau kau akan sembuh, katakan kalau kau bersedia untuk melakukan operasi dan menerima jantung orang lain. Jika kau takut tidak mencintaiku karena cintamu yang hilang, maka aku akan mengajarimu cara untuk kembali mencintaiku, aku akan terus berjuang agar kau mencintaiku kembali, aku tidak peduli meski nanti kau akan membentakku, marah padaku, atau bahkan kau mengusirku dari rumahmu, aku tidak akan pergi, tapi kumohon tetaplah hidup, tetaplah hidup,,,, hiks hiks hiks! Bangunlah."
"Aku hamil, Razz, aku hamil, anak kita,"
Mata Razz yang sangat sayu mulai terbuka meski sangat sipit, dia tersenyum tipis, dan air matanya jatuh lewat sudut-sudut matanya.
"Jangan menangis, kau sudah terlalu banyak menangis karena aku, jangan menangis lagi," Razz buka suara, semua orang mendekat untuk mendengarkan dengan seksama, karena suara Razz sangat pelan dan lirih.
"Tidak, tidak, aku tidak menangis, tidak ada yang menangis, cepat hapus air mata kalian, tidak ada yang menangis di sini." Steva bergerak cepat mengusap air matanya dan menggeleng. Razz tersenyum lebih lebar saat mendengar Steva.
"Apa kau mau memaafkanku?" lirih Razz, Steva bisa merasakan jika tangan Razz berusaha menggenggamnya, dan Steva menggenggam tangan Razz lebih erat lagi.
"Iya, iya. Tentu." Steva mengangguk berkali-kali.
"Aku sangat mencintaimu, Steva. Aku tidak pernah mengkhianatimu,"
"Aku tahu, aku tahu, aku yang salah, aku yang bodoh, maafkan aku karena tidak mempercayaimu, seperti yang selalu kau katakan, aku ini memang bodoh. Aku memang gadismu yang bodoh. Hiks!"
"Hei, kau menangis lagi," kekeh Razz, matanya mulai terbuka, Razz melihat orang-orang di sana, termasuk Malvin dan mamahnya.
"Apa Mom sudah mau menerimamu?" Razz bertanya sambil menatap Amora yang menangis dalam pelukan Gulnora. Pertanyaan itu sungguh sangat menyakiti batin Amora sebagai seorang ibu.
"Iya, iya. Mom telah menerimaku sebagai menantunya, dia menyayangiku, hiks hiks."
"Bagus, bagus. H~haaaahh!" Razz menghembuskan napas yang terasa sangat berat.
"Bisakah aku mengelus anakku, Stevaku sayang?"
__ADS_1
"Tentu, tentu!" Steva mengusap wajahnya yang basah karena air mata, ia lantas berdiri dan meraih tangan Razz, mengarahkannya untuk menyentuh perutnya yang sedikit membuncit.
Razz tersenyum namun juga menangis, suasana semakin haru, tak ada satupun diantara mereka yang tidak menangis saat ini.
"Hai,,, sayang, apa kau mendengar suara Daddy?" tanya Razz dengan suaranya yang sangat lirih dan pelan, sambil berusaha menggerakkan jemarinya untuk mengelus perut Steva.
"Dia dengar, dia dengar, Sayang? Hiks." Steva langsung menjawab.
"Lihatlah, Mommymu sangat cengeng, dia terus saja menangis, tapi kau jangan tertipu dengan keluguannya, dia itu sangat galak, Daddy saja sangat takut saat Mommymu marah, Daddy takut Mommy akan meninggalkan Daddy,"
"Tidak, aku tidak akan melakukan itu, tidak akan, hiks hiks."
Razz tersenyum mendengar jawaban Steva.
"Mom?" kini Razz berbicara pada Amora, dan Amora mendekat pada sisi ranjang sebelahnya.
"Iya, Sayang? Mom mendengarkan," Amora menggenggam tangan Razz dengan lembut.
"Mommy akan menyayangi Steva dan anak kami seperti Mommy menyayangi Razz, kan?"
"Iya, iya, Mom akan menyayangi mereka seperti Mom menyayangimu, nak, Mommy akan mencintai mereka lebih dari Mom mencintai diri Mom sendiri, " Amora mengecup kening Razz berkali-kali.
"Terimakasih, Mom. Razz tahu Mom adalah ibu yang baik,"
Suasana semakin kalut, Steva sudah banjir air mata dan Malvin tidak tahan lagi, ia berpikir jika seharusnya dirinyanlah yang berada dalam kondisi ini, setidaknya Steva akan tetap bahagia jika dirinya yang tiada, dan Malvin akan memperbaiki semuanya, Malvin tidak tega melihat Steva bersedih dan menderita, bahkan sejak tadi, dada Malvin berdegup begitu kencang, seakan jantung itu ingin melompat keluar pada sang empu, ini memang bukan miliknya, Malvin merasa tidak berhak.
Malvin membalikkan badan, mengusap air matanya, dan dia akan keluar.
"Kau mau kemana, Tuan Malvin?" lirih Razz memanggil.
"Bagaimana rasanya, Tuan Malvin? Apa kau merasakan debarannya? Debaran yang tak mampu kau kendalikan saat kau melihat Steva?" lirih Razz lemah.
Steva menggeleng, itu terdengar menakutkan, seseorang yang mencintainya begitu dalam dan besar.
Malvin mengangguk pelan, ia memegang dada kirinya lalu menatap Steva yang sama sekali tak menatapnya, Steva hanya melihat fokus pada Razz, membelai wajahnya, dan mengecup tangan Razz penuh cinta.
"Sangat menyusahkan, bukan?" lirih Razz pilu.
"Iya, kau benar, aku tidak sanggup mengendalikannya, jadi,,,, aku akan mengembalikannya!"
"DEG."
Semua orang tersentak akan jawaban Malvin, Steva lekas menatapnya tajam dan nanar, Malvin melihat sorot mata itu, cinta yang begitu besar yang Malvin lihat, namun bukan untuk dirinya. Cinta itu nyatanya untuk orang lain, seorang Fabio Cannavaro Razolla.
Razz tertawa pelan.
"Apa kau itu Tuhan, Tuan Malvin? Apa kau ingin menyaingi kekuasaannya? Kau ingin bermain melawan takdir? Sedangkan kita ini hanyalah manusia ciptaannya, yang begitu lemah." ucap Razz.
"Dokter mengatakan jika aku hanya akan bertahan hidup selama satu hari dengan jantung rusakmu ini, namun mereka lupa jika mereka hanyalah manusia, dan nyatanya Tuhan memberiku waktu lebih, jadi jangan bersikap seolah kau bisa menyaingi kekuasaannya, Tuan Malvin!" Razz kembali bicara.
"Kau benar, Tuan Fabio. Tapi aku merasa tidak pantas untuk menerima jantung anda yang murni dan tulus mencintai, sedangkan aku hanyalah manusia bajingan yang penuh dosa dan kesalahan, aku akan mengembalikan apa yang menjadi milik anda, hak anda, aku juga tidak akan sanggup, merasakan cinta anda ini untuk Steva yang begitu besar, sedangkan Steva sama sekali tak mencintaiku, dia hanya mencintai anda, dan dia akan membenciku, benarkan, Nona Steva?"
Tak ada jawaban, Steva memalingkan pandangan kembali menatap dalam pada Razz, dan semua orang hanya terdiam
__ADS_1
"Aku permisi," Malvin melangkah pergi, ia akan cepat menemui dokter untuk menyiapkan operasi ulang.
'Malvin?' lirih Steva dalam hati. Apa dia juga tega jika Malvin harus berkorban? Bukankah keputusan apapun sama-sama menyakiti dirinya? Tuhan....
"Stev?" Panggil Razz.
"I-i iya, Sayang?"
"Apa kau takut?"
"T-tidak,"
"Apa kau sedih? Jangan takut, dan jangan sedih, Tuhan tahu mana yang terbaik sebagai takdir setiap hambanya."
"I-i iya,"
"Aku bersyukur telah di beri kesempatan untuk melihatmu, dan bertemu denganmu, apa aku boleh meminta ciuman darimu, Stev? Aku sangat merindukanmu,"
"Tentu, tentu." Steva berdiri, membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah Razz, ia menyentuh lembut wajah Razz, membelainya penuh kasih, dan Razz memejamkan mata saat Steva mulai menciumnya, Steva menautkan bibirnya dengan bibir Razz diiringi tangis yang tak terbendung.
HENING.
...****************...
2 HARI KEMUDIAN.
"Aamiin,,,,"
"Aamiin,,,"
"Aamiin,,,"
Terdengar orang-orang yang bersahutan mengucapkan kata yang sama saat seorang pemuka agama tengah melantunkan kalimat doa, menghantar ruh ke alam yang damai.
Sebuah pemakaman di daerah perbukitan pinggiran kota telah usai dilakukan dengan khidmat dan haru pilu, kesedihan begitu terasa menyelimuti kalbu.
Makam baru itu berjejer rapi dengan makam beberapa orang yang telah pergi terdahulu, makam dari keluarga istri almarhum.
...****************...
1 bulan kemudian.
Steva duduk di sebuah bangku kayu yang panjang, menghadap danau alami yang sangat indah, hawa dingin serasa menusuk tulang, semalaman hujan turun begitu lebat, menyisakan hari ini yang begitu damai dan menenangkan.
Tetesan-tetesan sisa air hujan membasahi dedaunan, dan mentari malu-malu menampakkan diri, tergantikan oleh awan yang masih menghitam, hembusan angin menambah hawa sejuk seakan ingin membekukan perasaan.
Sebuah ponsel berada di genggaman, dan Steva mulai menggeser layar, menampakkan sebuah video yang siap diputar, terpampang wajah tampan Razz yang pucat dan lemah.
"Hai, Stevaku sayang? Apa kabar? Jika kau menerima video ini, itu artinya aku telah pulang, aku sudah menunggumu begitu lama dalam kesakitan. Aku takut tidak memiliki kesempatan untuk bertemu, dan kusiapkan video ini untukmu.
__ADS_1
~Bersambung.
...****************...