GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
HAYO LOH,,,,


__ADS_3

Steva menunggu kedatangan Razz, tak ada yang spesial, semua masih sama seperti hari-hari biasa seperti saat kemarin Steva yang menyambut Tuan bayi besarnya, meski kini mereka telah terikat dalam janji pernikahan, namun Steva masih belum berani menunjukkan secara terang-terangan cara penyambutan seorang istri pada suami.


Razz memasuki kamar kala Steva tengah membungkuk mengganti seprei ranjang Razz, alis Razz sekilas bertaut saat ia memasuki kamarnya mendapati Steva yang tengah mengganti seprei, mengingatkannya jika baru saja mereka menikah dan kini sudah sah menjadi pasangan halal.


"T-tu tuan?" cicit Steva yang kaget karena Razz membuka pintu tiba-tiba dan langsung masuk begitu saja.


"Hai," sapa Razz yang terus menatap lurus ke depan dengan muka datar.


"Ah, M-maaf, saya hanya sedang sedikit membersihkan dan merapikan kamar anda, Em, bi-biar saya siapkan dulu air untuk anda mandi," Steva hendak melangkah sebelum satu kalimat Razz sempat menghentikannya.


"Air dingin saja, Stev! Aku ingin mandi segar!" ujar Razz sambil melangkah duduk pada tepian ranjang.


"Iya, Tuan!" jawab steva lalu segera pergi menjalankan tugasnya.


Razz melepas mandiri jasnya, lalu dasi, membuka kemeja, sepatu, dan juga ikat pinggangnya, menyisakan celana panjang yang sudah tak terkunci sabuk pada tubuh gagah dan jantannya.


Steva keluar saat ia sudah menyelesaikan pekerjaannya di kamar mandi. Langkahnya terhenti mendapati pemandangan indah yang membangkitkan gelora gairah.


Dada bidang itu, pasti sangat nyaman untuk dijadikan sandaran, lengan kekar berotot itu, pasti menjadi tempat ternyaman untuk bergelayutan. Dan perut keras kotak-kotak itu.


'Oh Tuhan,,, jangan kau biarkan otakku bergeser dalam waktu cepat hanya dengan melihatnya berpolos dada.'


Razz tentu tahu jika Steva sudah berdiri di sana, namun ia hanya diam menahan senyum smirknya, ia betul-betul tahu jika Steva telah tergoda pada dirinya.


"Stev? Kau di sana?" setelah beberapa saat tak ada suara dan tak ada pergerakan, Razz memulai untuk bicara. Tidak tahan juga rupanya terus berpura-pura.


"Ah? I-i iya, Tuan, itu, airnya sudah siap!" ujar Steva yang datang mendekat, ia lantas memunguti semua barang Razz yang barusan menempel pada tubuhnya dan sekarang berserakan sembarangan setelah Razz melepaskannya.


Razz mengangguk, ia segera masuk ke dalam kamar mandi, melepas celana dan juga segitiga bermudanya yang kemudian ia memasuki bathtub berisi air sejuk.

__ADS_1


"Aaahh,,, nyaman sekali!" seloroh Razz mendapati kesegaran.


'Hai jantung, kenapa kau menyusahkanku, kau memompa cepat pada waktu yang tidak tepat. Aaahh,,, aku butuh membersihkan otakku dari pikiran-pikiran kotorku.'


Selama hampir setengah jam, Razz baru keluar dari kamar mandi, Steva sudah menyiapkan semua keperluannya, baju ganti, sendal rumahan dan peralatan bersolek Razz.


Razz melilitkan handuk sepinggang, sungguh ini adalah godaan yang tak manusiawi bagi Steva yang isi otaknya sudah kemana-mana, dia memang wanita dengan pemikiran positif.


Tubuh tinggi, tegap, kekar berotot itu nampak semakin seksi dengan pantulan cahaya pada buliran-buliran bening sisa-sisa air mandi yang mengalir begitu indah. Belum lagi rambut hitam tebalnya yang basah, ah, menggetarkan bagian bawah Steva.


Razz melangkah dan duduk di kursi depan meja rias. Tanpa dikomando, Steva pun langsung mendekat mengeringkan rambut tebal sang bayi besar yang telah menjadi suaminya menggunakan hair dryer. Steva melakukannya dengan sangat lembut.


"Bagaimana harimu?" tanya Razz mengajak ngobrol sang istri.


"Baik, Tuan! Anda?" Steva melontarkan pertanyaan balik.


"Seperti biasa," jawab Razz santai.


Tersungging senyum tipis di sudut bibir atas Razz yang tak Steva tahu.


"Apa itu belum selesai?" tanya Razz ingin tahu, ia memang belum berniat untuk menyerang Steva, tapi selalu berdekatan dengan keintiman dan status yang sah, tak menampik jika Razz pun merasa mau. Dia ingin.


"Hah?" Steva berhenti sesaat. Menatap dalam Razz yang terus menatap lurus ke depan tanpa titik temu.


"Datang bulan!" jawab Razz gamblang.


'Uhuk.' Steva menahan tawa, ia berpikir jika suaminya ini tak perduli, nyatanya dia menanyakannya juga. Hati Steva berbunga seketika. Membayangkan jika mereka akan bertemu di atas ranjang saling tindih mendidih penuh gairah gelora cinta.


"Masih belum selesai, Tuan. Paling beberapa hari lagi," jawab Steva malu-malu, pipi mulus nan halus itu merona merah dengan binar mata yang memabukkan. Di tambah senyum yang menggoda, gerakan lembut bibirnya yang Steva gigit sedikit sungguh mengganggu kejantanan Razz di balik handuk. Tubuhnya kontan mengeras seketika.

__ADS_1


Steva telah usai menyisir rambut Razz. Dan Razz berdiri ke dekat ranjang. Dimana baju gantinya biasa Steva letakkan di pinggiran sana.


"Aku ingin kau melayaniku seutuhnya, tapi sebagai permulaan, kau bisa memakaikan seluruh baju untukku," celoteh Razz yang terdengar ambigu.


"T-tu tuan?" lirih Steva ragu.


Kedua manik biru Razz yang cantik itu menyipit, dengan dahi mengernyit, dan alis hampir bertaut, ia mendengarkan seksama apa yang ingin dikatakan sang istri. Dan Steva melihat raut muka yang mungkin menyiratkan tidak suka dengan adanya penolakan.


"I-i iya, baik," jawab steva gugup, namun membuat Razz bernapas lega.


Steva meraih kaos hitam yang sudah ia siapkan, ia mulai memasukkan pakaian itu dari kepala Razz melewati kedua tangannya yang sudah terangkat, dan Steva menariknya hingga ke bawah, terlihat rapi dan sangat tampan menawan, persetan dengan wajah mengelupas yang rusak itu, nyatanya hanya dengan menatap manik biru cantik milik sang Tuan bayi besar, Steva sudah sangat tergila-gila.


Keduanya begitu dekat, begitu ingin, aroma satu sama lain dapat mereka cium memenuhi rongga hasrat kedewasaan yang ingin terpuaskan. Aroma tubuh yang mencandu ke seluruh relung saraf percintaan.


"Celanaku, Stev!" bisik Razz nakal pada daun telinga Steva yang memicu adrenalin memuncaknya nafsu. Tubuh Steva meremang, bagian bawahnya menghangat dengan cair.an cinta. Basah. Dan dia dapat merasakan sesuatu di bawah sana yang menyentuh perutnya, sesuatu yang keras yang membuat jantung Steva berhenti berdetak.


"Hemmm!" Steva mengangguk pasrah kala Razz menekan pundaknya berjongkok dengan tumpuan lutut di atas marmer lantai di hadapan Razz yang berdiri menjulang.


"Buka!" perintah Razz dengan suara beratnya yang telah diliputi nafsu meminta Steva lekas membuka handuk yang menutupi tubuh kerasnya.


Kedua tangan Steva bergerak perlahan membuka kain tebal nan empuk berwarna putih bersih yang melilit di pinggang sang tuan bayi besar, lalu setelah kain tebal putih itu tersingkap, nampaklah panglima perang Razz yang gagah nan jantan pada posisi siap tempur tepat di hadapan Steva.


'Glek!'


"Dug_dug. dug_dug."


Kedua mata Steva membola, lebih dari yang ia bayangkan saat panglima perang Tuan bayi besarnya telah tegap berdiri.


Steva mendongak, namun tangan kiri Razz menguncir kuda rambut lurus panjang Steva yang tergerai.

__ADS_1


"Lakukan, Steva!" lirih Razz begitu terdesak syahwat.


...****************...


__ADS_2