
'Klek!' seseorang yang baru saja membuka pintu menekan saklar lampu yang berada di dinding, dan lampu menyala.
Sudut mataku bergerak meski kepalaku tetap tak bergeming, langkah kaki mendekat, tapi bukan Razz, aku mengenal parfumnya.
"Nyonya, saya bawakan makanan, makanlah!" Gulnora mengelus rambutku, mengusap pelan lenganku, dan tangisku kembali membanjir setiap ada yang datang mengasihani.
Gulnora tak memberi komentar apapun mengenai keadaan kamar yang diterjang badai amukan istri yang kesetanan.
Ia lantas menaruh piring yang ia bawa di atas tepian ranjang, melihat luka kakiku.
"Kaki anda terluka, Nyonya. Biar saya panggilkan Dokter," Gulnora hendak berdiri.
"Biarkan aku sendiri, Gulnora, aku tak ingin ada orang lain menemuiku,"
Gulnora bergeming, "Kalau begitu, saya ambil p3k dulu untuk mengobati luka kaki anda," dan Gulnora keluar.
'Iya, kau masih bisa membantuku mengobati luka kaki ini, Gulnora. Tapi bagaimana dengan luka di hati?'
Gulnora menuang alkohol sebelum ia mengeluarkan beling yang tertancap di kakiku, hanya beling kecil, tapi sungguh sakitnya luar biasa, aku meringis dan mencengkeram tangan Gulnora saat Gulnora menariknya. Ia lantas memberikan obat dan membalut luka kakiku dengan perban.
"Sudah, Nyonya,"
Aku bersandar pada dipan ranjang, Gulnora memberikan piring makananku, bahkan dia siap menyuapiku, tapi sungguh aku tak merasa lapar dan tak ada nafsu makan.
"Dia tidak pulang?" Aku menanyakan Razz pada Gulnora, ini sudah tengah malam, dan kupikir Razz akan segera mengejarku, meminta maaf, membujukku, merayu dan menjelaskan padaku, tapi ternyata aku salah, dia bahkan tidak pulang. Mungkinkah jika Razz telah kembali pada cinta pertamanya? Dan dia sudah menyerahkan hati, jiwa dan raganya pada Liora?
Rasanya aku ingin menikam dadaku sendiri dengan sebilah pisau untuk mengalihkan rasa sakitnya, atau membenturkan kepalaku hingga pecah agar aku melupakan semua rasa sakitnya. Tapi nyatanya aku hanya bisa menangis dan tertawa seperti orang gila. Menangisi kesedihanku dan menertawakan kebodohanku.
Tiga hari berlalu, dan Razz masih belum pulang, ia tak menemuiku, namun juga tak membiarkanku pergi. Dan bagaimana perasaanku? Aku bahkan tak memiliki kata untuk dapat menggambarkan rasa yang begitu lara.
Aku hanya makan 2 kali selama tiga hari ini, itupun saat perutku terasa sangat sakit, tapi tak ada rasa lapar.
Ya Tuhan? Aku melupakan kehidupan anakku di dalam perut yang baru mulai tumbuh, kenapa aku bisa sebodoh dan sejahat ini pada darah dagingku sendiri? Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti ibuku lakukan dulu, meluapkan amarah dan rasa sedih pada anaknya atas perbuatan bejat seorang suami.
Aku berjingkat keluar dari kamar, pintu tak lagi dikunci karena aku tak berontak. Aku duduk di kursi pantry dapur, dan meminta koki membuatkanku makanan, setelah tiga hari, ini adalah pertama kalinya aku menunjukkan diriku yang berantakan pada orang rumah.
Jangan tanya bagaimana tanggapan mereka, semua memberi pandangan kasihan padaku, dan aku tersenyum sinis, begitu menyedihkannya diriku.
"Kak Stev?" Asha yang tahu aku ada di meja pantry lekas berhambur memelukku, ia menangis meski tak bicara apa-apa, dan aku berusaha tersenyum di depannya, meski air mataku sudah merembes.
"Aku ingin makan dulu, Sha," ucapku pada Asha saat sepiring makanan telah disajikan Tuan koki di hadapanku, dan Asha melepas rengkuhan tubuhnya sambil mengusap air matanya. Membiarkanku makan.
Aku memasukkan sesendok demi sesendok nasi ke dalam mulutku, tenggorokanku rasanya tercekat, begitu susah untuk sekedar menelan nasi ini, seperti ada seribu duri yang menyangkut, dan itu karena dadaku yang begitu sesak, aku makan sambil menangis, rasanya sungguh tidak enak.
"Nyonya?" Gulnora datang ke hadapanku bersama seorang pria yang berpenampilan rapi dengan setelan jas berwarna hitam.
Aku hanya diam melihat, enggan untuk bertanya.
"Nyonya, ini adalah Tuan Abhi, beliau ini adalah pengacara pribadi Tuan besar, dan dia datang untuk menemui anda dan berbicara dengan anda," jelas Gulnora.
__ADS_1
Kulirik sekilas tas kerja yang ada di tangan kanannya. Dan aku turun dari kursi pantry, berjalan menuju sofa ruang tengah, Asha tak diijinkan Gulnora untuk mendekat, dan Asha kembali ke belakang melakukan tugasnya.
"Selamat siang, Nyonya Steva!" sapa Pria itu yang hanya kutanggapi dengan anggukan kecil.
"Saya adalah Abhimanyu Maheshwara. Pengacara pribadi Tuan Fabio Cannavaro Razolla, suami anda,"
"Tuan Razz telah mempercayakan kepada saya, untuk mengurus perceraiannya dengan anda."
"***DEG***." Aku masih diam, menatap pada Pak Pengacara dengan sorot mata tajam.
"Tuan Razz telah menceraikan anda, dan hanya dengan menandatangani berkas ini, maka hubungan anda dengan Tuan Razz telah selesai, saya yang akan mengurus semuanya!"
Entah apa yang kurasakan, apakah aku harus bahagia karena dia telah memberikan kepastian dan melepaskanku, ataukah aku harus bersedih karena aku telah mengandung anaknya, dan hanya aku dan Renata yang tahu? Lantas bagaimana nasib anak ini nanti? Tidak, aku tidak peduli dengan itu, aku mampu menjadi ibu sekaligus ayah untuknya.
"Bagaimana Nyonya? Apakah anda setuju?" Tuan Abhi Pak Pengacara meminta jawaban, dan aku masih diam.
"Jika anda setuju, silahkan tanda tangan di sini, agar semuanya bisa segera saya proses dengan cepat."
Tuan Abhi menunjuk pada satu titik yang terdapat namaku, ia pun menyerahkan pena yang ia siapkan.
Kuraih pena yang Tuan Abhi berikan dengan tangan gemetar, dan kububuhkan tanda tangan di atas kertas itu, tepat di atas namaku, kulirik sesaat titik yang terdapat nama dan tanda tangan Razz. Dia melepasku. Aku bebas darinya.
"Nyonya, ini adalah harta-harta yang Tuan Razz berikan pada anda, ada sebuah penthosue,,, Nyonya? Nyonya?"
Aku berdiri meninggalkan Tuan Abhi yang masih bicara hendak menjelaskan tentang harta saat ia mengeluarkan beberapa berkas lain dari tasnya.Aku miskin, tapi aku tidak butuh itu semua.
Aku melangkah keluar menuju pintu utama rumah dengan raut muka datar dan air mata yang terus mengalir, tak ada lagi yang menghentikanku, mereka menunduk dan membungkuk sebagai penghormatan terakhir, ah, rasanya aku telah mati. Hahahahaha,,, aku mati.
Nyonya Gulnora lari tergopoh-gopoh mengejarku, ia menawarkan rumahnya untuk kutinggali, tapi aku menolaknya dengan halus. Dan kuucapkan kalimat perpisahan, terimakasih dan selamat tinggal.
Asha pun datang dengan meraung, ia memelukku sangat erat, seakan dunianya yang hancur, tapi aku tersenyum menatapnya.
"Bisakah aku mengambil sesuatu dari tempat tinggalmu?" tanyaku pada Asha.
Nyonya Gulnora pun mengijinkan Asha pulang bersamaku, kami jalan kaki menapaki trotoar menuju tempat tinggal Asha, seorang sopir menawarkan untuk mengantar kami, tapi aku tidak mau, aku tak ingin berhubungan dengan apapun tentang Razz.
Aku keluar hanya menggunakan dress yang kusut, lusuh menempel di tubuhku. Dan pergi ke tempat kos Asha.
__ADS_1
"Kak Stev tenang saja, itu juga tempat tinggal Kak Steva. Kita akan tinggal bersama lagi," sepanjang jalan Asha terus bicara. Dia berusaha menghiburku.
Saat kami sampai di tempat kos Asha, aku menanyakan jas yang pernah kutitipkan di tempatnya. Dan Asha mengambilkannya.
"Kak Steva mau kemana? Kak Steva tidak tinggal sama aku di sini? Kak Steva mau kemana?" Asha terus bertanya saat aku memutuskan untuk pergi dengan memakai jas pria yang menolongku malam itu di tubuhku. Tapi kenapa aromanya seperti kukenal? Kenapa aku merasa tengah memakai jas Razz? Iya, aroma jas ini adalah aroma tubuh Razz.
Bodoh, memangnya yang pakai parfum seperti itu hanya satu orang apa di dunia? Kenapa aku malah harus mengingat laki-laki brengsek itu.
"Kak Stev butuh tempat baru dan suasana baru untuk memulai semuanya, Asha. Terimakasih sudah begitu baik selama ini. Terimakasih, Kak Stev tak punya apa-apa untuk membalasnya."
Asha merangkulku begitu erat.
"Kak Stev?"
"Jangan menangis," aku mengelus punggung Asha. Lalu melepas tautan tubuh kami.
"Kak Stev pamit ya, Sha?"
"Tapi kak Stev mau kemana? *Hiks hiks hiks*."
Aku hanya tersenyum menanggapi Asha.
Asha menemaniku menunggu bis di halte, perjalananku akan dimulai dari bis yang membawaku pergi ini.
"Bawa ini, kak," Asha menyerahkan dompetnya, ia hanya mengambil kartu-kartu yang penting untuk ia masukkan ke dalam kantong celananya, sedangkan dompet dan seluruh uangnya Asha berikan padaku saat aku hendak naik bis.
"Asha masih punya tabungan di bank, Asha tahu Kak Steva tidak membawa uang sama sekali," Aku tersenyum getir pada Asha yang begitu baik, gadis muda yang sangat-sangat baik. Kemarin aku adalah seorang Nyonya, dan sekarang aku adalah seorang gembel.
Kulihat cincin berlian yang melingkar di jari manisku, pemberian Razz yang masih menempel, kulepas, dan kuberikan pada Asha.
"Aku berikan ini padamu, terserah mau kau apakan, kalau kau memang butuh, kau bisa menjualnya, itu pasti harganya mahal."
Asha sempat menolak, tapi aku terus memaksanya. Dan aku naik ke dalam bis meninggalkan Asha yang menangis meratapi kesedihanku.
'*Selamat tinggal semuanya*.'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1