GAIRAH STEVA

GAIRAH STEVA
AKU TIDAK BISA MENCERAIKANNYA


__ADS_3

"Hati-hati," dengkur Steva pada Razz yang akan segera pergi, Steva memeluk tubuh Razz dengan erat, rasa itu selalu tumbuh di hati Steva setiap Razz akan pergi meninggalkannya, sebuah rasa takut akan kehilangan, apalagi untuk kepergiannya kali ini, Razz akan lebih lama, dan entah kenapa ada rasa tidak rela dalam hati Steva meski ia tak mengatakannya, namun sikap Steva dalam memeluk erat tubuh Razz diiringi linangan air mata yang ia sembunyikan isaknya, jelas membuktikan bagaimana ketidak relaan batinnya itu saat ini.


"Bagaimana aku bisa pergi, kalau kau terus memelukku?" celoteh Razz sambil tersenyum. Ia melihat raut kesedihan pada wajah istrinya yang baru ia sadari sangat cantik itu, Steva memiliki paras ayu dengan alis rapi, mata bulat dengan pupil coklat, bulu mata alami yang panjang hitam dan lentik, hidung mancung dan bibir sensual yang selalu membuat Razz ingin mencicipi lagi dan lagi.


"Kau menangis?" tanya Razz saat pelukan mereka sudah terlepas. Steva buru-buru menghapus air matanya dan dia menggeleng cepat.


"T-ti tidak, aku tidak menangis," jawab Steva bohong, dan Razz kembali tersenyum. Ia mulai menyukai perannya sebagai orang buta setelah beberapa bulan menjalaninya dengan frustasi demi Liora, dan baru setelah bertemu dengan Steva, lakon yang ia jalani terasa menyenangkan.


Steva terus menunjukkan kebahagiaan di depan Razz, tanpa mempedulikan hatinya yang sedih, membuat Razz begitu gemas padanya, haru, Razz terharu, tapi ia tak dapat mengungkapkannya. Betapa baik dan tulusnya istrinya ini.


"Baiklah, aku harus pergi, kau baik-baiklah di rumah. Aku akan berusaha agar cepat kembali."


Setelah perpisahan pada sore menjelang malam itu, Razz dan Steva seperti hidup dalam dua dunia yang berbeda. Tak ada kabar sama sekali.


Steva tak berani mengirim pesan maupun telepon terlebih dulu pada Razz meski Razz mengizinkannya dan Steva menginginkannya, dan Razz yang baru memiliki waktu senggang saat tengah malam berpikir jika dia akan mengganggu tidur Steva. Hingga keduanya memendam rindu dalam diam.


Malam Steva yang bertemankan air mata sampai ia lelah menangis dan terlelap, sedangkan malam Razz bertemankan udara dingin dan pemandangan kota dengan lampu-lampu menghiasi gedung-gendung ditemani segelas wine dalam genggamannya.


Selama 2 hari, Razz terus saja diam, pikirannya selalu tertuju pada Steva, dan bagaimana cara untuk mengatakan semuanya yang sebenarnya, ia pun dilanda kebingungan, antara meneruskan pernikahan, atau membatalkannya, Razz takut menyakiti hati Liora.


Hari ini saat mereka melakukan fitting baju pengantin mereka yang ditemani oleh orang tua mereka. Razz masih terus saja terdiam. Ia duduk melamun mengabaikan Amora mamahnya dan Devne mamah Liora yang mengobrol membicarakan acara pernikahan dirinya dan Liora nanti dengan sangat antusias.


"Waaahh,,, cantik sekali!" seru Amora saat Liora datang mengenakan gaun pengantinnya yang super mewah.


"Kamu melahirkan sosok bidadari, Devne!" puji Amora kemudian. Dan senyum Devne mengembang sempurna.


"Bagaimana menurutmu, Razz?" tanya Amora pada putranya yang nampak terdiam dalam lamunan, raganya berada di sini, namun hati dan pikirannya tersangkut di rumah sana pada Steva.

__ADS_1


"Razz?" Amora menggoyang tangan Razz karena putranya itu masih terdiam.


"Ah? Iya, Mom?" kaget Razz.


"Kau ini kenapa sih? Kok malah ngelamun? Itu loh dilihat calon istri kamu, gimana menurut kamu? Cantik, kan?" tanya Amora ceria.


Razz mendongak melihat Liora yang berdiri di hadapannya, cantik, dia memang sangat cantik, namun tak nampak kebahagiaan sedikit pun pada rona wajah cantik yang Razz kagumi sejak kecil itu, Liora pun hanya terdiam dengan raut muka sendu yang ia paksa datar agar tak memperlihatkan kesedihannya.


"Iya, cantik." jawab Razz sambil mengangguk, dan Liora kembali masuk untuk melepas gaun itu sebelum ia pakai esok hari untuk pernikahannya.


"Kamu kenapa, Razz? Apa ada masalah?" tanya Amora menangkap satu hal yang beda dari wajah anaknya.


"Aah,,,, sis Amora seperti tidak pernah muda saja, mungkin Razz sedang memikirkan malam pertama mereka, hahahahaha, kan itu yang paling ditunggu-tunggu!" seloroh Devne sambil tertawa yang mendapat balasan gelak tawa dari Amora.


Setelah acara fitting baju itu. Razz dan Liora akan datang ke perusahaan berlian yang mendesigne cincin nikah mereka. Tapi orang tua tidak ikut, hanya Razz dan Liora berdua saja yang pergi ke sana.


"Apa kau baik-baik saja, Liora?" tanya Razz kemudian karena tak mendapat jawaban dari Liora atas pertanyaannya yang pertama.


Hati yang sedih, yang sudah dengan sekuat hati Liora tutupi itu pun akhirnya terkuak sudah, Liora menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan mengeluarkan suara isakan.


"Hiks hiks hiks,,,," tangis Liora tak terbendung.


"Ada apa, Liora? Kenapa kau menangis?" tanya Razz bingung. Ia tak merasa mengatakan kalimat yang salah sejak tadi. Tapi Liora yang memang sudah nampak sedih tiba-tiba menangis begitu saja.


"Razz? Aku ingin bicara, hiks!" seru Liora memegang lengan Razz yang mengemudi, menatap Razz dengan sorot mengiba.


'Ciiiitt,,,,' Razz menginjak rem menghentikan laju mobilnya. Ia merasa tak enak saat melihat Liora dalam kondisi seperti itu.

__ADS_1


"Liora, ada apa?" tanya Razz sangat pelan, ia menangkup wajah Liora, mengusap air matanya dengan jemarinya. Bukan hal yang istimewa, itu Sudja Razz lakukan sejak mereka kecil dulu.


"Apa ini tentang pernikahan kita? Katakan dengan jujur, Liora? Apa kau sebenarnya tak menginginkan pernikahan ini?" kini Razz bertanya pada inti pembicaraan, ia merasa jika Liora sebenarnya tak menginginkannya, itulah kenapa Liora selalu mengulur waktu dan bahkan membuat sebuah permainan yang membuat rumit semuanya.


"Apa aku akan menyakiti hatimu, jika aku mengatakan yang sebenarnya, Razz?" tanya Liora yang menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Razz yang selalu membuatnya merasa nyaman. Dan inilah salah satu sikap Liora yang Razz sukai sejak dulu, gadis itu selalu menyerahkan diri pasrah pada Razz saat dia dalam masalah.


'Tidak, sebenarnya bagaimana dengan perasaanku, apakah aku benar mencintai Liora? Atau hanya karena aku begitu menyayanginya, tapi ini bukan cinta? Kenapa rasanya berbeda dengan saat Steva yang menjatuhkan dirinya padaku? Yang membuatku langsung nafsu dan ingin mende.sah bersamanya? Sedangkan Liora? Setiap dia menangis, aku hanya ingin selalu menjadi penenang untuknya.'


Liora melepas tautan tubuh mereka, ia lantas kembali duduk dengan benar pada kursinya, mengusap air mata dengan tisu dan menunduk.


"Sebenarnya ada apa, Liora? Aku tidak mengerti jika kau tidak mengatakannya padaku dengan jelas," Razz menatap dalam wajah Liora yang basah.


"Aku? A-a aku?"


"Apa? Cepat katakan?" Razz mulai kehilangan kesabaran.


"Bagaimana nasibku jika kau menikahiku sedangkan kau masih memiliki wanita lain sebagai istrimu, Razz? Kau belum menceraikannya, bukan?" seloroh Liora membuat jantung Razz detaknya serasa terhenti.


"DEG."


Egois, satu kata yang paling tepat menggambarkan seorang Liora saat ini, ia tidak mencintai pria di hadapannya, menyusun satu rencana demi menutupi keinginannya bisa hidup bersama pria lain, namun mengorbankan seorang Razz demi dirinya sendiri agar ia tak dipandang salah di mata keluarga.


"Kenapa kau diam, Razz?" tanya Liora, Razz menatap jalanan di depan yang sepi.


"Aku tidak bisa, Liora. Aku tidak bisa menceraikan Steva. Aku telah jatuh cinta padanya." jawab Razz lirih penuh keyakinan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2