
"Jika Tuhan menginginkan dua hati bersatu, maka dia akan menggerakkan keduanya, bukan salah satunya." ~ Author.
**POV STEVA**.
Kami semua pulang sedikit terlambat, mungkin sekitar jam setengah 6, namun langit sudah gelap, dan luar biasa, kami tak bawa senter, untunglah tamu-tamu Paman Yohan membawa ponsel dan kami masih mendapat penerangan dari flash ponsel mereka.
Paman Yohan dan Tuan Ramon berjalan beriringan di depan, aku berjalan seorang diri menggunakan flash ponsel Mr.Dori di belakang mereka, dan Mr.Dori dan Malvin berjalan beriringan di belakangku.
Malam semakin gelap, bulan tak nampak, angin berhembus kencang, menggoyangkan pepohonan yang membuatku merasa takut, namun aku diam tak mengatakan rasa takutku.
"Kurasa akan turun hujan," beo paman Yohan.
Kilat sesekali muncul hingga sekeliling nampak terang namun kembali gelap tak sampai satu detik.
"Kuharap Istrimu sudah menyiapkan makan malam, aku sudah sangat lapar," sahut Tuan Ramon yang disambut kekehan oleh Paman Yohan.
"Dan, bisakah kau carikan minuman untukku? Aku begitu ingin menikmati minuman setiap kali berada di sini, sangat cocok untuk menghangatkan tubuh dengan udara dingin seperti sekarang ini," celoteh Tuan Ramon.
"Baiklah, nanti aku akan minta pada tetangga."
Kami terus berjalan sambil mendengarkan obrolan dari paman Yohan dan Tuan Ramon.
Sesekali terdengar ranting patah yang mengagetkanku hingga langkahku terhenti dan terlonjak.
"Kau baik-baik saja, Nona Eva?" Mr. Dori bertanya, sedangkan Paman Yohan yang tak tahu aku berhenti terus melangkah semakin menjauh ke depan bersama Tuan Ramon.
"I-i iya, aku hanya sedikit kaget."
"Dori! Cepat ke sini, ponselku baterainya habis, aaah,,, sial." terdengar Tuan Ramon berteriak dari depan sana.
"Ah, iya, Tuan?" Mr. Dori cepat menjawab.
"Nona Eva, kau berjalanlah bersama Malvin, maaf, ponsel saya?" Mr.Dori meminta ponselnya dariku untuk ia bawa ke depan, dan aku terpaksa berjalan beriringan dengan Malvin.
Tubuhku yang basah semakin merasa dingin karena angin yang benar-benar kencang, dan aku merapatkan jaket kulit Malvin yang basah sambil kupeluk erat.
__ADS_1
Kami kembali melanjutkan perjalanan, Derik jangkrik dan binatang malam mulai terdengar, yang paling kutakutkan adalah ular, oh, semoga hewan berbisa itu tak menampakkan diri.
"Awas?" Malvin menarikku hingga punggungku berbenturan dengan dadanya yang bidang.
"Ada kayu tajam," ucap Malvin dengan suara berat tertahan.
Aku bukanlah gadis perawan desa yang lugu dan tak tahu apa-apa, sungguh kurasakan panglima perang Malvin di bawah sana yang mengeras menyentuh bagian belakang tubuhku, '*Oh, Tuhan*?'
Aku membelalakkan mata, membola dan tertegun.
"Hati-hati," bisiknya lirih, bibirnya menyentuh daun telingaku, seketika tubuhku meremang, tangan kanannya yang mencengkeram kasar lengan kananku, dan tangan kirinya berada di pinggang kiriku.
'*Razz*?'
Bahkan meski kusadari aku bersama dengan Malvin pun, aku merasakan jika Razz lah yang bersamaku.
"Ah." aku melepaskan diri cepat, merapikan rambut ke belakang telinga dengan gugup. Dan kembali melangkah cepat mengejar paman Yohan.
*Ya Tuhan? Aku ingin menangis, aku sudah tidak tahan, perasaan ini sungguh menyiksa, aku merindukan Razzku, bagaimana ini? Aku begitu rapuh untuk bisa bertahan. Razz, kau di mana? Bagaimana kabarmu? Kenapa meski kau telah menyakitiku begitu buruk, aku masih tetap mengingatmu, kenapa meski kau sudah menbuangku, aku masih tetap merindukanmu, kenapa aku masih menginginkan sentuhan dan cengkramanmu? Razz,,,, apa kau tak merindukanku? Hiks hiks hiks*....
"Eva?" Malvin meneriakkan namaku saat aku berlari begitu kencang meninggalkannya, aku malu jika mereka melihatku menangis, aku terus berlari dan tak menghiraukan Malvin yang berteriak memanggilku, dan dia mengejarku.
Paman Yohan, Tuan Ramon, dan Mr. Dori berhenti melangkah, mereka menoleh ke belakang bersamaan saat mendengar Malvin yang berteriak memanggil namaku.
"Eva? Ada apa sayang?" Paman Yohan pun mengkhawatirkanku, tapi aku terus berlari melewati mereka bertiga. Tak kupedulikan jalanan yang gelap, aku sudah tidak tahan. Air mataku tumpah ruah, batinku sakit, dadaku sesak, aku sangat merindukan Razz, Oh Tuhan?
"Malvin? Ada apa? Kenapa Nona Eva menangis?" Mr.Dori bertanya pada Malvin yang telah sampai di dekat mereka.
POV AUTHOR.
"Va? Makan malam sudah siap, nak? Keluarlah, kita makan malam bersama, tok tok tok." Bibi Elly mengetuk pintu kamar Eva. Keponakannya mengunci diri di dalam kamar sepulang dari kandang.
'Klek.' Eva membuka pintu kamar, wajahnya sembab dan matanya sendu, ia habis menangis.
"Bolehkah aku makan nanti malam saja, bi? Kalau aku sudah lapar, aku ingin sendiri dulu,"
Bibi Elly menghembuskan napas kasar, ia mengelus lengan sang keponakan.
"Iya, tidak apa-apa, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan, kasihan si kecil yang baru tumbuh di dalam perut," bibi Elly beralih mengelus perut Steva yang masih datar.
Steva tersenyum kecut mengangguk dan kembali menutup pintu, bibi Elly kembali menuju meja makan.
"Bagaimana?" tanya paman Yohan.
__ADS_1
"Dia akan makan nanti saat lapar, katanya!" Bibi Elly menarik kursi lalu menjatuhkan diri duduk di sebelah paman Yohan.
Malvin hanya diam menatap datar pada meja makan, ia berpikir keras akan perubahan sikap Eva, kenapa gadis itu tiba-tiba mellow seperti itu?
"Sebenarnya kau apakan tadi, Nona Eva, Malvin?" Mr.Dori menatap dalam Malvin penuh arti. Wajar saja jika dia menaruh curiga, pasalnya Malvinlah yang berada di belakang bersama Steva.
Malvin mendongak, semua orang menatapnya dengan pandangan yang sama, penuh tanya.
"Aku menciumnya!" aku Malvin santai.
"Apa?" teriak Paman Yohan dan Bibi Elly.
"Kau?" Tuan Ramon sudah berdiri hendak melempar gelas.
"Apa mungkin aku melakukan itu? Yang benar saja, Ck." Malvin berdecak memalingkan muka.
"Aku hanya menarik tangannya, karena di depan ada patahan kayu yang tajam, dan aku tidak tahu, tiba-tiba dia sudah berlari dan menangis, memang dia saja yang aneh, dasar gadis bodoh."
"Malvin?" teriak Tuan Ramon.
"Sudahlah, tidak apa-apa, nanti aku akan bicara padanya, sekarang, mari kita nikmati hidangan makan malam ini," Bibi Elly melerai kegaduhan.
'Kenapa kau sangat aneh, Gadis bodoh? Ck.'
Steva mengambil jas pria yang pernah menolongnya di dalam lemari, ia bahkan tak mencuci jas itu, membiarkan aroma tubuh sang pemilik jas tetap bersemayam di sana, meski mulai tak enak karena bercampur dengan hawa dari lemari.
"Aku tidak tahu siapa anda, Tuan? Tapi aroma anda benar-benar mengingatkan saya pada orang yang sangat saya cintai, suami saya, bukan, dia sudah menceraikanku, Razz,,,, aku merindukanmu, sungguh!"
Steva memeluk jas itu menghirup dalam-dalam aroma sang pemilik yang tak ia tahu, tapi harumnya sama dengan aroma tubuh Razz, buliran air mata kembali membanjir dengan batin yang kelabu.
Paman Yohan menemani Tuan Ramon dan Mr.Dori minum di pekarangan belakang rumah, setelah Paman Yohan mendapatkan beberapa botol minuman dari tetangga. Mereka baru akan pulang esok hari saat orang-orang Tuan Ramon datang untuk mengangkut kayu ke kota, tepatnya ke pabrik Tuan Ramon.
Malvin hanya duduk di undakan tangga teras seorang diri, dan pikirannya masih dipenuhi oleh Steva. Benar-benar menyiksa.
Bibi Elly memilih tidur di kamar, dia memang terbiasa tidur setelah makan malam.
Pukul 10, Steva merasa lapar, dan dia keluar dari kamar menuju dapur.
"Kamu sudah lapar ya, Sayang? Maafin Mom ya? Mom lagi rewel. Kangen sama Daddy, hihihi," Steva terkikik, ia berbicara sendiri sambil mengelus perutnya saat membawa sepiring makanan di tangan kanannya menuju meja makan.
"Aah?"
Malvin sudah memegang piring Steva agar tidak jatuh, ia tak menyentuh sedikitpun tubuh Steva, takut kejadian tadi di perjalanan pulang kembali terulang.
"Aku tahu kalau kamu pasti kaget melihatku, entah seburuk apa rupaku dalam penglihatanmu, kau selalu saja terkejut saat aku di dekatmu."
Steva menarik piringnya, ia lantas duduk dan menaruh piring di atas meja makan. Malvin ikut duduk di kursi seberang, mereka berhadapan.
"Kenapa kau duduk di sini? Apa kau belum makan? Mengganggu saja," gerutu Steva yang hendak memulai acara makan malamnya seorang diri.
'Iya juga, kenapa aku duduk? Aaahh,,, bodoh, aku selalu ingin berada dekat dengan gadis ini.'
"Memangnya kenapa? Ada larangan kalau aku tidak boleh duduk di sini?" Malvin nyolot.
"Iisshh,,,, terserah!" beo Steva sambil melanjutkan makannya.
"T-ta tadi? Aku tidak sengaja dengar kamu ngomong sendiri sambil ngelus perut kamu," Malvin bertanya dengan gugup, ia tak melihat Steva sama sekali, pandangannya menoleh ke arah lain.
Steva sempat menghentikan makannya, lalu kembali berkutat dengan sendok.
"Iya, seperti yang sudah kau dengar, aku ini sedang hamil," ucap Steva santai, ia kembali melahap satu sendok nasi.
"Oh!" Malvin menanggapi dengan singkat.
'Hanya oh? Lantas kenapa harus susah-susah bertanya?'
"Aku tidak melihat suamimu, apa kau?"
"Apa urusannya denganmu? Apa kau begitu penting sehingga aku harus menceritakan tentang diriku padamu? Kalau bertamu itu yang bertamu saja, jangan melewati batas!" ketus Steva sambil berdiri membawa piringnya yang telah kosong untuk di bawa ke dapur.
"A-a apa?"
'Dasar gadis bodoh tidak tahu sopan santun!'
__ADS_1
...****************...