
"Terimakasih," Steva telah sampai di rumah, Pak Tan berdiri di belakangnya. Ken yang terbangun berada di gendongan Malvin.
"Sama-sama, Stev!" balas Malvin dengan suara yang tenang, melupakan rasa cemburunya yang tadi memerangkap hati karena Dev.
"Ayo sayang, kita masuk!" ajak Steva pada Ken yang justru membalikkan badan kembali menjatuhkan diri pada pundak Malvin.
"No!" cicit Ken lirih, ia mengalungkan lengan kecilnya pada leher Malvin.
"Ken,,,, Uncle Malvin harus pulang, dia kan juga harus istirahat, Uncle Malvin lelah setelah mengajak kita jalan-jalan, Sayang?" rayu Steva yang masih mendapat gelengan dari Ken.
"Ajak masuk saja dulu, Stev." Nonna Amora tiba-tiba datang menghampiri mereka yang masih berdiri di halaman teras depan.
"Ayo masuk, udara di luar tidak baik untuk Ken." ajak Amora ramah. Dan Malvin hanya menatap dalam Steva seakan meminta jawaban persetujuan.
"Masuklah," seru Steva kemudian, dan Malvin tersenyum manis mendengar jawaban dari Steva yang ia nantikan.
Malvin melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, Steva dan pak Tan mengekor di belakang.
"Jadi, kemana saja kalian tadi?" Nonna Amora membuka obrolan saat ia berjalan sejajar dengan Malvin memasuki rumahnya.
Setelah cukup lama bermain, Ken mulai menguap kembali, anak itu meminta Malvin yang menidurkannya, dan Malvin tentu setuju.
Kini di atas ranjang besar Steva, Malvin telah berbaring di sana sambil memeluk tubuh mungil Ken. Pemandangan yang mengharukan, bahkan selama ini bersama Dev, Malvin tak pernah mau ditidurkan oleh pria itu atau siapapun selain dirinya, tapi bersama Malvin, Ken malah menunjukkan sikap yang berbeda.
'*Andai itu adalah dirimu, Razz. Pasti aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia saat ini, bukan hati yang sakit dan perih seperti ini yang kurasa*.'
Steva menatap nanar pemandangan romantis antara Ken putranya dengan pria asing penerima donor jantung suaminya.
Malvin bangun perlahan setelah dirasa Ken benar-benar sudah lelap, ia mengelus lembut rambut Ken, lalu mengecup kening, dan pipi kiri kanan Ken yang gembul. *That's really sweet*.
"Ken sudah tidur," ujar Malvin yang melangkah mendekat ke arah Steva yang berdiri di dekat sofa melihat ke arahnya sejak tadi.
Steva mengangguk gugup.
__ADS_1
"Iya, thankyou, maaf sudah merepotkan," balas Steva mencoba lebih tenang.
"*Huffttt*,,,, sedikit merepotkan," ujar Malvin membuat Steva mengernyit bingung. Apakah Malvin melakukan ini tidak ikhlas?
"Karena kita tidak tinggal satu rumah, jadi aku tidak bisa menemani Ken tidur sampai pagi, meski aku ingin, bukankah itu merepotkan?" lanjut Ken menyelesaikan kalimatnya yang sempat terjeda.
Steva menelan ludah susah payah. Memalingkan muka, bersedekap lalu menyentuh dadanya sendiri, kegugupan nampak jelas di raut wajahnya.
"Menikahlah denganku, Stev. Itu keputusan terbaik untuk kita semua," sarkas Malvin membuat Steva membulatkan mata tercengang.
Steva hanya diam saat Malvin berdiri di hadapannya, meraih kedua tangannya, lalu menggenggamnya pelan, memberikan kecupan lembut di kedua punggung tangannya.
'*Razz*!' satu nama yang saat ini memenuhi benak dan hati Steva.
"Aku tahu kau hanya mencintai Razz, dan aku tidak akan pernah memiliki kesempatan, tapi aku tidak bisa mengendalikan diri dan jantung ini. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, Steva. Bersama Ken."
Malvin mendekatkan wajahnya pada wajah Steva dengan gerak perlahan yang memiring, ia akan menautkan bibirnya pada bibir Steva. Namun sedetik kemudian Steva melepas genggaman tangannya pada tangan Malvin kasar dan mendorong tubuh Malvin keras.
"Aku tidak bisa. Aku tidak mau menyakitimu dengan bersedia hidup bersamamu namun nyatanya hati dan cintaku hanya untuk Razz," tukas Steva menolak. Ia berjalan menjauh dari Malvin mendekati ranjang, melihat nanar pada Ken yang terlelap.
Kepala Malvin mendongak menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar sambil menunduk, dadanya sungguh sangat sesak. Itu memang hal paling menyakitkan, bersama orang yang hanya mencintai orang lain.
"Pulanglah, Malv. Aku ingin istirahat," usir Steva sopan.
"Aku akan tetap berjuang, Stev. Aku akan menunggu, dan aku tidak akan memaksa. Sebelum kau bersama pria lain, aku akan terus berjuang," Malvin menyatakan perasaanya dengan tulus dan jujur, namun Steva enggan menanggapi. Ia masih mengingat pria macam apa Malvin itu dulu, bedebah sialan penjahat SE.lang.kangan.
__ADS_1
"Aku pergi, Stev. Selamat malam." Malvin keluar dari kamar Steva setelah Steva hanya diam tak berniat menangapi ucapannya.
Mungkin perjuangan yang akan Malvin lakukan tidaklah mudah dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi inilah Steva yang memilih dalam kesendirian setelah kehilangan cinta sejatinya.
'*Tak ada satupun orang di dunia ini yang sama sepertimu, Razz. Yang bisa menggantikanmu. Meski dia saudara kembarmu sekalipun jika kau punya, ataupun dia yang menerima jantung darimu*.'
Steva memilih untuk tetap sendiri, ia tak ingin menghadirkan orang lain dalam hidupnya selain kebersamaan bersama Ken dan keluarganya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berhenti tahun. Dan Steva masih tak bergeming dengan perjuangan yang Malvin tunjukkan.
Sedangkan Dev sudah menyerah, pria itu menikahi wanita lain saat Ken berusia 7 tahun. Yah, apalagi setelah diketahui jika wanitanya sudah hamil terlebih dulu, jelas Steva seakan tak percaya, Dev nyatanya sama saja. Pria itu selalu berjuang untuk bisa mendapatkannya, tapi di luar sana saat Steva tidak bersama dengannya, Dev juga bermain bersama wanita lain.
Tidak ada yang seperti Razz, benar-benar tidak ada.
Malvin selalu mendekatkan diri dengan keluarga Nonna Amora, dirinya dan Steva sama-sama memilih untuk tetap sendiri tanpa adanya pasangan hati.
Malvin tetap berjuang mendapatkan hati Steva yang telah mati rasa, meski beberapa kali ia berhasil mencium bibir Steva, dan Steva pun membalasnya, namun wanita itu pasti buru-buru melepaskan tautan bibir mereka saat hati dan pikirannya tentang Razz kembali muncul begitu jelas. Antara naluri alamiah dan naluri hati yang berlawanan. Dan Malvin bersabar akan semua itu.
...**THE END**...
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Kenapa end? Nggak ada feel antara Steva dan Malvin. Sudah dipaksakan tetap saja tidak bisa. Feelnya nggak dapet. Biarlah kisah mereka seperti itu. Toh Malvin juga dekat dengan Ken dan keluarga Nonna Amora. Setidaknya ia memiliki hubungan baik dan kesempatan untuk terus berjuang agar bisa mendapatkan Steva.
'*I Miss you, Razz*!'
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...