
"Aku membutuhkan bantuanmu, Paman!"
Malvin bersama Tuan Ramon dan Mr.Dori tengah dalam perjalanan menuju kota dari desa pedalaman tempat tinggal paman Yohan.
"Apa Malvin? Katakan saja," Tuan Ramon sibuk memainkan ponsel, mobil yang Mr.Dori kendarai sudah mencapai jalanan kota, sehari semalam berada di tempat tanpa jangkauan internet membuat ponsel Tuan Ramon dipenuhi oleh pesan maupun panggilan tak terjawab.
"Aku ingin menyelidiki gadis itu, aku ingin tahu semua tentang dia,"
"Siapa maksudmu? Eva?" Tuan Ramon menghentikan kesibukannya pada layar ponsel, ia fokus menatap keponakannya yang duduk di jok belakang mobil Jeep yang mereka tumpangi.
Malvin yang tengah merokok mengangguk tanpa menoleh Tuan Ramon, ia lebih menikmati pemandangan luar sana.
"Kenapa? Kau tertarik dengan gadis itu?" Tuan Ramon kembali bertanya, namun Malvin tak bergeming, ia enggan memberikan jawaban.
"Jangan berharap lebih, Malvin. Dia bukanlah seorang gadis, maksud paman, dia adalah seorang wanita janda, dan dia bahkan sedang mengandung," Tuan Ramon kembali memposisikan diri menghadap depan.
"Aku tidak peduli, jika Paman tidak bersedia, katakan saja, aku akan cari orang lain untuk meminta bantuan," Malvin melempar Putung rokok sembarangan ke jalan raya, gaya berandalnya tak berubah.
"Baiklah, seperti yang kau mau, paman akan membantumu mencari tahu tentang Eva, tapi paling tidak, berikan paman alasan, kenapa kau begitu menginginkan keponakan Tuan Yohan? Yah,,, paman akui Eva cantik, tapi banyak juga gadis cantik yang mengejarmu, tapi kau tak pernah menanggapi mereka!" tentu Tuan Ramon merasa penasaran, sejak sembuh dari sakitnya, meski silih berganti wanita cantik seksi yang datang mengunjungi Malvin mengaku sebagai kekasihnya, namun Malvin tak pernah menggubris mereka, ia terlalu diam selama ini. Namun Malvin berubah saat dia berada di rumah Tuan Yohan dan itu semua karena Eva.
"Aku merasa tidak asing dengan wajah gadis itu, paman, beberapa kali gadis yang mirip dengannya muncul dalam mimpiku, tapi yang paling membuatku bingung adalah, jantungku, jantung ini berdebar sangat kencang tak beraturan sejak pertama kali melihat Steva, dan debarannya semakin membuatku gila saat berada dekat dengannya. Jika Eva tak ada hubungan denganku di masa dulu, mungkin dia ada hubungan dengan si pemilik jantung, Eva juga selalu menunjukkan gelagat gugup dan panik saat berada dekat denganku, dia juga terkesan menghindar dariku, aku tidak tahu pasti, tapi aku yakin semua ini berkaitan, dan? Dan aku menginginkannya," terang Malvin menggebu, Tuan Ramon mendengar dengan seksama.
"Kenapa kita tidak mulai dari rumahmu, Malvin?" Mr.Dori menyahuti obrolan pasangan paman dan keponakan itu.
"Rumah?" tanya Tuan Ramon yang berpindah menatap Mr.Dori yang tengah menyetir.
"Iya, bukankah Penjaga rumah pernah mengatakan jika keponakanmu ini dulu sangat suka memasukkan para wanita cantik dan seksi ke dalam kandangnya? Mungkin saja Eva adalah salah satunya," celoteh Mr. Dori yang terkesan bergurau.
"Diam kau! Kau pikir keponakan Tuan Yohan gadis yang seperti itu? Tuan Yohan bisa memotong lidahmu jika dia mendengar mulutmu berkomentar mengenai keponakan mereka seperti itu," seloroh Tuan Ramon, dan disahuti gelak tawa oleh Mr.Dori yang berniat bercanda sedari tadi.
'Rumah? Kenapa tidak, jangan sampai aku mencari pensil ke sana ke mari sedangkan pensil itu berada di dalam genggamanku, kalau begitu aku harus mulai mencari sesuatu tentangnya dari rumah.'
Malvin menanggapi serius celoteh Mr. Dori yang hanya bercanda, namun segala sesuatu bisa saja ada kemungkinannya, bukan?
"Satu lagi paman," seru Malvin.
"Apa?"
"Aku ingin tahu orang yang mendonorkan jantung ini untukku, aku tahu paman tahu siapa orang itu, dan paman hanya diam karena pria yang mengaku menjadi ayahku itu yang meminta paman agar tetap diam, iya kan? Paman harus menjelaskan semuanya." Malvin bicara dengan nada yang tak mau dibantah, apalagi ditolak.

Malvin langsung merebahkan diri di atas ranjang setengah duduk bersandar pada dipan saat ia telah sampai di dalam kamarnya. Lelah, itu yang saat ini Malvin rasakan, dan Steva tetap bersemayam di dalam pikirannya tak mau enyah.
'*Rumah*!'
Malvin yang tengah membuka kancing kemeja sontak kembali berdiri membiarkan dadanya yang bidang terekspose ketika dia teringat akan cuitan Mr.Dori.
Malvin membuka lemari, nakas, apapun yang mungkin bisa jadi petunjuk tentang gadis berna Eva, keponakan Tuan Yohan itu. Namun nihil, ia tak menemukan apapun di kamarnya, terang saja, ibunya telah melenyapkan semua barang Steva yang tertinggal, ralat, sengaja Steva tinggal, itu dilakukan agar Malvin tak mendapat kembali ingatannya, karena hanya dengan keadaan seperti inilah, Malvin bisa kembali padanya dan mau menerimanya. Melupakan segala kesalahannya di masa lalu sebagai seorang ibu yang egois.
__ADS_1
'*Penjaga Rumah*!'
Malvin berhambur keluar dari kamar turun ke lantai bawah mencari sosok seorang pria tua yang ia cari, Pak Samith, pria yang sudah bekerja menjaga rumah serta menjaga Malvin sejak kecil.
"Pak Samith!" Malvin memanggil pelan Pak Samith yang tengah berdiri di laman samping rumah memandang ke langit seolah ia tengah bertegur sapa dengan seseorang di luar angkasa sana. Tangan Pak Samith bersedekap di dada, ia lantas menoleh saat mendengar Malvin datang memanggil namanya.
"Ada apa, Nak Malvin?" tanya Pak Samith dengan suara yang mulai serak karena usia.
"Ada yang ingin saya bicarakan."
Malvin dan Pak Samith duduk di kursi yang berada di pelataran samping rumah, sebotol minuman sampanye di atas meja menemani, dan kedua gelas mereka sudah terisi siap diteguk.
"Ada apa, Malvin? Ini pertama kalinya kamu mengajak bicara saya semenjak kamu pulang dari Rumah Sakit," Pak Samith mulai obrolan mereka, karena dari tadi Malvin hanya diam menikmati minumannya.
Malvin menggoyang-goyang gelas yang ia pegang, lalu kembali meneguk minuman itu. Setelah itu dia menaruh gelas yang sudah kosong, di atas meja, dan dia merogoh saku celananya. Meraih benda pipih miliknya.
Pak Samith tersenyum, mengelus penuh kasih pada layar ponsel, lalu memberikan kembali ponsel milik Malvin.
"Kau bertemu di mana dengannya? Dan bagaimana kabarnya?" Pak Samith meraih gelas miliknya dan meneguk minumannya.
Malvin mengernyitkan kening, menerima ponsel itu dan kembali mengamati foto Steva sebelum ia menjawab.
"Dia tinggal di suatu tempat yang sangat jauh dari peradaban kota, dia keponakan salah satu rekan bisnis Paman Ramon, kau mengenalnya? Katakan!"
Tersungging sebuah senyum tipis di sudut bibir Pak Samith yang sulit tuk Malvin artikan.
"Kau yang membiarkannya pergi darimu, dan kenapa sekarang kau menanyakannya lagi, apa dia mencoba menggodamu? Dengan mengatakan jika kalian saling mengenal dan kalian sepasang kekasih, seperti perempuan-perempuan yang datang kemari mencarimu kemarin-kemarin?"
"Tidak, tidak seperti itu, dia berbeda, dia justru mengatakan jika dia tak mengenalku, dia terkesan menghindariku, tapi aku yang merasa mengenalnya,"
__ADS_1
Pak Samith menatap dalam manik Malvin yang juga menatapnya dingin.
"Dengar\_\_!"~ *Pak Samith menjelaskan semua pada Malvin yang ia tahu, jika Steve dulu tinggal di rumah ini bersama dengan Malvin, hidup bersama layaknya pasangan suami~istri*.
"Lantas, kenapa dia pergi? Apa aku yang mengusirnya? Atau? Dia yang berselingkuh?"
"Tidak, tidak keduanya, dia lelah menghadapi kelakuanmu yang suka meniduri wanita lain meski kau hanya menikmati tubuh mereka, dan dia memilih pergi," jelas Pak Samith.
"Apa aku sebrengsek itu?" Malvin seakan tak percaya mendengar kelakuannya dulu dari penuturan pak Samith.
"Labih,"
"Maksudmu?"
"Kau berhubungan dengan Steva layaknya suami istri, hidup bersama, tapi kau tak bersedia menikahinya, bukankah itu cukup menghantam perasaan seorang wanita? Selebihnya aku tak begitu tahu bagaimana hubungan kalian,"
"Dia sedang hamil sekarang," lirih Malvin sangat pelan, menerawang pemandangan di depan sana yang remang, sontak Pak Samith menoleh kaget, ia juga tak pernah tahu bagaimana kabar Steva sejak ia pergi meninggalkan Malvin.
"Apa itu anakku?" entah mengapa Malvin terpikirkan hal itu.
"Berapa usia kandungannya?"
"Kurang lebih 3 bulan," jawab Malvin santai lalu menenggak kembali minumannya.
"Itu tidak mungkin, kalian sudah berpisah lebih dari 5 bulan,"
Mereka terus berbincang dengan Steva sebagai topiknya.
'*Steva, nama yang cantik, seperti pemiliknya*.'
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...