
"Berikan pakaian dalamku!" Razz meminta pakaian dalamnya segitiga bermuda yang langsung Steva berikan, benda keramat pria itu kini sudah terbiasa Steva pegang.
"Menghadap ke sana, dan tutup matamu," perintah Razz yang langsung mendapat sikap patuh dari Steva yang membalikkan badan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, Razz memakai pakaian dalamnya, sedikit riskan, tapi lama-lama ini terasa menyenangkan, Razz terus menatap Steva yang memunggunginya. Ia bahkan tersenyum, seru.
"Sudah!" Razz telah usai memakai ****** ***** beserta boksernya, kini tugas Steva untuk memakaikannya kaos.
"Maaf, Tuan?" Steve berjinjit karena tinggi badan Razz memang jauh lebih tinggi darinya. Siap. Razz telah selesai dengan semua ritualnya dari mulai mandi bersolek dan memakai baju ganti.
"Tuan, saya permisi dulu, mau mengambilkan makan malam anda." Steva berhambur keluar dari kamar Razz menuju dapur, ia menyempatkan diri melirik benda pipih miliknya yang ia simpan dalam saku dress seragam kerjanya.
"Aissh, sudah jam 9 malam, pulang jam berapa nanti aku? Haah,,,, belum lagi menunggunya selesai makan. Ufftthh!"
Malvin mendatangi rumah ayah Steva, meski ia ragu jika kekasihnya itu pulang ke rumah, tapi tidak ada salahnya jika Malvin memastikannya terlebih dahulu.
"T-ti tidak ada, Tuan! S-s Steva tidak pulang ke rumah?" jawab Hamdan gugup, ia berdiri membungkuk di depan Malvin yang duduk angkuh bersandar di sofa ruang tamu rumahnya. Sorot mata itu terlihat tajam menghunus, dada Hamdan berdebar, pria di depannya ini mampu menebus Steva putrinya dengan harga hampir 3x lipat dari mami mucikari, itu artinya pria ini jelas lebih berkuasa, bukan?
"Aku akan memberikanmu 1 T, jika kamu bisa membawa Steva ke hadapanku." ucap Malvin tegas sebelum ia pergi meninggalkan rumah sederhana itu.
"B-ba baik, Tuan? Akan saya usahakan...." teriak Hamdan senang dan gugup pada Malvin yang sudah melangkah keluar dari rumahnya menuju mobil.
"1 T, haa ha ha ha,,,, aku akan jadi kaya raya...." Hamdan bertingkah layaknya bocah yang kegirangan. Ia akan berusaha sungguh-sungguh untuk bisa menemukan di mana kini Steva putrinya itu berada untuk bisa segera ia serahkan pada Tuan Malvin.
'*Brak*.'
Malvin membanting pintu mobilnya, ia mengusap kasar wajah dan rambutnya, Malvin seperti telah kehilangan setengah jiwanya setelah Steva pergi meninggalkannya, rumah yang selalu ramai dengan keceriaan Steva itu kini telah sunyi dan hampa, di setiap sudut rumah itu di manapun Malvin berdiri pasti muncul bayangan Steva yang semakin membuatnya serasa menggila.
Menyesal, tapi penyesalan macam apa? Steva bahkan sudah memberikannya kesempatan berkali-kali, Steva juga mengesampingkan perih hatinya karena Malvin yang tak mau menikah dan hanya menjalani hubungan tanpa status yang jelas. *Miris*.
__ADS_1
"Di mana kau, Stev?"
'*Berreemm*!'
Malvin menginjak gas melajukan mobil kencang meninggalkan pelataran rumah Hamdan ayah Steva.
Steva duduk pada sofa, tangan kanannya memangku dagu dan sikunya bertumpu pada paha. Steva melihat sang Tuan bayi besar yang tengah melahap makanannya, mengamati dengan seksama, jika dilihat dari samping seperti ini, Tuannya ini memang benar-benar sangat tampan.
"Mana minumanku!" teriak Razz membuyarkan kehaluan Steva.
"I-i iya, Tuan," Steva bergerak cepat, memberikan segelas air putih pada Razz, lantas mengambil alih piring yang Razz bawa.
'Drrtt drrtt drrttt.'
Ponsel Razz yang tergeletak di atas nakas bergetar, satu panggilan masuk, Steva sempat melirik nama yang tertera pada layar.
Mommy memanggil,,,
"Kau boleh pergi," ucap Razz.
"Hemm!" jawab Razz hanya ber-hem ria.
"Baik, terimakasih, Tuan. Selamat malam, semoga tidurmu menyenangkan!" celoteh Steva sambil membungkukkan badan.
"Akan lebih menyenangkan kalau kau yang menemani."
'Glek.'
"Ahahahaha, Tuan pandai bercanda. Baiklah, saya permisi, selamat malam."
Steva cepat-cepat pergi dari sana sebelum terjadi hal-hal yang diinginkan, opps, salah, yang tidak diinginkan maksudnya.
Pintu kamar Razz telah ditutup Steva dari luar, senyum yang sedari tadi Razz tahan akhirnya terlepas juga.
"Gadis bodoh."
Razz meraih benda pipih miliknya itu yang terus bergetar.
"Yes, Mom!"
__ADS_1
Razz menjauhkan ponselnya yang tertempel pada telinga, suara wanita di seberang sana berkicau seperti burung perkutut di pagi hari. Ny. Amora Cannavaro Razolla tengah mengomel.
"Are you hear me, Razz?" teriak Ny. Amora setelah sama sekali ia tak mendapat balasan dari Razz yang hanya diam mendengarkan.
"Yes, mom!" jawab Razz malas.
"Lantas kapan kamu dan Liora akan menikah? Mamah Liora sudah mendesak, dan Liora mengatakan jika semua keputusan ada di tangan kamu, dia bilang kamu masih butuh waktu!" teriak Ny. Amora.
'S.h.i.t.t! Dia pandai sekali berbicara membalikkan fakta, tapi dia memang seperti itu, gadis pintar. Dan aku suka.'
"Iya, Mom. Sebentar lagi, Razz masih sangat sibuk di sini, pekerjaan Razz menumpuk." Razz selalu menggunakan alasan pekerjaannya, tapi yang sebenarnya adalah, ia harus bisa menyelesaikan misi tantangan dari Liora.
Setelah beberapa menit, sambungan itu terputus.
"Aku harus segera menjerat Seorang gadis dalam permainanku, dengan begitu Liora tak dapat lagi mengelak. Dan dia harus mau menikah denganku."
Razz sendiri sudah sangat jengah dengan semua permainan yang sangat menyulitkannya ini. Tapi demi mendapatkan hati Liora, Razz terpaksa menjalani semuanya.
"Gadis bodoh itu, dia sepertinya tertarik denganku, apa dia bisa kudapatkan? Ah, tapi dia menamparku karena aku menciumnya, lantas bagaimana aku menaklukkannya?" Razz terpikirkan oleh Steva. Mungkin dia gadis yang tepat untuk Razz jerat dalam permainannya, membuat Steva jatuh cinta padanya, mencintainya dengan tulus, menerima keburukan dirinya dengan wajah yang rusak dan mata yang cacat, lalu Razz bisa membuktikan pada Liora jika memang ada gadis yang bisa mencintainya dengan tulus, dan setelah itu, Liora tak lagi bisa mengelak, dia harus bersedia untuk menikah dengan Razz dan meninggalkan kekasihnya.
"Rencana yang bagus." Gumam Razz pada diri sendiri setelah memikirkan serangkaian rencana agar dapat mendekati Steva.
\[*Dinginnya angin malam ini, menyapa tubuhku. Namun tidak dapat, dinginkan panasnya, hatiku ini*...\]
Steva menapaki trotoar jalan melangkah gontai menuju kos Asha, perjalanannya ditemani oleh iringan sebuah lagu dari gawainya berjudul buih jadi permadani yang telah dicover oleh seorang penyanyi perempuan.
\[*Apakah aku insan kekurangan, mudahnya kau mainkan*?\] Lirik yang terdengar makjleb menusuk hati Steva, mengingat semua perlakuan Malvin yang sama sekali tak menghargai dirinya.
\[*Juga mustahil bagiku, menggapai bintang di langit, siapalah diriku? Hanya insan biasa, semua itu sungguh aku tiada mampu*.\] Mata Steva yang sudah basah itu pun akhirnya menangis juga, kenapa hati ini masih begitu nyeri tersiksa akan perpisahan yang ia pilih? Adakah cara untuk menyembuhkan luka yang menganga dalam lubuk hati yang tak nampak mata?
\[*Salah aku juga karna jatuh cinta, insan seperti dirimu seanggun bidadari, seharusnya aku cerminkam diriku, sebelum tirai hati yang kubuka, untuk mencintaimu*~~~\]
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...