
Di ruang televisi, Pak Ansori dengan isterinya masih belum terlelap padahal jam menunjukan pukul 10 malam, sementara anggota keluarga yang lain sudah tertidur kecuali Raniyah yang tidak bisa tidur dikamarnya karena masih memikirkan percakapan tadi siang dan melihat wajah kakaknya begitu terluka.
Suara televisi diruang tengah masih terdengar jelas, Pak Ansori dan isterinya tidak menonton acaranya sama sekali, mereka justru sedang mendiskusikan permasalah kedua puterinya agar tidak terdengar anak-anaknya.
" Pak, Haya tuh suka sama Daiyan, tapi ya gimana Daiyannya malah ngelamar Rani."
" Ya mau gimana bu, cinta gak bisa dipaksakan,"
" Tapi bapak juga kan tau, gak mungkin Rani ngelangkahi Haya."
" Iya Bu, tapi Rani juga baru patah hati masa iya kita patahkan lagi hatinya dengan menolah Daiyan.
" Ya kita gak nolak Daiyan pak, Tapi Daiyan suruh ngelamar Haya aja."
" Loh ibu kok gitu, ya gak bisa bu."
" Ya bisalah Pak! Kita suruh Rani nolak lamaran Daiyan."
" Bu kalau keduanya saling suka ya kita gak bisa memisahkan mereka, nanti dosa bu!"
" Lah pak, Haya itu jarang banget jatuh cinta, yang ngedektin Haya aja jarang."
" Iya karena Haya terlalu jutek ke lelaki."
" Terus sekarang gimana?"
" Ya kita lihat besok saja bu!"
" Tapi kalau dipikir ya pak, Haya itu lebih cantik pinter kenapa susah sekali nikahnya! Beda sama Rani yang biasa aja malah ngantri lelaki!"
__ADS_1
" Yea sikap sih, bukan masalah fisik kadang yang membuat wanita menarik itu bu!" Timpal pak Ansori.
" Ya sudah ibu mau tidur pak, takut kesiangan besok!"
Televisi dan Lampu ruang tengah pun dimatikan, Pak Ansori dan isterinya memasuki kamar mereka. Mereka biasanya sudah terlelap dari jam 8 tapi sore itu harus berdiskusi panjang dulu mengenai besok hari.
***
Esok pagi, sarapan pagi bersama dibuka dengan topik acara lamaran dadakan. Haya dengan mata sembab masih menatap piring, dia tampak tidak tahan dengan obrolan pagi. Ibu dan Raniyah memahi situasi tersebut.
" Pak," Ibu menyikut bapak yang sedang menyuapkan sayur sop ke mulutnya.
" Duh bu! hampir meleset sendok dari mulut!" Kata Pak Ansor.
" ih bapak, obrolan tadi subuh itu."
Matanya menatap bergantian kedua puterinya. Sekilas jelas terlihat perbedaan raut wajah kedua anak perempuannya. Haya telihat cantik tapi tidak menarik karena kurang ramah, sedangkan Raniyah terlihat wajahnya biasa saja dengan tubuh kecil dan pendeknya tapi dia manis dan murah senyum.
" Begini ya, lamaran Daiyan itu, bagaimana kalau Rani mengalah saja.." Kata Pak Ansor sontak Kak Radit langsung angkat bicara.
" Tunggu kok Rani ngalah gimana?"
" Gini Dit, Haya suka sama Daiyan juga, gimana kalau Haya saja yang menikah dengan Daiyan."
" Gak bisa gitu Pak!" Sanggah Kak Radit.
Raniyah sendiri jadi diam membisu, dia tidak tahu apa yang harus diperbuatbya, namun Haya tampak merasakan ada secercah harapan.
" Bapak butuh pendapat Rani bukan kamu!" Tegur Pak Ansor.
__ADS_1
Kak Radit langsung mendengus kesal, ayahnya ini selalu saja memegang adat yang menyakitkan bagi adik bungsunya. Kak Radit melirik ke arah Raniyah yang tertunduk lesu juga.
" Rani kamu suka sama Daiyan?" Tanya Radit.
Raniyah tampak kebingungan untuk soal perasaan, tapi yang Raniyah juga mengakui mengagumi Daiyan, tapi satu sisi dia merasa bersalah dengan kakak perempuannya.
" Jawab Ran!" Titah Pak Ansor.
" Rani kagum sama kak Daiyan."
" Dengarkan bapak akan menceritakan sebuah kisah!" Ucap Pak Ansor.
Semuanya langsung terdiam dan memperhatikan kepala keluarga itu, Pak Ansor orang yang cukup disegani dilingkungan keluarga maupun masyarakat maklum Pak Ansor masih ada darah keturunan ustad. Pak Ansor sering jadi muadzin dan imam di masjid lingkungan sekitar.
"Ada seorang pemuda meminta sahabatnya menamaninya melamar seorang gadis yang dicintainya. Singkat cerita mereka berangkat menemui orang tua si gadis. Namun apa yang terjadi, saat lamaran diajukan, orang tua si gadis menanyakan pendapat si gadis akan lamaran tersebut. " Bagaimana pendapatmu?" Tanya orangtuanya, si gadis menjawab," Jika dengan lelaki yang mengantarmu saya sangat berkenan dipersunting olehnya." Begitulah jawabannya, Apa yang dilakukan lelaki yang melamar itu? Apa dia marah? Tidak. Dia bertakbir meskipun dan langsung menerima keputusan itu dengan lapangn dada, bahkan semua seserahannya dia berikan kepada sahabatnya untuk menikah dengan gadis pujaannya." Pak Ansor tersenyum sambil menatap kedua anak gadis dihadapannya.
" Dia adalah Salman Al Farizi!" Celetuk kak Radit.
" Iya Radit, Dan kedua adikmu pasti tahu maksud ucapana bapak dari kisah ini!"
"Kita harus ikhlas dengan sesuatu yang mengecewakan, jika sesuatu itu memang ditakdirkan untuk kita dia tidak akan lari kemanapun!" Kata Raniyah.
"Terimakasih pak, sudah menyadarkan Haya pentingnya ikhlas dengan kenyataan."
" Iya benar puteri-puteri bapak. Bapak harap kalian selalu akur seperti persahabatan Salman Alfarisi dengan temannya itu."
Ketegangan yang terjadi kemarin, sedikit cair saat ini. Haya mencoba menerima keputusan itu. Sementara Raniyah masih merasa tidak enak dengan Haya.
Bersambung....
__ADS_1