Garis Adat Pernikahan

Garis Adat Pernikahan
Ojek Pesanan Rahasia


__ADS_3

Preng


Suara gaduh itu berasal dari ruang makan di dalam rumah. Raniyah yang mendengarnya langsung masuk ke dalam, dia penasaran dengan keributan yang terjadi. Tepat saat Raniyah hendak memasuk ruang dapur


Swiiing


Pisau melayang ke arah lemari kaca tempat piring, Raniyah yang baru masuk tersentak karena pisau itu hampir saja mengenainya. Wajah Haya terlihat kacau, dia menatap tajam penuh kebencian pada Raniyah.


"Ada apa dengan kakak?"Tanya Raniyah perlahan mendekat dengan hati-hati sambil mengendong Salsa yang mulai menanggis.


"Kau..Kau...Kau...Harusnya anak itu mati!!!" Seru Haya sambil berlari merebut Salsa dalam gendongannya.


"Hentikan kan!" Teriak Raniyah sambil memegang erat Salsa.


Aksi saling rebut Salsa yang sedang menanggis pun terjadi, Raniyah tidak ingin melepaskan Salsa begitupun Haya. Dari dapur Bi Yum panik melihat adegan tersebut.


"Bu tolong jangan berebut kasian De Salsa." Suara bi Yum sama sekali tidak didengarkan oleh keduanya.


Raniyah sekuat tenaga mempertahankan Salsa dan tanpa sengaja mendorong Haya hingga terpental dan membentur ujung meja makan. Darah mengucur di dahinya. Bi Yum dan Raniyah pun panik. Lalu detik berikutnya Haya pun pingsan.


*****


Bau desinfektan tercium dihidung Haya, dia mulai mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk, wajah Daiyan terlihat pertama kali, dia langsung bangkit dan memeluk Daiyan tanpa menyadari bahwa disana ada Raniyah ya g berdiri tidak jauh.


"Aku takut!" Renggeknya menangis sambil memeluk Daiyan.


Wajah dingin Daiyan masih terukir jelas, namun tangannya mengelus punggung Haya, Raniyah yang menyaksikan hanya bisa menghela nafasnya. Entah bagaimanapun dia merasakan cemburu, karena statusnya saat ini adalah isterinya Daiyan, dan di depannya dia harus menyaksikan adegan tersebut.


"Syukurlah kakak baik-baik saja!" Ucap Raniyah untuk menyadarkan Haya bahwa disana ada dirinya.


Sontak Haya terkejut dan melirik ke sisi ranjang sebelah kanan, disana Raniyah berdiri. Namun, sedikit pun Haya tidak lantas melepaskan pelukannya ke Daiyan, dia malah sengaja tersenyum mengejek.


"Lihatlah Daiyan belum melupakan aku! Tentu saja dia tidak akan dengan mudah melupakan cintanya, Kamu hanya pelampiasan Raniyah!"Batin Haya.


"Ekhem..!!"Raniyah berdehem sehingga membuat Daiyan menarik tanganya dari punggung Haya.


Melihat situasi saat ini, Haya ingin menunjukan kepada Raniyah bahwa Daiyan sangat mencintainya. Dia mulai menyenderkan kepalanya di lengan Daiyan.


"Aku ingin mengendong Salsa tapi Rani dengan kasar mendorongku," Ucap Haya bernada sedih.

__ADS_1


Mendengar perkataan kakaknya Raniyah memutar bola matanya, dia tersenyum kecut melihat sikap kakaknya yang seperti bunglon. Tapi Raniyah membiarkannya, dia penasaran dengan reaksi Daiyan dan kelanjutkan sikap kakaknya dihadapannya. Dia benar-benar ingin tahu apakah dua orang ini masih saling mencintai atau tidak. Jika masih saling mencintai, maka akan memudahkannya pergi dari pernikahan tersebut dan menyerahkan Salsa, lalu Raniyah bisa bebas.


"Begitukah?" Ucap Daiyan dengan matanya justru tertuju ke Raniyah yang masih bersikap santai.


"Ya aku tidak berbohong, apa pernah aku berbohong padamu? Kamu sangat mengenalku kak Daiyan!" Renggek Haya membuat Raniyah sedikit menahan tawanya.


Daiyan yang memperhatikan Raniyah merasa keheranan, Raniyah yang seharusnya bersikap panik karena disalahkan tapi justru masih tenang-tenang saja.


"Jelaskan semuanya!!" Mata Daiyan menatap lurus ke Raniyah yang berada disebrangnya.


"Tadi pas kamu per--" Ucapan Haya terpotong oleh Daiyan.


"Raniyah Jelaskan!" Ucap Daiyan membuat Haya mulutnya memgangga dan perkataannya mengantung, sementara Raniyah terkejut.


Raniyah pun memperbaiki posisinya berdiri, dia menghadap ke arah Daiyan yang memeilik mata tajam seperti elang. Dia melihat raut wajah kakaknya yang terlihat panik.


"Aku tidak sengaja mendorongnya!" Jawab Raniyah simpel.


"Aku memintamu menjelaskan, bukan memberikan jawaban singkat!" Ucap Daiyan dengan pandangan masih tertuju ke Raniyah.


"Baiklah, saat aku masuk ke dapur dia sedang mengamuk..." Raniyah menjelaskan perkara pagi itu didalam rumah tanpa melewatkan satu adegan pun.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Raniyah, Daiyan pun terdiam, melirik ke arah Haya yang meringgis mendapatkan tatapan tajam dari mantan suaminya.


"Aku tidak mengerti dengan sikapmu! Jangan ulangi lagi!" Kata Daiyan yang langsung berlalu setelah mengucapkannya.


Hening setelah kepergian Daiyan, sedangkan Raniyah masih berdiri disamping ranjang. Haya menatap kepergian Daiyan dengan wajah kecewa.


"Kakak terkena baby blues! Istirahatlah kak jangan terlalu cemas!" Kata Raniyah membuat pandangan Haya beralih ke adiknya tersebut.


"Kenapa kamu selalu merebut apa yang aku miliki!" Tatapan Haya tajam dengan sorot kekesalan.


"Aku tidak pernah merebut apapun kak!"


"Diam! Jangan terus berlagak sebagai korban! Akulah disini korban keserakahanmu!" Balas Haya.


Melihat kakaknya yang tampak frustasi dan tiba-tiba menyalahkan segala hal yang menimpanya kepada dirinya, membuat Raniyah tidak bisa menahan emosinya.


"Aku pulang dulu! Jaga diri kakak!" Kata Raniyah langsung berlalu.

__ADS_1


Tangan Haya meremas seprai kasur diruang perawatan, dia menatap penuh kesal pada Raniyah yang tidak membalas kekesalannya.


Setelah meninggalkan Haya didalam ruangan perawatan, Raniyah pun berjalan menuju lorong keluar dari rumah sakit. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Ahsan yang sedang mengendong isterinya yang tengah pingsan. Keduanya saling bertukar pandangan.


"Ran!"


"Ahsan!"


Keduanya hening dan mematung. Raniyah tersenyum simpul melihat Ahsan yang begitu penuh kasih sayang mengendong sang isteri yang kesakitan. Terbesit sedikit rasa cemburu dengan kehidupan rumah tangga mantannya. Tapi segera Raniyah usir.


"Ah Ran, aku buru-buru, isteriku keguguran!" Ucapp Ahsan langsung berlalu sambil mengendong isterinya, Raniyah hanya menatap ke arah punggung Ahsan yang berlalu menuju ruang dokter kandungan.


Kenapa aku merasa iri dengan Ahsan. Ya Rabb, tidak ada yang perlu aku merasa iri dengan kebahagian orang lain. Karena engkau pun sudah mengariskan kebahagianku. Batin Raniyah dia pun segera berbalik melanjutkan langkah kakinya.


Raniyah tidak sadar dari tempat lain Daiyan memperhatikan pertemuan mereka. Tatapan dingin Daiyan terus mengikut langkah Raniyah sampai menghilang.


Begitu sampai didepan gerbang rumah sakit, Raniyah mengotak-ngatik handphonenya hendak memesan ojek online, tiba-tiba seseorang dari arah belakang menyapanya.


"Bu.. Bu Raniyah?" Seorang lelaki sudah berumur itu memakai pakaian seragam ojek online.


"Ah iya pak," Raniyah kebingungan.


" Ayo bu motor saya disana, ke Perumahan Sari Asih kan?" Ucapnya semakin membuat Raniyah kebingungan.


"Iya, tapi saya belum memesan ojek!" Ucap Raniyah sambil mengikuti langkah bapak-bapak tersebut.


"Tadi ada yang pesanin ojek online buat ibu!" Kata Lelaki tersebut sambil menyodorkan helm.


"Siapa?"


"Susanti, nama disini!"Kata Ojek tersebut sambil memeriksa ponselnya.


"Oh.yeah, ta..tapi.."


"Ayo buu!" Ajak ojek tersebut langsung membuat Raniyah tidak enak dan ikut duduk di jok belakang.


Sepanjang jalan pikiranya terus berkeliaran, memikirkan orang yang memesankan ojek untuknya. Nama Susanti sama sekali tidak dikenalnya.


#Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2