
Pagi sekali Raniyah sudah berada di sekolah. Kali ini mejanya dikejutkan dengan adanya setangkai bunga mawar merah muda. Raniyah langsung melihat sekeliling, dia ingin tahun tahu siapa orang misterius yang selalu mengirimkan segala padanya.
Aku gak bisa kasih makan siang soalnya kotak makannya belum kamu balikin!
Tulis secarik kertas dibawah mawar tersebut. Raniyah langsung mengambil misting toskan didalam tasnya.
"Bagaimana aku bisa balikinnya! Ah menyebalkan sok sok misterius segala."
Raniyah langsung menuliskan balasannya dikertas yang sama digunakan si pengirim. ' Kalau mau kotak makannya balik, muncul dihadapanku!'
Setelah membalasnya, Raniyah mencium mawar tersebut, harum sekali membuatnya rileks, namun saat sedang menikmati wanginya mawar merah muda itu, seseorang sudah merebut mawar dari tanagnnya.
" Apaan ini, Norak!!" Kata Ahsan kesal membuat Raniyah memutar bola matanya.
" Kita makan siang bareng ya?" Ajak Ahsan sambil tersenyum.
" Gak mau! Nanti dijambak cewek galak lagi!" Ketus Raniyah membuat Ahsan tergelak dan mengacak kepala Raniyah, membuat Raniyah melotot.
" Sorry Sorry Rani, kamu lucu ya!"
" Jangan sentuh-sentuh! Nanti ada yang cemburu!" Kata Raniyah membuang mukanya.
"Rani kenapa kamu ngomong gitu sih, yaelah pede amat ada yang naksir ! Batin Raniyah menyesali ucapannya.
" Hah! Siapa yang cemburu padamu? aku ingin bertemu dengannya? Aku ingin tahu sebesar apa dia menyukaimu?" Kata Ahsan sambil tersenyum mengoda Raniyah.
" Sudahlah Ahsan! Apa kamu gak kerja! Tiap hari selalu kesini!" Tegur Raniyah mulai kesal.
" Aku akan pergi asal kamu setuju makan siang bareng aku!"
" Aku sibuk!"
" Rani ayolah! Sekali aja!"
" Ahsan ajak saja Jesika!" Kata Raniyah mulai naik pitam dan dibelakang Ahsan sudah berdiri Jesika dengan melipat tangannya.
"... Tuh Macan udah muncul!"lanjut Raniyah saking kesalnya membuat Ahsan menoleh.
Raniyah kembali berkutat ke aktivitas paginya, dia menyeduh teh, lalu menunggu jam pelajaran dimulai. Datang Pak Rasya dengan menebarkan senyuman kepada Raniyah, sontak Raniyah membalasnya dengan senyuman kaku.
" Eh bu, nanti kita lanjut lagi bahas tentang Pak Harto!" Ucapnya membuat semua guru di ruangan sana langsung menoleh ke arah Raniyah.
" Wah kemajuan besar nih Pak Rasya!" Seru Pak Agus bersorak.
" Udah nyampe chattingan nih!" Seru Bu Lusi tersipu membuat wajah Raniyah tidak bisa digamnarkan antara malu dan bingung harus seperti apa menanggapinya.
" Ah biasa aja pak, kita cuma ngobrolin tentang pak Harto gak lebih, ya kan bu?" Kata Pak Rasya sambil melirik ke arah Raniyah yang langsung mengangguk dan tersenyum canggung.
Pak Agus langsung mendekati Raniyah dan duduk di kursi samping Raniyah, wajahnya berseri-seri sambil cengegesan membuat Raniyah mengusap tengkuknya.
" Bu, Pak Rasya biasanya gak kayak gitu loh! Duh saya seneng banget akhirnya Pak Rasya pecah telor!" Kata Pak Agus cengegesan.
__ADS_1
Raniyah tersenyum canggung, Pak Agus mengacungkan kedua jempol di tangannya dan memamerkan giginya.
*****
Di tengah lapangan terdengar sorak para siswa yang ribut-ribut, para guru berhamburan, Raniyah yang baru keluar kelas langsung berlari ke tengah lapangan, dua siswi dengan ditonton para siswa lainnya tengah saling jambak.
Salah satu siswi bernama Weni terdorong ke belakang dan menabrak Raniyah yang berlari langsung ke arahnya, Raniyah pun terjengkang, Dia langsung berjongkok dan memeriksa siswinya yang terjatuh menimpannya, siswi itu mengeluarkan darah di hidungnya. Raniyah terterkejut dan oanik, dari arah lain Pak Rasya juga berlari ke tengah lapangan, tidak kama lawan bertengkar Weni lansung kejang-kejang dan pak Rasya pun mengendongnya.
Kedua siswi yang bertengkar itu rupanya, siswi yang diwalikelasi oleh Raniyah dan Pak Rasya. Karena panik, Raniyah dan Pak Rasya didampingin pihak sekolah langsung membawa dua siswi itu ke RSUD. Setelah siswinya dibawa ke ruang perawatan Raniyah dan yang lainnya menunggu di ruang tunggu.
" Ini anak-anak kenapa bu Rani?" Tanya Pak Agus yang merupakan kesiswaan.
" Saya juga tidak tahu pak, pas keluar kelas jam istirahat mereka udah berantem dilapangan!" Jawab Raniyah yang masih terkejut.
"A-anu bu," Kata seorang wanita yang temennya salah satu siswi di ruangan perawatan.
" Apa Salsa? Jelasin!" Tanya Pak Agus tidak sabar.
" Itu pak, Weni dan Amanda rebutan cowok!" Kata Salsa siswi perempuan itu sambil cengir.
" Ya ampuuun dasar bocah!!" Kata Pak Agus sambil nepuk jidat.
Raniyah tersenyum sambil mengelengkan kepalanya begitu pun Pak Rasya. Pak Agus yang masih penasaran itu bertanya lagi pada Salsa.
"Emang siapa cowoknya, sampe direbutin segala!" Kata Pak Agus bersidekap.
" Eu hehehe.. Pak Rasya!" Kata Salsa ragu-ragu sambil cengir malu.
"Bocah bocah kagak kelilipan gitu, Pak Rasya kan gak ganteng -ganteng amat, berumur lagi, kalau Pak Vikram bolehlah kan masih muda rapih ramah lagi tapi ya tau ah gelap!" Batin Pak Agus.
" Ekhemm!" Kata Pak Rasya sedikit salah tingkah karena diperhatikan oleh semua yang ada di ruang tunggu.
" Ahaaaaahhaaa.. Jadi Bu Rani nambah saingan ya!" Kata Pak Agus sambil tertawa dan bertepuk tangan.
Raniyah tidak menyahutinya, tapi Pak Rasya tampak melirik sebentar melihat ekspresi Raniyah, tapi Raniyah tampak langsung fokus ke pintu kamar perawatan yang keluar seorang dokter muda, siapa lagi kalau bukan Daiyan AlHanan.
"Bukan masalah serius bapak ibu, Saudari Weni hanya mimisan, dan Amanda sesak nafas karena Asmanya kumat, saya sudah memberikan resep obatnya silahkan ditebus diapotek saja".
" Huh syukurlah alhandulillah," Serentak semua yang hadir merasa tenang sekarang.
" Bu Rani, siswi anda sebenarnya bisa dibawa ke puskemas saja tidak perlu kesini." Kata Daiyan sambil tersenyum memberikan tatapan maut yang bisa meruntuhkan para wanita.
" Ya saya hanya panik takut terjadi hal serius tadi," Kata Raniyah.
" Anda panik atau kangen sama saya?" Kata Daiyan membuat semua yang hadir menatap Raniyah.
" Ah, bukan begitu kakak ipar." Jawab Raniyah mematikan membuat Daiyan berubah dingin dan datar raut wajahnya.
Semua yang hadir langsung mangut-mangut, dan bersiap akan membawa pulang dua siswi yang sedang dirawat itu karena mereka sudah pulih kesehatannya.
" Silahkan bapak ibu membawanya, tapi saya rasa bu Rani harus tinggal dulu sebentar disini, saya harus memeriksa kesehatan jantung dan paru-parunya!" Kata Daiyan membuat yang hadir melonggo.
__ADS_1
"Saya sehat dok!"Protes Raniyah.
" Sudah tidak apa-apa bu Rani diperiksa dulu!" Kata Pak Agus.
" Ya.. tapi saya masih ada jam mengajar pak?" Bela Raniyah.
" Kesehatan ibu lebih penting, tidak apa-apa saya akan memberikan tugas ke siswa dikelas!" Kata Pak Agus seraya berlalu.
Raniyah menatap kesal pada Daiyan, berbeda dengan Daiyan yang tampak tersenyum penuh kemenangan, Daiyan mempersilahkan Raniyah untuk berjalan menuju ruangannya. Sambil menghentakkan kaki Raniyah memutar bola matanya dan berjalan menuju ruangan Daiyan.
Sesampainya di ruangan Daiyan, Raniyah duduk dikursi, Daiyan menutup pintunya, dengan santainya dia membuka jas kedokterannya dan mengantungkannya di rak. Tampaklah kemeja abu-abu yang kontras dengan kulit putihnya. Dia mendaratkan pantatnya dikursi kerjanya.
" Mau minum?" Tanya Daiyan tenang.
" Tidak,"
" Baiklah! Kenapa orang tuamu tidak merestui kamu menikah duluan?" Tanya Daiyan.
" Kenapa menanyakan hal tersebut?"
" Aku hanya ingin tahu! Apa aku gak boleh tahu? Padahal sebentar lagi aku akan jadi bagian dari keluarga kalian!"
Raniyah menatap tajam pada Daiyan. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pot bunga di salah satu meja dekat jendela.
" Dari dua tunas itu! Mana pohon yang akan berbunga duluan?" Tanya Raniyah.
Daiyan menghela nafasnya, dia pun berdiri dan mengambil pot bunga itu dan memyimpannya dihadapan Raniyah. Kemudian mencabut tunas tertinggi.
" Semua bisa berubah tanpa harus sesuai dengan ketetapan yang ada!" Jawab Daiyan.
"Aku sibuk! Bisakah aku pulang sekarang?" Kata Raniyah.
" Rani! Kamu bisa balikan dengan Ahsan bukan?" Tanya Daiyan.
" Apa maksudmu Pak Dokter?"
" Kembalilah pada Ahsan! Menikahlah dengannya!" Kata Daiyan.
" Aku tidak bisa!"
" Kenapa?"
"Seseorang yang sudah memilih pergi, tidak perlu aku menerima kembali!" Tegas Raniyah seraya berdiri.
" Kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri? Jika masih saling mencintai kenapa tidak mencoba bersama lagi untuk memperbaiki!" Kata Daiyan sekarang ucapannya cukup panjang.
" Terima kasih atas sarannya Pak Dokter! ini pilIhan hidupku!" Kata Raniyah.
"Kamu bersikap begini karena menyukai pak Rasya?"
"Kakak Ipar bicara apa! Tidak ada hubungannya sama sekali!" Kata Raniyah langsung berlalu meninggalkan Daiyan yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
#Bersambung....